Hanandjoeddin Melawan Pasukan Hantu di Jembatan Kampak – Watulimo Trenggalek

Hanandjoeddin Komandan Pertahanan di Wilayah Watulimo

Hanandjoeddin Komandan Pertahanan di Wilayah Watulimo

TRAVESIA.CO.ID – Saat agresi kedua Belanda baru memasuki memasuki minggu ke 2, pasukan Hanandjoedin dipercaya membantu perlawanan pihak Republik di daerah Watulimo Trenggalek.

Mata mata mengabarkan bahwa Marinir Belanda sudah memasuki kawasan Kewedanan Kampak. Hanandjoedin berfikir cepat bahwa satu-satunya cara menahan laju pasukan Marinir Belanda ke arah Watulimo dengan meledakan Jembatan.

Segara beliau memerintahkan pasukan untuk meledakan jembatan tersebut. Singkat kata saat semua bahan peledak telah terpasang dan siap untuk eksekusi. Picu bom ditekan. Sreet! Tapi tak ada apa apa, sekali lagi diperintahkan oleh Hanandjoedin untuk diledakan. Tetap tak ada yang meledak!.

Heran dan semua terdiam, padahal anak-anak sudah memeriksa semua bahan peledak yang terpasang tak ada masalah, lalu berkali-kali dicoba tetap tak meledak. Sampai akhirnya Hanandjoedin bertanya pada orang kampung di sekitar sana kenapa bisa begitu?

Bahwa jembatan itu dijaga oleh jin penunggu yang mungkin saja tak suka ulah Hanandjoedin untuk meledakan Jembatan itu. Hanandjoedin bingung, Marinir Belanda makin mendekat karena keadaan makin kritis malam itu juga ia menyiapkan 10 orang anak buahnya untuk kembali meledakan Jembatan itu. Dengan penerangan obor mereka kembali mendekat jembatan dekat kawasan hutan yang memang terkenal angker!

Tapi kondisi sudah mendesak, Belanda makin dekat, jadi tanpa berfikir takut yang lain-lain Hanandjoedin memimpin sendiri ke sana. Saat mulai mendekat jembatan, perasaan Hanandjoedin memang sudah lain. Bulu kuduknya berdiri namun tak ia hiraukan.

Anggota Tim nya pun merasakan hal yang sama, seperti ada yang mengawasi mereka tapi entah siapa karena hutan itu sepi! Tak ada orang lain hanya 11 orang itu yang sedang berjalan mendekati jembatan.

Lambat-pelan namun pasti terdengar suara derap langkah seperti pasukan banyak berjalan ke arah mereka tapi anehnya hanya suara. Semua terdiam, sama-sama mendengar termasuk Hanandjoedin.

” Maaf pak sebentar… ” Yahya salah satu anak buah Hanandjoedin berujar pelan.

” Ada apa Yahya?” tanya sang komandan.

” Sebaiknya kita urungkan saja rencana kita malam ini, Ndan! ” dengan suara bergetar namun jelas.

” Memang kenapa?” mulai marah sang komandan mendengar anak buahnya minta mundur.

” Ndak Ndan, sebaiknya besok pagi saja kita teruskan ” sahut Yahya walau dengan suara masih bergetar. Dan tiba-tiba yang lain menyahut.

” Iya Ndan besok saja” nyaris serempak. Tiba-tiba Hanandjoedin berdiri lalu.

” Oh, kalau kalian takut sudah kembali saja ke markas! Biar saya sendiri yang ke jembatan!” Berdentum suara Hanandjoedin di tengah hutan sepi itu marah!

” Siap! Ndan! Kami ikut komandan! ” jawab serempak anak buahnya.

Perjalanan kembali dilanjutkan dengan komandan jalan paling depan memimpin. Namun baru beberapa langkah. Tiba tiba di hadapan Hanandjoedin muncul ratusan pasukan dengan seragam ala Mataram kuno dengan senapan panjang terhunus ke depan menghalangi jalan sepi itu.

Beliau terhenyak! kaget dan belum sempat berpikir macam-macam, ia menoleh kebelakang mungkin untuk mengecek anak buahnya, namun, astaga tak ada satu orang pun di belakang beliau! Semua anak buahnya lari tunggang langgang! Mereka ketakutan! Dan hanya Hanandjoedin ditinggal sendiri sekarang di tengah hutan sepi itu.

Pak Hanandjoedin sendiri saat ditinggal “lari” anak buahnya hanya bisa bengong dan bingung.

Pak Hanandjoedin masih kaget dengan larinya anak buahnya karena selama ini anak buahnya sudah mengalami berbagai pertempuran dengan Jepang, Sekutu atau Belanda tapi tak pernah mereka surut langkah. Tak ada istilah takut perang bagi anak anak bekas teknisi pesawat itu. Namun kali ini mereka lari ketakutan karena yang mereka lihat adalah pasukan “hantu” yang jumlahnya ratusan.

Tinggal Hanandjoedin sendiri sekarang dihadapan sepasukan misterius ini. Rasa takut merayap Hanandjoedin, keringat sudah membasahi semua bajunya namun seperti mendapat kekuatan dari Allah. Dengan mengucap Istigfar lalu beliau berbalik badan menghadapi pasukan misterius tersebut dan beliau tiba-tiba menancapkan obor di tengah jalan.

Dia berdiri tegak dengan mengatasi rasa takut dan merinding yang luar biasa, Pak Hanandjoedin sendiri berhadapan dengan ratusan pasukan misterius itu, lalu.

“Assalamu’alaikum, Saudara-saudara. Saya Hanandjoeddin Komandan Pertahanan di Wilayah Watulimo. Kami bermaksud baik untuk menyelamatkan rakyat dan alam daerah ini dari serangan penjajah Belanda.. Untuk itulah bantulah perjuangan kami menegakkan kemerdekaan Indonesia. Saya yakin saudara-saudara berada di pihak kami karena perjuangan kemerdekaan Indonesia sudah dilakukan sejak zaman nenek moyang, sejak zaman Yang Mulia Sultan Agung Raja Mataram. Kami hanya melanjutkan cita-cita mulia Beliau. Saya meminta saudara-saudara memaklumi upaya kami memutus jembatan penghubung desa ini demi keselamatan warga desa Watulimo. Terimakasih atas pengertian dan bantuan saudara saudara. Assalamualaikum!”

Layaknya komadan yang tengah pidato pada anak buahnya Hanandjoedin memberi taklimat pada ratusan pasukan misterius itu. Tak lama pasukan itu tiba-tiba menghilang. Segera Hanandjoedin kembali ke Markas dan ditemuinya anak buahnyanya yang masih pucat ketakutan. Beliau tak memarahi mereka karena paham apa yang mereka rasakan.

Saat anak buahnya meminta maaf karena meninggalkan beliau di tengah hutan, Hanandjoedin hanya mengangguk dan tersenyum.

” Terus terang Ndan jika lawan Belanda kita sanggup bertempur sampai mati! Tapi berhadapan dengan pasukan tadi rasanya sulit ditaklukkan ” ujar Yahya anak buahnya.

” Iya ndan mereka jumlahnya satu Batalion senjata lengkap “sahut yang lain.

” Ah, kamu ada ada saja. Sudah subuh nanti kita kembali kesana,” perintah Hanandjoedin.

Subuh mereka kembali ke sana dan meledakan Jembatan itu hanya dengan sekali klik. Kraaaak!!!! Jembatan buatan jaman kolonial itu patah dan Hanandjoedin minimal bisa menahan laju pasukan Marinir Belanda.

Sumber buku Sang Elang H.AS Hanandjoedin karya Haril Andersen

Oleh Beny Rusmawan 

 

Dapatkan 2 buah buku penelitian Feni Efendi tentang PEMERINTAH DARURAT REPUBLIK INDONESIA (PDRI):

Jejak yang Terlupakan

Judul Buku: JEJAK YANG TERLUPAKAN: Menyusuri Jejak Mr. Syafruddin Prawiranegara dalam Menjalankan PEMERINTAH DARURAT REPUBLIK INDONESIA (PDRI) pada Masa Agresi Militer Kedua Belanda di Sumatera Tengah

Genre: Catatan Perjalanan

Penerbit: JBS Yogyakarta

Penulis: Feni Efendi

Pemesanan: WA 0812-6772-7161 / HP 0823-8485-2758

 

Selendang Ibu Perdana Menteri

Judul Buku: SELENDANG IBU PERDANA MENTERI

Genre: buku puisi PDRI

Penerbit: JBS Yogyakarta

Penulis: Feni Efendi

Pemesanan: WA 0812-6772-7161 / HP 0823-8485-2758

Leave a reply "Hanandjoeddin Melawan Pasukan Hantu di Jembatan Kampak – Watulimo Trenggalek"