PERISTIWA PDRI DI SOLOK

1 comment 41 views

Serangan Belanda ke Markas Resimen III di Tanah Sirah Solok

Pada tanggal 18 Desember 1948 Belanda telah terlebih dahulu memulai serangannya secara besar-besaran ke resimen III di Tanag Sirah Solok. Pertempuran ini berlangsung dengan sengit sampai malam hari dan pasukan Belanda belum mampu menembus pertahanan prajurit republik.

Esok harinya Belanda kembali mengempur Tanah Sirah dengan diiringi pesawat Mustang hingga terus ke Lubuk Gading dan Lubuk Selasih. Pertempuran berlangsung sengit dan Belanda berhasil menduduku Lubuk Selasih pada sore hari tanggal 19 Desember 1948. Dan pada hari juga kota Solok telah dibom dengan mitraliur Belanda secara membabi buta.

Belanda Menurunkan Pasukannya di Singkarak Melalui Jalur Udara

Pagi itu tanggal 19 Desember pesawat Mustang Belanda memuntahkan mitraliurnya di sekitar daerah danau Singkarak setelah membom kota Solok. Setelah aksi pembersihan itu Belanda mendaratkan pasukannya dengan menggunakan pesawat Catalina di dekat jembatan Umbilin. Dan pada tanggal 20 Desember Belanda telah berhasil menduduki Singkarak dan terus melebarkan pendudukannya ke kota Solok.

Belanda Menduduki Kota Solok

Setelah Belanda berhasil menduduki Tanah Sirah pada tanggal 19 Desember dan Singkarak pada tanggal 20 Desember maka Markas Resimen III/Kuranji berhasil dikepung Belanda dari dua arah yaitu dari Lubuk Selasih dan Singkarak. Dan Belanda pasukan tank dan paserwagen yang diiringi sekitar 200 truk pasukannya beserta diamankan oleh pesawat-pesawat tempur yang menyerang dari udara dan pasukan Belanda terpaksa mundur ke Singkarak setelah mendapatkan perlawanan dari prajurit republik di Sumani. Namun Belanda kembali mencoba menduduki kota Solok di sore hari dengan menembus pertahanan di Selayo dan Talang berserta Sumani dan Tanah Garam.

Pasukan Republik Menghadang Belanda di Guguak Sarai

Sebuah nagari di kabupaten Solok yang bernama Guguak Sarai di kecamatan IX Koto Sungai Lasi yang terletak sekitar 10 km dari pusat kota Solok merupakan daerah pertempuran pejuang republik dengan pasukan Belanda yang berusaha menguasai Indonesia kembali dalam agresi militer kedua. Peristiwa pertempuran ini terjadi tanggal 31 Desember setelah pasukan Belanda telah berhasil menduduki kota Solok.

Nagari Guguk Sarai ini memiliki topografi wilayah yang indah dengan perbukitan dan di sana ada sebuah tempat yang Indah di Batu Pakak yang bernama Aia Batimbo. Selain dari keindahan alamnya Guguak Sarai menyimpan kisah heroik pada sebuah malam sekitar pukul 22.00 WIB prajurit republik menghadang Belanda yang dipimpin oleh Kapten Westland menuju kota Sawahlunto dan melakukan penyergapan kepada pos-pos BPNK yang mengakibatkan 6 orang anggota BPNK gugur sebagai kusuma bangsa.

Komandan pertempuran dari prajurit republik di Guguak Sarai dipimpin oleh Letnan Danny yang baru saja datang dari Panyangkalan untuk menyiapkan pasukan di sekitar Solok agar pada tanggal 1 Januari 1949 melakukan serangan serentak melawan pasukan Belanda. Namun dalam pertempura tersebut pasukan Belanda terpukul mundur lalu meminta bantuan pasukan ke Solok yang berupa pasukan lapis baja.

Pertempuran terus berlangsung hingga selama dua jam dan setelah bantuan pasukan belanda datang membawa bala pasukan bantuan berupa pesawat tempur, roket dan senapan mesin maka prajurit republik tidak mampu lagi menghadang pasukan Belanda. Dalam pertempuran ini dua orang prajurit republik gugur dan dipihak Belanda juga banyak korban berjatuhan. Dan setelah itu Belanda terus melanjutkan pendudukannya di Sawahlunto menyusuri jalan kereta api Solok-Sawahlunto.

Menggempur Pos-pos Belanda di Cupak, Koto Anau dan Lubuk Selasih

Ketika Belanda memasuki Solok lewat Singkarak pada tanggal 20 Desember 1948 maka pasukan Belanda pun melebarkan daerah-daerah yang didudukinya hingga ke penjuru wilayah Solok seperti Guguak Sarai pada 1 Januari 1949 dan mendirikan pos pertahanan di Cupak. Dan pada tanggal 4 Januari 1949 di bawah pimpinan Letnan II Marah Yulius Atom menyerang Cupak melalui Koto Anau pada pagi hari hingga menelan korban yang banyak di pihak musuh.

Kuatnya gempuran dari pasukan republik maka Belanda pun mengirimkan bantuan pasukan dari Solok. Karena perlawanan yang sekarang sudah tidak seimbang lagi bagi pasukan republic lalu akhirnya mundur sebagai siasat perang gerilya dengan meninggalakn korban di pihak setengah dari pasukannya. Dan karena melihat hal tersebut Belanda pun melampiaskan kemarahannya dengan membakar sekitar 200 rumah warga.

Begitu sebaliknya, pos pertahanan prajurit republik di Koto Anau digempur oleh pasukan Belanda pada pagi hari tanggal 10 Januari 1949 di bawah pimpinan Marah Yulis Atom dan Letnan Bachtiar. Pertempuran berlangsung hingga sore dengan dahsyat yang juga diikuti oleh Mayor A. Huesin Dan letnan I Jahya Usman. Dan pada pukul 18.00 WIB pasukan republik diperintahkan mundur ke Batu Karak Kubangan Nan Duo. Namun pihak Belanda terlanjur melampiaskan amarahnya dengan membakar lebih kurang sekitar 300 rumah warga setelah pasukan republik meninggalkan pertempuran.

Besok harinya pukul 05.30 WIB hingga 07.30 WIB tanggal 11 januari 1949 pos pertahanan Belanda di Lubuk Selasih digempur oleh pasukan republik yang dipimpin langsung oleh Komandan Resimen Mayor A. Husein yang bergerak dari Taluk Gunung dan Alahan Panjang dengan 5 jurusan yang menewaskan 30 prajurit Belanda dan 2 korban dari pihak prajurit republik.

Tragisnya kekalahan dari pihak Belanda sehingga mendatangkan bantuan dari Solok dan Padang untuk melakukan balas serangan di pos pertahanan prajurit republik di Alahan Panjang pada besok harinya pada tanggal 13 Januari dengan diringi pesawat tempur yang melakukan pemboman dan memuntahkan peluru senapan mesin secara beringas.

Pertempuran di Aie Luo

Pada tanggal 15 Januaru 1949 Pasukan Baret Hijau belanda melakukan serangan ke Aie Luo yang dipimpin oleh kapten Westland dari Sei Lasi dan singgah Sei Durian. Dan vesoknya paginya pertempuran dimulai pada pukul 09.00 WIB yang mengakibatkan Kapten hasibuan dari Komando Sumatera Gugur sebagai kusuma bangsa sedangkan korban di pihak Belanda ada 2 orang. Dan dalam pertempuran yang sengit ini juga dibantu oleh Kompi Bachtiar, Kompi marah Julius, Kompi Sofyan Tamala, Letnan Yahya Usman dan Komandan Resimen A. Husein.

Pertempuran di Alahan Panjang

Pertempuran terjadi pada tanggal 29 Januari 1949 dengan sengit yang mengugurkan 5 orang prajurit republik termasuk di dalamnya Letnan Darlis di Sungai Nanam. Dan pada tanggal 18 Mei pukul 03.00 WIB pasukan republik kembali menyerang pos Belanda di Alahan Panjang dengan pertempurahn selama 2 jam. Dan pada tanggal 19 Mei 1949 pasukan Belanda dicegat di tanjung balik yang dipimpin oleh Letnan II Zaiul yang menewaskan 2 orang pasukan Belanda dan pos pertahanan Belanda kembali diserang pada tanggal 25 Mei oleh pasukan republik.

Pada tanggal 5 Juli Belanda kembali menggempur Sarik dengan dibom dan ditembaki dari udara.

Belanda menyerang Koto Tinggi Surian

Pada tanggal 6 Agustus 1949 Belanda menyerang Markas Batalyon II di Koto Tinggi Surian dan tanggal 7 Belanda melakukan penggeledahan pada daerah tersebut. Dan pertempuran berkecamuk dengan pasukan republik di antara Sungai Kalu dan Surian. 

Pertempuran di Lubuk Batu Gajah

Pertempuran terjadi pada tanggal 28 Januari 1949 yang dipimpin oleh Letnan Amir Hamzah dan Letnan Etek Zen yang selalu memukul mundur penyerangan Belanda ke Lubuk Batu Gajah. Dan pertahanan pasukan republic dapat diduduki pada tanggal 19 April 1949 dengan kekuatan pasukan yang besar dan diiringi tempakan dari udara.

Pertempuran di di Nagari Tabek Solok

Pada tanggal 5 Februari 1949 pasukan republik mencegat pasukan Belanda di Tabek yang mengakibatkan pimpin Letnan M. Sjith Yahya dan pasukannya sebanyak 8 orang gugur. Pertempuran itu berlangsung dengan sengit hingga ketika Letnan M. Sjith Yahya terluka di dadanya terus maju ke medan pertempuran yang berlindung di balik sebuah pondok yang sembunyi dari pengejaran musuh. Dalam selama pengejaran tersebut telah membuat 2 pasukan Belanda tewas dan Letnan Sjith kena tembak dari belakang serta laporan dari intelijen bahwa Kapten Sjith dihianati oleh seseorang.

Belanda Menggempur Muaro Labuah

Ada tanggal 19 Februari 1949 Belanda mengempur Muaro Labuah dengan menjatuhkan bom oleh pesawat Mithchel dan mengalami banyak kerusakan. Dan Belanda kembali menduduki Muaro Labuh pada tanggal 21 April 1949.

Belanda kembali menduduki Muara Labuah pada tanggal 21 Juni.

Menyerang Pos Belanda di Muaro Panas

 

Belanda menduduki Muaro Panas dan mendirikan pos pertahanan secara tetap. Dan di Kinari Belanda menangkap 12 orang rakyat dan pasukan republik menyerang pos Belanda sehingga Belanda kembali menempati pos pertahanannya di Solok. Belanda meninggalkan Muara Panas pada tanggal 1 Maret 1949. Belanda kembali menduduki Muaro Panas pada tanggal 11 Maret sampai 28 Maret 1949 lalu kembali mundur ke Solok. Tanggal 29 Juli Belanda kembali menduduki Muara Panas, Kinari dan Parambahan.

Menyerang Pos Belanda di Talang

Belanda juga mendirikan pos di Talang dan pada tanggal 27 Februari pasukan republic menyerang pos-pos Belanda sehingga Belanda kembali ke Solok dan memperkuat pasukan di sana karena gancarnya serangan gerilya dari pasukan republik.

Belanda Menyerang Koto Hilalang, Saok Laweh, Cupak, Saningbakar, Guguk Koto Anau

Penyerangan ke Koto hilalang dipimpin oleh Pelt. Rahman Kompong, ke Saok Laweh dipimpin oleh Letnan Nawin Abdullah, ke Cupak adalah Sersan Gunir, ke Guguk oleh Pelt. Alamsaimi, dan ke Saningbakar oleh Letnan Dinar Lukman serta di Koto Anau oleh Letnan Bahar. Dan penyerangan-penyerangan ini terkumpul di awal bulan Maret 1949.

Pertempuran di Batu Belapik

Pertempuran terjadi pada tanggal 9 Maret 1949 di Batu Belapik Solok Selatan dengan mengakibatkan truk musuh hancur dan pasukan prajurit Belanda tewas.

Belanda Menyerang Sirukam

Pada tanggal 22 Mei 1949 markas Sub komando B dipindahkan ke Sirukam hingga sampai 10 Juni. Dan pada tanggal 25 Mei 1949 Belanda menyerang markas prajurit republic dan saat itu komandan pasukan sedang berada Alagan panjang menyerang pos pertahanan belanda.Dan besoknya tanggal 26 Mei Belanda membakar Sirukam. Dan tanggal 25 Juli kapal Mustang Belanda membom daerah ini hingga sampai 6 Agustus

Belanda Menyerang Bukit Sileh

Pada tanggal 4 Juli Belanda menembaki Bukit Sileh dan mem-bom dari udara.

Belanda Menyerang Banda Pacah, Lubuk Malako dan Lubuk Gadang

Belanda menggempur Banda Pacah, Lubuk Malako dan Lubuk Gadang pada tanggal 29 Juli 1949 yang berkedudukan tidak jauh dari bekas tempat PDRi di Bidar Alam.

Feni Efendi, Payakumbuh, 2017

HP/WA 081267727161

Tags:
  1. author

    keloktor buku3 months ago

    saya suka artikelnya

    Reply

Leave a reply "PERISTIWA PDRI DI SOLOK"