Wiweko Soepono, Bapak Two Man Cockpit Dunia Penerbangan

oleh -21 views
Wiweko Soepono, Bapak Two Man Cockpit Dunia Penerbangan
Wiweko Soepono, Bapak Two Man Cockpit Dunia Penerbangan
Wiweko Soepono, Bapak Two Man Cockpit Dunia Penerbangan
Wiweko Soepono, Bapak Two Man Cockpit Dunia Penerbangan

TRAVESIA.CO.ID – “Keluarkan kursi flight engineer dan mari kita berunding mengenai pembelian pesawat,”….
Wiweko Soepono bapak Two man cockpit. Awal jet berbadan lebar diproduksi, tiap kocpit pesawat harus berisi 3 kru yakni pilot, co pilot dan flight engineer.

Jarang yang tahu bahwa perubahan mendasar sampai saat ini dalam dunia penerbangan pesawat komersial berbadan lebar itu di cetuskan oleh orang Indonesia Oleh pak Wiweko Soepono.

Bulan September 1977, saat mengunjungi pabrik Airbus di Balgnac, Perancis, Wiweko diberi kesempatan menerbangkan A300.-001 Wiweko duduk di kursi kiri, sebagai captain pilot. Sedangkan di kursi kopilot adalah chief pilot Airbus, Pierre Baud. Di belakang, menghadap ke samping ada seorang flight engineer.

A300 yang diterbangkan Wiweko masih prototipe. Belum ada langit-langitnya, tidak ada kursi dan masih terlihat kabel-kabel serta kerangka pesawat. Wiweko melakukan beberapa kali pendaratan touch-and-go. Kemudian gantian Pierre Baud mendemonstrasikan touch-and-go dengan bantuan komputer. Tampaknya Wiweko terkesan dengan kemudahan menerbangkan pesawat tersebut, terutama karena ada bantuan komputer. Wiweko juga terkesan dengan kemudahan prosedur mematikan komputer setelah mendarat.

Pierre Baud pun bertanya, ”Komodor Wiweko, bagaimana pendapat anda mengenai A300?”

Wiweko justru balik bertanya, “Apa kerjanya orang yang duduk di belakang saya itu?”

“Dia adalah flight engineer,” jawab Pierre.

“Itu saya sudah tau, tapi apa kerjanya?” timpal Wiweko.

Akhirnya Roger Beteill, Executive Vice President and General Manager Airbus Industrie, pun ikut dalam perbincangan. Menurutya, flight engineer bisa saja tidak diperlukan karena kokpit serba otomatis. Namun kursi flight engineer adalah bentuk konsensi terhadap serikat buruh Eropa. Di samping itu, dunia penerbangan belum bisa menerima apabila pesawat berbadan besar hanya diawaki oleh dua pilot. Pesawat-pesawat besar buatan Boeing, Lockheed, dan Douglas pun memilikinya. Airbus terpaksa mengekor karena takut produknya tidak laku.

Hal yang mengejutkan, Wiweko meminta kursi flight engineer ditiadakan. “Keluarkan kursi flight engineer dan mari kita berunding mengenai pembelian pesawat,” ujarnya. Beteille terkejut, terlebih ketika kWiweko menyatakan akan membeli enam pesawat dengan tiga opsi tambahan.

Rupanya, Roger Beteille langsung menerima usulan Wiweko. Gayung bersambut. A300 versi two man cockpit pun dibuat. Lahirlah kemudian A300-B4 yang menerapkan konsep FFCC, Forward Facing Crew Cockpit. Garuda Indonesia Airways pun menjadi launch customer-nya. Two man cockpit di gunakan sampai saat ini di semua pesawat jet badan lebar.

Beny Rusmawan

 

Dapatkan 2 buah buku penelitian Feni Efendi tentang PEMERINTAH DARURAT REPUBLIK INDONESIA (PDRI):

Jejak yang Terlupakan

Judul Buku: JEJAK YANG TERLUPAKAN: Menyusuri Jejak Mr. Syafruddin Prawiranegara dalam Menjalankan PEMERINTAH DARURAT REPUBLIK INDONESIA (PDRI) pada Masa Agresi Militer Kedua Belanda di Sumatera Tengah

Genre: Catatan Perjalanan

Penerbit: JBS Yogyakarta

Penulis: Feni Efendi

Pemesanan: WA 0812-6772-7161 / HP 0823-8485-2758

 

Selendang Ibu Perdana Menteri

Judul Buku: SELENDANG IBU PERDANA MENTERI

Genre: buku puisi PDRI

Penerbit: JBS Yogyakarta

Penulis: Feni Efendi

Pemesanan: WA 0812-6772-7161 / HP 0823-8485-2758

Tentang Penulis: Feni Efendi

Gambar Gravatar
Feni Efendi lahir 20 Juli 1984 di Tiakar Kota Payakumbuh. Menamatkan pendidikannya di SD N 06 Balai Nan Tuo Tiakar Payakumbuh (1997), SLTP Negeri 5 Payakumbuh (2000), SMK Taman Siswa Payakumbuh jurusan Elektronika Komunikasi (2003). Ia menulis catatan perjalanan, sejarah, puisi dan juga sebagai blogger, copywriter dan youtuber. Buku puisinya berjudul SELENDANG IBU PERDANA MENTERI dan buku catatan perjalanan sejarahnya berjudul JEJAK YANG TERLUPAKAN: Menyusuri Jejak Mr. Syafruddin Prawiranegara dalam Menjalankan PEMERINTAH DARURAT REPUBLIK INDONESIA (PDRI) pada Masa Agresi Militer Kedua Belanda di Sumatera Tengah. Bukunya bisa dipesan melalui kontak WA 0812-6772-7161. Ia tinggal di Limapuluh Kota Sumatera Barat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.