Tentara Inggris Nyaris Menyerah Andai Soekarno Tak Datang Ke Surabaya

oleh -7 views
Tentara Inggris Nyaris Menyerah Andai Soekarno Tak Datang Ke Surabaya

Tentara Inggris Nyaris Menyerah Andai Soekarno Tak Datang Ke SurabayaTRAVESIA.CO.ID – Masih diingat benar oleh Soemarsono bagaimana ia melihat posisi pasukan Inggris hampir habis! Sepanjang pertempuran dari tanggal 27 Oktober 1945, pemuda daerah Wonokromo Surabaya yang ia pimpin mengambil inisiatif serangan ke pihak Inggris. Pertempuran mulai pecah tanggal 27 Oktober 1945. Pemicunya adalah kemarahan rakyat Surabaya terhadap perilaku tentara Inggris: ditugasi mengurus tawanan dan interniran, tetapi malah menangkapi pemuda Republik dan melucuti senjatanya.

Pasukan Inggris, yang berkekuatan 6000-an orang dan dilengkapi persenjataan modern, kewalahan menahan “amarah” para pemuda dan rakyat Surabaya. Pasukan Inggris pun meranggas. Pemuda Surabaya tak mengindahkan kemampuan mereka, yang mereka tahu harga diri mereka diinjak injak serdadu Inggris. Serantak perlawanan sengit di seluruh kota Surabaya terjadi!

Tentara Inggris yang awalnya menganggap remeh anak anak Surabaya tak menyangka mereka menghadapi serangan bringas! Dari anak anak muda yang tak takut mati! Serangan tentara Inggris yang awalnya “galak” lama kelamaan makin surut, hanya sesekali terdengar suara balasan tembakan dari pihak Inggris ke pihak pejuang, di sudut lain kota Surabaya pun sama. Tempat tempat yang di jadikan pos pos Inggris semua terkepung dan terjapit! Pemuda Surabaya tak memberi kesempatan tentara Inggris pemenang Perang Dunia II ini mendapat “angin”! Semua celah ditutup rapat bahkan pasokan logistik dan amunisi.

Hari ini sudah 2 hari sejak tanggal 27 Oktober 1945 satuan Inggris telah hampir putus asa dan menyerah pada pihak pejuang. Bahkan anak anak pejuang seperti meledek pada tentara Inggris yang kehausan dengan kadang kadang melempar tempat air minum di dekat posisi mereka namun saat tentara Inggris hendak mengambil air itu. Serantak tembakan ditujukan pada tentara yang na’as itu. Sampai tiba tiba terdengar. “Ini Presiden Republik Indonesia, Sukarno, memerintahkan berhenti, supaya jangan dilanjutkan pertempuran itu!” Suara pengeras suara dari kejauhan terdengar jelas.

Tembakan masih berlangsung namun makin berkurang sedang suara pengeras suara dari mobil yang membawa bung Karno makin jelas dan mendekat. Sumarsono berlari kedepan mobil yang membawa Sukarno juga Brigjen Mallaby dan menghadangnya.

“Ini kita dalam keadaan sudah unggul kok diberhentikan? Kalau kita kepepet diberhentikan, ya, bagus. Tapi ini kita sedang unggul!” Sumarsono kepada Sukarno dengan marah! Matanya memburu dan nafasnya turun naik! Bagi Soemarsono perintah itu mengada-ada! Bagimana tidak pasukan Inggris sudah terdesak. Kemenangan sudah di depan mata dan tiba tiba perintah harus hentikan tembakan! Sukarno diam saja. Tapi tiba-tiba Amir Syarifuddin yang keluar dari mobil dan merangkul Sumarsono.

“Ini sudah didiskusikan oleh kawan-kawan, oleh kami, sudah keputusannya begini” bisik Amir ke telinga Sumarsono kala itu. Sumarsono tidak mendebat. Ia hanya tertunduk mendengar bisikan Amir tersebut. Selain sebagai menteri Pertahanan, Amir Syarifuddin adalah bekas pimpinan Sumarsono di Gerindo (Gerakan Rakyat Indonesia). Namun, tidak jelas keputusan siapa yang dimaksud Amir. Rupanya sudah terdesak dan untuk menyelamatkan pasukannya yang nyaris musnah, komandan pasukan Inggris saat itu, Brigjend Aubertin Mallaby, meminta bantuan kepada Komandan tentara Inggris di Jawa, D.C Hawthorn, untuk turun tangan.

Menanggapi permintaan tolong bawahannya, D.C Hawthorn, yang saat itu berkedudukan di Singapura, langsung meminta Sukarno selaku Presiden Republik Indonesia untuk turun tangan guna menghentikan pertempuran. Singkat cerita, Sukarno menyetujui permintaan pimpinan tentara Inggris itu dan rombongan pemerintah Jakarta menuju Surabaya. Di Surabaya, dengan sebuah jeep pinjaman Inggris, Sukarno berkeliling menyerukan gencatan senjata. Ini tindakan yang sangat berani, walaupun berstatus Presiden, tetapi wajah Sukarno belum tentu dikenal oleh keseluruhan pemuda dan rakyat di Surabaya. Apalagi, banyak di antara pemuda dan rakyat itu baru pertamakali memegang senapan.

Singkat cerita, Soekarno yang saat itu baru pertamakalinya ke Surabaya sebagai Presiden, berhasil menghentikan pertempuran. Perintahnya didengar oleh rakyat. Sesuatu yang agak sulit terjadi di negeri yang baru sekali merdeka, baru berusia satu setengah bulan. Namun, tindakan Sukarno menghentikan pertempuran heroik itu bukan tanpa kritik. Banyak yang menganggap Soekarno melakukan kesalahan fatal karena menghentikan pertempuran. Bagi mereka, tindakan Sukarno itu memupuskan kemenangan pemuda dan rakyat Surabaya yang sudah di depan mata.

“Kalau umpamanya 3 jam kemudian Bung Karno baru datang menghentikan pertempuran, Komandan Korps Tentara Inggris itu sudah menaikkan bendera putih untuk menyelamatkan tentaranya yang masih hidup,” kata Sumarsono, salah seorang tokoh yang mengambil peran memimpin dalam pertempuran itu dalam memoarnya, Revolusi Agustus: Kesaksian Seorang Pelaku Sejarah. Saat itu Sumarsono menjabat ketua Pemuda Republik Indonesia (PRI), sebuah organisasi yang menghimpun hampir seluruh kekuatan pemuda di Surabaya. Organisasi ini punya peranan besar dalam perjuangan rakyat Surabaya antara September-November 1945.

Akhirnya Sumarsono tunduk pada keputusan itu. Ia kemudian diboyong ke Jalan Mawar, tempat corong radio yang sehari-harinya digunakan oleh Bung Tomo berpidato, untuk menyerukan penghentian tembak-menembak. Belakangan, melalui buku Revolusi Agustus: Kesaksian Seorang Pelaku Sejarah, Sumarsono menyadari bahwa memenangkan pertempuran belum tentu memenangkan politik. Maksudnya, pemuda dan rakyat Surabaya bisa memenangi pertempuran, tetapi secara politik mereka kalah. Bukankah pertempuran hanya salah satu jalan dari perjuangan politik?

Sumarsono sendiri menyadari, dengan mematuhi seruan gencatan senjata dari Sukarno, bangsa Indonesia menang secara politik, Sukarno selaku Presiden dipatuhi oleh rakyatnya. Ini syarat mutlak berdirinya sebuah negara pengakuan rakyatnya.

Sumber buku Revolusi Agustus: Kesaksian Seorang Pelaku Sejarah. Soemarsono.

Beny Rusmawan

Dapatkan 2 buah buku penelitian Feni Efendi tentang PEMERINTAH DARURAT REPUBLIK INDONESIA (PDRI):

Jejak yang Terlupakan

Judul Buku: JEJAK YANG TERLUPAKAN: Menyusuri Jejak Mr. Syafruddin Prawiranegara dalam Menjalankan PEMERINTAH DARURAT REPUBLIK INDONESIA (PDRI) pada Masa Agresi Militer Kedua Belanda di Sumatera Tengah

Genre: Catatan Perjalanan

Penerbit: JBS Yogyakarta

Penulis: Feni Efendi

Pemesanan: WA 0812-6772-7161 / HP 0823-8485-2758

 

Selendang Ibu Perdana Menteri

Judul Buku: SELENDANG IBU PERDANA MENTERI

Genre: buku puisi PDRI

Penerbit: JBS Yogyakarta

Penulis: Feni Efendi

Pemesanan: WA 0812-6772-7161 / HP 0823-8485-2758

 

Tentang Penulis: Feni Efendi

Gambar Gravatar
Feni Efendi lahir 20 Juli 1984 di Tiakar Kota Payakumbuh. Menamatkan pendidikannya di SD N 06 Balai Nan Tuo Tiakar Payakumbuh (1997), SLTP Negeri 5 Payakumbuh (2000), SMK Taman Siswa Payakumbuh jurusan Elektronika Komunikasi (2003). Ia menulis catatan perjalanan, sejarah, puisi dan juga sebagai blogger, copywriter dan youtuber. Buku puisinya berjudul SELENDANG IBU PERDANA MENTERI dan buku catatan perjalanan sejarahnya berjudul JEJAK YANG TERLUPAKAN: Menyusuri Jejak Mr. Syafruddin Prawiranegara dalam Menjalankan PEMERINTAH DARURAT REPUBLIK INDONESIA (PDRI) pada Masa Agresi Militer Kedua Belanda di Sumatera Tengah. Bukunya bisa dipesan melalui kontak WA 0812-6772-7161. Ia tinggal di Limapuluh Kota Sumatera Barat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.