PDRI: PERJALANAN RADIO PHB AURI UDO

1 comment 102 views

Pada pagi hari tanggal 19 Desember 1948 Belanda memborbardir Bukittingi yang bersamaan dengan Lubuk Linggau dan Yokyakarta. Dan Belanda berhasil menduduki kota Yokyakarta pada hari itu juga menangkap Presiden dan Wakil Presiden Soekarno-Hatta beserta sejumlah mentrinya. Sedangkan di Bukittinggi Belanda menghancurkan Lapangan Terbang Gadut dan sejumlah lokasi penting lainnya. Ada 2 buah radio yang diungsikan pada saat itu yaitu radio yang dibawa oleh Dick Tamimi dan OMO III Luhukay yang akan diungsikan ke Lapangan Udara AURI di Piobang Payakumbuh. Namun dalam perjalanan antara Bukittinggi dan Payakumbuh, rombongan pembawa radio ini bertemu dan dikepung oleh Belanda. Maka karena radio yang dibawa oleh Luhukay cukup besar dan dikhawatirkan akan jatuh ke tangan Belanda, maka Radio PHB tersebut dihancurkan. Namun ternyata belanda mengurungkan niatnya untuk menyerbu. Sedangkan radio PHB AURI yang dibawa oleh Dick Tamimi berhasil diungsikan ke Piobang.

Dari Piobang, Dick Tamimi membawa radio tersebut ke Halaban untuk berganung dengan rombongan pejabat PDRI. Dan dikemudian hari, radio ini dikenal dengan call sign “UDO” atau radio PHB AURI UDO. Dan sebelum rombongan PDRI meninggalkan Halaban, Mr. Syafrudin Prawiranegara sempat mengumumkan peresmian Kabinet PDRI. Dan pidato tersebut dapat disadap oleh Belanda melalui radio Singapura dan juga di Riau.

Dari Halaban radio PHB AURI UDO terus ke Bangkinang. Di sini dioperasikan di rumah wedana Bangkinang pada tanggal 26 Desember 1949 di pagi hari.  Dan pada hari itu juga Belanda memborardir Bangkinang tapi untunglah radio PHB dapat diselamat. Dan setelah melalui perjalanan panjang meninggalkan Bangkinang pada tanggal 28 Desember, awak radio PHB terus mengikuti rombongan PDRI ke Taratak Buluh, Sungai Pagar, Lipat Kain, Muara Lembu dan Teluk Kuantan serta malam dua hari di Taluak. Dan pada tanggal 31 Desemebr berjalan menyusuri lori kereta api peninggalan Jepang menuju Kiliran Jao yang dikemudikan oleh Mentri Perhubungan Indracahya dan Dick Tamimi.

Setiba di Kiliran Jao rombongan PDRI mendapatkan transpostasi kendaraan untuk menuju Sungai Dareh. Dan tiba di Sungai Dareh pada Malam Tahun Baru. Mr. Syafrudin mengucapkan selamat tahun baru melalui radio PHB UDO di Sungai Dareh. Setelah 3 hari menetap di Sungai Dareh, rombongan awak radio PHB AURI UDO menempuh perjalanan darat melalui Abai Siat, Abai untuk menuju Abai Sangir. Dalam perjalanan ini juga diikuti oleh Moh. Hasan.

Rombongan awak radio membutuhkan waktu sekitar satu minggu untuk menuju Abai Sangir. Perjalanan sering terhenti karena membawa peralatan dan suku cadang radio. Dan pada pertengahan januari 1949, radio PHB AURI UDO berangkat bersama rombongan PDRI ke Bidar Alam. Di sana awak radio PHB AURI bermarkas di jorong Bulian yang hanya berseberangan jalan raya dari lokasi rumah yang ditempati oleh Mr. Syafrudin Prawiranegara.

Masih di bulan Januari, Mr. Syafrudin berangkat ke Sungai penuh Kerinci Jambi untuk berbicara via telepon melalui radio PHB AURI GRY kepada A.A. Maramis di India yang menjadi menlu PDRI karena radio PHB AURI UDO tidak memiliki daya pancar yang kuat. Dan pada pertengahan April awak radio PHB UDO berangkat ke Calau Sumpur Kudus bersama rombongan PDRI yang berangkatnya secara terpisah. Rombongan awak radio tiba tanggal 25 April di Calau. Dan selama di sana menginap di rumah orang tua Buya Syafii Maarif dan mengoprasikan radio PHB di sana.

Pada tanggal 9 Mei rombongan awak radio PHB AURI UDO pindah dari Calau ke Surau batu Banyak Sumpur hingga sampai tanggal 19 Juni. Dan setelah itu pindah ke Sungai Kalam Nagari Guguk kecamatan Lareh Sago Halaban sampai pada tanggal 30 Juli 1949. Dan sesudah itu rombongan awak radio PHB AURI pindah ke Bonjor Sari nagari Labuah Gunung yang berjarak sekitar 3 km dari Parak Lubang Halaban. Di sini call sign radio PHB AURI UDO diganti menjadi NDO dan menetap di sini sampai tanggal 7 Desember 1949 untuk berangkat ke Bukittinggi. Sejak saat itu, berakhirlah perjalanan radio PHB AURI UDO.

Feni Efendi, Payakumbuh, 2017

Dapatkan 2 buah bukunya dalam penelitian ini:

Jejak yang Terlupakan

Judul Buku: JEJAK YANG TERLUPAKAN: Menyusuri Jejak Mr. Syafruddin Prawiranegara dalam Menjalankan PEMERINTAH DARURAT REPUBLIK INDONESIA (PDRI) pada Masa Agresi Militer Kedua Belanda di Sumatera Tengah

Genre: Catatan Perjalanan

Penerbit: JBS Yogyakarta

Penulis: Feni Efendi

Pemesanan: WA 0812-6772-7161 / HP 0823-8485-2758

 

Selendang Ibu Perdana Menteri

Judul Buku: SELENDANG IBU PERDANA MENTERI

Genre: buku puisi PDRI

Penerbit: JBS Yogyakarta

Penulis: Feni Efendi

Pemesanan: WA 0812-6772-7161 / HP 0823-8485-2758

  1. author

    sanana9 months ago

    terima kasih

    Reply

Leave a reply "PDRI: PERJALANAN RADIO PHB AURI UDO"