Sugianitri , Polwan Ajudan Terakhir Soekarno

oleh -28 views
Sugianitri , Polwan Ajudan Terakhir Soekarno

Sugianitri , Polwan Ajudan Terakhir SoekarnoTRAVESIA.CO.ID – Suatu saat setelah tidak menjadi presiden, Bung Karno jalan-jalan keliling kota dan tiba tiba ingin buah rambutan. “Tri, beli rambutan,“ tukas bung Karno pada Nitri

”Uangnya mana?” tanya si polwan asal Bali itu.

”Sing ngelah pis,” kata Bung Karno dalam bahasa Bali yang artinya saya tak punya uang. Jadilah sang ajudan memakai uang pribadinya untuk mantan presiden yang tidak memiliki uang. Itu sepenggal kisah Nitri Polwan ajudan terakhir si Bung.

Malam 30 September 1965, masih pukul sekitar 19.00 WIB di Asrama Pendidikan Polwan di Sukabumi akan digelar acara hiburan setelah sebelumnya pada pagi harinya berlangsung pengukuhan siswi –siswi polisi wanita setelah menempuh pendidikan selama satu tahun. Nah, dari 50 polwan yang dilantik dan datang dari beberapa kota di Indonesia, dimana salah satunya ialah Ni Luh Putu Sugianitri, yang akrab dipanggil (Nitri) gadis Bali.

“Tidak tahu ada apa, kemudian datang perintah kalau malam hiburan itu, dibatalkan, “ kisah Nitri. Padahal pada saat itu, ia yang selalu didapuk (ditugaskan) menari (Bali) dalam setiap ada acara di pusat pendidikan polwan itu, bagitupun pada saat akan digelarnya acara hiburan malam sesudah pelantikan itu.

“Saya tentu sudah siap akan tampil menari, juga teman yang lainnya. Dan acara itu juga banyak pejabat yang datang, namun tiba -tiba lampu padam, dan kemudian entah mengapa kok acara itu dibatalkan tanpa ada pemberitahuan ada apa -apa, maka semua pulang?“ kenangnya.

Dan esoknya, 1 Oktober 1965 gempar tersiar kabar kalau ada tujuh jenderal yang diculik, dan kemudian diketahui kemudian kalau para jenderal itu dibunuh dan jazadnya dibuang di lubang buaya. Sejauh ini ia juga tidak tahu, tidak mengerti, apakah pembatalan itu ada hubungannya dengan kemudian munculnya peristiwa meletusnya apa yang dikenal disebut G.30.S PKI, atau hanya kebetulan saja karena sebab lain. Ringkas kisah, Nitri kemudian mendapat tugas sebagai ajudan pengantar makanan bagi Bung Karno.

“Bapak saat itu sudah tidak lagi banyak ada kegiatan kepresidanan. Setiap hari yang saya tahu hanya membaca semua koran yang ada dirumah. Nah, dalam mendampingi Bung Karno saat menyantap makanan kecil di pagi hari, yang selalu ia dengar, Bung Karno, selalu ngomong sendiri soal politik sambil memegang Koran yang dibacanya.

“Saya kan, tidak tahu apa -apa soal politik, tapi saat saya memberanikan diri bertanya sedikit soal politik, beliau hanya jawab, “ Ah, sudahlah, kamu masih kecil, tahu apa soal politik, kalau saja saya mau berkata, pecah nanti negara ini. Biar dadaku saja yang aku robek sendiri, asal Negara ini bersatu, ” tirunya. Bila ia mengenang itu, selalu saja tak terasa keluar air mata dari pelupuk mata tuanya. “Saya menangis kalau ingat Bapak, apalagi sekarang ini, rasa nasionalisme, persatuan bangsa ini sudah banyak pudar..,” siratnya.

Kembali pada tugasnya saat itu. Begitulah dalam setiap hari tugasnya mengantar makanan kecil (penganan) buat sang Presiden. Tugas rutin lainnya ialah ikut pergi ke Istana Bogor menikmati sajian musik keroncong yang menjadi hobby khusus bagi Bung Karno setiap sekali dalam satu minggu. Keikutsertaannya sebagai ajudan pengantar makanan bagi Sang Putra Fajar, dari tahun 1965 itu berakhir lepas pergantian presiden Soekarno ke Presiden Soeharto, pada tahun 1967. “Selepas pergantian presiden, besuknya beliau ditempatkan di Wisma Yaso dan tidak boleh ditengok, kecuali oleh keluarga itupun dengan izin pemerintah,“ urainya.

Nah, kenangan terakhir bersama sang proklamator ialah saat ia diajak berfoto bersama Bung Karno, selepas acara pergantian jabatan oleh Presiden Soeharto. “Saya awalnya bertanya kepada bapak, buat apa foto pak ? Bapak kemudian menjawab, lo kog buat apa ? Aku kan besuk sudah tidak pakai pakaian ini (pakaian khas kebesaran presiden Soekarno). Jadi, untung juga ada foto itu yang sampai sekarang masih ada, yang sebenarnya foto lainnya bersama Bapak sebelumnya banyak, tapi aku tidak pernah menyimpannya. Jadi untung ya, Bapak mengajak berfoto itu,“ papar Sugianitri yang kini tinggal di Jl. Drupadi Denpasar.

Beny Rusmawan

Dapatkan 2 buah buku penelitian Feni Efendi tentang PEMERINTAH DARURAT REPUBLIK INDONESIA (PDRI):

Jejak yang Terlupakan

Judul Buku: JEJAK YANG TERLUPAKAN: Menyusuri Jejak Mr. Syafruddin Prawiranegara dalam Menjalankan PEMERINTAH DARURAT REPUBLIK INDONESIA (PDRI) pada Masa Agresi Militer Kedua Belanda di Sumatera Tengah

Genre: Catatan Perjalanan

Penerbit: JBS Yogyakarta

Penulis: Feni Efendi

Pemesanan: WA 0812-6772-7161 / HP 0823-8485-2758

 

Selendang Ibu Perdana Menteri

Judul Buku: SELENDANG IBU PERDANA MENTERI

Genre: buku puisi PDRI

Penerbit: JBS Yogyakarta

Penulis: Feni Efendi

Pemesanan: WA 0812-6772-7161 / HP 0823-8485-2758

Tentang Penulis: Feni Efendi

Gambar Gravatar
Feni Efendi lahir 20 Juli 1984 di Tiakar Kota Payakumbuh. Menamatkan pendidikannya di SD N 06 Balai Nan Tuo Tiakar Payakumbuh (1997), SLTP Negeri 5 Payakumbuh (2000), SMK Taman Siswa Payakumbuh jurusan Elektronika Komunikasi (2003). Ia menulis catatan perjalanan, sejarah, puisi dan juga sebagai blogger, copywriter dan youtuber. Buku puisinya berjudul SELENDANG IBU PERDANA MENTERI dan buku catatan perjalanan sejarahnya berjudul JEJAK YANG TERLUPAKAN: Menyusuri Jejak Mr. Syafruddin Prawiranegara dalam Menjalankan PEMERINTAH DARURAT REPUBLIK INDONESIA (PDRI) pada Masa Agresi Militer Kedua Belanda di Sumatera Tengah. Bukunya bisa dipesan melalui kontak WA 0812-6772-7161. Ia tinggal di Limapuluh Kota Sumatera Barat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.