PERISTIWA PDRI DI SAWAHLUNTO / SIJUNJUNG

2 comments 57 views

Belanda Menduduki Sawahlunto

Ketika Pasukan Belanda telah berhasil menduduki Solok dan terus menuju Guguak Sarai dengan pertempuran yang sengit dihadang oleh prajurit republik maka pasukan Belanda pun berhasil menduduki pusat Sawahlunto pada tanggal 1 Januari 1949. Dan pada jam 11.00 WIB pejuang republik melakukan gerilya melawan pasukan Belanda sehingga Sawahlunto yang baru diduduki oleh Belanda tersebut membuat prajuritnya melarikan diri. Pengempuran itu tidak ada perlawanan berarti dari pihak Belanda karena pasukannya saat itu sedang berada di desan Salak kecamatan Talawi.

Pada tanggal 3 Januari 1949 dibaah pimpinan Letnan Ruslan Usman melakuakn gerulya ke pos pertahanan Belanda di desa Salak sehingga komandan Belanda Sersan Mayor Van Link tewas ketika kabur mengendarai jeep bersama 4 orang pasukannya. Dan besok harinya Belanda melakukan pembakaran rumah-rumah penduduk di Sijantang untuk melampiaskan kemarahannya. Dan ketika telah terjadi cease fire Belanda mendirikan tugu di depan kantor Ombilin Sawahlunto dengan bertuliskan: “Ter herrinnering der gesneuvelde Sergeant Majoor Van Link, Corps Speciaal Troep II, tijdens operatie in Salak (SWL) 3 Januari 1949” yang dalam abahasa indonesianya berarti: “Mengenang Sersan Mayor Van Link dari Pasukan Istimewa II, ketika operasi di Salak (SWL) pada tanggal 3 Januari 1949”.

Belanda Menduduki Talawi

Dan pada tangal 15 Juni Belanda melakukan gempuran di Talawi dan berhasil mendudkinya.

Pertempuran Sengit dari Muaro Bodi Hingga ke Tanjung Ampalu

Setelah pasukan Belanda dihadang oleh pasukan republik di Guguak Sarai di hari itu juga di tanggal 1 Januari 1949 Belanda berhasil menduduki Sawahlunto. Namun pada hari itu juga prajurit republik dari Kubang Sirakuk dan Lumindai memasuki Sawahlunto untuk menyerbu pasukan Belanda pada pukul 11.00 WIB dengan perlawan yang tidak berarti dari pihak Belanda karena sebagian besar pasukan Belanda ada di Salak.

Setelah menduduki Sawalunto, pasukan Belanda terus menuju Sijunjung. Dan ketika akan sampai di Muaro Bodi, Pasukan belanda di oleh prajurit republik di Bukit Kutipan dan terjadilah pertempuran yang dahsyat dan banyak korban di pihak Belanda berjatuhan dan akhirnya pasukan belanda mendatangkan bantuan dari Sawalunto dengan melakukan serangan membabi buta sehingga ada 30 wanita dan anak-anak meninggal dunia dan terluka.

Sesudah Belanda mematahkan perlawanan prajurit republik di Muaro Bodi, pasukan Belanda salah mengambil jalan menuju Sijunjung dengan melewati Tanjung Ampalu dan keberadaan pasukan Belanda pun sampai ke pejuang republik yang baru saja dari Kumanis hendak menuju Tanjung Ampalu. Dan untuk melakukan penyerbuan pasukan Belanda tersebut dilakuaknlah rapat di rumah Dt. Mantiko Reno Tanjung Cerek yang dipimpin oleh Camat Militer Rustam Effendi dan rapat kedua dilakukan di Surau Padang Datar Aur Gading dipimpin oleh Dt. Bijo Dirajo.

Dari hasil rapat tersebut maka diutuslah Muchtar Raja Pahlawan, Idris Imam Pokieh, dan Dahlias untuk menyelidiki tempat menginap prajurit Belanda dan setelah itu penyerangan akan dilakukan pada tanggal 2 Januari 1949. Stretegi penyerangan dibagi beberapa kelompok untuk menyerang belanda dari beberapa arah. Adapun dari arah barat dipimpin oleh Kopral A. Rahman; arah timur di pimpin oleh Letnan Dua M. Majid, arah selatan dipimpon oleh Serda Haji Abbas.

Pertempuran dimulai ketika kelompok dari arah barat yang dipimpin oleh Kopral A. Rahman melempar granat sehingga meletuslah pertempuran yang dahsyat sehingga mengakibatkan 37 pejuang gugur menjadi kusuma bangsa. Dan dua hari setelahnya pada tanggal 4 Januari prajurit kembali mengadakan rapat di Surau Padang Datar Aur Gading untuk melakukan penyerbuan belanda yang masih menetap di Tanjung Ampalu. Namun siasat prajurit republik telah diketahui oleh prajurit Belanda karena adanya mata-mata yang melaporkan ke pihak Belanda sehingga pertempuran saat itu tidak seimbang di Pasar Tanjung Ampalu sekarang yang mengakitbatkan Abdul Munaf tertembak di kakinya. Ada pun para penghianat yang terbukti tersebut adalah Nur, B.M.L. Basiran, dan Manti P yang dihukum 12 tahun penjara di sawahlunto.

Dan pada tanggal 10 Januari pasuan republik melakukan sabotase jembatan Tanjung Ampalu  dan ketika dalam proses pengerjaan tersebut dapat diketahui oleh prajurit Belanda sehingga meletuslah pertempuran dan menelan satu orang korban jiwa dari pihak prajurit republik. Dan pada tanggal 14Januari gedung sekolah SD 1 Tanjung Ampalu dibakar oleh prajurit republik agar tidak bisa digunakan manfaatnya oleh Belanda. Serta pada tanggal 30 Januari prajurit belanda di cegat di Solok Batu Hampar yang menewaskan 6 orang prajurit di pihak Belanda. Setelah pebegatan itu pasukan Belanda melakukan serangan membabi-buta dan membakar 60 rumah di batu gedong, 9 rumah di Koto Panjang. Pada tanggal 2 Februari Belanda kembali dicegat di Manggih Banyak yang menewaskan 17 orang prajurit tentara ditambah 20 orang terluka sedangkan darimpihak prajurit republik satu orang gugur menjadi kusuma bangsa.

Belanda kembali menduduki Muaro Bodi pada tanggal 1 Agustus sampai 24 Agustus 1949.

Feni Efendi, Payakumbuh, 2017

HP/WA 081267727161

  1. author

    bari3 months ago

    pdri yang terlupakan

    Reply
  2. author

    syafrudin3 months ago

    bagus artikelnya

    Reply

Leave a reply "PERISTIWA PDRI DI SAWAHLUNTO / SIJUNJUNG"