PDRI: PERJALANAN RADIO PHB AURI ZZ

1 comment 47 views

Setelah PDRI resmi dibentuk pada tanggal 22 Desember dan diumumkan sehari sesudahnya di tahun 1948 di Halaban maka rombongan Kabinet PDRI pun dipecah menjadi tiga rombongan pada tanggal 24 Desember: pertama rombongan Mr. Syafrudin Prawiranegara yang menjadi ketua PDRI menuju Pekanbaru namun setiba di Bangkinang di hadang mitraliur pesawat tempur Belanda. Atas peristiwa tersebut Ketua PDRI mengubah tujuannya menuju Bidar Alam di Solok Selatan melewati Teluk Kuantan, Kiliran Jao dan Sungai Dareh.

Adapun yang kedua adalah rombongan Mr. Sutan Moh. Rasyid yang selaku Gubernur Militer Sumatera Barat sekaligus merangkap menjadi Mentri bersama Ir. Mananti Sitompul menuju Koto Tinggi untuk membangun basis PDRI. Serta rombongan ketiga adalah Kolonel Hidayat yang menuju Beureh Aceh yang menjadi pemegang jabatan militer tertinggi untuk teritorial Sumatera melewati Pariaman.

Ketika rombongan Mr. Sutan Moh. Rasyid dalam perjalanan menuju Koto Tinggi beliau singgah di Dangung-dangung, Padang Japang, Koto Kociak dan Limbang untuk memompa semangat rakyat untuk membela republik dan mendukung kebijakan PDRI. Dan pada hari yang sama Letnan Muhammad Jacoeb juga mengikuti rombongan Moh. Rasyid dari Bukittinggi dengan membawa prajurit serta Radio PHB AURI ZZ yang dibantu oleh awak Sersan Udara Zaizal Azis, Sersan Mayor Udara Soesatyo, Sersan Udara Herutomo, Kopral Udara Soegianto Soeryo (awak radio datang tidak secara bersamaan). Letnan Muhammad Jacoeb menginap di Suliki selama dua hari dan selain dari awak radio maka prajurit yang lain diperintahkan untuk bergabung dengan front-front perjuangan yang lainnya.

Pada tangal 26 Desember Radio PHB AURI ZZ dibawa ke Koto Tinggi untuk melayani Moh. Rasyid. Namun karena letak radio tersebut berada dekat keramaian dan mudah dijangkau ketika ada patroli Belanda jika datang sewaktu-waktu maka dua hari setelahnya Radio PHB ZZ dipindahkan ke Puar Datar di rumah Abdoel Madjid Moein dan nama ibunya Daraa.

Dengan adanya radio PHB AURI ZZ yang melayani Moh. Rasyid maka perhubungan komunikasi PDRI di Koto Tinggi dengan pemerintahan di pulau Jawa atau di Bidar Alam serta luar negeri lebih lancar. Bahkan begitu aktifnya Radio PHB ZZ yang melayani Moh. Rasyid pernah ada sebuah isyarat seakan-akan sebuah teguran dari Mr. Syafrudin Prawiranegara bahwa aktifitas radio di Koto Tinggi melebihi radio yang melayani Mr. Syafrudin Prawiranegara. Dan karena hal tersebut Belanda dapat mengetahui keberadaan radio yang melayani Moh. Rasyid dan Ir. Mananti Sitompul di Koto Tinggi dengan alat pengukur frekwensi.

Patroli Belanda tersebut terjadi di pagi hari pada tanggal 10 januari 1949 pada pukul 05.30 WIB tiba-tiba saja Letkol Dahlan Ibrahim bersama Mayor A. Thalib,  Mufni Nurdin, Muslim dan Syarif saat sedang berada di sebuah surau di tepi sungai sesudah Suliki menuju arah Pandam Gadang dikejutkan oleh BNPK yang mengabarkan bahwa Belanda telah sampai di Suliki melakukan penggeledahan dan penangkapan. Belanda tersebut terdiri dari 4 buah jeep dan satu truck yang berisi penuh tentara Belanda.

Mendengar kabar tersebut Letkol Dahlan Ibrahim memacu kendaraan jeep nya menuju Koto Tinggi pada pagi yang dingin tersebut dan di bangku belakang Muslim, Mufni Nurdin dan Syarif telah bersiap dengan dua buah senjata karaben dan sebuah pistol. Dan ketika sampai di Batu Banyak nagari Pandam Gadang, Muslim dan Mufni Nurdin diturunkan untuk menghambat Belanda dengan mengambil posisi di sebuah batu besar.

Sekitar pukul 06.30 WIB Letkol Dahlan Ibrahim tiba di Koto Tinggi dan menjumpai pejabat staf PDRI sedang asyik minum kopi, mandi di sungai dan aktifitas lainnya. Dengan adanya kabar tersebut diperintahkan ke BPNK dan kepala PMT untuk memberitakukan masyarakat Koto Tinggi untuk menyingkir ke tempat yang aman. Ketika peristiwa pejabat dan masyarakat banyak menyingkir ke Mangani, Aie Hangek, Baruah Gunung, serta Bukit Runciang.

Ada pun sender Radio PHB AURI ZZ di Puar Datar segera diungsikan ke sebuah lubang di dekat kandang sapi yang berjarak sekitar 50 meter dari rumah Abdoel Madjid Moein dengan menyeberangi jalan. Sender yang di dalam lubang tersebut di tutup dengan semak-semak lalu ditimbun dengan kotoran sapi sehingga tidak dicurigai oleh Belanda. Sedangkan Abdoel Madjid Moein mengungsikan ibunya Daraa ke tempat yang aman setelah itu ia kembali lagi ke rumah.

Rumah tersebut dijadikan Markas Besar dan Pusat Pemberitaan oleh AURI pada saat itu karena rumah itulah yang paling besar ketika itu. Ada pun yang tinggal di sana antara lain: Letnan Muhammad Jacoeb, Soesatio, Sugianto Surya, Heru Atmojo, Murdiman, PLLU Rayan Iskandar dan Kolenel Soejono yang jika ke Koto Tinggi akan menginap di sini.

Pada saat patroli Belanda pada 10 Januari tersebut, Kolenel Soejono merupakan orang terakhir yang meninggalkan rumah tersebut dan tetap memerintahkan Andoel Madjid Moein untuk tidak meninggalkan rumah. Selagi Belanda masih dalam perjalan menuju rumah tersebut, Abdoel Madjid Moein menghilangkan bekas-bekas paku yang sempat dijadikan gantungan foto-foto pemimpin negara dll. Dan setelah itu ia membersihkan bekas-bekas jejak sender radio di tanah yang dapat menimbulkan kecurigaan musuh. Setelah menyelesaikan semuanya Abdoel Madjid Moein sembuyi di bawah tangga karena mengira melancarkan seragan melalui udara namun ketika ia mengetahui penyerangan melalui darat ia sembunyi di atas bukit untuk melihat gerak-gerik Belanda.

Setelah kejadian patroli Belanda tersebut yang hampir menemukan sender radio PHB AURI ZZ maka besoknya sender radio dibawa ke Sungai Dadok selama satu malam dan setelah itu dibawa ke kawasan Padang Jungkek jorong Mudiak Dodok. Sebuah tempat yang terletak jauh di jalan kampung melewati dua buah sungai dengan keadaan jalan di lereng perbukitan yang terkadang curam dan terjal. Dan di jembatan pertama jalan ke Padang Jungkek inilah terkenal dengan nama jembatan Titian Aie Mato Jacoeb.

Peristiwa Jembatan Aie Mato (air mata) Jacoeb adalah ketika sender melewati jembatan tersebut yang berupa pohon kelapa tidak kuat menahan beban sender yang berat saat telah tiba di tengahnya. Hari itu hujan dan Muhammad Jacoeb terus menahan sender tersebut agar tidak terjatuh ke dalam sungai. Dan terlihat tetesan air hujan menyirami air mata Muhammad Jacoeb yang disangka masyarakat Muhammad Jacoeb sedang menangis. Sender radio tersebut diletakkan dirumah kakaknya kakek Jamaris sekitar 7 bulan sebelum dipindahkan ke Sungai Sariah dan lalu dibawa ke museum Bukittinggi.

Feni Efendi, Payakumbuh, 2017

HP/WA 081267727161

  1. author

    karnela2 months ago

    pdri keren

    Reply

Leave a reply "PDRI: PERJALANAN RADIO PHB AURI ZZ"