Bukit Luncung Tempat Eksekusi dan Penyimpanan Candu (Emas Hitam)

Bukit Luncung Tempat Eksekusi dan Penyimpanan Candu (Emas Hitam)

Dok. Pribadi

Berdasarkan penjelasan Zainal Nur yang menjabat Pusat Perbekalan Perjuangan PDRI dalam tanggapan makalah Sartono Kartodirjo yang berjudul Makna PDRI dalam Revolusi Indonesia di dalam buku PDRI Dikaji Ulang mengatakan bahwa sebelum Bukittinggi dibumihanguskan, persedian candu juga ikut diungsikan. Mulanya candu itu dibawa Syahrir dari Jakarta ke Yogyakarta dan Moh. Hatta membawanya ke Bukittinggi. Ketika sebelum Belanda menduduki Bukittinggi pada 21 Desember, semua pejabat yang masih tertinggal membakar kota terlebih dahulu. Serta candu yang dipergunakan untuk devisa dan keperluan pembayaran perang juga ikut diungsikan ke Bukit Luncung yang terletak di jorong Tanah Mungguak kenagarian Sitanang Kecamatan Lareh Sago Halaban Kabupaten Limapuluh Kota.

Ketika saya melakukan observasi menuju Bukit Luncung saya mendapatkan jalan-jalan yang sudah mulai rusak dan ada juga yang berupa cor semen. Terlihat bukit-bukit dengan batu-batu yang keras di sepanjang nagari Sitanang. Semakin jauh perjalanan jalanan semakin rusak berupa jalan tanah yang cukup keras dan banyak ditemukan persimpangan. Di antara bukit-bukit terdapat goa-goa dan salah satunya bernama Ngalau Tabuah yang dikelilingi kolam-kolam yang sangat eksotik di antara stalkmit-stalkmit di dalam goa. Dan dari informasi penduduk setempat yang saya lupa namanya Ngalau Tabuah sering dijadikan tempat syuting film.

Bukit Luncung ini terletak tidak jauh dari Batang Sinamar antara nagari Sitanang dan nagari Ampalu. Dari jalan Bukit Luncung ini tidak terlihat. Bukit ini hanya memiliki tinggi beberapa meter yang menurut saya tidak lebih dari lima meter. Keadaan bukit ini berbentuk landai hingga ke puncak. Hampir tidak kelihatan kalau ini adalah bukit jika dilihat sekilas seperti kebun biasa yang dipenuhi oleh tanaman karet yang masih berusia muda memenuhi Bukit Luncung ini.

Suatu hal yang sangat fenomenal dari Bukit Luncung ini pada masa PDRI adalah sebagai tempat eksekusi para tahanan. Umar Said Noor juga menulis ini di dalam memoarnya bahwa di masa itu jika siapa saja dicurigai berkhianat kepada republik atau kedapatan menjadi kaki tangan Belanda maka mereka akan dibawa ke Bukit Luncung. Tidak ada yang tidak tahu orang-orang pada zaman itu dengan bukit ini. Siapa saja yang pernah dibawa ke tempat ini jarang ada yang bisa keluar hidup-hidup setelah dieksekusi tanpa pengacara hanya berupa pengadilan berupa hakim yang menjatuhkan hukuman. Bentuk hukuman pada masa itu adalah dengan ditembak atau kepalanya dipancung dengan memakai belek yang tajam. Dan mendengar nama Bukit Luncung pada masa itu akan membuat bulu kuduk merinding dan ngeri.

Satu hal yang penting tentang Bukit Luncung ini adalah tempat penyimpanan candu atau yang dijuluki “Emas Hitam” yang diungsikan dari Bukittinggi ketika komando militer menginstruksikan untuk mengosongkan kota Bukittinggi sejak 22 Desember 1948. Ahmad Husein dkk menyusun dalam buku Sejarah Perjuangan Kemerdekaan RI di Minangkabau/Riau 1945-1950 Volume II  mendokumentasikan bahwa candu itu dibawa dari Yokyakarta ke Bukittingi sebelum agresi militer Belanda yang kedua yang disimpan di gedung Tamu Agung di bawah tanggungjawab Mr. Lukman Hakim yang sebagai Hakim/Wakil Mentri Keuangan RI, Kadarisman sebagai Wakil Mentri Kemakmuran RI dan Mr. A. Karim dari Bank Negara Indonesia.

Setelah candu tersebut tiba di Bukittinggi maka pada awal Desember 1948 sebagian dibawa ke Pekanbaru. Dan pada agresi Belanda yang kedua, sejak 22 Desember kota Bukittinggi di kosongkan dan candu yang masih tertinggal juga ikut diungsikan. Dan disaat genting tersebut Mr. A. Karim berbicara kepada Letnan II Basri Haznam yang sebagai kepala Kepala kepolisian Militer Sumatera Tengah agar segera mendapatkan kendaraan untuk membawa “emas hitam” itu secepatnya karena Belanda telah mulai memasuki Bukittingi dari Singkarak dan Sicincin.

Setelah mendapatkan dua buah truk dengan susah payah maka setengah dari candu yang tersisa berhasil dibawa ke Lubuk Sikaping di bawah tanggungjawab Syamsu Anwar yang menjadi Pemimpin Bank Negara Cabang Bukittinggi. Dan setengah bagian lagi di bawa ke Bukit Luncung di bawah tanggungjawab Komisariat Pemerintah Pusat. Semua harta terakhir Republik itu berhasil diselamatkan.

Kegunaan candu ini adalah untuk pembiayaan perang kemerdekaan Republik yang pernah diselendupkan oleh Kapten Adham Yatim dan Zachlul Zen ke Singapura yang digunakan untuk keperluan alat militer seperti senjata dan membiayai pilot-pilot Indonesia untuk belajar ke India serta untuk keperluan suku cadang pesawat AURI. Dan di dekat Pasar Payakumbuh pernah dibangun gudang candu dan bahkan Kamaludin Tambiluak pernah ditugaskan menyeludupkan candu ke Singapura melalui Daratan Riau yang hasilnya ditukarkan dengan persenjataan. Karena saat itu harga candu di pasaran dunia sangat menggiurkan dan bahan baku candu tersebut banyak tumbuh di pedalaman hutan Indonesia. Candu itu sebangsa getah yang dibakar bersama tembakau yang menjadikan orang yang mengisapnya menjadi tenang dengan menggunakan cang klong, kata Bapak Afdhal Ali Fahmi yang menjadi anggota YPP PDRI di Bukittinggi.

Dapatkan 2 buah bukunya dalam penelitian ini:

Jejak yang Terlupakan

Judul Buku: JEJAK YANG TERLUPAKAN: Menyusuri Jejak Mr. Syafruddin Prawiranegara dalam Menjalankan PEMERINTAH DARURAT REPUBLIK INDONESIA (PDRI) pada Masa Agresi Militer Kedua Belanda di Sumatera Tengah

Genre: Catatan Perjalanan

Penerbit: JBS Yogyakarta

Penulis: Feni Efendi

Pemesanan: WA 0812-6772-7161 / HP 0823-8485-2758

 

Selendang Ibu Perdana Menteri

Judul Buku: SELENDANG IBU PERDANA MENTERI

Genre: buku puisi PDRI

Penerbit: JBS Yogyakarta

Penulis: Feni Efendi

Pemesanan: WA 0812-6772-7161 / HP 0823-8485-2758

 

Leave a reply "Bukit Luncung Tempat Eksekusi dan Penyimpanan Candu (Emas Hitam)"