Peristiwa Prajurit Hantu Laut KKO yang Berjibaku Demi Bangsa

Peristiwa Prajurit Hantu Laut KKO yang Berjibaku Demi Bangsa

Peristiwa Prajurit Hantu Laut KKO

TRAVESIA.CO.ID – Tahun 1964, tingkat ketegangan antara Indonesia dan Malaysia yang dibantu Inggris makin meningkat! Perang hampir bisa terjadi kapan saja! Pasukan kedua pihak sudah ditempatkan di posisi garis depan masing masing, perang psikologis makin hari makin sering terjadi, Indonesia bahkan sudah menyusupkan para sukarelawannya masuk jauh ke pedalaman Kalimantan Utara.

Di perbatasan laut bahkan “senggolan” kedua pihak sudah kerap terjadi. Indonesia menempatkan pasukan ” Hantu Laut” atau KKO di garis depan perbatasan langsung dengan Malaysia tepatnya di Nongsa – Pulau Batam.

Salah satu personil KKO yang pernah ikut operasi dalam rangka Dwikora ini adalah Prajurit Komando Riyono. Tanggal 24 Juli 1964, siang itu Tim KKO dengan menggunakan perahu motor 10 pk akan mengadakan patroli rutin perbatasan.

Tim yang terdiri dari Prako Suratno sebagai komandan regu, Prako Wahadi, Parko Muhani dan Prako Riyono sendiri. Mereka berangkat patroli dengan dibekali senjata serbu ringan tanpa granat. Siang itu Laut Cina Selatan cerah. Patroli dilakukan seperti biasa dengan mengunjungi titik-titik yang diduga akan diterobos musuh.

Setelah patroli laut dirasa cukup, tim ini menjelang sore memutar perahu motor kayu mereka untuk kembali ke Nongsa Batam. Harusnya ini patroli rutin biasa karena memang semenjak tingkat ketegangan antara Indonesia dan Malaysia makin tinggi. Patroli ini makin sering dilakukan oleh pos KKO di Nongsa.

Tapi saat akan kembali ke pos mereka, tiba-tiba mesin perahu ini mati! Malam datang tapi mesin belum juga hidup. Komandan tim yakni Prako Suratno masih mencoba memperbaiki mesin perahu yang mati. Makin malam ombak makin tinggi, tak terasa perahu mereka makin terseret arus ke arah Singapura. Menyadari hal itu, mereka mendayung hampir 6 jam melawan arus untuk menjauhi wilayah Singapura – Malaysia.

Saat pukul menunjukkan jam 20.15, hari semakin gelap. Dalam keremangan malam datanglah ke arah mereka sebuah kapal yang mereka kira sebagai kapal bea cukai Indonesia. Kapal tersebut akhirnya sampai dan menempel pada perahu tim KKO tersebut.

“Awak siapa ?” terdengar seruan dari kapal yang mulanya diduga Kapal Bea Cukai Indonesia oleh tim KKO ini. “Kami KKO, mau pulang”! Teriak para prajurit KKO tersebut.

Tiba-tiba mereka sadar bahwa kapal tersebut bukan kapal bea cukai Indonesia tapi kapal Diraja Malaysia dengan nama Sri Selangor. Mungkin mereka melihat tulisan di lambung kapal dalam keremangan malam itu.

“Angkat tangan !” begitu teriakan dari salah satu awak kapal Sri Selangor. Lalu mereka mengarahkan lampu sorotnya ke arah motorboat KKO. Agak kesulitan para anggota KKO ini karena perahu mereka sudah terlanjur dalam posisi menempel. Tapi kapal Sri Selangor sudah merasakan kemenangan ada di tangannya, tidak sulit menangkap segelintir KKO itu, begitu mungkin pikir para awak kapal Sri Selangor.

Keempat anggota pasukan Korps Komando AL Indonesia ini terdiam walau bukan berarti menyerah! “Priben kie?” tanya Prako Wahadi pada ketiga rekannya dengan berbisik menggunakan bahasa Tegal. Ketiganya saling pandang dengan diam-diam membuka kunci senjata dan mengokang senjata masing masing..

Ya bahasa Tegal digunakan biasa bagi mereka karena kebetulan mereka semua asal Jawa Tengah. ” wes hajar ae!” jawab komandan tim yakni Prako Suratno. Tiba-tiba serempak keempat anggota KKO ini menembakan senjata mereka ke arah Kapal Sri Selangor!

Tak siap! Para kru Sri Selangor tergagap membalas tembakan para anggota KKO ini. Kontak tembak sengit sempat terjadi beberapa menit.

Prajurit KKO berusaha tetap menembak sampai peluru terakhir, tapi usaha mereka terhenti karena awak Sri Selangor menabrakkan kapalnya ke perahu KKO sampai terguling. Setelah melakukan pengecekan sekilas pada motorboat yang terguling itu dan tidak menjumpai mayat satu pun, segeralah Kapal Sri Selangor meninggalkan lokasi insiden kembali ke pangkalannya.

Ternyata, beberapa saat setelah menyadari bahwa mereka akan ditabrak oleh Sri Selangor, keempat prajurit KKO melompat ke dalam laut lalu setelah motorboat ditabrak dan terbalik mereka segera bersembunyi di bawah motor boat yang terbalik itu.

Prako Riyono ingat betul saat ia terjun ke laut ia terkena tembakan di kaki kiri tapi itu tak ia hiraukan. Prako Riyono menyelam kedalam laut dan masih sempat melihat kapal perang Malaysia itu melintas di atas kepalanya sebelum akhir menjauh.

Setelah dirasa aman, Prako Riyono muncul kepermukaan air dan ia masih melihat sisa perahunya pecah! .. Berenang ia mendekati sisa pecahan perahu itu. Rupanya di sisa pecahan perahu itu, ketiga rekannya selamat dan juga berada di tempat yg sama. Yang tidak ada adalah sang Komandan tim yakni Prako Suratno.

Ketiganya terombang ambing di Laut Cina Selatan yang berarus deras! Juga penuh dengan ikan hiu! Berjam jam mereka bertahan di bekas pecahan perahu mereka sampai tiba tiba terdengar dari jauh suara motor kapal.

Ya itu sebuah kapal yang melintas antara Singapura dan Batam, kapal itulah yang menyelamatkan mereka dan membawa ke pos di Nongsa. “Itu jam sekitar pukul 3 dinihari, saat kami ditemukan oleh kapal itu,” tutur pak Riyono pada kami.

Jadi ketiga anggota KKO ini terombang ambing di laut hampir 6 jam dengan kondisi luka di kaki yang masih terus mengeluarkan darah! ” Mana mikir ke hiu mas. Wong yang penting selamat dulu ” sembari tertawa lepas Riyono menjawab saat kami tanya tidak takut hiu karena mereka terluka.

Saat kembali di pos mereka, Intel mereka sempat dapat laporan kerugian yang diderita pihak Malaysia bahwa mereka tertembak 10 orang. Saat ini Riyono tinggal dengan istri dan anak cucu di rumah sederhana di Kelurahan Rorotan Cilincing Jakarta Utara. Beliau pensiun dengan Pangkat Pembantu Letnan Satu.

Terima kasih banyak ya pak. Semoga kisah ini memberi inspirasi dan semangat bagi kami penerus. Sehat selalu pak Riyono. Salah satu pertarung KKO yang masih tersisa.

Oleh Beny Rusmawan

Photo anggota KKO yang bertugas di Nongsa Batam saat Dwikora, ini beberapa bulan sebelum peristiwa kontak dengan kapal Malaysia Sri Selangor. Tanda silang 1 adalah Riyono, centrang 2 adalah Prako Muhani, yang tanda centrang 1 adalah Prako Wahadi sedang komandan Tim adalah Prako Suratno dengan tanda silang 2

Leave a reply "Peristiwa Prajurit Hantu Laut KKO yang Berjibaku Demi Bangsa"