Tjilintjing, Ajang Tempur BKR Laut

No comment 9 views
Tjilintjing, Ajang Tempur BKR Laut

Tjilintjing, Ajang Tempur BKR Laut

TRAVESIA.CO.ID – Sedari awal kedatangan Sekutu sudah dicurigai oleh para pemuda pasti diikuti oleh Belanda. Tanggal 16 September 1945, kapal perusak Inggris HMS Canberra bersandar di Tanjung Priok dengan rombongan 4 kapal korvet dan kapal selam. Saat para serdadu Inggris keluar dari kapal tak lama di ikuti oleh orang orang bule Belanda yang awalnya mereka bicara bahasa inggris, namun lama kelamaan keluar aslinya, para buruh angkut pelabuhan mendengar para bule menggunakan bahasa Belanda. Terbukti ini yang ditakutkan para pemuda, Belanda bareng Inggris!

Bentrok awal terjadi di tanggal 18 September, antara polisi militer Inggris yang pastinya ada anggota Nica Belanda dengan para pemuda pelabuhan di menara air, stasion tanjungpriok dan mess pelaut. Tembak menambak hampir 3 jam akhirnya di tengahi oleh pemerintah pusat. Bentrok selanjutnya tanggal 29 september, terjadi di jalan Dobo, Jalan Sulawesi dan jalan sungai bambu. BKR laut pimpinan Madmuin Hasibuan bertahan sampai seharian penuh saat di rangsek tentara Inggris dan nica, hingga markas BKR laut di pindah ke yacth club atau sempur sekarang, bentrok ini juga di tengahi pemerintah pusat.

Sampai akhirnya dalam bulan November dan Desember. Inggris menyerang habis habiskan garis pertahanan BKR laut dan pemuda pelabuhan di kali kresek, Inggris memulai serangan dari tanggal 9 November untuk menembus jembatan kali kresek yg di pertahankan mati matian oleh pejuang kita, pertempuran terjadi hampir sebulan penuh, Inggris mengerahkan semua senjata sampai pasukan baret merah nya di turunkan.

Tanggal 9 Desember 1945, pasukan. Komando baret merah Inggris berhasil menembus garis pertahanan di jembatan kali kresek, pejuang dan BKR laut mundur sampai Cilincing. Dalam minggu terakhir bulan Desember itu, para pejuang membuka semua wilayah di seputar tanjungpriok sebagai garis pertempuran, setelah jembatan kresek di tembus Inggris terus merangsek pejuang. Maka mulai dari daerah Kali baru, tanah merdeka dan terakhir di Cilincing para pejuang dapat menahan gempuran Inggris dan mengajak mereka dalam perang rawa rawa di hutan mangrove.

Seminggu terakhir bulan desember di Cilincing bagai neraka buat pasukan infantri Inggris ini, mereka bagai masuk lumpur hisap, bantuan dari alteleri dan pesawat udara tak ada artinya. Para pejuang kita sangat mahir menggunakan rawa rawa dan hutan mangrove sebagai temeng dan buat Inggris ini mungkin hal baru bertempur dalam kondisi terjebak lumpur dan berat serta lembab. Catatan pak Madmuin Hasibuan sekitar 30 serdadu Inggris tewas di Cilincing dalam perang model rawa rawa ini, sampai akhir nya karena kalah terbatas amunisi dan desakan pemerintah pusat. Para pemuda dan BKR laut mundur ke arah Karang Congok – Bekasi dan membuat serta membantu garis pertahanan di sana. Sampai 3 tahun kedepan BKR laut pak Hasibuan berjibaku dengan Resimen V Tjikampek pimpinan pak Moefreni Mo’mien mempertahankan front Bekasi.

Sumber buku Sejarah Perjuangan Rakyat Jakarta, Tangerang dan Bekasi terbitan Kodam Jaya tahun 1975

Beny Rusmawan

Leave a reply "Tjilintjing, Ajang Tempur BKR Laut"