PDRI: MENYERAHKAN MANDAT KE YOKYAKARTA

2 comments 131 views

Moh. Hatta Berkunjung ke Kotaraja Mencari Ketua PDRI

Pada tanggal 14 Juni 1949 Moh. Hatta bersama rombongannya yang terdiri dari M. Natsir, Dr. Halim datang ke Kotaraja (Banda Aceh) untuk menemui Kabinet PDRI namun Moh. Hatta hanya bertemu dengan PTTS Kolonel Hidayat, Gubernur Militer Aceh Tengku Daud Beureuh dan masyarakat Aceh. Dan di sana Moh. Hatta menyampaikan pesan-pesan penting untuk selalu menduku rakyat Indonesia kepada masyarakat Aceh meski Moh. Hatta dan rombongan tidak menemui ketua PDRI di sana.

Di saat Moh. Hatta berada di Kotaraja, Moh. Hatta dan Mr. Syafrudin Prawiranegara berkomunikasi dengan raduo PHB namun radio PHB di sana tidak memiliki sinyal yang kuat untuk berkomunikasi suara maka komunikasi pun dilanjutkan melalui telegram. Dan karena Moh. Hatta tidak menemui kabinet PDRI di sana maka Moh. Hatta mengutus Dr. Leimena bersama rombongan untuk berangkat ke Sumtera Barat pada tanggal 1 Juli 1949.

Rombongan Dr. Leimena Mencari PDRI

Setelah Moh. Hatta gagal menemukan PDRI di Aceh maka diutuslah rombongan ke Sumatera Barat mencari kabinet PDRI yang dipimpin oleh dr. Leimena dan M. Natsir, A. Halim sebagai anggota dan Agus Djamal sebagai sekretaris. Rombongan Dr. Leimena tiba di Padang pada tanggal 1 Juli 1949 dan rombongan meneruskan konvoi ke Padangpanjang. Dan di sepanjang perjalanan rombongan Dr. Leimena sering dicegat oleh prajurit gerilya karena dikira pasukan Belanda.

Rombongan terus ke Bukittinggi dan menginap di sana. Dan di sini rombongan Dr. Leimena melakukan kontak dengan PDRI dan rombongan meneruskan perjalanan ke Payakumbuh dan menginap di sana. Di sini rombongan Dr. Leimena mendapatkan instruksi dari PDRI untuk meneruskan perjalanan ke Padang Japang nagari Koto IIV Guguk. Dan rombongan berangkat tanggal 6 Juli 1949 menuju Padang Japang melewati Kubang Tungkek dan di sini rombongan Dr. Leimena dicegat oleh oleh prajurit repulik. Dan komandan prajurit tersebut lalu mengetahui salah satu anggota rombongan adalah Moh. Natsir lalu rombongan pun di antar ke Padang Japang melalui jalan-jalan kampung memutar ke Tiakar Guguk hingga sampai ke Padang Japang.

Rapat Pejabat PDRI di Sungai Naniang Membahas Kedatangan Rombongan Dr. Leimena

Ketika rombongan Dr. Leimena pada tanggal 1 Juli 1949 sudah tiba di padang mencari keberadaan pejabat PDRI, maka staf PDRI pun mengadakan rapat di Sungai naniang di rumah Rusli A. Wahid yang dihadiri oleh Mr. Syafrudin Prawiranegara, Mr. tengku Moh. Hasan, Mr. Sutan Moh. Rasyid, Ir. Mananti Sitompul dan mentri serta pejabat lainnya. Dalam rapat tersebut dibahas tentang apakah Roem-Royen Statement diterima apa tidak, lalu apakah rombongan Dr. Leimena diterima atau tidak, serta apakah mandat diserahkan atau tidak kepada Soekarno-Hatta di Yokyakarta.

Dan dalam rapat tersebut yang berjalan secara maraton hinga sebelum shubuh maka diputuskan bahwa ronbongan Dr. Leimena diterima kedatangannya dan mandat belum diserahkan sebelum bertemu dengan Jenderal Soedirman di Yokyakarta. Meski banyak peserta rapat dan pejabat PDRI tidak setuju dengan penyerahan mandat, namun demi kesatuan perjuangan maka pejabat PDRI pun mengalah dengan menyerahkan mandat kepada Soekarno-Hatta. Bahkan dalam rapat tersebut Mr. Syafrudin Prawiranegara memberikan pertimbangan dan alasan kepada Mog. Rasyid dengan berkata “Cobalah saudara rasyid bayangkan bagaimana nantinya jika rakyat banyak disuruh memilih antara Soekarno-hatta dan Syafrudin-Rasyid. Masing-masing akan memiliki pengikut dan ini tidak baik bagi kelangsungan perjuangan ….” Dan setelah terlaksananya rapat tersebut, besok harinya tanggal 2 Juli 1949 pejabat PDRI kembali ke Koto Tinggi.

Rapat PDRI dengan Rombongan Dr. Leimena di Padang Japang          

Rombongan Dr. Leimena berangkat ke padang Japang tanggal 6 Juli 1949 dan pada hari yang sama rombongan PDRI bersama Mr. Syafrudin Prawiranegara juga berangkat dari Koto Tinggi menuju Padang Japang. Dan pada malam hari tersebut sesudah isya diselenggarakan rapat secara maraton antara pejabat PDRI dengan Rombongan Dr. Leimena hingga menjelang shubuh. Namun rapat yang berjalan semalam tersebut tidak mendapatkan kata sepakat. Dan pejabat PDRI pun bersikeras untuk tidak bersedia menyerahkan mandat ke Yokyakarta.

Rapat tersebut dilaksanakan di rumah Jawahir yang akhirnya dinikahi oleh Muhammad Yunus. Rumah tersebut sudah dijadikan museum dan di halamannya didirikan Tugu PDRI dan sebuah mushala. Terletak tidak jauh dari simpang tiga Padang Japang di sebelah kiri menuju Ampang Gadang. Dan terlihat jelas dari tepi jalan.

Kesepakatan Menyerahkan Mandat di Pancuran Mandi Ampang Gadang

Setelah rapat yang berjalanan semalaman tidak membuah kesepakatan, besok paginya peserta rapat melakukan mandi di pancuran di Ampang Gadang. Terletak di bawah tebing dan di sekelilingnya banyak terdapat kolam-kolam. Dan jaraknya sekitar 300 meter dari lokasi rapat. Maka saat Dr. A. Halim juga berangkat mandi dan bertemu Mr. Syafrudin Prawiranegara, mR. Sutan Moh. Rasyid, Mr. Lukman Hakim maka Moh. Rasyid pun bertanya kepada Dr. A. Halim: “Bagaimana ini?” lalu dijawab singkat oleh Dr. A. Halim, “Saya tidak ada pilihan apa yang akan terjadi selanjutnya. Saya tidak dapat membayangkan dan karena itulah saya ke sini”. Dan lalu Mr. Syafrudin dan Moh. Rasyid menjawab dengan sahutan secara serentak: “Oh” yang berarti bahwa PDRI bersedia kembali menyerahkan mandat ke Yokyakarta.

Lokasi pancuran mandi tersebut sekarang sudah dibuat permanen. Sering digunakan tempat mandi atau tempat berwudhu bagi petani yang mengarap sawah di dekat itu. Dan mushala kecil juga dibangun di dekat pancuran mandi tersebut.

Rapat Perpisahan Pejabat PDRI dengan Masyarakat IIV Koto Talago di Koto Kociak

Esok harinya pada tanggal 8 Juli 1949 rombongan pejabat PDRI mengadakan rapat perpisahan dengan masyakarat nagari IIV Koto Talago di lapangan bola di jorong Koto Kociak. Rapat tersebut terlaksana dengan sangat haru. Buah dari perjuangan PDRI selama lebih kurang 7 bulan tersebut tidaklah sia-sia. Belanda bersedia memulihkan pemerintahan di Yokyakarta. Dan untuk itu rombongan Dr. Leimena ditugaskan mencari keberadaan pejabat PDRI untuk bersedia kembali ke Yokyakarta untuk menyerahkan mandat pemerintahan kepada Soekarno-Hatta.

Keharuan rapat besar tersebut juga terlihat pada Dr. Leimena yang menyatakan secara terus-terang bahwa: “Tuhan telah memberi kesempatan kepada kita untuk datang kemari dan bertemu dengan saudara-saudara. Dan kita dapati semua anggota PDRI dalam keadaan sehat wal’afiat, bahkan lebih sehat daripada kita sendiri, suatu tanda bahwa PDRI berada dalam wilayah yang istimewa.”

Keharuan lain juga tersampaikan oleh Moh. Natsir bahwa ia kagum dengan pengorbanan rakyat dan berkibarnya bendera merah putih. Dan Moh. Natsir juga berpantun di akgir pidatonya bahwa: Mendaki ke Gunung Talang / Menurun ke Batu Banyak / Terlihat dari Saruaso / Sudah dua kali dilanggar pasang (Agresi I dan Agresi II) / Di situ letaknya tenaga bangsa.

Mr. Syafrudin Prawiranegara selaku ketua PDRI pun memberikan pidatonya kepada masyarakat luas atas ketidakpuasaan kepada Roem-Royen Statement. Dan Mr. Syafudin juga berjanji akan kembali jika tujuan perjuangan tidak sejalan dengan apa yang dicita-citakan selama ini. Di antara pidatonya tersebut berbunyi: “Waktu mendirikan PDRi kita bukan untuk merebut pangkat dan kursi karena kita sering duduk di lantai saja. Kita tidak puas dengan persetujuan Roem-Royen, persetujuan yang dibuat oleh Presiden dan Wakil Presiden dengan memandang sepi PDRI. Tapi bagi kita semua itu tidak dipersoalkan karena yang penting adalah kejujuran dan keselamatan rakyat dan pada Tuhan semua perjuangan akan berhasil dan selamat…. Sekiranya persetujuan yang dicapai sejalan dengan perjuangan kita maka kita mau menerimanya, jika tidak saya akan kembali bergabung dengan Saudar-saudara.”

Setelah rapat besar di Koto Kociak tersebut besok harinya ketua PDRI dan rombongan Dr. Leimena berangkat ke Jakarta melalui pesawat di bandara udara Gadut Bukittinggi. Dan tanggal 10 Juli berangkat dari Jakarta ke Yokyakarta.

Mr. Syafrudin Prawiranegara dan Jenderal Soedirman Menyerahkan Mandat

Sesampainya di lapangan udara Yokyakarta, Mr. Syafrudin Prawiranegara disambut oleh Soekarno-Hatta dan para mentrinya di istana. Dan pada hari yang sama, Jenderal Soedirman juga memasuki Yokyakarta. Lalu Mr. Syafrudin menuju alun-alun untuk menyaksikan penyambutan atas kedatangan militer secara sederhana dan setelah itu Jenderal Soedirman bertemu dan bersalaman dengan Mr. Syafrudin Prawiranegara. Meski kedua pemimpin menelan kekecawan atas dikesampingkan peran PDRI oleh Soekarno-Hatta namun keduanya berjiwa besar mengembalikan kekuasaan demi keutuhan perjuangan Republik Indonesia.

Sidang Kabinet Republik Indonesia dilaksanakan untuk pertama kalinya setelah pemulihan pemerintahan di Yokyakarta. Sidang tersebut dipimpin oleh Perdana Mentri (Wakil Presiden) Moh. Hatta yang dihadiri oleh ketua PDRI Mr. Syafrudin Prawiranegara, Jenderal Sudirman dan anggota PDRI lainnya. Di dalam sidang tersebut Moh. Hatta menyampaikan seperti keterangan yang diberikan oleh Mr. Palar bahwa Kabinet Hatta merupakan kabinet yang sah dan PDRI menjalankan pemerintahan sehari-hari selama kabinet Hatta tidak mampu bertindak. Dan atas semua itu tercapailah kesepakatan antara Mr. Moh. Roem dan Dr. Van Royen yang bersedia memulihkan pemerintahan di Yokyakarta.

Sedangkan Mr. Syafrudin Prawiranegara dalam sidang kabinet tersebut menyampaikan bahwa dirinya tidak pernah menerima radiogram yang berisi mandat pada tanggal 19 Desember 1948 untuk memberikan kekuasan kepada Mr. Syafrudin Prawiranegara yang sedang berada di Bukittinggi bersama pemimpin politik dan militer untuk menjalankan pemerintahan jika pemerintahan Soekarno-Hatta tidak mampu lagi menjalankannya. Dan Mr. Syafrudin menganggap bahwa PDRi adalah pemerintahan yang sah dan perjuangannya didukung oleh segenap rakyat semesta dan PDRI akan mengembalikan mandat kepada Soekarno-Hatta.

Di dalam sidang kabinet tersebut Mr. Syafrudin juga menyatakan bahwa anggota PDRI sangat menyesalkan pengembalian mandat tersebut namun menurut Mr. Syafrudin itulah jalan terbaik untuk kesatuan perjuangan. Dan juga ketua dan anggota PDRI juga menyesalkan tentang Roem-Royen Statement tanpa persetujuan dan sepengetahuan PDRI. Padahal saat itu PDRI adalah pemerintahan yang sah. Dan kabinet suara terbanyak di Bangka telah menyetujui Roem-Royen Statement.

Mr. Syafrudin juga mengatakan bahwa anggota kabinet di Bangka tidak mengetahui bahwa kedudukan PDRI atas Belanda sangatlah kuat. Sekiranya kabinet di Bangka bersedia berkomunikasi dengan PDRI tentu hasil dari Roem-Royen Statement lebih memuaskan. Dan ketua PDRI juga menambahkan bahwa saat itu PDRI memang sulit dihubungi namun jika benar-benar bersungguh-sungguh tentu kabinet PDRI dapat dihubungi karena PDRI memiliki radio sender yang dapat dihubungi melalui dalam dan luar negeri. Namun pada tanggal 13 Juli 1949 tersebut berakhirlah PDRI dan kekuasaan tlah kembali kepada Soekrno-Hatta.

Feni Efendi, Payakumbuh, 2017

Dapatkan 2 buah bukunya dalam penelitian ini:

Jejak yang Terlupakan

Judul Buku: JEJAK YANG TERLUPAKAN: Menyusuri Jejak Mr. Syafruddin Prawiranegara dalam Menjalankan PEMERINTAH DARURAT REPUBLIK INDONESIA (PDRI) pada Masa Agresi Militer Kedua Belanda di Sumatera Tengah

Genre: Catatan Perjalanan

Penerbit: JBS Yogyakarta

Penulis: Feni Efendi

Pemesanan: WA 0812-6772-7161 / HP 0823-8485-2758

 

Selendang Ibu Perdana Menteri

Judul Buku: SELENDANG IBU PERDANA MENTERI

Genre: buku puisi PDRI

Penerbit: JBS Yogyakarta

Penulis: Feni Efendi

Pemesanan: WA 0812-6772-7161 / HP 0823-8485-2758

  1. author

    TYRA10 months ago

    alasan menyerahkan nya itu knp ya

    Reply
  2. author

    jhoni9 months ago

    bagus

    Reply

Leave a reply "PDRI: MENYERAHKAN MANDAT KE YOKYAKARTA"