Romo Soegijapranata, 100% Katolik dan 100 % Indonesia

oleh -24 views
Romo Soegijapranata
Romo Soegijapranata

TRAVESIA.CO.ID – “Mestinya umat Katolik berterima kasih buat Republik Indonesia yang diproklamasikan secara sepihak itu, bahwa semestinya mereka tidak menolak Republik, tetapi memberikan bantuan dan dukungan kepadanya. Kami berjanji akan bekerja sama dengan semua lapisan masyarakat untuk mewujudkan kemerdekaan teguh dan kemakmuran negara.”

Itulah pidato pernyataan sikap Romo Soegijapranata saat mendengar Proklamasi telah dikumandangkan. Bahkan Bung Karno pun tertegun setelah mendengar pernyataan Romo yang Nasionalis ini.

Hubungan Presiden Soekarno dengan Romo Soegija memang terbilang unik, dekat dan saling memahami. Romo selalu menyebutnya dengan panggilan hormat ‘Bapak Presiden’, sementara sang Presiden selalu memanggilnya ‘Romo Kanjeng’. Telah berulangkali Bung Karno meminta sang Romo untuk memanggilnya cukup dengan ‘Bung’ saja, tetapi beliau tetap memanggilnya dengan sebutan ‘Bapak Presiden’.

Romo yang pernah “menyerahkan” kepalanya pada tentara Jepang saat gereja keuskupan Semarang akan diambil alih mereka dengan mengatakan. ” Ini adalah tempat yang suci. Saya tidak akan memberi ijin. Penggal dulu kepala saya maka tuan baru boleh memakainya!”

Saat Bung Karno ditahan Belanda di Prapat dan Bangka dari bulan Desember 1948 sampai dengan Juli 1949, jarang ada yang tahu bahwa Romo Soegijapranata lah yang mengurus rumah serta makanan sehari-hari bagi Ibu Fatmawati serta anak-anaknya.

Pada tanggal 22 Juli 1963, Bung Karno masih tertidur ketika ia dibangunkan ajudannya untuk menyampaikan berita mengejutkan bahwa sahabatnya telah berpulang. Dalam perjalanan menuju sidang kedua Konsili Vatican, Uskup Soegijapranata meninggal dunia di Steyl, Belanda, dalam usia 66 tahun.

Mendengar berita itu, Bung Karno lalu memerintahkan untuk membawa jenazah sang Uskup pulang ke Indonesia. Padahal sebuah tempat di Vatikan sudah disiapkan untuk makam Uskup pribumi pertama dari Indonesia ini, tapi Bung Karno tetap ngotot meminta agar makam sang Romo harus kembali ke Tanah Airnya.

Pada tanggal 26 Juli 1963, saat pesawat yang membawa sang Uskup masih dalam perjalanan ke Indonesia, Bung Karno menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional untuk Albertus Soegijapranata. Jenazah sang Uskup akhirnya tiba di Jakarta pada tanggal 28 Juli 1963, dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Giri Tunggal, Semarang, dua hari kemudian.

Diantara makam-makam yang sederhana dengan bentuk yang hampir sama, berdirilah makam yang berbeda. Bung Karno menyumbang uangnya sendiri sebesar Rp 1.000.000,- untuk membangun sebuah makam peringatan di atas bukit kecil. Pada batu nisan tertera riwayat hidupnya dan juga lambang bintang Pancasila. Pada keempat tiangnya tertera tempaan besi keempat lambang Pancasila lainnya.

Sebuah pengenang untuk pernyataannya yang terkenal: 100 % Indonesia dan 100 % Katolik.

Beny Rusmawan

 

Dapatkan 2 buah buku penelitian Feni Efendi tentang PEMERINTAH DARURAT REPUBLIK INDONESIA (PDRI):

Jejak yang Terlupakan

Judul Buku: JEJAK YANG TERLUPAKAN: Menyusuri Jejak Mr. Syafruddin Prawiranegara dalam Menjalankan PEMERINTAH DARURAT REPUBLIK INDONESIA (PDRI) pada Masa Agresi Militer Kedua Belanda di Sumatera Tengah

Genre: Catatan Perjalanan

Penerbit: JBS Yogyakarta

Penulis: Feni Efendi

Pemesanan: WA 0812-6772-7161 / HP 0823-8485-2758

 

Selendang Ibu Perdana Menteri

Judul Buku: SELENDANG IBU PERDANA MENTERI

Genre: buku puisi PDRI

Penerbit: JBS Yogyakarta

Penulis: Feni Efendi

Pemesanan: WA 0812-6772-7161 / HP 0823-8485-2758

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.