RUTE PDRI DARI KOTO TINGGI KE PAGADIS LALU TEMBUS DI BUKITTINGGI

Perjalanan ke Palangki Tangan

Saat itu hari beranjak siang dan saya berangkat Koto Tinggi dan terus ke Puar Datar lalu belok kiri memasuki Palangki Tangan dengan jalan beton semen yang tidak terlalu panjang kira-kira 200 meter. Setelah melewati jalan beton semen tersebut, saya melalui jalan-jalan tanah keras yang kadang becek di hari hujan dan berdebu di musim kemarau. Dan di sepanjang jalan tersebut rumah-rumah mulai sedikit dan di kiri-kanan jalan hampir semuanya dipenuhi kebun jeruk yang terkenal dengan nama JESIGO (Jeruk Siam Gunuang Omeh).

Jika tidak ada kebun jeruk, saya menemui perbukitan dan semak-semak belukar dari hutan Kariman yang terbentang luas hingga sampai ke Pagadis dan Bonjol. Saya terus menyusuri perjalanan mengitari perbukitan Bukit Barisan dari ketinggian. Dan di Palangki Tangan ini ada dua buah goa yang terkenal dan sangat unik dan belum terpublikasi secara luas keluar Koto Tinggi. Goa itu bernama Goa Aie Singkek dan Goa Tuanku Imam Bonjol karena konon dulunya Tuanku Imam Bonjol pernah sembunyi di sini dari kejaran Belanda.

Pada masa paderi, Koto Tinggi ini dulunya termasuk dalam kawasan bonjol hingga sampai ke Suliki. Selain itu wilayahnya juga mencakup daerah Palupuah sekarang, Kamang hingga Tambusai yang tidak jauh dari Pasir Pangaraian yang melaui jalan setapak melewati Baruah Gunuang dan melintasi hutan riau. Saya terus menyusuri jalan tersebut yang cukup lebar namun sunyi dari orang-orang yang lewat. Dan hanya sesekali berpapasan dengan petani yang pulang dari kebun jeruknya. Dan setelah itu masih jauh lagi bertemu perkampungan penduduk.

Di sebuah perkampungan di Palangki Tangan saya menemukan sebuah masjid yang dibangun dan ternyata inilah satu-satunya masjid yang dibangun di Palangki Tangan ini. Pembangunan masjid itu atas dasar sebuah inisiatif grup reuni alumni siswa di sebuah SMU LANDBOW di Bukittingi. Dengan dasar inisiatif itulah mereka mengumpulkan dana untuk membangun masjid di sebuah tempat terpencil ini. Dan kabarnya di tempat ini shalat jumat sudah mulai bisa dilaksanakan sejak adanya pembangunan masjid ini.

 Di Pagadis

Perjalanan di Pagadis

Perjalanan di Pagadis

Saya terus berjalan menuyusuri jalan-jalan tanah yang tidak rata dan juga pelan-pelan serta harus ekstra hati-hati. Dan jalan ini dulunya juga jalur utama ketika pasukan bataliyon Beruang Agam ke Koto Tinggi untuk menghadangkan pasukan Belanda yang telah masuk sampai ke Suliki. Namun ketika prajurit Beruang Agamini telah sampai di Koto Tinggi, pasukan Belanda telah menarik pasukannya kembali ke Payakumbuh.

Jalanan semakin sunyi dan rumah-rumah hampir tidak ada lagi di sepanjang jalan. Di sisi kiri dan kanan jalan bukit Barisan dan hutan Kariman yang terbentang luas sepanjang mata memandang. Dan lalu saya ternyata sudah memasuki sebuah nagari Pagadis Hilir yang merupakan bagian dari kecamatan Palupuh Kabupaten Agam.

Jalanan di Pagadis ini masih sunyi dan sama seperti di Palangki Tangan. Di sini rumah-rumah bertumpuk-tumpuk dan setelahnya jalan sunyi. Dan di Pagadis ini merupakan jalan pintas melewati jalan setapak di hutan Kariman oleh pejuang dulu untuk sampai ke Kamang. Dan jalan ini dari Koto Tinggi hingga sampai ke jalan Lintas Sumatera lebih kurang berjarak 30 km dengan lebih dari separuhnya adalah jalan tanah, berlubang dan berbatu-batu.

Saya melewati nagari Pagadis ini sangat panjang sekali. Sebuah daerah yang sangat terpencil di tengah hutan Sumatera dan jauh dari hiruk-pikuk dunia perkotaan. Dan dari sepanjang keadaan penduduk dan rumah-rumah yang ditempati saya beranggapan masyarakat di sini belum sejahtera sepenuhnya seperti masyarakat perkotaan. Bisa jadi karena mahalnya ongkos transportasi untuk menjual hasil bumi ke kota dan hal lain sebagainya.

Tersuruknya nagari Pagadis ini di tengah hutan Sumatera bisa juga itu sebabnya Mr. Syafrudin Prawiranegara memilih tempat ini sebagai basis pergerakan PRRI. Dan sepertinya masyarakat Pagadis ikut terlupa seperti halnya terlupakan sejarah PRRI itu sendiri. Dan dari sini dulunya juga banyak gerilyawan dan pejuang PDRI. Baik wanita atau pun laki-laki.

Setelah melewati nagari Pagadis, saya pun menemukan jalan beton berkualitas bagus. Saya tidak tahu nama daerah ini namun pemandangannya bagus. Jalan-jalan sudah mulai ramai. Rumah-rumah sudah mulai terlihat parabola di halaman rumahnya meski rumah-rumah di sini masih bertumpuk-tumpuk. Saya terus melewati jalan-jalan di lereng perbukitan Bukit Barisan ini hingga sekitar 10 km lagi hingga menemukan jalan Jalan Lintas Sumatera.

Di Palupuah

Tugu Perjuangan Mobrig di Palupuah

Tugu Perjuangan Mobrig di Palupuah

Jalan lintas Sumatera di Palupuah ini sangat bagus dan mobil-mobil besar banyak melewati jalan ini. Arah ke kiri sudah dekat menuju Bonjol dan Rao hingga terus ke Medan. Serta arah ke kiri menuju ke kota Bukittinggi melewati Palupuah dan Gadut. Dan saya pun belok kekiri menuju kota Bukittinggi.

Jalan-jalan di sepanjang jalan ini terletak di sisi perbukitan. Jalan ini pada zaman paderi ataupun sesudah kemerdekaan merupakan jalur utama yang sangat penting. Dan pada masa agresi militer kedua Belanda di Bukittinggi, kesatuan Mobrig yang baru terbentuk di Bukittinggi mendirikan pos-nya di Palupuah ini untuk menghadang Belanda supaya tidak masuk ke Bukittinggi. Dan di sini juga terdapat banyak korban dari pasukan Mobrig agar pasukan Belanda terhalang masuk ke Bukittunggi. Dan untuk mengenang peristiwa tersebut saya telah melihat sebuh tugu yang didirikan pemerintah di Palupuah ini untuk mengenang jasa pahlawan.

Di Gadut

Patung Pesawat di Bandara Gadut

Patung Pesawat di Bandara Gadut

Setelah melewati Palupauh ini yang jalan-jalannya melingkat di perbukitan, saya pun tiba di nagari Gadut yang tanahnya sudah mulai datar dan rumah-rumah sudah mulai banyak, hotel-hotel banyak didirikan dan jalan-jalan selalu ramai dengan kendaraan dan aktivitas masyarakat Gadut yang mengeliat. Dan pada sisi kanan jalan saya melihat tugu sebuah pesawat terbang.

Pada lokasi tugu ini pada dulunya adalah bekas maskas AURI di Bukittinggi. Di sini juga ada lapangan terbang. Dan ketika pada 19 Desember 1948 Belanda menyerang Bukittinggi pada pukul 08.00 WIB, maka tempat ini tidak luput dari mitraliur Belanda. Padahal malamnya tanggal 18 Desember, pesawat Belanda berputar-putar di lapangan terbang Gadut ini. Pejabat setempat mengira itu adalah pesawat yang membawa Presiden Soekarno yang singgah dalam perjalanannya ke India sehingga petugas di lapangan bandara pun membawa mobil-mobil untuk penerangan seperlunya agar pesawat yang dikira membawa Presiden itu bisa melakukan pendaratan. Tapi ternyata pesawat itu tidak mendarat dan pada pagi harinya ternyata para pesawat mustang Belanda memborbardir Bukittinggi dan Yokyakarta secara bersamaan.

Dari peristiwa penyerangan pada 19 Desember ini ternyata prajurit AURI masih bisa menyelamatkan sebuah radio yang dipimpin oleh Dick Tamimi untuk melayani Mr. Syafrudin Prawiranegara selama bergerilya dalam menjalan PDRI. Dan satulagi diselamatkan oleh M. Yacoub dan dibawa ke Koto Tinggi untuk melayani dua orang mentri PDRI di sana yairu Ir. Mananti Sitompul di jorong Sungai Sariah dan Mr. Moh. Rasyid yang berkantor di jorong Kampung Pitopang. Adapun radio tersebut ditempatkan di Puar Datar, Sungai Dodok dan Padang Jungkek di jorong Mudiak Dodok.

Ada pun hal lain di lapangan Gadut ini adalah pada mulanya ibu-ibu di Bukittingi menyumpangkan emas dan kekayaannya untuk membeli sebuah pesawat terbang untuk pemimpin Negara di kala itu. Dan juga ketika Mr. Syafrudin Prawiranegara kembali mneyerahkan mandat ke Yokyakarta setelah dijemput oleh rombongan Dr. Leimena maka rombongan ini berangkat ke Yokyakarta dengan pesawat terbang di bandara Gadut ini pada tanggal 10 Juli 1949.

Gedung Tri Arga/Kantor Wakil Presiden (Museum Bung Hatta)

Gedung Tri Arga dari Udara (sumber gambar batourtravel.wordpress.com

Gedung Tri Arga dari Udara (sumber gambar batourtravel.wordpress.com

Saya pun meneruskan perjalanan dan tibalah ke simpang Tilang Kamang. Saya ingin berangkat ke sana namun hari sudah beranjak malam maka saya terus ke pusat kota Bukittinggi yaitu Gedung Tri Arga dulu dan Museum Tri Darma di jalan atas ngarai. Ada pun Gedung Tri Arga pada masa sebelum PDRI adalah gedung Wakil Presiden. Dan ketika peristiwa 19 Desember maka Mr. Syafrudin, Kolonel Hidayat, dll melalukan rapat di gedung ini. Karena pesawat-pesawat Belanda measih saja berputar-putar di kota Bukittinggi maka rapat pun diundur dan dilaksanakan di rumah Mr. Tengku Moh. Hasan dan pada sore hari terbetiklah gagasan membentuk PDRI.

Letak Gedung Tri Arga ini tidak seberapa jauh dari jam Gadang Bukittinggi. Hanya berjarak beberapa meter saja yang terlihat jelas dari Jam Gadang. Dan di sini selalu ramai oleh wisatawan lokal maupun dari luar daerah. Dan lalu saya pun turun menuju jalan Atas Ngarai ke sebuah museum Tri Darma.

Museum Tri Darma (Bekas Kediaman Mr. Tengku Moh. Hasan)

Museum Tri Darma, Bekas Kediaman Mr. Tengku Moh. Hasan

Museum Tri Darma, Bekas Kediaman Mr. Tengku Moh. Hasan

Jalan menuju Museum Tri Darma sama dengan jalan ke Lobang Jepang atau ke Ngarai Sianaok. Dan pintu masuk ke ngarai Sianok terletak persis di depan gedung Museum Tri Darma. Dan di halaman museum ini terdapat sebuah patung pesawat danada jalan masuk di samping kiri. Dan saat saya ke museum ini masih dalam keadaan dibuka untuk umum.

Museum Tri Darma ini pada dulunya adalah kediaman Mr. Tengku Moh. Hasan yang menjabat sebagai Komisariat Pusat. Ketika rapat pejabat negara di Gedung Tri Arga Bukittinggi tidak tuntas karena pesawat tempur Belanda terus melayang-layang di udara, maka rapat pun diteruskan di kediaman Mr. Tengku Moh. Hasan di jalan Atas Ngarai pada sore hari. Dan di sana terbentuk kabinet PDRI pada sore hari tersebut. Dan lalu pada malam harinya, pejabat-pejabat Bukittinggi berangsur-angsur meninggalkan kota Bukittinggi secara berombongan terpisah-pisah untuk menuju Halaban melewati kota Payakumbuh. Dan pada dini hari tanggal 20 Desember 1948 rombongan pejabat-pejabat dari kota Bukittinggi semuanya telah sampai di kayu Angik, Parak Lubang sebuah bekas pabrik teh Belanda yang menjadi markas AURI di Sumatera Tengah.

Di dalam gedung Museum Tri Darma pertama kali diresmikan oleh Moh. Hatta. Dan di sini tersimpan banyak koleksi jenis senjata, radio dan hanya satu radio YBJ 6 yang tinggal lagi. Sedangkan radio PHB AURI ZZ dan Radio PHB AURI UDO tidak didapatkan keberadaannya di sini.

Feni Efendi, Payakumbuh, 2017

HP/WA 081267727161

  1. author

    YULI3 months ago

    wahh jadi kangen bukit tinggi

    Reply
  2. author

    adis2 months ago

    koto tinggi keren

    Reply

Leave a reply "RUTE PDRI DARI KOTO TINGGI KE PAGADIS LALU TEMBUS DI BUKITTINGGI"