Surat Tan Tereang ka Mamanda

No comment 15 views

Surat Tan Tereang ka Mamanda

Mamanda tersayang di rantau orang.

Bagaiman kabar mamanda sekeluarga di Jarkata? Semoga baik-baik saja hendaknya.

 

Mamanda…

Surat ini kemenakan tulis ketika hari bergulut senja. Hari hujan pula. Kilat dan petus menyambar. Ponakanda sendirian saj termenung di rumah. Pengana jau jadinya. Tidak di badan adanya. Iba memikirkan tiba nya bulan puasa. Maklumlah, mamanda tidak pulang sebelum bulan puasa seperti tegalitnya. Kalau mamanda pulang, kan bisa mintak pitih agak sedikti. Untuk pergi berlimau ke lubuk nilam bersama anak bini. Cukup untuk membeli kerupuk kuah saja tak masalah. Masalahnya, pitih sedang tidak ada. Kering benar sekarang.

Tapi semantangpun begitu, kalau mamanda tidak pulang, kirimkan jualah pitih agak sedikit.

Parak nan di bawah bukit itu, tandas dek kera. Kurang ajar benar kera-kera itu, mamanda. Indak telap diganda bagai kini do. Mengangak saja dia. Beli senapang nanpunya teropong itu hendaknya. Sebab senapang lansa punya mendiang datuk sudah rusak pula di jatuhkan si upik. Tapi pitis indak ada. Entahlah, pening kepala kemanakan sekarang.

Mamanda, hari raya, pulanglah mamanda. Celiklah tanah kita di bukit tu ha. Di nagari sebelah, orang-orang banyak membukak parak baru. Hari kepetang, kami pergi menceliknya. Cinan pula kami dek nya.

Ada yang bertanam limau manis, buah ular naga, dan lain-lain. Banyak yang ditanamnya. Ada pula yang berencana menanam kepundung masam dan rambai tahan empas.

Mungkin di kampung kita tidak sesuai tanaman itu. Katanya, tanah kita suainya untuk tebu di bibir atau tanam budi saja.Entahlah, kemenakanda ini juga tak tahu menahu tentang tanah-tanah itu.

Sawah kita tahun ini tidak ada mengambik hasilnya. Abis dek mencit saja. Sebenar mengganas mencit sekarang. Sawah nan sebelah sawah kita kenai pula. Tapi lai menyabit juga, dan dapat dua sumpit belang. Nan iba kita dek Abibah, kemenakan juga dek mamanda. Dikerat-keratnya batang padi tu dek ciput kalimbuai. Sejak kecil indak menggarit padinya.

Itulah, mamanda perasaian kami tahun ini. Kerambil nan di belakang rumah terpaksa ditebang untuk pembuat kandang kambing. Alhamdulillah sudah tiga beranak sekarang. Tiga bulan yang lalu kami beli kambing gadis. Ternyata sedang mengisi. Begitu lahir, kembar pula anaknya.

Selain itu, keadaan kampung aman-aman saja.

Tapi ada satu yang ampir lupa. Siap raya,di rumah saja lah mamanda lagi. Indak telap dek saya mengakap kerja mamanda sebagai tunggak panjang do. Kalau indak, suruh yang lain saja. Angkat tangan saya. Membenar sebelas dengan kepala.

Kalau benar mamanda sayang kampung,pulanglah. Bangun kampung kita. Jangan hebat di rantau saja, di kampung mamanda dipandang sebelah mata. Tau lah mamanda cemees orang kampung kita. Kalau tidak, mengecat lah mamanda dengan perantau-perantau kita nan telah sukses tu ha. Kampung kita sekarang kampung tertinggal. Indak malu. Jangan hanya pintar mengecat dan menepuk dada saja karena sudah besar dan kaya. Kalau sekedar mengecat atau nasehat, banyak anggota depeer yang hebat. Teringat pula ponakanda ini ada tulisan di pesbuk seorang anak “Tidak menerima nasehat, hanya menerima uang tunai”. Kata anak itu,dia tak dikasih belanja oleh apak dan amaknya, modal ntuk usaha juga tidak ada, mamaknya nasehat saja yang dikasihnya. Pedih hatinya,ditulis itu untuk mamaknya.Apa ingin mamanda seperti itu di hari tua.

Eh iya,mamanda. Si ros anak mamanda tu bagaimana kabarnya? Masih sekolah juga dia di luar negeri? Sudah berapa tu umurnya. Nanti jadi perawan tua pula.

Demikian saja lah dulu, mamanda. Ijuh sudah datang pula. Dia tadi pergi berelat ke sikumbang. Rumah sebelah lepau tu ha. Berhujan-hujan pula dia pulang.

 

Okto Muharman, budayawan yang tinggal di Batu Hampar, Limapuluh Kota.

Leave a reply "Surat Tan Tereang ka Mamanda"