Kisah Heroik Operasi Lintas Udara (Airbone) ke Madura

Kisah Operasi Lintas Udara (Airbone) ke Madura

Kisah Operasi Lintas Udara (Airbone) ke Madura

TRAVESIA.CO.ID – Setelah perjanjian Linggarjati, banyak kesepakatan yang merugikan pihak Republik Indonesia. Salah satunya mengosongkan daerah daerah pertahanan. Untuk Pulau Jawa itu tak menjadi soal, kisah lain adalah perjuangan anggota TNI di Pulau Madura dalam tetap bergerilya untuk tetap meneruskan perjuangan walau Pulau Madura sesuai perjanjian harus dikosongkan. Ini kisah heroik TNI dipulau itu.

Kesatuan-kesatuan TNI yang dari Madura bergerilya dengan keterbatasan senjata dan amunisi, namun walau dengan kondisi serba terbatas, perlawanan mereka terhadap Belanda sempat berlangsung hingga 5 bulan!

Dalam usaha bertahan dan gerilya, Komandan Resimen Raden Candra Hasan mengirim utusan ke Jogjakarta untuk menghadap Panglima Besar Soedirman. Misi ini dipimpin oleh Mayor Abu Jamal.

Tujuh hari sang Mayor melakukan perjalanan menembus blokade laut Belanda dan melalui jalan darat untuk menghadap Panglima di Jogjakarta serta menyampaikan permohonan bantuan senjata, amunisi dan obat obatan yang sangat diperlukan oleh Resimen Madura. Saat pemerintah pusat menyanggupi permintaan itu, masalah lain muncul.

Bagaimana membawa senjata, amunisi dan obat obatan ini ke Madura tanpa diketahui Belanda? Akan sangat muskil bila lewat jalur darat apalagi melalui laut yang jelas sudah di blokade oleh Belanda. Akhirnya satu usul datang dari Komodor Halim Perdanakusuma agar bantuan itu diterjunkan dari udara!

Mayor Abu Jamal dan stafnya yakni Kapten Raden Hafiludin tanpa ragu langsung mengangguk dan, “Siap!” tanpa ragu ragu. Padahal mereka berdua belum pernah naik pesawat terbang apalagi terjun militer! Tapi demi perjuangan,  semua mereka lakukan, dalam benak mereka, “yang penting senjata dan amunisi dapat dulu, urusan nanti belakangan!” Selama 2 hari mereka dilatih kilat terjun militer dengan payung terjun bekas milik Jepang oleh Mayor Oedara Soedjono.

Maka tanggal 20 Oktober 1947, pagi buta terlihat sebuah Dakota AURI bersiap di runway lapangan terbang Maguwo, tak lama lepas landas dengan terus terbang ” gila gila’an” rendah menuju pulau Madura.

Pesawat dipiloti Alexander Noel Constantine seorang Australia dengan co pilot Soekotjo, navigator Halim Perdanakusuma sendiri kemudian sang pelatih terjun Mayor Soedjono. Sedang yang akan terjun adalah 2 orang penerjun dari Angkatan Darat yakni Mayor Abu Jamal dan Kapten Raden Hafiludin, 41 pucuk senjata beserta 30 kotak amunisi dan obat obatan, uang ORI dan juga Beras.

Setelah sejam pesawat berputar di atas Sumenep baru lah droping dilakukan. Satu persatu barang diterjunkan dan terakhir kedua penerjun pertama dari TNI AD ini sebelum terjun mereka memberi hormat kepada Komodor Halim Perdanakusuma dan Mayor Soedjono baru kemudian mereka melompat terjun.

Operasi ini berhasil tak lama pesawat memutar balik ke Jogjakarta, bantuan yang di butuhkan Resimen 35 Madura sampai dan menambah semangat moril juang anggota TNI di pulau itu.

Sumber: Sekitar TNI Hijrah terbitan Dinas Sejarah AD Tahun 1972

Oleh Beny Rusmawan

Dapatkan 2 buah buku penelitian Feni Efendi tentang PEMERINTAH DARURAT REPUBLIK INDONESIA (PDRI):

Jejak yang Terlupakan

Judul Buku: JEJAK YANG TERLUPAKAN: Menyusuri Jejak Mr. Syafruddin Prawiranegara dalam Menjalankan PEMERINTAH DARURAT REPUBLIK INDONESIA (PDRI) pada Masa Agresi Militer Kedua Belanda di Sumatera Tengah

Genre: Catatan Perjalanan

Penerbit: JBS Yogyakarta

Penulis: Feni Efendi

Pemesanan: WA 0812-6772-7161 / HP 0823-8485-2758

 

Selendang Ibu Perdana Menteri

Judul Buku: SELENDANG IBU PERDANA MENTERI

Genre: buku puisi PDRI

Penerbit: JBS Yogyakarta

Penulis: Feni Efendi

Pemesanan: WA 0812-6772-7161 / HP 0823-8485-2758

Leave a reply "Kisah Heroik Operasi Lintas Udara (Airbone) ke Madura"