Kisah Syaikh Ibrahim Harun Tiakar Menuntut Ilmu

No comment 68 views
SYAIKH IBRAHIM HARUN TIAKAR

SYAIKH IBRAHIM HARUN TIAKAR

TRAVESIA – Sebuah daerah namanya Bomban di kenagarian Tiakar kota Payakumbuh dan melahirkan salah seorang ulama besar di Limapuluh Kota ialah Syaikh Ibrahim Harun (wafat 1963). Sebagaimana ditulis ulang dari tulisan Buya Apria Putra Abiya Hilwa, asal Padang Mangateh dan bermukin di Talang Maur memaparkan bahwa Syaikh Ibrahim Harun dikenal sebagai seorang faqih, sufi, dan juga pendekar ahli Silat Lintau. Selain itu beliau juga masyhur sebagai pendiri surau dan madrasah yang berjaya pada awal abad 20 hingga paruh terakhir abad tersebut. Saat sekarang peninggalan beliau adalah sebuah Ponpes Ibrahim Harun di Bomban Tiakar yang diasuh oleh anak bungsunya, Buya Drs. Zulnijar Ibrahim.

Di antara murid beliau di antaranya Syaikh Ali Imran Hasan Ringan-ringan Pekandangan, pendiri Ponpes Nurul Yakin Pekandangan Pariaman, Syaikh Tgk. Aidarus Tagani bin Syaikh Abdul Gani Batubasurek Kampar, pendiri Ponpes Darussalam Batu Basurek.

Adalah menarik menyimak kisah perjalanan Syaikh Ibrahim Harun dalam menuntut ilmu. Beliau pernah bercerita kepada muridnya, bahwa ia mula-mula belajar agama (tentunya dengan mendaras kitab klasik/ kitab kuning) kepada Syaikh Muhammad Thaha atau yang dikenal dengan gelar Baliau Limbukan (bermukim di Limbukan, Payakumbuh). Hampir setiap hari beliau hanya di suruh untuk menolong isteri gurunya di sawah. Tidak ada belajar. Dari rumah membawa kitab, sampai di surau guru kitab itu ditarok, tidak dibuka sama sekali, karena guru selalu menyuruh untuk ke sawah. Syaikh Ibrahim Harun tidak pernah protes terhadap sikap gurunya, yang seolah-olah tidak mau mengajarnya. Malah beliau tetap patuh dan setia mengerjakan suruh guru, tanpa tanda tanya, tanpa dongkol dalam hati. Satu ketika, beliau meminjit kaki gurunya itu. Ketika memijit itu, sang guru berkata kepada Ibrahim kecil, “mudah-mudahan pokiah jadi urang malin juo hondaknyo” (mudah-mudahan ananda, jadi alim jua hendaknya), dengan logat Payakumbuh yang kental. Tidak main-main, ungkapan guru yang sedikit itu rupanya ibarat emas runtuh; maqbul dan diijabah. Meskipun lebih banyak ke sawah mengerjakan perintah guru dibandingkan dengan belajar, namun tidak diduga beliau dapat membaca kitab dengan lancar serta dapat memahaminya secara tepat.

Syaikh Ibrahim Harun kemudian mengakhiri kisahnya, dengan mengatakan: “Kesuksesan menuntut ilmu itu disebabkan oleh tiga hal: (1) kecerdasan, (2) keuangan, dan (3) sayang guru. Yang terpenting dari tiga ini ialah sayang guru.”

Kisah lain, setelah lama belajar ilmu fiqih beserta ilmu-ilmu yang menopangnya, seperti Nahwu, Sharaf, Balaghah, Ushul, dan lain-lain, tibalah keinginan Syaikh Ibrahim Harun untuk mengambil Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah dan suluk. Lazimnya, santri-santri di Pedalaman Minangkabau di masa dulu mengambil thariqat dan mengerjakan suluk sebagai “pamungkas” dalam menyelesaikan pelajaran agama. Keinginannya itu kemudian disampaikan kepada gurunya, Syaikh Thaha. Gurunya berujar, “Kalau ang ka suluak, poilah ka Ongku Miran. Di situ lai ghami urang suluak. Kalau disiko longang” (kalau kamu ingin berthariqat dan suluk, pergilah ke surau Syaikh Tuanku Imran. Di sana orang ramai berthariqat. Disini tak berapa). Ibrahim muda tidak bergeming, ia hanya ingin suluk dengan gurunya itu: “Bialah di siko sajo, oyah. Bialah longang.” (saya di sini saja, ayah! Meskipun lengang). Akhirnya ia suluk dibawah bimbingan gurunya itu. Selesai suluk, ia lantas memperoleh Ijazah Irsyad, petanda ia sudah berhasil dalam suluknya dan diperbolehkan mengajarkan orang lain. Padahal sangat jarang orang yang mendapatkan Ijazah Irsyad itu, meskipun sudah suluk berkali-kali.

Kepatuhan kepada guru menghasilkan sayang guru. Sayang guru kemudian menjadi keberkahan bagi seorang murid. Inilah, salah satu faktor penting yang membuat nama Syaikh Ibrahim Harun kemudian masyhur sebagai ulama besar, dikenal sebagai ahli fiqih dan tasauf yang disegani. Sampai sekarang, sudah puluhan tahun sejak wafatnya, namanya selalu dikenang, menjadi buah bibir bagi yang tua-tua.

Dalam agama, dijelaskan sudah. Bahwa kunci ilmu itu terletak pada guru. Kepintaran yang kedua. Seberapapun pintarnya seseorang, namun dengan guru tidak menjalin pertalian rohani yang kokoh, ilmu itu tidak akan berkah. Ia akan seperti “mentimun bungkuak” saja; ada tak dianggap, atau ada tapi tak bermanfaat.

Leave a reply "Kisah Syaikh Ibrahim Harun Tiakar Menuntut Ilmu"