PERISTIWA PDRI DI LUHAK LIMAPULUH KOTA

2 comments 43 views

Serangan Batalyon Merapi dan Singa Harau ke Pos Belanda di Tiakar

Saya menyusuri jalan Hj. Rasuna Said di Tiakar. Pada masa ketika agresi militer Belanda kedua, Belanda lebih banyak dan mengutamakan penempatan pasukan di Payakumbuh karena Belanda yakin bahwa pejabat PDRI tidak pernah jauh dari luak Limapuluh tersebut.

Belanda menduduki Payakumbuh sekitar tanggal 23 Desember 1948 dengan markas di bekas lokasi pasar ternak di Padang Tangah Koto Nan Empat yang mana lokasi tersebut sekarang telah dibangun SMA negeri 4 Payakumbuh. Dan ketika masyarakat nagari Tiakar telah banyak yang menyingkir ke Taram, nagari Batu Payung dan Sitanang maka Belanda pun melebarkan sayapnya dengan mendirikan pos pertahanan di Tiakar dengan rumah kosong yang telah ditinggalkan pemiliknya. Rumah tersebut adalah milik Baharudin Datuk Bagindo atau yang dikenal dengan BDB atau Datuk Gagok.

Datuk Gagok juga termasuk salah satu tokoh yang lolos dari gempuran Belanda pada peristiwa Situjuh pada 15 Januari 1949 yang telah membawa 69 pejuang gugur membela tanah air. Lolosnya Datuk Gagok ketika Peristiwa Situjuh berawal sekitar pukul 04.30 WIB. Syamsul bahar tidak yang tidak bisa tertidur mendengar ada orang berbisik tentang keberadaan Belanda di atas lurah. Lalu Syamsul Bahar beserta Datuk Gagok, Jahja Djalil, Arifin Alip dan Sidi Bakarudin melihat di atas lurah arah menuju Padang Siantah terlihat bayangan samar-samar yang tinggi dan dicuragai itu adalah pasukan Belanda yang telah mengepung tempat itu.

Rombongan menuju jalan menuju kincir air dan mnemukan Makinudin sedang mengambil wudhu dan dikabarkan padanya ada Belanda di atas tebing. Makinudin menanggapi kabar rombongan tersebut yang akan menempuh jalan memanjat tebing untuk menuju perkampungan. Ketika hampir semua rombongan telah berhasil melompat tebing dan maka Syamsul Bahar pun melihat sesosok prajurit Belanda sedang membidiknya yang sedang melompat tebing tersebut. Syamsul Bahar pun selamat dari peristiwa tersebut ketika ia sembunyi di dalam lobang kincir air yang saat itu tidak berair.

Dan kembali kepada pos Belanda di Tiakar bekas rumah yang ditinggalkan oleh Datuk Gagok, maka direncanakanlah oleh batalyon Merapi yang bermarkas di Gadut kenagarian Batu Payung kecamatan Lareh Sago Halaban dari arah Air Tabit dan Batalyon Singa Harau mengempur pos Belanda dari arah Payobasung atau Taram yang juga dipimpin oleh kapten Azhari.

Menurut Idris Datuk Malagiri Nan Pilihan ketika itu yang menjadi penunjuk jalan bagi Tentara Merapi dan Singa Harau, Belanda tidak bisa berbuat banyak ketika dikepung oleh pasukan Republik dan Belanda pun kalah telak dengan perlawanan yang tidak berarti. Dan juga menurut beliau, rumah-rumah di nagari Tiakar saat itu yang banyak berupa rumah gonjong pada akhirnya dibakar agar tidak bisa diduduki oleh Belanda atau pun dibakar oleh kaki tangan Belanda. Itulah sebabnya saat ini sangat jarang ada rumah gadang di tepi jalan raya di Tiakar karena telah dibakar ketika masa agresi militer kedua.

Saat itu Batalyon Merapi dipimpin oleh Letnan Munir A. dan Kompi Singa Harau dipimpin oleh Letnan Muda Nazar dan Opsir Muda Azwar. Dan komandan penyerangan dipimpin oleh Letnan I Komarudin Dt. Makhudun. Dan dari penyerangan tersebut Belanda mendatangkan bantuan dari pusat kota payakumbuh dan tentara republik menyeberangi Batang Sikali dan melanjutkan pertanahan di sana.

Datuk Gagok yang sebagai salah satu pejuang yang lolos dari Peristiwa Situjuh pada masa hidupnya menjadi politikus, ekonom dan berteman dekat dengan Soekarno, kata bapak Ruslan yang menjadi salah satu pekerja Datuk Gagok. Ia memiliki pabrik korek api 1001 di Siantar, Surabaya, Semarang yang menjadi legenda sampai saat ini, kata anaknya Ibu Merita.

Penghadangan Pasukan Belanda yang Kocar-kacir di Limbukan

Sebelum Situjuh ada sebuah nagari yang bernama Limbukan. Letaknya lebih kurang sekitar 10 km dari pusat kota Payakumbuh yang berada di kaki Gunung Sago dengan udara yang sejuk dan segar. Dan nagari ini yang berbatasan dengan Situjuh memiliki wilayah geografi yang cukup tinggi di atas tebing-tebing sehingga kebun-kebun menghasilkan tanaman yang hijau, sawah-sawah yang subur dan membangkitkan selera makan.

Ketika peristiwa Situjuh pada 15 Januari 1949 yang menewaskan 69 prajurit dan masyarakat Situjuh, lalu Belanda membawa tawanan sekitar 60 orang melewati Kubang Gajah nagari Limbukan. Lalu Letnan Muda Burhanuddin Putih mendapatkan informasi tersebut segera mengerahkan kompi markas ke Kubang Gajah untuk membentuk benteng pertahanan untuk menyergap pasukan Belanda dari Situjuh.

Benteng pertahanan tersebut berada di dekat perumahan Kubang Gajah sekarang yang terletak di atas tebing yang sangat cocok sekali untuk membidik sasaran musuh. Ketika Belanda telah melewati jalan dari Situjuh – Limbukan tersebut, pasukan republik melepaskan tembakan kearah musuh. Pasukan Belanda kocar-kacir menghadapi pasukan republik. Banyak dari prajurit Belanda yang tewas dan cendera. Ambulan yang membawa korban dipihak belanda pun tidak muat hingga akhirnya dibawa bersama truk. Dan masyarakat yang menjadi tawanan Belanda yang lebih kurang berjumlah 60 orang dapat membebaskan diri tanpa mengalami cedera sedikit pun.

Setelah berhasil penyergapan pasukan Belanda yang kocar-kacir di Kubang Gajah, maka Sersan Raudani telah menghadang pula di Kapalo Koto yang jaraknya sekitar 500 meter dari Kubang Gajah. Lokasi penyergapan yang dipilih oleh regu Sersan Raudani yaitu tiarap di dalam sawah. Namun sayang sekali strategi ini kurang optimal sehingga pasukan Belanda bisa membuat regu sersan Raudani terdesak.

Lokasi Kapalo Koto ini terletak persis di sekitar Rumah Makan Pangek OR sekarang yang di atasnya juga terdapat perumahan Limbukan Indah yang lokasinya juga strategis, udaranya segar dan tidak jauh dari pusat kota dengan menikmati pemandangan yang indah karena terletak yang cukup tinggi dan maksimal.

Dalam pertempuran yang heroik di Kapalo Koto itu banyak pasukan dari regu sersan Raudani yang terluka. Dan untuk pasukan yang cedera ringan dan masih bisa dipastikan selamat seperti Sersan Danus yang yang ibu jarinya putus kena tembak dan prajurit I Nur Jaul yang kakinya kena tembak diperintahkan untuk menyelamatkan diri. Dan untuk pasukan yang sudah terluka parah berusaha sekuat tenaga untuk menghadang Belanda sampai titik darah penghabisan. Dan sebelum gugur sebagai pahlawan kusuma bangsa, prajurit tersebut membenamkan senjata ke dalam lumpur sawah agar tidak jatuh ke tangan musuh serta juga berharap senjata tersebut dapat ditemukan di kemudian hari. Dan memang benar, senjata itu ditemukan oleh petani ketika menggarap sawahnya di kemudian hari tanpa mengalami kerusakan sedikit pun dan masih bisa berfungsi dengan baik.

Ada pun di antara nama-nama pejuang yang gugur di Kapalo Koto tersebut adalah:

  1. Sersan 1 Raudani asal koto Baru Pangkalan
  2. Sersan Abdul Hadis dari Candung Agam
  3. Sersan Daruhan dari Payakumbuh
  4. Kopral Rasyid Sirin dari Banuhampu Bukittinggi
  5. Prajurit 1 Lasuhan dari payakumbuh
  6. Prajurit 1 Sikar dari Payakumbuh
  7. Prajurit 1 Lasip dari Payakumbuh

 

Tentara Republik Menggempur Markas Belanda di Payakumbuh Selama 4 Jam

Payakumbuh resmi dijadikan kotamadya pada tahun 1970 yang juga sebagai ibukota kabupaten Limapuluh Kota. Letaknya yang strategis telah membuat kota ini menjadi kota perlintasan dari Pekanbaru menuju Padang, Batusangkar, Suliki, Lintau dan Sijunjung. Dan pada malam hari kota ini terus hidup dengan ramainya aneka kuliner yang terdapat di pusat kota hingga sampai menjelang shubuh.

Di luar dari ketenangannya itu, kota ini dulunya pernah diduduki Belanda dengan menempatkan pasukannya secara maksimal karena diduga kuat pejabat PDRI tidak akan jauh dari kota ini. Belanda menempatkan sebuah datasemen Pasukan yang terdiri dari empat peleton infanteri dan satu peleton Polisi Federal. Dan satu lokasi datasemen tersebut terletak di rumah Lamid yang terletak dekat Pasar Payakumbuh dan komandannya tinggal di rumah dr. Moh. Anas samping gereja yang dekat SD PIUS sekarang dan langsung mendirikan satu pos pertahanan di sana.

Peleton kedua terletak di Pasar Ternak kelurahan Padang Tangah Koto Nan Empat yang sekarang dilokasi tersebut telah dibangun sebuah SMA negeri 4 Payakumbuh. Dan peleton infanteri ketiga terletak di Koto Nan Gadang serta satu peleton senjata disekitar rumah Lamid dan datasemen Polisi federal terletak di Koto Nan Gadang.

Masih di bulan Januari setelah Peristiwa 15 Januari Situjuh, prajurit Republik mengadakan pengempuran kepada masrkas-markas prajurit Belanda yang telah menduduki kota Payakumbuh. Dan jauh sebelum peristiwa Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret) kepada Letkol Soeharto yang menduduki kota Yokyakarta selama enam jam, di Payakumbuh prajurit republik telah lebih dahulu menggempur pasukan Belanda secara serentak hanya dalam waktu empat jam dan membuat pasukan Belanda kocar-kacir meninggalkan markas datasemennya.

Pengempuran markas kedudukan Belanda di pusat kota Payakumbuh ini secara serentak tujuan utamanya untuk menghancurkan negara Minangkabau yang mana sebuah negara boneka Belanda yang diberikan kepada kaki tangannya seorang dokter yang pernah bertugas di rumah sakit Payakumbuh yang bernama dr. Moh. Anas. Ia dan istrinya berasal dari Koto Nan Gadang yang bergaya dan berpikir ala Belanda. Tidak banyak diketahui alasan mengapa dr. Anas memilih untuk pro kepada Belanda. Namun setelah Belanda gagal dalam agresi milite keduanya ini, dr. Anas berserta istri Djoeasa Anas dan anak angkatnya Nadia Anas lebih memilih menetap di Belanda. Dan di rumah dr. Anas ini pernah menginap Moh. Hatta, Rosihan Anwar, Abdul Muis dan Moh Rasyid pun pernah singgah ke rumah dr. Anas ketika dari Bukittinggi menuju Halaban untuk menemui rombongan PDRI yang akan dibentuk di Parak Lubang Halaban.

Strategi pengempuran dilakukan dengan membagi 4 kelompok pasukan yang mana sebelah utara akan digempur oleh kesatuan Naga Jantan dan seksi polisi tentara yang dipimpin oleh Kapten M. Syafei dengan sasaran rumah dr. Anas dan pos tentara Belanda di gereja; sebelah selatan akan digempur oleh kesatuan Kompi Nazar dengan sasaran rumah Lamid yang dipimpin oleh Komando sector harau Letnan II Bainal Dt. Paduko Malano; ada pun sebelah barat digempur oleh Kompi Istimewa Singa Harau dengan sasaran pos tentara Belanda di dekat stasiun kereta api dan pos pengawalan di bengkolan jalan ke Bunian yang dipimpin oleh Opsir Muda Azwar Tongtong; sedangkan untuk bagian timur digempur oleh sektror Merapi yang dipimpin oleh Letnan Munir A. dengan sasaran pos tentara dan polisi Belanda di Koto Nan Gadang.

Dan tepat pada pukul 00.00 WIB terdengar letusan tembakan dari Kampung China dengan tembak-menembak sekitar satu jam dan 3 brencarier Belanda menjemput pasukannya untuk meninggalkan pos yang sedang digempur oleh seksi Lukman Madewa. Setelah penarikan pasukan Belanda maka wilayah tersebut dari Hotel Hasdar dan simpang Bunian telah berhasil dikuasai oleh pasukan republik.

Bunyi letusan tembakan terus berbunyi di mana-mana. Dari arah Koto Nan Gadang api terus membumbung ke langit dan dari arah pasar pun pasukan republik telah berhasil menguasai pos datasemen Belanda dan penyerangan ini berjalan selama empat jam dengan membuat pasukan Belanda mundur meninggalkan pos pertahanannya.

Belanda Menjadikan Koto Tuo Lautan Api

Nagari Koto Tuo dipisahkan Batang Sinamar dengan Kota Payakumbuh yang terdiri dari jorong Koto Tuo, Pulutan, Tanjung Pati dan Padang Rantang yang saat ini termasuk ke dalam wilayah administrasi kecamatan Harau. Dan di sini pada masa agresi militer Belanda yang kedua ada sekitar 98 rumah yang dibakar oleh Belanda dan ada juga yang sengaja dibakar oleh penduduk termasuk juga dua buah sekolah, kantor camat dan rumah dinas camat.

Peristiwa Koto Tuo Lautan api di awali ketika adanya instruksi dari Gubernur Militer untuk mempersempit pergerakan Belanda dengan memutuskan jembatan-jembatan yang memudahkan transportasi Belanda, menumbangkan pohon-pohon di jalan yang mengganggu perjalanan prajurit Belanda serta meningkatkan sabotase oleh Prajurit Mobil Teras (PMT). Dengan adanya tindakan tersebut, jembatan di Tanjung Pati yang untuk perhubungan dari dan ke Payakumbuh akhirnya terputus. Maka dengan adanya tindakan tersebut Belanda mengancam akan melakukan serangan ke Tanjung Pati yang berupa menyebarkan pamflet-pamflet agar secepatnya menghentikan penebangan kayu dan penggalian lubang di sepanjang jalan. Namun ancaman itu tidak dihiraukan bahkan jembatan Padang Gantiang juga ikut diruntuhkan.

Prajurit Republik tidak merespon ancaman dari Belanda dan bahkan penyerangan ke pos-pos Belanda semakin gencar dilakukan. Dan ketika di bulan Mei Pasukan Kompi Mardisun menerima informasi dari intelijen dari Payakumbuh bahwa Belanda akan menyerang Tanjung Pati dan Batu Balang. Untuk menyergap penyerangan Belanda maka Komandan Kompi Mardisun bermusyawarah dengan komandan pleton M. Sain dan Darisun. Dari kesepakatan tersebut maka diputuskan bahwa Darisun akan menempatkan pasukannya di rumpun padi yang menguning di dekat jembatan Padang Gantiang yang baru saja diputus dan pasukan pleton M. Sain diletakkan di tempat lain.

Dan pada sutu hari di tengah siang terik yang ditunggu-tunggu, pasukan Belanda akhirnya datang menuju jembatan Batang Lampasi di Tembok Padang Gontiang. Pasukan dari peleton Darisun telah bersiap membidik sasaran sampai akhirnya ketika opsir Belanda turun dari mobilnya yang diperkirakan berpangkat tinggi, maka meletuskan tembakan dari Komandan Pleton Darisun. Dan setelah penyerangan dirasa cukup, maka pasukan peleton yang dipimpin oleh Darisun akhirnya kembali ke pasukan induk di Padang Rantang.

Setelah kejadian di Tembok Padang Gantiang tersebut yang menewaskan perwira-perwira Belanda maka pemeriksaan kepada penduduk semakin diperketat. Dan lagi-lagi Belanda melakukan ancaman kepada pasukan gerilya untuk menyerah dan mengentikan penyerangan sabotase. Jika pasukan gerilya menolak maka Belanda akan melakukan penyerangan dan penghangusan bangunan di Tanjung Pati, Pulutan, Koto Tua hingga Batu Balang yang disebarkan dalam bentuk pamflet-pamflet.

Sejak adanya pengumunan dari Belanda tersebut, maka masyarakat pun meninggalakan rumahnya masing-masing dan membawa apa saja yang bisa dibawa untuk menghindari keganasan dan kekejaman Belanda. Tempat pengungsian masyarakat terus berbondong-bondong ke Koto Tangah, Gurun, Balai Tinggi, Tigo Balai. Dan ketika Belanda mendatangi nagari Koto Tuo ini wilayah ini telah kosong dengan pohon-pohon yang ditumbangkan sepanjang jalan.

Sebelum membakar rumah, Belanda memaksa membuka rumah yang dikunci dan memeriksa barang-barang yang masih bisa digunakan lalu setelahnya langsung membakar rumah tersebut. Dan jadilah nagari Koto Tuo saat itu seperti lautan api yang terus membumbung ke langit pada hari jumat, 10 Juni 1949.

Dan berikut nama-nama penduduk yang ditembak oleh belanda:

  1. Saidan
  2. Ahmad Syamsidar
  3. Anwar Zainun
  4. Durun datuk Lelo Anso
  5. Ruwin Datuk Sinaro Panjang
  6. Elah
  7. Manu (asal Sungai Puar)
  8. Kolai
  9. Sukiman (Polisi)
  10. Ridwan (BPNK)

 

Eksekusi Para Pejuang dan Masyarakat Payakumbuh Di Jembatan Ratapan Ibuh

Kota Payakumbuh seperti sebuah kuali jika diperhatikan di angkasa. Dikelilingi oleh Gunung Bungsu, Gunung Merapi dan Gunung Sago serta perbukitan Bukit Barisan. Dan di tengah-tengah kota itu seakan-akan dibelah oleh sungai Batang Agam dan sebelah utara ada mengalir batang Lampasi dan Batang Sinamar yang menjadi batas kota Payakumbuh dengan kabupaten Limapuluh Kota yang menghampar sawah-sawah hijau sejauh mata memandang, kebun-kebun jagung dan perkebunan coklat masyarakat di pinggir kota .

Sungai Batang Agam membelah kota Payakumbuh terletak tidak seberapa jauh dari pusat kota Payakumbuh di jalan Ahmad Yani terdapat sebuah jembatan yang penuh histori yang bernama Jembatan Ratapan Ibuh yang dibangun pada tahun 1840 menurut Saiful Sp atau tahun 1818 M menurut Wikipedia. Dan peristiwa tersebut terjadi ketika agresi militer kedua Belanda pada tahun 1948-1949.

Jembatan Ratapan Ibuh saat ini telah dibuka menjadi salah satu tempat destinasi wisata kota Payakumbuh dengan diadakannya lahan hijau yang banyak dikunjungi oleh turis lokal maupun luar daerah untuk menuntaskan dahaganya akan sejarah bangsa ini ataupun untuk melepaskan lelah dan menghibur diri.

Pada agresi militer Belanda kedua masuk ke Payakumbuh pada tanggal 23 Desember 1948 sehari sesudah pembentukan PDRI di Parak Lubang Halaban. Belanda mendirikan beberapa datasemen dan pos penjagaan di Payakumbuh seperti di rumah Lamid, di rumah dr. Anas, di Koto Nan Gadang dan di pasar ternak yang telah menjadi lokasi SMA Negeri 4 Payakumbuh saat ini. Selain membangun data semen dan pos penjagaan Belanda juga mendirikan Dinas Informasi (Unichtig Dienst) atau disingkat ID yang dipimpin oleh Letnan Ofades Treuner dan dibantu oleh Sersan Zsecher yang cukup mahir berbahasa Minangkabau. Dan kantor pemerintahan Belanda didirikan di Labuah Baru yaitu kantor Badan Pertanahan Nasional sekarang yang dipimpin oleh W. G. Klinj dan kemudian digantikan oleh Tijdelijk Bestur Amtenar.

Dalam mencari informasi tentang keadaan Payakumbuh dalam bidang militer dan hal-hal yang diperlukan maka Belanda mengangkat mata-mata dan kaki tangannya yang antara lain: Myo Lek An (Den An), Sastro Datuk Karang dan Paduko Dewa serta Kancil. Dan dari kesaksian pelaku sejarah yang masih hidup M. Djuri dan Ramli yang berasal dari Padang Alai nagari Air Tabit mengatakan kepada C. Israr bahwa pada hari kamis 30 Desember 1948 di pagi hari Belanda melakukan operasi dan patroli ke nagari Air Tabit mulai dari Sicincin hingga ke Padang Alai menangkap pemuda-pemuda yang tidak sempat meloloskan diri yang berjumlah 16 orang dan di bawa ke markas Belanda di rumah Lamid di dekat Pasar Payakumbuh jam 11 siang dan ditambah lagi dengan tawanan dari Sicincin. Dan pada pukul 16.00 WIB dibawa naik truk melewati pasar Payakumbuh dan berhenti di Batang Agam.

Di jembatan Batang Agam telah menunggu tentara Belanda dan kaki tangan Belanda yang bernama De An keturunan China dan Kancil yang berasal dari Padang Tiakar. Dan kaki tangan Belanda tersebut memilih 12 orang tahanan selain M. Djuri, Ramli, Sama, Kasimuntuk tiarap di atas jalan dan 4 tahanan lain disuruh jalan untuk pulang lalu tentara Belanda memberondong semuanya dengan tembakan hingga sampailah ajal mereka. Dan lalu empat orang yang masih tertinggal disuruh melempar mayat-mayat tersebut ke Batang Agam dan lalu setelahnya disuruh pulang dan diberi sebungkus rokok sigaretek.

Belanda Menyerang Situjuh di Bulan April 1949

Kecamatan Situjuh Limo Nagari terletak di bagian selatan luhak Limapuluh di lereng Gunung Sago dengan udaranya yang cukup dingin, sayur-sayur tumbuh dengan sumbur, sawah-sawah berjenjang dengan hingga sampai ke pinggang gunung itu.Jika berdiri di ketinggian Gunung Sago maka disebaliknya adalah Lintau Buo Utara dan jika terus menyusuri lereng Gunung Sago ke arah Timur sakan sampai di Sikabu-kabu, Sungai Kamuyang, Padang Mengatas, Labuah Gunuang, Tanjuang Gadang dan Halaban; namun jika ke arah tenggara akan sampai ke Sungai Patai, Barulak, Batu Sangar atau ke Baso Agam.

Sesudah peristiwa Situjuh Batur pada 15 Januari 1949, Belanda kembali menyerang Situjuh pada bulan April di tahun yang sama. Dan pada malam di bulan April tersebut, Pasukan republik telah melihat di pos pengintaian Bukit Kuburan Cina di Limbukan bahwa jalan-jalan di payakumbuh – Bukittinggi di sekitar nagari Padang Siantah dan Ngalau Indah telah terlihat lampu-lampu kendaraan konvoi Belanda menuju Payakumbuh. Belum bisa dipastikan ke mana arah tujuan penyerangan Belanda, namun markas Komando Pertempuran Limapuluh Kota bagian Selatan bertempat di Situjuah Gadang dan untuk itu kepada masyarakat diperintahkan untuk menyingkir ke tempat yang lebih aman.

Belanda memulai penyerangan di pagi hari pukul 08.00 WIB dengan pesawat tempur Mustang yang melakukan pengintaian di Situjuh Gadang, Bandar Dalam dan lalu melepaskan tembakan di kaki bukit di sekitar Ladang lawas dan Situjuh Batur. Dan pada tengah hari sekitar pukul 12.00 WIN pasukan Belanda telah sampai di Manggis dan Situjuh Gadang lalu membakar rumah-rumah rakyat di tempat tersebut.

Sewaktu pasukan Belanda telah sampai di Tanjung Mungo nagari Situjuh Gadang hingga Taratak nagari Limbukan, maka pasukan Belanda tersebut dicegat oleh pasukan republik. Tidak diketahui pasti berapa korban dari pihak Belanda, namun dilihat dari atas perbukitan yang menjadi tempat pertahanan pejuang republik terlihat banyak pasukan Belanda yang ditandu ke mobil ambulan. Dan dari pihak pasukan republik ada seorang anggota kompi yang luka berat dan tiga orang rakyat yang ditangkap lalu gugur sebagai kusuma bangsa setelah dieksekusi Belanda di Bukit Palano.

Bukit Luncung di Sitanang Tempat Tahanan Dan Eksekusi Militer Beserta Gudang Penyimpanan Candu (Emas Hitam)

Saya dari arah payakumbuh dan sesudah Pasar Raba’a Gadut ada sebuah simpang empat yang belok ke kanan akan menuju nagari Labuah Gunung di lareng Gunung Sago namun kalau lurus akan menuju Tanjuang Gadang dan Halaban serta kalau belok kiri akan menuju nagari Sitanang. Saya terus menuju ke Sitanang dengan keadaan jalan yang sangat baik dan terus menurun yang di kiri – kanan jalan banyak terdapat rumah penduduk yang tidak terlalu jarang.

Sekitar dua km berjalan saya belok kanan saat menemui persimpangan dengan jalan-jalan yang sudah mulai rusak danada juga yang berupa cor semen. Sepanjang perjalanan saya melihat bukit-bukit dengan batu-batu yang keras di sepanjang Sitanang. Perbukitan tersebut terhampar banyak di sepanjang jalan yang saya lalui. Dan sebagian bukit ada yang dipecahkan batu-batunya untuk dijadikan bahan bagunan rumah dan gedung-gedung lainnya. Dan dulunya nagari Sitanang dan Batu Payung ini salah satu tempat pengungsian oleh masyarakat Payakumbuh yang tinggal di pusat markas Belanda di tengah kota.

Semakin jauh perjalanan jalanan semakin rusak berupa jalan tanah yang cukup keras dan banyak ditemukan simpang-simpang. Di antara bukit-bukit tersebut ada terdapat goa-goa dan salah satu goa yang terkenal adalah Goa Tabuah di Sitanang ini. Goa atau Ngalau Tabuah dikelilingi oleh kolam-kolam yang sangat eksotik dilalui di antara stalkmit-stalkmit di dalam goa. Dan dari informasi penduduk setempat Ngalau Tabuah tersebut sering dijadikan sebagai tempat syuting film dan lain-lain sebagainya meski ngalau itu masih sangat jarang dikunjungi oleh masyarakat yang mungkin saja akses jalan belum begitu bagus.

Sesudah melewati Ngalau Tabuah tersebut saya terus melanjutkan perjalanan menyusuri jalan-jalan tanah yang tidak ditemui lagi rumah-rumah penduduk, ada banyak jalan-jalan bersimpang di setiap celah bukit dan di situ ditemukan tempat pengolahan pembuatan pupuk yang dibuat secara sederhana dan setelah itu saya menemukan jalan perkampungan penduduk. Setelah bertanya kemana arah Bukit Luncung yang ternyata belok kiri, maka saya menyusuri jalan tanah berbatu-batu tersebut sekitar satu km.

Bukit Luncung di terletak di jorong Tanah Mungguak kenagarian Sitanang. Jalan lurus ini nantinya akan sampai di jorong Coran dan terus ke jorong Subarang Air kenagarian Balai Panjang dan sampai di kenagarian Taram dan semua nagari-nagari ini juga dilalui oleh Batang Sinamar. Dan Bukit Luncung pun sesungguhnya terletak di perbatasan nagari Sitanang dan nagari Ampalu yang tepatnya di jorong Siaur. Dari informasi penduduk setempat jarak antara jorong Tanah Mungguak Sitanang dengan jorong Siaur Ampalu sekitar satu jam jalan kaki dengan melewati jalan setapak di perbukitan. Dan saya memperkirakan jaraknya sekitar 5 – 7 km. Dari analisa tempat ini saya memperkirakan Mr. Syafrudin Prawiranegara pada tanggal 20-an Juni 1949 menuju Koto Tinggi dari Siaur yaitu melintasi bukit-bukit ke Sitanang dan terus menyusuri Batang Sinamar ke Coran Sitanang, Subarang Air, Taram, Bukit Limbuku, Batu Balang, Tanjung Pati, Koto Tuo, Simalanggang, Taeh Baruah, Mungka, Jopang Manganti, Suliki, sampai di Koto Tinggi.

Setelah berjalan sekitar satu km, saya bertanya ke penduduk setempat arah Bukit Luncung. Lalu saya ditunjukkan jalan kecil belok sekitar 100 meter ke dalam. Dari jalan Bukit Luncung ini tidak terlihat. Bukit ini hanya memiliki tinggi beberapa meter yang menurut saya tidak lebih dari lima meter. Keadaan bukit ini berbentuk landai hingga ke puncak. Hampir tidak kelihatan kalau ini adalah bukit jika dilihat sekilas. Hanya seperti kebun biasa yang dipenuhi oleh tanaman karet yang masih berusia muda memenuhi Bukit Luncung ini.

Suatu hal yang sangat fenomenal dari Bukit Luncung ini pada masa PDRI adalah sebagai tempat eksekusi para tahanan. Di masa itu jika siapa saja dicurigai penghianat kepada republik atau kedapatan menjadi kaki tangan Belanda maka mereka akan dibawa ke Bukit Luncung. Tidak ada yang tidak tahu orang-orang pada zaman itu dengan bukit ini. Siapa saja yang pernah dibawa ke tempat ini jarang ada yang bisa keluar hidup-hidup setelah dieksekusi tanpa pengacara hanya berupa pengadilan berupa hakim yang menjatuhkan hukuman. Bentuk hukuman pada masa itu adalah dengan ditembak atau kepalanya dipacung dengan memakai belek yang tajam. Dan mendengar nama Bukit Luncung pada masa itu akan membuat bulu kuduk merinding dan ngeri. Sehingga Batang Sinamar di saat itu dipenuhi oleh mayat-mayat yang mengapung setelah dieksekusi di Bukit Luncung

Satu hal yang penting tentang Bukit Luncung ini adalah tempat penyimpanan candu atau yang dijuluki “Emas Hitam” yang diungsikan dari Bukittinggi ketika komando militer menginstruksikan untuk mengosongkan kota Bukittinggi sejak 22 Desember 1948. Candu itu dibawa dari Yokyakarta ke Bukittingi sebelum agresi militer Belanda yang kedua yang disimpan di gedung Tamu Agung dibawah tanggungjawab Mr. Lukman Hakim yang sebagai Hakim/Wakil Mentri Keuangan RI, Kadarisman sebagai Wakil Mentri Kemakmuran RI dan Mr. A. Karim dari Bank Negara Indonesia.

Setelah candu tersebut tiba di Bukittinggi maka pada awal Desember 1948 sebagian dibawa ke Pekanbaru. Dan pada agresi Belanda yang kedua, sejak 22 Desember kota Bukittinggi di kosongkan dan candu yang masih tertinggal juga ikut diungsikan. Dan disaat genting tersebut Mr. A. Karim berbicara kepada Letnan II Basri Haznam yang sebagai kepala Kepala kepolisian Militer Sumatera Tengah agar segera mendapatkan kendaraan untuk membawa “emas hitam” itu secepatnya karena Belanda telah mulai memasuki Bukittingi dari Singkarak dan Sicincin.

Setelah mendapatkan dua buah truk dengan susah payah maka setengah dari candu yang tersisa berhasil dibawa ke Lubuk Sikaping di bawah tanggungjawab Syamsu Anwar yang menjadi Pemimpin Bank Negara Cabang Bukittinggi. Dan setengah bagian lagi di bawa ke Halaban di bawah tanggungjawab Komisariat Pemerintah Pusat. Semua harta terakhir Republik itu berhasil diselematkan.

Kegunaan candu ini adalah untuk pembiayaan perang kemerdekaan Republik yang pernah diselendupkan oleh Kapten Adham Yatim dan Zachlul Zen ke Singapura yang digunakan untuk keperluan alat militer seperti senjata dan membiayai pilot-pilot Indonesia untuk belajar ke India serta untuk keperluan suku cadang pesawat AURI. Dan di Payakumbuh pernah dibangun gudang candu di kelurahan Daya Bangun sekarang. Bahkan Kamaludin Tambiluak pernah ditugaskan menyeludupkan candu ke Singapura melalui daratan Riau yang hasilnya ditukarkan dengan persenjataan. Karena saat itu harga candu di pasaran dunia sangat menggiurkan dan bahan baku candu tersebut banyak tumbuh di pedalaman hutan Indonesia. Dan candu itu sebangsa getah yang dibakar bersama tembakau yang menjadikan orang yang mengisapnya menjadi tenang dan fly dengan menggunakan cang klong, kata Afdhal Ali fahmi yang menjadi anggota YPP PDRI di Bukittinggi.

Peristiwa Heroik di Durian Gadang yang Penuh Dengan Pahlawan

Sebuah nagari yang bernama Durian Gadang penuh dengan peristiwa heroik di saat agresi militer Belanda yang kedua. Nagari yang terletak sebelah kiri jalan dari arah Bukittinggi sesudah Simpang Hampar atau dari arah Payakumbuh melewati Piladang sebelah kanan sesudah Simpang Padang Siantah yang menuju ke Situjuh Batur. Dan dari Durian Gadang ini nanti akan sampai ke nagari Sariak Laweh jika belok kiri dan ke nagari Simpang Sugiran kalau belok kanan hingga terus ke Piobang. Dan ini dulunya juga salah satu rute prajurit Republik yang dari Kamang akan melintasi perbukitan di nagari Suayan lalu ke Simpang Sugiran dan sampai di Piobang yang menjadi markas AURI di Luhak Limapuluh.

Di dalam perjalanan PDRI yang selama lebih kurang dari delapan bulan tersebut, sebuah peristiwa heroik turut memberi warna pada roda sejarah republik ini dalam mempertahankan kemerdekaan yaitu ketika hari Sabtu, 3 Februari 1949 ada 16 orang pejuang dari Durian Gadang ke Burai-burai yang tempat Gerbang Kota Payakumbuh saat ini dipimpin oleh Komandan Durin Engku Elok yang diberi tugas oleh wali perang Durian Gadang untuk mencegat Belanda di lokasi tersebut. Pencegatan tersebut dilakukan karena telah didapatkan informasi bahwa Belanda akan mengadakan acara pergantian serah terima komandan yang baru di Payakumbuh.

Prajurit dari Durian Gadang telah lama menunggu rombongan pasukan Belanda sejak kemarin hari Jumat di Labuah Sampik dekat bendungan PLTA Batang Agam sekarang hingga lalu pindah ke Burai-burai dan pada pagi hari pukul 7.00 WIB prajurit sudah mulai tidak tahan menahan lapar sehingga berangkatlah sebagian pulang untuk makan dan hanya 5 orang prajurit yang tinggal. Ketika dalam keadaan tersebut lalu sekitar pukul 09.00 WIB lalu tibalah rombongan Belanda yang ditunggu-tunggu yang saat itu terdiri dari Durin Engku Elok, Mansur, Karani, Karana dan Jamaran.

Belanda muncul dengan iringan 3 buah kendaraan yang berupa mobil jeep, sedan dan truk menuju arah Payakumbuh. Pimpinan pejuang Durin Engku Elok dan pasukannya mengambil posisi di atas bukit yang terhalang oleh rerumputan yang berjarak hanya sekitar 12 meter dari pasukan konvoi Belanda. Dalam waktu bersamaan ketika pasukan telah siap dalam sasaran tembak maka granat dan senapan dimuntahkan ke arah musuh sehingga pasukan Belanda kocar-kacir. Mobil jeep yang ada di depan langsung tancap gas ke arah Payakumbuh dan mobil sedan juga turut melaju kencang setelah menurunkan penumpangnya yang bergabung dengan pasukan di atas truk pada rombongan belakang. Ada sekitar 20 menit tembak-menembak itu berlangsung dan semua pasukan Belanda yang ada saat itu berjumlah lebih kurang 20 orang tewas semuanya termasuk seorang yang keluar dari mobil sedan tersebut yang diduga adalah pemimpin pasukan.

Setelah semua pasukan Belanda tidak ada lagi melakukan perlawanan karena semua sudah tewas, pimpinan pasukan republic tersebut turun dari tempat persembunyian dan memeriksa para korban dari pihak Belanda yang telah berjatuhan. Namun sayang sekali bahwa dua buah mobil yang sempat melarikan diri ke arah Payakumbuh tersebut ternyata telah berhasil menjemput pasukan bantuan ke markas Payakumbuh dengan cepat. Malang tak dapat diraih, Durin Engku Elok bersama pasukan langsung dihujani oleh peluru prajurit Belanda yang dengan sigap datang dari arah Payakumbuh tanpa sempat lagi mengambil posisi bertahan. Hanya ada satu yang selamat dari kejaran belanda tersebut yaitu Jamaran dengan tubuh yang juga penuh luka-luka.

Masyarakat Durian Gadang sembunyi-sembunyi menuju tempat peristiwa pertempuran tersebut dan pasukan Belanda masih menunggu di sana sampai hari telah gelap. Dan ketika pasukan Belanda meninggalkan tempat itu didapati mayat Durin Engku Elok, Mansur, Karani dan Karana telah terbujur kaku menjadi pahlawan kusuma bangsa dan malam itu juga dimakamkan di Makam Pejuang Nan Barampek dan saat ini tempat tersebut bernama Tanjung Mutiara.

Pada hari Selasa, 6 Februari 1949 pada waktu shubuh Belanda mengepung Durian Gadang dari segala penjuru kecuali dari Tenggara menuju Paini. Bunyi tongtongan dipukul BPNK menambah kepanikan warga Durian gadang menyelamatkan diri yang amukan Belanda yang melepaskan peluru secara membabi buta kepada siapa saja yang ditemuinya bahkan termasuk anak-anak, wanita dan orang yang sudah tua. Ada 27 orang korban dari masyarakat Durian Gadang ditambah 5 orang pengungsi di hari itu dan 2 orang korban dari prajurit Belanda yang langsung dibawa oleh teman-temannya.

Dan pada tanggal 2 Maret di tahun 1949 prajurit republik yang komandannya bernama Jamhur memimpin pencegatan pasukan Belanda di Tanjung Karambia dekat Simpang Batu Hampar. Di sini prajurit republik gugur yaitu Tamir Amir Kamal setelah melawan Belanda dengan adu senjata. Pasukan Jamhur pun mundur dan dikejar oleh Belanda ke Koto Tangah, Sei Cubadak, Tambak, Guguk Panjang dan sampai di Durian Gadang.

Saat Belanda memasuki pengejaran pasukan Jamhur ke Durian Gadang ternyata belanda menemukan nagari ini sudah kosong dari penduduk. Belanda melampiaskan amarahnya dengan membakar rumah penduduk, hewan ternak, lumbung padi yang baru saja diisi sesudah panen. Tidak dapat dibayangkan entah berapa kerugian yang diderita oleh masyarakat Durian Gadang untuk membela republik ini. Di antara jumlah rumah yang terbakar tersebut terdiri dari 31 rumah gadang, 49 rumah biasa, 1 kedai dan 4 gubuk, 125 lumbung padi dan beberapa ekor hewan ternak yang ditembak dan dibakar. Sejak periswa tersebut maka markas front perjuangan Akabiluru dipindahkan ke Sariak Laweh.

Sejarah PDRI di Luak Limapuluh Kota banyak bersumber dari sejarahwan Saiful S.P.

Feni Efendi, Payakumbuh, 2017

HP/WA 081267727161

  1. author

    naila2 months ago

    emhh aduh ya Allah ngeri saya bacanya,, semoga jangan pernah terjadi lagi ya,, semoga kita merdeka selamanyaaaa,,

    Reply
  2. author

    nando1 month ago

    luar biasa

    Reply

Leave a reply "PERISTIWA PDRI DI LUHAK LIMAPULUH KOTA"