Saat Moh. Natsir Berseteru Dengan Bang Ali Sadikin, Buya Hamka Menjadi Penengah

Saat Moh. Natsir Berseteru Dengan Bang Ali Sadikin, Buya Hamka Menjadi Penengah

Saat Moh. Natsir Berseteru Dengan Bang Ali Sadikin, Buya Hamka Menjadi Penengah

TRAVESIA.CO.ID – Dalam Beberapa kasus, sekali lagi saya cuma akan memberi contoh sebuah cerita bagaimana menyikapi perbedaan dan pandangan antara 2 tokoh yang bersebrangan. Sekedar me-refresh lagi bagaimana dahulu para tokoh ini menyikapi perbedaaan dengan “tokoh” saat ini dalam menyikapi perbedaaan juga pandangan. Pernah ingat saat tahun 70 an, di mana Ali Sadikin dengan gaya nya yang khas membangun Jakarta dan ada satu kalimat Ali Sadikin yang terkenal yakni, “Itu tokoh Islam Moh. Natsir kalau keluar rumah naik helikopter saja agar tidak menginjak jalan yang dibangun dari dana judi!”

Saat itu Ali melegalkan judi dengan alasan yang tentu Bang Ali punya. Saat itu ada beberapa tokoh agama termasuk Buya Hamka yang menyindir sang Gubernur tentang uang judi dijadikan biaya pembangunan Jakarta, Buya Hamka pun sempat menyindir dengan kalimat “ alangkah berkah jika jalan atau pembangunan diambil dari uang halal”.

Untuk beberapa saat terjadi perang dingin antara kaum ulama dengan sang Gubernur ini, tapi tahu kah kita jika sebenarnya 2 tokoh ini menyikapi “perang” dingin dengan bijak sekali? Ketika akan memperluas pusat-pusat aktivitas ekonomi di kawasan Tanah Abang, Ali Sadikin terbentur pada kompleks permakaman Arab yang sulit direlokasi. Maka dia berteriak dari Balai Kota, “Alangkah sulitnya kita membangun di Jakarta ini. Kita kesulitan untuk orang hidup, bagaimana kalau orang mati itu dikubur saja secara berdiri supaya efisien?”

Ia juga mewasiatkan agar setelah wafat, jenazahnya dikubur satu liang dengan istrinya. Sebagai bentuk protes atas pidato keras ini, beberapa orang mondar-mandir mengusung keranda di depan Balai Kota dan depan kediamannya di Jalan Borobudur. Untunglah Buya Hamka berhasil meredakan suasana dengan mengatakan bahwa gebrakan Ali Sadikin tidak sepenuhnya salah. Beliau merujuk pada kompleks pekuburan di Makkah dan Madinah yang sudah lama, dibuka kembali untuk ditimbun jenazah baru.

Akhirnya, kompleks permakaman Tanah Abang bisa direkolasi ke pinggiran kota dan lahannya bisa dibangun berbagai fasilitas umum, termasuk gedung pendidikan Said Naum. Begitulah, bagaimana para tokoh yang dahulu bersebrangan atau bahkan berbeda pendapat dapat menyikapi dengan bijak tanpa harus membuat suasana menjadi panas. Masih bisakah kita sebagai anak bangsa meniru teladan para tokoh besar ini? Berbeda pendapat tanpa harus memojokan dan menjatuhkan satu sama lain ?

Beny Rusmawan

Leave a reply "Saat Moh. Natsir Berseteru Dengan Bang Ali Sadikin, Buya Hamka Menjadi Penengah"