PERISTIWA PDRI DI BUKITTINGGI/AGAM

1 comment 109 views

Belanda Menyerang Matur

Belanda memasuki Matur pada tanggal 25 Desember 1948 dan belum ada perlawanan karena parjurit republik belum terorganisir dengan baik. Dan pada tanggal 29 Desember pasukan Belanda menyerang Matur dengan peluru houwitser yang ditembakkan lebih kurang dengan jarak 9 km dari Bukittingi pada pukul 14.30 – 17.30 WIB yang menewaskan 7 orang rakyat termasuk walinagari Matur Sutan Mukemi.

Belanda kembali menyerang Matur pada tanggal 10 Januari 1949 namun terlebih dahulu telah dicegat oleh pasukan republik yang dipimpin Kolonel A. Halim di Batu Baro dengan pertempuran sehari penuh dari pukul 06.00 – 18.30 WIB. Dan Belanda kembali menggempur Matur pada akhir Januari dengan membakar 26 rumah rakyat dan menghancurkan nagari Pauah Parit Malintang.

Matur kembali di serang pada awal Februari dengan pasukan berkendaraan bermotor dan pantser hingga sampai ke Sungai Landir. Dan pertempuran berlangsung dari pukul 06.00 – 14.00 WIB yang membuat Kolonel A. Halim dan Letnan Isma Azir terkepung musuh dan melakukan tiarap hingga keadaan kembali aman.

Menyerang Pos Belanda di Koto Gadang

Pasukan Tundra dan Letnan Rasyidin Rasyid menyerang pos Belanda di Ganting dan kemudian menyerang pos Belanda di Tapi Sawahan  bersama Maramis. Sedangkan pasuka Letnan Isma Azir melakukan perlindungan kepada pasukan yang menyerang. Dan dalam pertempuran tersebut pihak Belanda mengalami korban jiwa 2 orang prajurit. Dan ketika pagi hari saat pasukan republik sampai di Sungai Jaring untuk kembali ke Matur maka pesawat Belanda melakukan serangan-serangan dari udara dan tidak ada korban jiwa dari prajurit republik.

Menyerang Konvoi Belanda di Koto Baru

Setelah pertempuran di Koto Gadang, Belanda melakukan konvoi pasukan dari Padangpanjang ke Bukittinggi dengan beberapa truk yang berisi prajurit dan pantserwagen maka pasukan prajurit republik pun menghadang pasukan Belanda di Koto baru yang dipimpin oleh Yan Turki dan Belanda pun langsung melarikan diri ke arah Bukittinggi sambil memuntahkan peluru.

Menghadang Belanda di Ngarai Sianok

Pos pertahanan Belanda dengan prajurit republik hanya berjarak sekitar 400 meter dan bahkan sering saling lihat dan bertmu sehingga mengakibatkan sering perang mulut dan kontak senjata. Dan pada jalan-jalan yang dilalui oleh Belanda sering ditanam bahan peledak dengan disiapkan petugas yang siap menarik kabel jika pasukan Belanda telah lewat. Maka pada suatu ketika bahan peledak yang seberat 50 kg tersebut diledakkan ketika satu pasukan patroli Belanda melewatiu jalan yang telah ditanam bahan peledak yang mengakibatkan 11 orang pasukan Belanda tewas termasuk komandan kompi Eerste-Leuitenant Romeins ditambah 16 prajurit luka-luka. Dan pada hari berikutnya Belanda melakukan tembakan-tembakan melalui pesawat Mustang yang mengakibatkan 3 orang tewas dan rumah-rumah hancur di Jambak.

Menyerang Pos Pertahanan Belanda di Bukittinggi

Pada suatu malam pasukan halilintar dibawah pimpinan Letnan Maramis mengadakan gempuran ke pos perthanan Belanda simpang atas Ngarai Bukittingi pada pukul 22.00 WIB dan berhasil ditembus pada pukul 01.00 WIB dengan melepaskan tembakan dan granat tangan. Dan pada saat itu seorang pasukan Halilintas yang bernama Yasin berhasil menerobos dan mendekati brengun musuh dengan mambawa 2 buah granat tangan. Namun yasiin tewas di malam itu dan Belanda menjemur jenazahnya sampai pukul 14.00 WIB untuk menakut-nakuti rakyat, tetapi reaksi rakyat adalah sebaliknya dan rakyat semakin benci kepada Belanda.

Dan pada tanggal 18 April prajurit republik menyerang pos pertahanan Belanda yang mengakibatkan tewasnya 3 orang prajurit Belanda.

Pada tanggal 1 Agustus Polisi Federasi Belanda mengepung kampung Jirek yang terletak sekitar 300 meter dari pasar. Dan para pasukan republik memasuki Simpang Limau dan Simpang manggis pada pukul 15.00 WIB lalu menanam ranjau darat yang ditanam di Jalan Birugo yang mengakibatkan 2 orang pasukan Belanda tewas pada tanggal 2 Agustus. Pada tanggal 3 Agustus pasukan republik menyerang Belanda di jalan Landbow dan menewaskan beberapa orang pasukan Belanda.

Belanda Menggempur Janjang Batu

Pasukan Halilintas Letnan Maramis berpindah markas ke Janjang Batu dan rombongan pasuan dipecah menjadi tiga. Dan ketika tepat berada di tengah-tengah Janjang Batu pasukan Maramis dihujan peluru dari atas dan di bawah ngarai yang mengakibatkan 9 prajurit dan 7 pucuk senjata hilang. Dan Letnan Maramis bisa selamat setelah melompat ke dalam jurang dan tersangkut di akar-akar lalu mencari jalan kampung terdekat ketika telah berada di bawah jurang. Setelah peristiwa ini akhirnya diketahui ada seorang penghianat yang memberi kabar kepada musuh dan setelah ditangkap maka dijatuhi hukuman secara militer.

Menyerang Pos Belanda di Ganting

Antara Koto Gadang dan Koto Tuo Belanda membuat pos pertahanan di Ganting yang akhirnya diserang oleh pasukan republik dari 3 jurusan yaitu sebelah kanan dipimpin oleh Letnan Rasyidin Rasyid, Kiri oleh letnan Isma Nazir dan ditengah oleh Letnan Maramis pada pukul 01.00 WIB sampai 04.30 dengan gempuran yang sengit. Dan besok garinya pasukan prajurit republik digempur oleh pasukan Belanda dari udara dengan pesawat Mustang.

Belanda Menyerang Palupuh

Batang di Palupuh merupakan markas pertahanan dari Komando Sumatera yang dijuluki Pasukan Rimba Raya bersama Mobrig Sumatera Barat. Dan pada tanggal 26 Belanda melakukan patroli dengan kendaraan bermotor ke arah Palupuh untuk mencari dima posisi masrkas pasukan republik dan terjadilah pertempuran meski akhirnya prajurit Belanda yang dikawal senjata berat terpaksa mundur ke Bukittinggi. Dan pasukan Belanda kembali menyerang Palupuh pada tanggal 30 Desember 1948 dengan membawa 2 kompi pasukan dan pasukan udara serta artileri. Pertempuran berlangsung dari pagi sampai siang hari dan lagi-lagi Belanda erpukul mundur ke bukittinggi.

Belanda kembali mengempur Palupuh dengan pesawat ringan pada awal Januari 1949 dan sebuah pesawat terjatuh sehingga langsung menjadi bulan-bulanan rakyat beserta awak pesawatnya. Dan pada tanggal 5 Januari Belanda lagi-lagi melancarkan serangannya dengan kekuatan pasukan yang lebih besar berupa Kesatuan Zeni, Satuan Berlapis Baja dan diiringi dengan pesawat udara dengan manuver senjata berat.

Beratnya gempuran Belanda membuat garis belakang prajurit republik menjadi kosong sehingga dapat dimjasuki pasukan Belanda. Dan dalam keadaan di tengah-tengah gempuran tersebut maka Pasukan Rimba Raya melawan di garis depan dan Mobrig Sumatera melawan di garis belakang sehingga pasukan belanda berhasil mendirikan pos pertahanan di Palupuh untuk bisa menduduki Pasaman.

Belanda Mengempur Kamang

Belanda memasuki Kamang pada tanggal 18 Januari dan besoknya Belanda kembali menyerang. Tanggal 2 Februari Belanda kembali menyerang Kamang dan tanggal 17 Februari Belanda bergerak Kayu IV dan pada tanggal 2 Juni Pasukan Belanda memasuki Tilatang dengan 1 kompi pasukan dan Belanda menderita banyak korban jiwa.

Belanda kembali memasuki Tilatang dengan pasukan 26 truk pada tanggal 10 Juni dan pada tanggal 18 Juni menyerang Tilatang dan lagi-lagi Belanda menderita bayak korban. Pasukan belanda kembali bergerak memasuki Tilatang dan Sungai Tuak dengan serangan besar-besaran dan tanggal 5 Agustus pasukan Belanda terpukul mundur dan kembali ke Bukittinggi.

Tempat-tempat pertahanan yang dijadikan markas oleh pasukan republik adalah Bukit Kalung yang sering dibom oleh pesawat Belanda. Dan untuk mancapai tempat ini pasukan belanda akan melewati Kapau, Songsang, Terusan, Bukit Kelirik, Magek, Bukit Kawin dan sekita Baso serta Air Tabik.

Pernah pada pukul 04.00 WIB tentara Belanda bergerak dari Baso lalu naik bukit hingga sampai di belakang Markas Komando di Batu Beragung yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Dahlan Djambek hingga menyingkir dan salah seorang stafnya yang bernama Letn. II Bakhtiar ditangkap Belanda ketika berpapasan oleh di atas bukit dan akhirnya ditembak belanda setelah tidak bersedia mengaku di mana keberadaan Dahlan Djambek dan pasukannya.

Pada tanggal 18 Agustus 1949 Belanda kembali melakukan patroli di Bukit kawin melalui Kampung Dalam yang dicegat oleh pasukan republik dan mundur kembali ke Bukittinggi.

Belanda Menyerang Baso

Pada tanggal 18 Januari Belanda juga menyerang Baso dan banyaklah terjadi korban jiwa. Dan pada suatu hari rayat menangkap KNIL dan setelah diperiksa maka tawanan tersebut dibebaskan kembali dengan syarat insyaf dan bersedia mengajak teman-temannya untuk mendukung negara republik.

Belanda Menyerang Empat Angkat

Belanda menyerang Empat Angkat pada tanggal 22 Januari 1949. Dan pada tanggal 22 Juni pasukan belanda kembali menyerang daerah ini.

Belanda Memasuki Sungai Puar

Belanda melakukan serangan ke Sungai Puar sejak tanggal 19 Desemebr 1948 yang menwaskan seorang perempuan. Daerah ini terletak di ketingian yang arah selatan akan menuju Bukit Batabuh, Lasi dan Candung dengan wali perang bernama Umar Datuk Garang. Dan pada tanggal 2 januari Pasukan Belanda melakukan penggeledahan di Sarik dan Sungai Puar dan menembak seorang pemuda.

Pada tanggal 18 Maret belanda kembali ke Sungai Puar dan mendapat perlawanan dari prajurit republik dan pemuda pejuang dengan pertempuranyang sengit sehingga menewaskan 6 orang di pihak Belanda tewas dan 4 orang gugur di pihak prajurit republik. Dan tanggal 24 maret belanda kembali menyerbu Sungai Puar pada pukul 16.00 WIB yang menewaskan 16 orang prajurit Belanda tewas dan 2 orang prajurit republik gugur.

Pertempuran sampai terus berlangsung hingga ke Lurah dan membuat seorang pejuang gugur da 2 orang petani ditembak dan 2 buah rumah yang dibakar oleh belanda sebelum beberapa hari genjatan senjata.Dan belanda juga menghujani KotoTinggi dengan peluru dan meriam jarak jauh sehingga sejak pukul 18.00 – 20.00 WIB yang menyebabkan seorang ibu dan bayi tewas terkena pecahan peluru mortir. Dan jumlah warga yang gugur selama agresi militer belanda kedua ini sekitar 96 orang termasuk yang hilang.

Belanda Memasuki Sarik

Pada tanggal 2 januari 1949 Belanda memasuki Sarik sebagai gerakan pembersihan dengan menangkap banyak pemuda-pemuda di Sarik. Dan di sebuah tebing yang bernama Monggok Tabek pemuda-pemuda Sarik yang bernama Abdul Muis St. Pamuncak, Ahmadiar yang sebagai komandan dan wakil BPNK Sarik menunggu pasukan Belanda lewat dan menjatuhkan granat tangan sehingga menimbulkan korban yang banyak di pihak Belanda.

Pada keesokan harinya pasukan belanda membalas dengan menembaki nagari Sarik dari arah Padang Luar. Dan pada tanggal 4 Januari pasukan Belanda melakukan penangkapan-penangkapan kepada pemuda Sarik di saat magrib dan beberapa hari setelah itu ada juga yang ditembak oleh Belanda.

Pada tanggal 16 Januari  Belanda kembali menggempur Sarik namun mendapat perlawanan dari prajurit republik dan Belanda menderita banyak korban tewas dan pada tanggal 4 Maret lagi-lagi pasukan Belanda satu orang tewas setelah melakukan penggempuran di Sarik.

Feni Efendi, Payakumbuh, 2017

HP/WA 081267727161

  1. author

    toko buku5 months ago

    bukittinggi kota wisata

    Reply

Leave a reply "PERISTIWA PDRI DI BUKITTINGGI/AGAM"