PDRI: BANGKINANG, SUNGAI DAREH DAN TELUK KUANTAN

2 comments 139 views

Perjalanan ke Bangkinang

 

Masih di tahun 2017 saya bersama teman bernama Dadoni pergi ke Pekanbaru bersama motor dengan berkendara sepeda motor. Dalam perjalanan saya menyadari bahwa rute yang saya lalui adalah rute pejabat PDRI yang berangkat dari Halaban tanggal 23 Desember 1948 melewati Payakumbuh terus menuju Bangkinang dan Taratak Buluh.

Dari Payakumbuh saya melewati Tanjung Pati dan terus ke Lubuk Bangku. Di sini pejabat PDRI pernah berhenti sekitar jam 11 siang tanggal 24 Desember dan saat itu Payakumbuh telah di duduki oleh Belanda. Dan di Lubuk Bangku sampai saat ini masih terkenal sebagai tempat pemberhentian bus dari Pekanbaru-Padang atau sebaliknya. Ada banyak rumah makan di sini dan Lubuk Bangku terletak sebelum Kelok Sembilan.

Sesudah Lubuk Bangku saya terus menyusuri Batang Tapian di sisi kanan jalan dan Perbukitan Bukit Barisan di sisi kiri. Dan sebelum sampai di Kelok Sembilan jalan terus menanjak dan sekitar 30 km dari Pusat Kota Payakumbuh telah dibangun jembatan Fly Over yang indah dan menajubkan. Banyak pedagang di sini yang melayani para turis. Ada jagung bakar, minuman dan makanan ringan lainnya.

Setelah melewati kelok Sembilan saya melewati Hulu Aie, rumah-rumah di sini sudah mulai jarang namun keadaan jalan masih cukup ramai. Dan nama-nama daerah yang saya lewati di antaranya Koto Alam, Manggilang, Koto Baru Pangkalan, Tanjung Balik, Rimbo Data, Muaro Mahat. Di Muaro Mahat ini rombongan pejabat PDRI pernah beristirahat. Dan lalu esok harinya melanjutkan perjalanan melewati Rantau Berangin, Kuok dan Tiba di Bangkinang pada tanggal 25 Desember 1948 pada pukul 17.00 WIB. Pada malam itu seluruh pejabat PDRI menginap di rumah wedana Bangkinang.

Kota Bangkinang yang saya lalui tidak lagi saya kenali sejarah PDRI-nya. Saya telah mencoba bertanya ke sana kemari, namun tidak ada yang orang yang saya temui mengetahui di mana keberadaan bekas rumah wedana di Bangkinang. Dari Bangkinang saya terus ke Pekanbaru dengan melewati Air Tiris dan simpang Taratak Buluh yang terletak antara Kabupaten Kampar dengan Panam di Kota Pekanbaru. Dan di Pekanbaru ini saya menuju Simpang Tiga dan melihat bekas Bandara Udara pada masa PDRI dan lalu saya memotretnya.

Perjalanan di Sungai Dareh

Tugu PDRI di Sungai Dareh (Foto Metha Purama)

Tugu PDRI di Sungai Dareh (Foto Metha Purama)

Pada tahun 2016 saya tinggal di Dharmasraya selama 11 bulan di Koto Baru. Dan selama tinggal di sana saya pernah ke Sungai Dareh. Di sana terdapat simpang empat dekat jembatan dan lalu belok kiri. Sebelum Dinas Kesehatan itulah rombongan PDRI menetap di Sungai Dareh. Pejabat PDRI berpidato selamat tahun baru dari sana. Dan tinggal selama tiga hari.

Di Sungai Dareh ini rombongan dipecah menjadi beberapa bagian. Di antara rombongan Moh. Hasan dan awak radio menempuh jalan darat melewati Abai Siat, Abai dan tiba di Abai Sangir. Sedangkan rombongan menteri keuangan Lukman Hakim naik perahu motor ke Muaro Tebo terus menuju Muaro Mungo untuk membawa percatakan uang URIPS dan di sana juga membawa dua orang kru radio baru yaitu sebagai ahli sandi yang Umar Said Nur dan telegrafis Kusnadi yang baru dari Kota Jambi dengan melewati hutan Jambi yang ganas.

Rombongan percetakan uang Lukman Hakim juga membawa minyak untuk bahan bakar dinamo radio. Dan rombongan tersebut dari Muaro Bungo melewati Abai dan tiba di Abai Sangir. Sedangkan rombongan ketua PDRI Mr. Syafrudin Prawiranegara menggunakan transpostasi sungai dengan menyonsong aliran Sungai Dareh yang sangat deras lalu menuju Batang Sangir dan menetap beberapa hari di Abai sangir di sebuah Rumah Gadang yang panjang.

Ketika saya berada di Sungai Dareh saya meyempatkan pergi ke sebuah tempat yang bernama Batu Bakawik. Di sini ada sebuah jembatan panjang yang bisa dilalui oleh sebuah truk untuk melintasi Batang Hari. Jalan ke sana cukup bagus namun perumahan masyarakat belumlah ramai. Dan sesudah melewati jembatan Batu Bakawik tersebut yang sesudahnya belok kanan maka ke sana akan menuju Solok Selatan. Lebih kurang menuju Abai Sangir sekitar 50 km dengan jalan-jalan tanah dan banyak dijumpai pesawangan.

Perjalanan ke Teluk Kuantan

Pada tahun 2016 tersebut saya pernah berkendara dari Koto Baru Dharmasraya menuju Pekanbaru. Jarak Koto Baru ke Sungai Dareh sekitar 40 km. Dari Sungai Dareh saya menuju Kiliran Jao yaitu belok kiri ketika berada di jalan Padang- Dharmasraya atau Dharmasraya-Payakumbuh yang berjarak sekitar 30 km. Dan di Kiliran Jao ini saya melewati Kamang Sijunjung. Daerah Kiliran jao ini juga termasuk rute PDRI ketika dari Teluk Kuantan ke Sungai Dareh atau perjalan dai Bidar Alam yang melewati Sungai Dareh terus ke Kiliran Jao, Durian Gadang lalu menyusuri Batang Kuantan hingga tiba Calau Sumpur Kudus pada tanggal 25 April 1949.

Setelah melewati Kamang Sijunjung saya pun terus menyususri jalan Lintas Sumbar Riau yang masih pesawangannya. Jalanan terkadang berkelok dan sesekali ada lubang. Tidak terlalu banyak kendaraan yang melewati jalan ini. Dan rumah-rumah masih bertumpuk-tumpuk banyaknya. Dan ketika saya memasuki provinsi Riau di Kabupaten Singingi, saya sering melihat warga sedang membuat sampan yang sangat panjang di tepi jalan. Mungkin ada sepanjang 10 meter. Dan sampan-sampan tersebut menjadi ajang balap sampan yang terkenal di Riau.

Tidak seberapa lama perjalanan, saya pun tiba di kota Teluk Kuantan. Kota ini sangat indah. Bagus dan tertata dengan baik. Dan saya melihat sebuah lapangan sepakbola yang bagus. Ada juga sebuah masjid yang indah saya lihat dari jalan dan lalu akhirnya saya betemu dengan Bundaran Carano yang terlihat sangat khas.

Di bundaran tersebut saya belok kiri mengikuti rambu-rambu arah jalan menuju Pekanbaru. Tidak ingat secara pasti nama-nama daerah yang saya lewati. Namun di kemudian hari saya menyadari bahwa rute yang saya lalui adalah rutenya rombongan PDRI yang terus berjalan dari kejaran Belanda. Di antara daerah-daerah yang saya lewati hingga ke Pekanbaru seperti Muara Lembu, Lipat Kain dan terus tiba di Simpang Tiga Pekanbaru. Namun sebelum Pekanbaru ada jalan menuju Sungai Pagar dan menyeberangi Batang Kampar di Taratak Buluh dan lalu sampai di jalan Lintas Bangkinang-Pekanbaru yang sudah tidak jauh lagi dari Panam.

Di Jembatan Taratak Buluh ini beberapa kendaraan yang panjang dan besar di tenggelamkan ke Batang Kampar supaya tidak jatuh ke tangan Belanda. Di antara mobil limosin tersebut adalah milik Moh. Hasan yang dikenal dengan Gajah Putih karena akan penyeberangan saat itu masih berupa pom-pom yang ditarik dengan tali untuk bisa ke seberang.

Jembatan Taratak Buluh

Jembatan Taratak Buluh

Selama perjalanan dari Teluk Kuantan ke Pekanbaru, saya masihmenemui banyak pesawangan. Jalanan cukup bagus dan rata meski volume kendaraan belum terlalu banyak. Namun saat itu jalan-jalan yang saya lalui masih terasa aman.

Feni Efendi, Payakumbuh, 2017

HP/WA 081267727161

 

  1. author

    Metha purnama7 months ago

    Penulisan nama saya salah nih yg benar meta purnama sari, Amd, trims 🙂

    Reply
  2. author

    amel3 months ago

    keren

    Reply

Leave a reply "PDRI: BANGKINANG, SUNGAI DAREH DAN TELUK KUANTAN"