RUTE PDRI DI PAMASIHAN, TANJUNG LANGSAT, PADANG LUNGGO

2 comments 50 views

Perjalanan di Pamasihan

Saya berangkat meninggalkan Manunai Tinggi lalu menuju Halaban di jorong Lompek dan menyusuri jalan tersebut dan menanyakan kepada warga yang saya temui kemana jalan menuju Pamasihan. Dan lalu warga pun menunjukan jalan ke Pamasihan dari jorong Lompek ini.

Jalan-jalan di jorong Lompek ini kurang begitu bagus namun masih bisa dilalui kendaraan. Dengan jarak 500 meter pertama masih banyak rumah dan ketika sudah memasuki perbukitan, rumah-rumah sudah mulai jarang dan ketika bertemu rumah terkahir saya tidak begitu yakin untuk menempuh jalan ini karena begitu sepi dan masih jalan tanah.

Jalan dari Lompek Halaban ke Pamasihan

Jalan dari Lompek Halaban ke Pamasihan

Saya tidak terlalu jauh memasuki jalan ini lalu saya pun kembali. Dan ketika di rumah terakhir tersebut saya bertemu dengan bapak petani karet dan bercerita tentang tujuan saya menempuh jalan yang ditempuh Mr. Syafrudin Prawiranegara. Dan lalu bapak itu mengatakan bahwa jalan yang dilalui Mr. Syafrudin ada di atas bukit. Sekarang jalan itu sudah tidak dilalui lagi. Dan yang ini adalah jalan yang dibuat lebih ke bawah yang juga tembus ke Pamasihan.

Dan dari sana saya mendengar suara sungai lalu saya bertanya apakah itu suara Batang Sinamar lalu bapak itu membenarkan. Dan dari keterangan bapak tersebut dan dari yang lainnya saya kumpulkan, Batang Sinamar juga melewati Pamasihan, Tanjung Lansek, Padang Lunggo dan Nagari Tigo Jangko, Kumanis serta melalui Tanjung Bonai Aur.

Saya pun berboncengan dengan bapak petani karet tersebut yang kebetulan ia juga ke kebunnya yang juga melewati jalan yang akan saya lalui. Selama dalam perjalanan saya mendapatkan informasi bahwa jarak ke Pamasihan sekitar 8 km melewati hutan tersebut. Biasanya di hari yang bagus dan tidak hujan, banyak masyarakat dari Pamasihan melewati hutan tersebut untuk pergi ke Pasar Alang Lawas.

Sekitar sepertiga perjalanan bapak tersebut turun hendak menuju ke kebunnya. Dan sebelum berpisah ia menyarakannya saya agar tidak menyimpang-nyimpang dan terus berada di jalan utama. Lalu saya mengucapkan terima kasih dan menempuh perjalanan dengan perasaan berdebar-debar.

Semakin lama jalan yang saya tempuh tersebut semakin sunyi dan jalannya semakin mengecil. Dan ketika bertemu dengan persimpangan saya menjadi cemas jalan mana yang harus saya lalui. Namun saya kembali teringat bahwa tetap di jalan besar dan kalau ada simpang maka belok kanan. Dan lalu jalan pun semakin mengecil melaluisemaik-semak. Terkadang jalan sangat curam dan licin dan matahari sudah tidak tampak dan jam sudah menunjukan pukul 16.30 WIB. Saya semakin khawatir dan merasa bahwa saya sedang tersesat. Padahal saya tidak menemui seorang pun saat itu untuk bertanya.

Saya terus berjalan dengan perasaan berdebar-debar seorang diri. Saat itu keinginan saya cuma satu bahwa secepatnya bertemu jalan besar. Namun semakin jauh berjalan, jalanan semakin sunyi, licin, curam dan semak-semak semakin rimbun. Dan ketika ditengah kecemasan tersebut saya bertemu dengan bapak patani karet yang sudah tua dan hendak pulang dari kebunnya. Saya merasa sangat lega sekali di tengah hutan seperti itu bertemu seseorang. Lalu saya pun bertanya tentang jalan tersebut dan ia mengatakan bahwa jalan itu dipindahkan sejak tahun 80-an yang semulanya ada di atas.

Tidak berapa lama setelahnya saya pamit dan menanyakan berapa lagi jarak untuk sampai ke perkampungan Pamasihan. Bapak tersebut mengatakan sudah dekat yaitu sekitar 2 km lagi. Dan saya juga mengatakan bahwa ia hendak pulang ke mana? Ia menjawab ia sudah terbiasa jalan pulang balik ke Halaban ke Pamsihan ini dengan jalan kaki menempuh hutan.

Saya terus berjalan yang mana jalannya semakin mengecil dan semak yang dibawahnya ngarai dan jalan berlubang. Motor saya seringkali terkubur dalam kubangan yang mana di hari-hari biasa saya tidak mungkin sekuat itu mengangkat motor Vario yang terkubur. Namun dalam keadaan kepepet, takut dan putus asa saya bisa mengangkat motor tersebut. Lalu saya terus menyusuri jalanan yang licin, hening dan sangat mencekam. Dan ketika dalam perasaan kalut tersebut saya bertemu dengan seorang pemburu. Dan ia cukup terkejut menemukan saya sendirian di dalam hutan. Lalu saya bertanya apakah masih jauh jalan besar maka ia mengatakan bahwa saya sudah dekat.

Saya pun merasa lega setelah jalan sempit tersebut makin lama jalanan semakin lebar dan tidak bersemak. Dan sebelum mencapai jalan raya, motor saya kembali terperosok dan terkubur dalam kubangan lumpur. Saya angkat dengan sisa-sisa tenaga terakhir dan lalu meluncur ke jalan raya dengan perasaan yang sangat lega.

Saya bertemu jalan raya dengan jalan yang curam lalu belok kiri memasuki jembatan Batang Sinamar dengan perasaan lega menemukan sebuah kampung dan masuk ke sana untuk mancari masjid untuk bisa shalat ashar. Saya bertanya kepada seorang pria paruh baya dan ia mengantarkan saya ke sebuah masjid yang tidak jauh dari situ.

Saya melaksanakan shalat di situ dan ketika shalat bapak itu memperkenalkan diri bahwa ia seperti merasa pernah bertemu saya sebelumnya. Lalu saya menyebutkan nama dan saya lihat jam dinding di masjid sudah lewat pukul 17.00 WIB. Dan di luar masjid saya bertanya kepada beberapa bapak-bapak di dekat masjid tersebut kemana jalan ini selanjutnya dan juga “apa dulu Mr. Syafrudin Prawiranegara lewat sini?”. Bapak-bapak tersebut membenarkan saya telah menyusuri rute PDRI dan ia mengatakan bahwa sesudah Pamasihan akan menuju di Tanjung Lansek lalu ke Padang Lunggo hingga sampai ke Unggan Sumpur Kudus.

Sebelum berangkat saya izin pamit dan memotret bapak-bapak tersebut. Dan di sana juga ada beberapa anak-anak gadis Pamasihan yang juga ramah. Saya berangkat bersama Dacan yang saya temui tadi yang ia juga hendak ke Halaban. Lalu saya kembali menuju jembatan untuk menuju jalan Lintau – Payakumbuh dengan jarak tempuh sekitar 8 Km dengan keadaan jalan yang berlumpur sesudah hujan, berbatu-batu dan juga berlubang-lubang.

Kami menyusuri jalan gerimis di lereng-lereng jalan terjal dan berliku di perbukitan Bukit Barisan. Cukup jauh melewati daerah yang tidak dihuni oleh masyarakat dan Pamasihan seperti sebuah wilayah yang begitu terpencil dan terasing dari dunia luar. Hujan mulai lebat dan kami berhenti di sebuah bekas tempat pembuatan batu bata. Dan lalu kami bercerita-cerita bahwa ia sudah sering ke berbagai tempat dan di Pekanbaru ia pernah bertemu dengan orang mirip dengan saya. Maka saya katakana namanya ternyata persis seperti apa yang ia maksud bahwa ia adalah seorang maka (paman) saya yang wajah kami cukup mirip.

Ketika ia bertemu dengan mamak saya di Pekanbaru, mamak saya berpesan bahwa jika ia bertemu dengan anak dan kemenakannya tersesat di kampungnya, maka tolonglah dibawa keluar. Dan semua itu ternyata terbukti, Dacan tersebut bertemu saya yang tersesat di kampungnya dan ia membawa saya keluar dari kampung itu.

Hujan sudah mulai berkurang dan kami melanjutkan perjalanan dan ternyata daerah-daerah yang kami jalani baru saja hujan lebat. Terlihat air hujan sampai tergenang di jalan-jalan. Dan sawah-sawah terlihat berjenjang-jenjang. Lalu akhirnya bertemu dengan jalan lintas yang tidak seberapa jauh dari perbatasan Lintau dan Halaban.

Hari sudah magrib ketika sampai di Halaban dan saya mengantarkannya ke jorong Lompek Halaban sebagai tempat yang ia tuju. Lalu setelahnya saya melakukan shalat magrib dan terus meluncur ke Payakumbuh.

Perjalanan Ke Sungai Langsat dan Padang Lunggo

di Pamasihan Lintau Buo Utara

Di Pamasihan Nagari Tanjung Bonai

Dari Pamasihan nagari Tanjung Bonai akan terus melalui jalan aspal menuju Tanjung Langsat nagari Lubuk Jantan sekitar 4 km melewati lereng perbukitan. Jalan cukup bagus dan belum terlalu ramai. Dan di sisi jalan banyak ditumbuhi kebun karet yang di perbukitan.

Di Tanjung Langsat akan ditemui sebuah sekolah dasar dan sekelompok perumahan penduduk. Masyarakat di sini cukup ramah meski rumah-rumah di sini belum dihuni oleh banyak masyarakat. Dan bagi masyarakat di sini untuk mencapai pasar Lintau akan membutuhkan jarak sekitar 15 km dengan jalan penuh tanjakan dan curam di lereng perbukitan Bukit Barisan.

Setelah Sungai Langsat akan bertemu dengan jorong Padang Lunggo nagari Lubuk Jantan sekitar 2 km dari jorong Sungai Langsat. Dan untuk jalan ke perkampungan berupa jalan cor semen yang berbelok kiri dari jalan aspal. Belum banyak terdapat rumah warga. Rata-rata pekerjaan penduduk dengan menyadap karet. Dan dari Padang Lunggo ini jalannya akan tembus di Unggan Sumpur Kudus lebih kurang 14 km perjalanan yang berupa jalan tanah.

Jembatan Kayu di Padang Lunggo Menuju Unggan

Jembatan Kayu di Padang Lunggo Menuju Unggan

Jalan ini pada dulunya cukup besar dibuat sehingga bisa dilalui oleh mobil meski berupa tanah. Tanah karena tebing-tebing sisi jalan sering longsor maka jalan ini sudah jarang ditempuh oleh kendaraan. Sehingga jalan pun menjadi semak dan hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki. Sekitar 5 km perjalanan masih dalam wilayah Padang Lunggo Kabupaten Tanah Datar dan 9 Km setelahnya sesudah Pintu Angin termasuk wilayah Unggan kecamatan Sumpur Kudus Kabupaten Sijunjung. Dan jalan ini pada zaman PDRI menjadi jalan utama dalam perlintasan pejabat PDRI ke Sumpur Kudus dank le Limapuluh Kota.

Feni Efendi, Payakumbuh, 2017

HP/WA 081267727161

  1. author

    naila3 months ago

    ya ampun jalannya masih jelek banget, transportasi ke sana naik apa dong?

    Reply
  2. author

    perindu2 months ago

    seram ceritanya

    Reply

Leave a reply "RUTE PDRI DI PAMASIHAN, TANJUNG LANGSAT, PADANG LUNGGO"