PDRI: MENELUSURI PERJALANAN KOLONEL SUJONO

1 comment 91 views

Pada tanggal 12 Desemebr 1948, Kol. Sujono menerima radiogram dari KSAU Surya darma bahwa kemungkinan dalam waktu dekat Belanda akan kembali melakukan agresinya maka dari angota AURI diharapkan terus berjuang bersama rakyat dengan menanggalkan kepangkatan, namun instruksi menanggalkan kepangkatan itu tidak laksanakan oleh Kol. Sujono.

Sewaktu Belanda membombardir pangkalan AURI di Gadut, Kol. Sujono hanya memiliki 30 orang anggota. Dan alat-laat penting seperti radio diamankan lalu besok harinya alat-alat tersebut baru diungsikan. Dan pada hari itu juga KSAU Suryadarma dikabarkan jugatertangkap oleh Belanda sehingga AURI di saat tu benar-benar lumpuh. Dalam keadaan genting tersebut AURI masih punya 2 buah pesawat yaitu sebuah pesawat Catalina yang saat itu hancur ketika start dari kota Jambi menuju Teluk Kuantan di Sungai Batanghari yang rencananya akan membawa ketua PDRI ke Aceh melalui Batang Kuantan di Teluk Kuantan.

Satu lagi pesawat AURI berada di Rangoon, Miyanmar adalah RI-001 yang digunakan untuk jasa pembawa barang yang keuntungannya dijadikan sebagai modal perjuangan RI. Dan pada masa awal PDRI, pesawat ini sangat berjasa membawa berita PDRI ke India melalui radiogram yang dioprasikan di Rangoon untuk diteruskan ke India melalui pesawat RI-001.  Dan juga sebagai kepala Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) dan yang berwenang dalam pemancar radio AURI maka Kolonel Sujono mengikuti rombongan PDRI sejak dari Bukittinggi, Halaban hingga Sungai Dareh, Lintau, Koto Tinggi, Bidar Alam, Sumpur Kudus.

Kolonel Sujono di Bukittinggi

Markas AURI sebelum agresi militer kedua Belanda terletak di Tabing Padang, Gadut Bukittinggi dan Piobang Payakumbuh. Dan ketika Belanda melakukan agresi maka markas AURI sepenuhnya berada di Halaban. Serta ketika Bukittinggi diserang Belanda melalui udara maka Kolonel Sujono menyarankan kepada pejabat PDRI untuk mengungsi ke Halaban. Maka pada malam itu juga Kolonel Soejono bersama rombongan PDRI berangkat ke Halaban.

Kolonel Sujono Berangkat ke Halaban

Rombongan tiba di Halaban sudah dini hari dengan 3 buah rombongan. Setelah menunggu kedatangan Mr. Moh. Rasyid yang sebagai pimpinan DPD (Dewan Pertahanan Daerah) dan Residen Sumatera Tengah dari Pariaman maka tanggal 22 Desember 1948 kabinet PDRI resmi dibentuk pada pukul 03.40 WIB. Dan besok harinya Kolonel Sujono dan awak radio PHB AURI UDO yang dipimpin oleh Dick Tamimi berhasil menghubungi radio-radio di Pulau Jawa dan sumatera. Dan pada hari itu juga diumumkan PDRI oleh Mr. Syafrudin Prawiranegara.

Berangkat dengan Rombongan PDRI ke Bangkinang

Pada tanggal 23 Desember sesudah diumumkan Kabinet PDRI melalui radio PHB AURI UDO didapatkan berita bahwa Belanda telah menduduki Bukittinggi dan sedang dalam perjalanan menuju Payakumbuh maka saat itu juga pukul 11.00 WIB rombongan PDRI dari Halaban berpacu-pacu dengan Belanda untuk sampai di Payakumbuh dengan 7 rombongan.

Kolonel Sujono di Bangkinang

Rombongan PDRI tiba di Bangkinang jam 17.00 WIB pada tanggal 24 Desember 1948 dan menginap serta rapat di rumah wedana Bangkinang. Dan Kolonel Sujono bersama staf radio PHB AURI mengaktifkan sender radio untuk memberitakan tentang PDRI. Dan pada hari itu tanggal 26 Desember Bangkinang dibombardir oleh Belanda dan Kolonel A. Halim dan Kapten Sofyan Ibrahim yang baru saja dari Pekanbaru menginformasikan bahwa Pekanbaru telah diduduki oleh Belanda. Setelah rombongan PDRI menuju Taratak Buluh dengan tujuan Teluk Kuantan untuk menunggu pesawat catalina yang mengalami kecelakaan di Sungai Batanghari Jambi dan rombongan PDRi meneruskan perjalanan ke Sungai Dareh sedangkan Kol. Soejono dari Bangkinang kembali ke Halaban untuk mempersiapkan segala sesuatunya.

Perjalanan Panjang Kol. Sujono

Dari Halaban Kol. Sujono terus berjalan ke Puar Datar Koto Tinggi untuk memberikan instruksi kepada awak radio PHB AURI ZZ. Dan setelah itu melintasi Hutan Kariman dan tembus di Bonjol. Dari Bonjol terus ke Lubuk Sikaping dan singgah di Kamang, Agam.

Masih dalam masa PDRI, Kol. Sujono mendapat tugas keliling dalam jarak tempuh yang panjang yaitu membawa emas hitam “candu” untuk diserahkan kepada perjuangan rakyat Jambi. Apalagi Kiliran Jao sebagai jalan lintas provinsi maka dipertahankan sepenuhnya agar jangan sampai jatuh ke tangan Belanda sehingga Kol. Sujono pergi ke Sungai Dareh untuk memberi penerangan kepada pejuang di sana agar menghalau Belanda yang dari arah Sijunjung ataupun Batusangkar.

Setelah dari Sungai Dareh, Kol. Sujono terus ke Bidar Alam menemui rombongan PDRI di sana. Dan terlihat radio PHB AURI UDO terawat dengan baik dan para awaknya bekarja secara maksimal. Dan setelah itu terus menerobos hutan liar Hutan Situjuh membawa candu “Emas Hitam” seberat 20 kg ke Jambi selama 11 hari.

Dari Jambi Kol. Sujono dan staffnya terus berjalan ke Selatan hingga bertemu dengan A. K. Gani dan dr. Ibnu sutowo di Palembang Selatan yaitu lebih tepatnya di Sikancing melewati Sorolangun dengan menembus hutan liar dengan berjalan kaki yang dipenuhi oleh binatang buas.

Setelah dari Sikancing, staf KSAU meneruskan perjalanan melewati Muaro Tebo Jambi menuju Siak Indragiri Riau dan bertemu dengan 5000 transmigran yang sangat merindukan pemimpin di tengah-tengah mereka.  Dan setelah itu Kol. Sujono kembali ke Halaban dan koto Tinggi untuk bergerak di tengah-tengah pasukannya.

Kol Sujono diKoto Tinggi

Pada tanggal 10 Januari Belanda mengetahui keberadaan radio AURI yang disembunyikan ke kandang kerbau dan nyaris ditemukan oleh pasukan Belanda. Setelah menyingkir dari kejaran Belanda, Kol. Soejono memerintahkan untuk mengungsikan radio PHB AURI UDO ke tempat yang lebih aman. Dan pada tanggal 12 Januari 1949 Moh. Jacoeb memindahkan sender radio ke Padang Jungkek jorong Mudiak Dodok.

Radio PTT YBJ-6 di Lubuk Jantan Lintau Buo

Setelah menemui radio PHB AURI ZZ di Koto Tinggi, Kol. Soejono berangkat ke Lubuk Jantan Lintau dan menyaranan untuk dibentuk Komando Gabungan Perhubungan yang berhasil dibentuk pada tanggal 28 Januari 1949 dan diresmikan oleh Kolonel Soejono. Komando terdiri dari unsur sipil dan militer yang dipimpin oleh D.S. Ardiwinata.

Kolonel Soejono ke Silantai Sumpur Kudus

Pada tanggal 14 Mei – 17 Mei 1949 diadakan rapat besar staf PDRI di Silantai yang juga dihadiri oleh Kol. Soejono. Dan pada rapat tersebut yang tidak hadir hadir adalah PTTS Kolonel Hidayat di Beureh Aceh dan A.K. Gani yang menjadi Gubernur Militer Sumatera Selatan.

Feni Efendi, Payakumbuh, 2017

Dapatkan 2 buah bukunya dalam penelitian ini:

Jejak yang Terlupakan

Judul Buku: JEJAK YANG TERLUPAKAN: Menyusuri Jejak Mr. Syafruddin Prawiranegara dalam Menjalankan PEMERINTAH DARURAT REPUBLIK INDONESIA (PDRI) pada Masa Agresi Militer Kedua Belanda di Sumatera Tengah

Genre: Catatan Perjalanan

Penerbit: JBS Yogyakarta

Penulis: Feni Efendi

Pemesanan: WA 0812-6772-7161 / HP 0823-8485-2758

 

Selendang Ibu Perdana Menteri

Judul Buku: SELENDANG IBU PERDANA MENTERI

Genre: buku puisi PDRI

Penerbit: JBS Yogyakarta

Penulis: Feni Efendi

Pemesanan: WA 0812-6772-7161 / HP 0823-8485-2758