Perjanjian Renville Mengharuskan Kyai Haji Noer Alie Hijrah ke Banten

Perjanjian Renville Mengharuskan Kyai Haji Noer Alie Hijrah ke BantenTRAVESIA.CO.ID – Belanda sebenarnya menyediakan kereta api untuk mengangkut pasukan yang akan hijrah, termasuk pasukan laskar Hisbullah, namun karena syaratnya senjata harus ditaruh dan kumpulkan oleh Belanda, takut senjata tidak akan kembali maka Kyai Haji Noer Alie memutuskan untuk hijrah ke Banten dengan jalan kaki. Pasukan Hisbullah berencana melalui jalan selatan menuju arah Bogor. Tapi setibanya di Cipayung, pertengahan antara Bekasi dan Bogor, pasukannya ditangkap Belanda.

Penangkapan ini di kenal dengan “Peristiwa Cipayung” dan ini menjadi berita hangat di kalangan pasukan dan masyarakat Bekasi saat itu. Sebenarnya jalan yang ditempuh pasukan untuk sampai ke Banten melalui jalan utara penuh wilayah Belanda di Cilincing dan Tanjung Priok, Ketika tiba di Ujungmalang untuk berpamitan dengan orang tua, istri, dan sanak saudara, niat itu diurungkan. Ada kabar bahwa jalur tersebut tidak aman lalu Kyai Haji Noer Alie memutuskan untuk menggunakan jalur selatan melalui Pondok Gede, Cibinong, Cipayung, Bogor, dan Leuwiliang.

Rombongan tiba di Cipayung sekitar pukul 16.00. Kemudian mampir di rumah salah seorang lurah Republik di Cipayung. Setelah shalat ashar dan istirahat, K.H. Noer Alie memohon ke lurah agar diantarkan ke rumah lurah yang lain. Saat kondisi pasukan sedang istirahat dan makan, lurah yang awalnya dianggap lurah Republik ini meminta ijin keluar untuk membeli rokok. Rupanya, lurah tersebut berpihak pada Belanda atau Lurah NICA, ia bukan membeli rokok, tapi melaporkan pada NICA keberadaan pasukan Kyai Haji Noer Alie di tempatnya. Saat Kyai Haji Noer Alie kembali, ia melihat pasukan nya sudah dikepung oleh pasukan Belanda sedang lurah Cipayung tidak menampakkan dari. Semua pasukan dan senjata Semua sejumlah lengkap 40 pucuk dan perbekalan disita.

Cepat cepat Kyai Haji Noer Alie mengambil inisiatif agar bisa lolos. Tiba tiba Kyai Haji Noer Alie membisikan kepada KH. Mahmud dan Husein Abdullah, siasatnya adalah agar identitas mereka oleh pasukan Belanda tidak diketahui. Kyai Haji Noer Alie berpura-pura sebagai tukang masak, K.H. Abdul Rahman berpur pura sebagai KH, Noer Alie, dan KH. Mahmud berpura pura sebagai tukang air. Mereka semua digiring dibawah todongan senjata pasukan Belanda. Tiba tiba KH, Mahmud berbicara pada Kyai Haji Noer Alie dengan menggunakan bahasa Arab, agar Belanda tak mengerti.

“Nung (pangilan kecil Kyai Haji Noer Alie), jika sampai di markas, pasti mati kita Nung”.

“Menyelamatkan diri sendiri” tetap dengan bahasa arab jawab Kyai Haji Noer Alie pada Kyai Haji Mahmud.

Saat mereka digiring itulah Kyai Haji Noer Alie melompat ke semak semak tanpa diperhatikan oleh tentara Belanda, setelah mendekam dalam selokan beliau berhasil selamat. Setelah merasa aman, ia kembali ke tempat lurah NICA di mana ditangkap. Sebelum masuk ke rumah sang lurah itu tiba tiba keluar dan menyongsongnya sambil berpura pura basa-basi bahwa ia sedih terhadap terhadap kejadian penangkapan Kyai Haji Noer Alie. Belum sempat lurah Cipayung itu selesai bicara.

“Lu jangan ngomong! Gara-gara lu nih gua jadi begini! pura pura lu!” sengat suara Kyai Haji Noer Alie marah!

“Sekarang pakaian dan semuanya sudah habis. Lu harus kasih gue duit sekarang, buat ongkos!” lanjut sang Kyai pada lurah itu

Lurah itupun memberi apa yang di minta Kyai Haji Noer Alie sebanyak f 40 gulden, Kyai Haji Noer Alie menuju markas TNI di Leuwiliang melalui Gunung Batu. Setibanya di Leuwiliang, beliau disambut oleh TNI yang sedang menuju ke depan Bogor Barat. Kebetulan saat itu turut berjaga seorang prajurit, Sutisna, yang pada awal revolusi berada di Karawang dan kena Kyai Haji Noer Alie.

Sumber buku Kemandirian Ulama Pejuang karya Bang Ali Anwar

Beny Rusmawan

Leave a reply "Perjanjian Renville Mengharuskan Kyai Haji Noer Alie Hijrah ke Banten"