RUTE PERJALANAN PDRI

oleh -56 views
caa kantor gubernur sumatera PDRI di kampung melayu
caa kantor gubernur sumatera PDRI di kampung melayu

Bukittinggi

Pada tanggal 19 Desember 1948 kota Bukittinggi dibombardir oleh Belanda sejak pagi harinya maka pejabat pemerintah dan militer yang berada di Bukittinggi mengungsi malam itu juga kepada Halaban secara berombongan melalui kota Payakumbuh.

Halaban

Rombongan pejabat pemerintah dan militer dari Bukittinggi tiba di Kayu Angik jorong Parak Lubang Halaban pada dini hari pada tangal 20 Desember 1948 dan menginap di bekas perumahan pabrik teh Halaban. Dan siang harinya pindah ke rumah walinagari Halaban di Parak Lubang dan menginap di sebuah surau yang sekarang sudah diubah menjadi masjid Muchlisin dari 50 meter dari tempat sekarang.

Pada tanggal 22 Desember dini hari Mr. Moh. Rasyid telah tiba di Pariaman dan dilangsungkan rapat saat itu juga sehingga terbentuklah PDRI secara resmi pada pukul 03.40 WIB. Dan esok harinya tanggal 23 Desember PDRI diumumkan melalui radio PHB AURI UDO kes eluruh Indonesia dan luar negeri. Dan pada tanggal 23 Desember pada pukul 21.00 WIB rombongan PDRI meninggalkan Halaban yang terpecah menjadi 3 rombongan. Rombongan Mr. Sutan Moh. Rasyid menuju Koto Tinggi, rombongan Kolonel Hidayat yang berada di Bukittinggi menuju Aceh melalui Lubuk Sikaping, Tapanuli Selatan dan rombongan Mr. Syafrudin Prawiranegara sebagai ketua PDRI menuju Bidar Alam melewati bangkinang, Teratak Buluh, Lipat Kain, teluk Kuantan, Kiliran Jao, Sungai Dareh, Abai Sangir.

Perjalanan Antara Halaban dan Bangkinang

Rombongan PDRI tiba di Lubuk Bangku pada pukul 23.00 WIB pada tanggal 23 Desember 1948 dan sampai di Muaro Mahat pada pukul 09.00 WIB pada tanggal 24 Desember dan tiba di Bangkinang pada pukul 17.00 WIB

Bangkinang

Rombongan PDRI tiba di Bangkinang pada tanggal 24 Desemebr pukul 17.00 WIB dan esok harinya diadakan rapat pembagian kerja. Dan saat itu juga Radio PHB UDO kembali diaktifkan. Dan pada tanggal 26 Desember esok harinya Bangkinang dibombardir oleh Belanda.

Rombongan PDRI meninggalkan Bangkinang pada tanggal 28 Desember menuju Pekanbaru. Dan di tengah perjalanan bertemu dengan Kapten Sofyan Ibrahim dan Letkol A. Halim yang mengabari bahwa Pekanbaru telah diduduki oleh Belanda.

Perjalanan Antara Bangkinang dan Taluak

Tanggal 28 Desember berbelok ke Taratak Buluh dan kendaraan besar seperti limusin “Gajah Putih” miliknya Mr. Tengku Moh. Hasan ditenggelamkan di Batang Kampar supaya tidak diambil-alih oleh Belanda. Dan dari sini menggunakan Jeep menuju Sungai Pagar. Dan di Pantai Raja sebelum Sungai Pagar mobil yang ditumpangi Mr. Syafrudin Prawiranegara terbalik sehingga kacamatanya pecah. Dan di Sungai Pagar rombongan PDRI mendapatkan bantuan dari Mayor Akil Prawiradireja serta sebuah kacamata dari seorang dokter yang bertugas di sana.

Dari Sungai Pagar perjalanan dilanjutkan ke Lipat Kain dan di sini diadakan rapat instruksi seperlunya. Dan di sini juga rombongan PDRi dipecah-pecah menjadi rombongan kecil. Dari Lipatkain dilanjutkan menuju Muara Lembu melalui Kotabaru dan sampai di Muara Lembu pada pukul 02.30 WIB di rumah wedana seempat. Dan 11 km dari sana rombongan menuju Teluk Kuantan pada hujan lebat dan tiba menjelang matahari terbit. Dan di sini bermalam di rumah dr. Ilyas Dt. Batuah pada siang harinya pukul 12.00 WIB kota Teluk Kuantan dibombardir oleh Belanda. Dan setelah itu rombongan PDRI meninggalakn Teluk Kuantan dan menginap di tepi Taluak di tepi Batang Kuantan. Dan besoknya tanggal 31 Desember rombongan berangkat ke Sungai Daerah melewati Kiliran Jao.

Tiba di Kiliran Jao rombongan PDRI mendapatkan tumpangan dari prajurit di sana untuk perjalanan ke Sungai Dareh.

PDRI di Sungai Dareh

Rombongan PDRI merayakan tahun baru di Sungai Dareh dan mengucapkan selamat tahun baru dari sana melalui radio PHB AURI UDO di sana. Rombongan menginap selama 3 hari. Dan seelum menuju Abai Sangir, rombongan PDRI dipecah menjadi beberapa bagian. Kolonel Sujono kembali ke Koto Tinggi melewati Tanjung Ampalu, Lintau, Halaban dan terus ke Koto Tinggi. Sedangkan rombongan Lukman Hakim ke Muaro Tebo dengan perahu motor tempel dan terus ke Muaro Bungo untuk menjemput percetakan uang URIPS yang telah dimodifikasi. Dan rombongan kembali ke Abai Sangir melewai Abai dengan menambah 2 orang awak radio yaitu Umar Said Noor dan Kusnadi.

Sedangkan rombongan Moh. Hasan dan awak radio PHB AURI menempuh jalan darat untuk keamanan dan keselamatan alat radio sepaya tidak tenggelam. Jalur yang ditempuh melewati Abai Siat, Abai dan Abai Sangir. Sedangkan rombongan Mr. Syafrudin Prawiranegara meenempuh jalan sungai menyonsong Batang Hari dan masuk ke Batang Sangir hingga tiba di Abai Sangir.

PDRI di Abai Sangir

Rombongan PDRI yang menempuh jalur sungai telah ada yang sampai di Abai Sangir sekitar 3 hari meninggalakan Sungai dareh sekitar tanggal 6 Januari 1949. Rombongan yang telah tiba terlebih dahulu segera beristirahat di rumah gadang panjang Abai Sangir sambil menunggu rombongan yang lain. Dan pada pertengahan Januari setelah rombongan PDRI telah lengkap sampai di Abai Sangir, Wali Perang Bidar mengutus seseorang untuk menjemput rombongan PDRI untuk segera ke menetap di Bidar Alam.

PDRI di Bidar Alam

Rombongan PDRI menuju Bidar Alam mempuh jalan darat melewati Ranah Pantai Cermin yang berjarak dari Abai Sangir sekitar 14 km ke Bidar Alam. Rombongan disambut dengan upacara adat oleh masyarakat Bidar Alam. Tinggal di rumah Jama corong Bulian.

Pada pertengahan April 1949 rombongan PDRI meninggalkan Bidar Alam menuju Sumpur Kudus. Rombongan PDRI meninggalakan Bidar Alam karena akan mengadakan rapat besar di Sumpur Kudus tentang menanggapi Roem-Royen Statement yang baru saja berlangsung di Jakarta. Selain dari itu, keberadaan PDRI di Bidar Alam juga telah diketahui oleh Belanda dengan dibombardirnya Ranah Pantai Cermin oleh Belanda karena Belanda menduga disitulah markas PDRI.

Perjalanan PDRI ke Calau Sumpur Kudus

Rombongan PDRI meninggalkan Bidar Alam melalui jakur sungai Batang Sangir dan tiba di Sungai Dareh. Rombongan dipecah-pecah beberapa rombongan dengan hari keberangkatan yang berbeda. Dan tiba di Sungai Dareh terus melanjutkan berjalan kaki menuju Kiliran Jao dan terus Kamang, Durian gadang, Maloro dan menempuh perjalanan sungai Batang Kuantan hingga sampai di Calau Sumpur Kudus.

PDRI di Calau Sumpur Kudus

Rombongan PDRI tiba di Calau sekitar tanggal 20-25 April 1949. Dan untuk menunggu rombongan yang lainnya berjalan kaki, rombongan PDRi beristirahat sejenak di sini. Rombongan menginap di rumah orang tua Buya Syafii Maarif dan Halifa.

Rombongan PDRI lengkap secara semuanya pada tanggal 5 Mei 1949. Dan pada tanggal 9 Mei rombongan PDRI menuju Silantai Sumpur Kudus namun awak kru radio PHB AURI UDO menetap di Surau Batu Banyak nagari Sumpur Kudus.

PDRI di Silantai Sumpur Kudus

Rombongan PDRI hampir secara lengkap telah hadir pada tanggal 12 Mei 1949 di Silantai. Dan Musyawarah Besar dilakukan pada tanggal 14 – 17 Mei 1949 di rumah Wali Perang Silantai, Hasan Basri. Dalam rapat tersebut sangat menyayangkan tindakan Soekarno-Hatta yang menjadi tawanan Belanda untuk mengutus Moh. Roem untuk berunding dengan belanda tanpa sepengetahuan dan konfirmasi dari PDRI.

Setelah rapat tersebut, semua anggota PDRI kembali ke tempat masing dan Koto Tinggi. Namun Mr. Syafrudin Prawiranegara tetap menetap di Silantai bersama dua orang mentrinya yaitu Lukman Hakim dan Indracahya serta awak radio PHB AURI UDO yang menetap di Surau Batu Banyak. Selama menetap di sini Mr. Syafrudin menulis buku “Islam dalam Pergolakan Dunia”. Dan selama tinggal di sini, Mr. Syafrudin sesekali tetap melakukan kunjungan ke Halaban dan Ampalu dll.

PDRI Sejak 19 Juni 1949

Setelah mendengar kabar bahwa Belanda telah masuk sampai ke Suliki, maka Mr. Syafrudin meninggalkan Silantai menuju Koto Tinggi pada tanggal 19 Juni 1949. Mr. Syafrudin berangkat bersama Lukman Hakim, Indracahya dan dua orang pengawal lalu singgah di Surau Batu Banyak dan berangkat bersama awak kru radio PHB UDO.

Perjalanan diteruskan ke Sabiluru Tamparunggo yang berjarak sekitar 15 km untuk menemui awak radio YBJ 6. Dan dari sana rombongan PDRI tanpa awak YBJ 6 terus melanjukan perjalanan ke Tanjung Bonai Aur yang berjarak sekitar 7 km dari Sabiluru. Dari Tanjung Bonai Aur di teruskan Koto Panjang nagari Tigo Jangko lalu terus ke Sangki Tingga. Dari sini melintasi perbukitan dan rimba bukit Gunung Bajuba yang berjarak lebih kurang sekitar 10 km ke Talang. Dari sini terus ke Sungai Langsat, Pamasihan, Halaban dan Siaur Ampalu.

Di Ampalu ini awak radio PHB tinggal dan radio sender ditempatkan di Sungai Kalam Guguk sedangkan percetakan uang URIPS ditempatkan di Sungai Manggih, Padang Aur, Ampalu. Dan dari Siaur, Mr. Syafrudin melintasi Batang Sinamar untuk terus ke Sitanang lalu tembus di Subarang Air Balai Panjang, Taram, Batu Balang, Tanjung pati, Lubuk Batingkok, Simalanggang, Taeh Baruah, Mungka, Suliki dan tiba di Koto Tinggi.

Di Koto Tinggi, Mr. Syafrudin tinggal di rumah Usman di Puar Datar. Di rumah ini sering juga diadakan rapat kabinet. Pada tanggal 1 Juli 1949, pejabat PDRI rapat di Sungai Naniang di kawasan Tanjung jorong kampung Baru di rumah Rusli A. Wahid. Dan pada tanggal 6 Juli 1949, Mr. Syafrudin meninggalakan Koto Tinggi menuju Padang Japang menunggangi kuda untuk mengikuti rapat penyerahan mandat bersama rombongan dr. Leimena dkk yang diutus oleh Moh. Hatta.

Rapat diadakan tanggal 6 Juli sesudah isya dan berakhir sebelum shubuh tanggal 7 Juli 1949. Dan esok harinya tanggal 8 Juli 1949 rombongan PDRI dan rombongan Leimena mengadakan acara Musyawarah Besar perpisahan dengan masyarakat Koto Kociak dan Padang japang di Lapangan Bola Koto Kociak. Dan setelah itu Moh. Rasyid membawa Mr. Syafrudin kembali ke Koto Tinggi di Puar Datar. Dan tanggal 10 Juli 1949, Mr. Syafrudin berangkat ke Yokyakarta bersama Lukman Hakim dan rombongan dr. Leimena melalui rombongan udara Gadut.

Di Yokyakarta staff PDRI disambut oleh Moh. Hatta, Soekarno, Ki Hajar Dewantara, Agus Salim dll. Dan pada hari yang sama, jenderal Sudirman juga telah masuk ke Yokjyakarta dan bertemu dengan Mr. Syafrudin Prawiranegara. Dan pada tanggal 13 Juli 1949 rapat penyerahan mandat dilaksanakan yang dipimpin oleh Perdana mentri Moh. Hatta.

Feni Efendi, Payakumbuh, 2017

Dapatkan 2 buah bukunya dalam penelitian ini:

Jejak yang Terlupakan

Judul Buku: JEJAK YANG TERLUPAKAN: Menyusuri Jejak Mr. Syafruddin Prawiranegara dalam Menjalankan PEMERINTAH DARURAT REPUBLIK INDONESIA (PDRI) pada Masa Agresi Militer Kedua Belanda di Sumatera Tengah

Genre: Catatan Perjalanan

Penerbit: JBS Yogyakarta

Penulis: Feni Efendi

Pemesanan: WA 0812-6772-7161 / HP 0823-8485-2758

 

Selendang Ibu Perdana Menteri

Judul Buku: SELENDANG IBU PERDANA MENTERI

Genre: buku puisi PDRI

Penerbit: JBS Yogyakarta

Penulis: Feni Efendi

Pemesanan: WA 0812-6772-7161 / HP 0823-8485-2758

3 thoughts on “RUTE PERJALANAN PDRI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.