Peristiwa Pembunuhan Letkol Sugiyono Dan Kolonel Katamso

oleh -19 views
Peristiwa Pembunuhan Letkol Sugiyono Dan Kolonel Katamso

Peristiwa Pembunuhan Letkol Sugiyono Dan Kolonel KatamsoTRAVESIA.CO.ID – Pada tanggal 1 Oktober 1965 sekitar pukul 04.30 WIB, Letkol Sugiyono dengan disertai pengemudinya Peltu Sukarto berangkat berkendaraan mobil gaz militer menuju Pekalongan guna menghadiri peresmian pabrik tenun. Setelah acara peresmian selesai, Letkol Inf. Sugiyono kembali menuju Semarang dan tempat singgah di Makodam VII/Diponegoro dengan maksud meminta amanat Pangdam VII/Diponegoro dalam rangka hari Rumpun Diponegoro dan HUT ABRI. Terlhat di situ beberapa personil sibuk mengatur steling.

Melihat situasi semakin gawat Letkol Sugiyono memutuskan untuk segera kembali ke Yogyakarta. Dalam perjalanan menuju ke Yogyakarta, tepatnya di Desa Pudak Payung, Letkol Sugiyono melihat mobil Pangdam VII/Diponegoro Brigjend Suryo Sumpeno berpapasan dengan mobil Letkol Sugiyono. Kemudian, diperintahkan kepada Peltu TomoSukarto untuk berbalik arah dan mengikuti mobil Pangdam VII/Diponegoro. Setelah jarak mobil Letkol Sugiyono dengan mobil Brigjen Suryo Sumpeno dekat, Letkol Sugiyono melompat dari mobilnya dan mengejar mobil Brigjen Suryo Sumpeno yang sedang berjalan lambat dan menemui Pangdam VII/Diponegoro. Pembicaraan antara Brigjen Suryo Sumpeno dengan Letkol Sugiyono dilanjutkan di warung makan ayu. Dalam pembicaraan terakhir yang didengar oleh Peltu Tomo Sukarto,Brigjen Suryo Sumpeno menyarankan Letkol Sugiyono tidak usah kembali ke Yogyakarta, tetapi mengikuti beliau ke Semarang karena rasa tanggung jawab besar sekali terhadap wilayahnya. Letkol Sugiyono meminta izin kepada Brigjen Suryo Sumpeno untuk kembali ke Yogyakarta dengan segera. Sesampainya di Mlati, Sleman ia bertemu dengan Kapten Bambang Setiadi dalam keadaan sakit setelah selesai menghadap ke Makodam VII/Diponegoro.

Letkol Sugiyono kemudian melanjutkan perjalanan menuju Yogyakarta dan sempat singgah di rumah Komandan Korem 72/Pamungkas Kolonel Katamso. Dari penjelasan putra-putri Kolonel Katamso diketahui bahwa beliau sudah diambil oleh anggota-anggota Yon L pada pukul 17.10 WIB sore tanggal 1 Oktober 1965. Letkol Sugiyono memutuskan untuk langsung pergi ke Makorem 72/Pamungkas guna mengadakan briefing dengan perwira staf Korem 72/Pamungkas. Karena sudah merencanakan untuk mengadakanbriefing Letkol Sugiyono memerintahkan Kapten Kusdibyo untuk memanggil Mayor Kartawi

yang sedang berada di ruangan Kasi II, sedangkan Peltu Tomo Sukarto diperintahkan menjemput Kapten Yulius di kediamannya karena menurut keterangan Kapten Kusdibyo tidak berada di Makorem 72/Pamungkas hanya Kapten Yulius.

Letkol Sugiyono sendiri sempat menelpon istrinya di rumah dan memberitahukian bahwa keadaan beliau sudah kembali ke Yogyakarta dan keadaannya baik-baik saja. Hanya saja, beliau belum sempat kembali ke rumah karena akan mengadakan briefing dengan perwira staf Korem. Kemudian, masuklah gaz militer ke halaman Makorem 72/Pamungkas yang dikemudikan oleh Praka Sudarto dengan penumpang anggota-anggota Batalyon L Kentunganantara lain Peltu Sumardi, Pelda Kamil, Praka Anggra, dan Praka Sugimin. Peltu Sumardidengan diiringi oleh Pelda Kamil dan Praka Sugimin menodongkan pistol ke arah KaptenSudibyo dan menerima keterangan di mana Letkol Sugiyono berada.

Dijawab oleh Kusdibyo bahwa Letkol Sugiyono di ruang Komandan. Melihat situasi ini Kapten Sudibyo menyembunyikan diri. Dari jarak beberapa meter Kapten Kusdibyo melihat Letkol Sugiyono dibawa pergi Peltu Sumardi dengan todongan pistol. Letkol Sugiyono dibawa dengan kendaraan gaz militer menuju markas Batalyon L di Kentungan. Letkol Sugiyono ditahan di ruang perwira piket Batalyon L, sedangkan Kolonel Katamso ditahan di ruang Komandan Batalyon L Kentungan. Setelah menerima penjelasan dari Pelda Kamil tentang bagaimana membunuh Letkol Sugiyono, sekitar pukul 03.00 WIB, tanggal 2 Oktober 1965 Sertu Aliptoyo telah mempersiapkan diri di tempat yang tidak jauh dari lubang kubur yang telah dipersiapkan sebelumnya dengan memegang kunci mortir 8. Tidak lama kemudian datang sebuah kendaraan gaz militer dan berhenti tidak jauh dari Sertu Aliptoyo yang bersembunyi di balik gelapnya malam.

Dari sumber BAP Sertu Aliptoyo menyatakan sebagai berikut:

Sertu Aliptoyo dalam posisi jongkok melihat Letkol Sugiyono dengan mengenakan pakaian seragam militer PHD dan memakai jaket abu-abu serta tutup kepala turun dari kendaraan gaz militer tersebut dengan dikawal bersenjata oleh Peltu Sumardi, Peltu Hatas Masrur, Pelda Kamil, Praka Anggra, Praka Sugiyo, Praka Rahmat Ekoputro dan Praka Sugimin.

Letkol Sugiyono diperintahkan oleh Peltu Sumardi berjalan ke selatan mendekati lubang kubur, sedangkan Sertu Aliptoyo mengikuti di belakang Letkol Sugiyono sambil di tangannya tetap memegang kunci mortir 8. Setelah beberapa langkah berjalan, Sertu Aliptoyolebih mendekati Letkol Sugiyono dengan perhitungan agar memukul tepat pada sasaran yang telah ditentukan. Sertu Aliptoyo dengan dua tangan menggenggam kunci montir 8 mengangkatnya sampai ketinggian kepala, kemudian diayunkan tepat ke kepala bagian belakang Letkol Sugiyono yang jatuh seketika terkelungkup dan gugur. Jenazah Letkol Sugiyono kemudian diangkat oleh Praka Anggra, Serka Ngadiman, Serda Hatas Masrun,

Praka Rahmat Ekoputro untuk dimasukkan ke lubang kubur yang telah disediakan. Setelah pembunuhan Letkol Sugiyono maupun Kolonel Katamso selesai, Peltu Sumardi memerintahkan untuk menimbun kembali lubang kubur tersebut dengan batu dan tanah,kemudian di atas lubang kubur tersebut ditanami pohon ubi jalar supaya tidak terlihat bahwa sekitar tempat tersebut pernah digali.

Beny Rusmawan

Dapatkan 2 buah buku penelitian Feni Efendi tentang PEMERINTAH DARURAT REPUBLIK INDONESIA (PDRI):

Jejak yang Terlupakan

Judul Buku: JEJAK YANG TERLUPAKAN: Menyusuri Jejak Mr. Syafruddin Prawiranegara dalam Menjalankan PEMERINTAH DARURAT REPUBLIK INDONESIA (PDRI) pada Masa Agresi Militer Kedua Belanda di Sumatera Tengah

Genre: Catatan Perjalanan

Penerbit: JBS Yogyakarta

Penulis: Feni Efendi

Pemesanan: WA 0812-6772-7161 / HP 0823-8485-2758

 

Selendang Ibu Perdana Menteri

Judul Buku: SELENDANG IBU PERDANA MENTERI

Genre: buku puisi PDRI

Penerbit: JBS Yogyakarta

Penulis: Feni Efendi

Pemesanan: WA 0812-6772-7161 / HP 0823-8485-2758

Tentang Penulis: Feni Efendi

Gambar Gravatar
Feni Efendi lahir 20 Juli 1984 di Tiakar Kota Payakumbuh. Menamatkan pendidikannya di SD N 06 Balai Nan Tuo Tiakar Payakumbuh (1997), SLTP Negeri 5 Payakumbuh (2000), SMK Taman Siswa Payakumbuh jurusan Elektronika Komunikasi (2003). Ia menulis catatan perjalanan, sejarah, puisi dan juga sebagai blogger, copywriter dan youtuber. Buku puisinya berjudul SELENDANG IBU PERDANA MENTERI dan buku catatan perjalanan sejarahnya berjudul JEJAK YANG TERLUPAKAN: Menyusuri Jejak Mr. Syafruddin Prawiranegara dalam Menjalankan PEMERINTAH DARURAT REPUBLIK INDONESIA (PDRI) pada Masa Agresi Militer Kedua Belanda di Sumatera Tengah. Bukunya bisa dipesan melalui kontak WA 0812-6772-7161. Ia tinggal di Limapuluh Kota Sumatera Barat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.