Jembatan Taratak Buluah Saksi Sejarah

No comment 93 views

TRAVESIA – Pada tanggal 28 Desember 1948, rombongan pejabat Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) yang dipimpin oleh Mr. Syafrudin Prawiranegara meninggalkan Bangkinang untuk menuju Pekanbaru. Tetapi ketika sampai di batas kota, daerah Panam, rombongan PDRI mendapatkan informasi bahwa Pekanbaru telah diduduki oleh Belanda, maka perjalanan pun dibelokkan menuju Taratak Buluah hingga terus ke pedalaman hutan Sumatera Tengah.

Rombongan komvoi ini menggunakan mobil dan jeep. Dan ketika akan melewati Batang Kampar di Taratak Buluh menuju Pantai Raja, kendaraan-kendaraan besar dan panjang tidak muat untuk menyeberang menggunakan pompom di Batang Kampar. Akhirnya Limosin dari Mr. Tengku Moh. Hasan yang bernomor polisi ST-1 terpaksa diceburkan ke dalam Batang Kampar supaya tidak diambil fungsi oleh Belanda. Dan di sinilah-Batang Kampar-saksi sejarah yang sepertinya terlupakan. Tanpa monumen dan kenangan.

Dapatkan 2 buah bukunya dalam penelitian ini:

Jejak yang Terlupakan

Judul Buku: JEJAK YANG TERLUPAKAN: Menyusuri Jejak Mr. Syafruddin Prawiranegara dalam Menjalankan PEMERINTAH DARURAT REPUBLIK INDONESIA (PDRI) pada Masa Agresi Militer Kedua Belanda di Sumatera Tengah

Genre: Catatan Perjalanan

Penerbit: JBS Yogyakarta

Penulis: Feni Efendi

Pemesanan: WA 0812-6772-7161 / HP 0823-8485-2758

 

Selendang Ibu Perdana Menteri

Judul Buku: SELENDANG IBU PERDANA MENTERI

Genre: buku puisi PDRI

Penerbit: JBS Yogyakarta

Penulis: Feni Efendi

Pemesanan: WA 0812-6772-7161 / HP 0823-8485-2758

Leave a reply "Jembatan Taratak Buluah Saksi Sejarah"