Menjelajah Sungai Golok Thailand, Kota Pesta di Tengah Konflik

Menjelajah Sungai Golok, Kota Pesta di Tengah KonflikTRAVESIA.CO.ID – oleh Abadi Mansur – Sungai golok dalam dialek Malaysia atau Kolok dalam dialek Thailand, adalah nama dari sebuah sungai kecil yang memisahkan Malaysia dan Thailand di sisi timur semanjung Malaysia . Namun nama sungai kolok juga sekaligus menjadi nama kota perbatasan di sisi Thailand yang juga bagian dari provinsi Narathiwat .

Provinisi Narathiwat sendiri adalah satu dari 4 provinsi di selatan Thailand yang didominasi oleh muslim etnis Melayu setelah Pattani , Yala , dan satun.

Pada pertengahan Juli kemarin , saya berkesempatan mengunjungi kota perbatasan ini dalam rangka perjalanan menuju Universitas Chulangkorn Bangkok untuk menghadiri seminar psikologi lintas budaya karena tawaran akomodasi memakai pesawat yang di tawarkan oleh panitia saya ganti dengan perjalanan darat meskipun butuh 2 hari mencapai Bangkok. Maka saya memutuskan pergi seminggu sebelum acara disamping agar tidak terlambat sekaligus juga membuka peluang menjelajah Thailand selatan untuk ketiga kalinya .

Perjalanan menuju Thailand lewat jalur darat saya mulai dari kota Bahru, ibu kota negeri Kelantan yang dahulu terkenal dengan intrik putri manoharanya .

Tepat pukul 8 pagi , bis interlink city yang akan menuju ke perbatasan tiba di terminal induk kota Bahru harga tiket sebesar 10 rm perjalanannya sendiri memakan waktu 1 jam tepat pukul 10 bis sudah tiba di kota rantau panjang tepat di pos imigrasi Malaysia

Sama seperti karakter kota perbatasan lainnya di rantau panjang terdapat pusat bebas cukai , pusat pesta, berbagai pilihan motel disekitar pintu perbatasan , dan lalu-lalang pelintas batas dengan atau tanpa identitas disetiap waktu namun Tidak seperti pintu perbatasan Padang besar di wilayah Perlis , di kota rantau panjang sendiri tidak banyak wisatawan asing .

Menjelajah Sungai Golok, Kota Pesta di Tengah Konflik

Perbatasan dua wilayah hanya dipisahkan oleh sungai kecil golok yang kata penduduk setempat jika musim kemarau mengering artinya pelintas batas makin lebih mudah .

Pintu imigrasi kedua negara yang saling berhadapan di hubungkan dengan jembatan yang tutup pukul 9 malam dan buka pukul 10 pagi hanya pelintas batas yang menggunakan mobil saja dan yang memegang passport selain Malaysia atau Thailand yang menggunakan pintu perbatasan utama , selebihnya masyarakat bebas berlalu lalang menggunakan sampan.

Tepat pukul 11 , saya sudah melewati pos imigrasi Malaysia, saya berjalan melewati jembatan menuju sisi Thailand .

Sesampai di pos pemeriksaan , saya di haruskan mengisi Embarkasi card. Setelah mengisi kartu embarkasi , saya pun antri menunggu passport di cap.

Namun hal diluar dugaan terjadi ketika tiba giliran saya ,petugas tidak langsung mencap passport saya namun dia menyuruh saya ke dalam ruang intrograsi dia pun menyerahkan passport saya kembali lengkap dengan kartu embarkasi didalamnya dan memangil satu petugas berseragam tentara Thailand.

Petugas yang berseragam tentara itu pun mengambil kembali passport saya dan menggiring saya ke ruangan didalam komplek pemeriksaan , saya bertanya ada apa yang terjadi , dia hanya merespon ikut saja dulu. Sesampai di ruangan yang terletak di lantai dua komplek imigrasi Thailand , sudah ada lima turis yang menunggu untuk di intrograsi.

Menjelajah Sungai Golok, Kota Pesta di Tengah Konflik

Petugas berseragam tentara yang mengantar saya menyerahkan passport saya ke petugas di ruangan itu , sambil tersenyum petugas yang fasih berbahasa melayu itu menjelaskan saya harus melewati proses intrograsi demi keamanan , mengingat saya bukan dari Malaysia katanya.

Intrograsi oleh imigrasi Thailand untuk pertama kalinya saya alami meskipun suasana tidak menegangkan karena petugas yang mewawancarai saya sangat ramah namun cukup memakan waktu saya untuk mendapatkan tiket kereta dari stasiun sungai golok menuju hat yai yang hanya sekali dalam sehari.

Tidak sampai 1 jam intrograsi terhadap saya pun selesai ,namun petugas imigrasi Thailand masih menyuruh saya menunggu hingga 3 turis asing lainnya selesai di intrograsi, waktu pun terus terbuang dan harapan untuk dapat menuju hatyai hari itu pupus apalagi waktu menunjukkan pukul 2 ,sementara kereta menuju hatyai sudah bertolak pukul 1.

Protes yang saya sampaikan ke petugas imigrasi hanya di respon dengan himbauan agar menginap dahulu di kota sungai golok alhasil sehabis 3 jam menunggu , akhirnya saya di izinkan keluar dengan passport yang sudah dicap oleh petugas .

Alhasil hari itu pun saya harus menginap di kota sungai golok untuk Pertama kalinya.Karena jarak antara pos imigrasi dan pusat kota cukup jauh dan hari sudah sore , saya pun memakai jasa ojek hanya membayar sebesar 5 rm untuk diantarkan ke hotel di pusat kota pekan golok Ketika saya saya sampai ke pusat kota, saya melihat sebuah bangunan tinggi yang menghitam dan tampak hancur .

Sementara disisi lainnya ada Seorang penjaga militer yang sedang berdiri dengan senapan serbu di tangannya menjaga kompleks perbelanjaan tepat di sebrang bangunan yang hancur itu, didepan kami makin banyak check point dan cctv .

Tukang ojek yang mengantar saya , berkata jika telah terjadi bom beberapa hari lalu namun tidak sampai menimbulkan korban jiwa.

Memang sejak tahun 2004 pasca meletusnya perang gerilya menuntut kemerdekaan , darurat militer di berlakukan disini apalagi kota sungai golok sudah beberapa kali di guncang bom yang mengakibatkan banyak warga Malaysia dan thailand menjadi korban .Saya juga membaca sudah sejak tahun 2005, Sungai Kolok telah dihantam oleh beberapa pemboman yang konon dilakukan oleh separati Thailand Selatan. Biasanya Jalur kereta api antara Sungai Kolok dan Yala menjadi sasaran dan para penumpang seringkali terbunuh.

Setelah 10 menit berkendara , akhirnya saya tiba di hotel genting salah satu hotel terkenal di sungai kolok, kata tukang ojek yang mengantar saya hotel ini menyediakan layanan sex wanita Laos dan Vietnam namun saya tegas ke dia jika saya ke sini bukan untuk prospitusi namun perkataan tukang ojek ternyata benar saat saya check in seorang petugas hotel menawari saya apakah hendak memakai jasa pijat wanita Thailand , Laos , atau Vietnam dengan kisaran harga 1000 bath untuk pijat dan 2000 bath untuk plusnya .

Dengan tegas Saya menjawab tidak karena tujuan saya bukan prospitusi, Memang sungai kolok terkenal sebagai kota prospitusi dan pesta sama seperti saadao kota perbatasan lainnya di sisi Thailand dengan Malaysia , bahkan julukan Khao Sam road dari selatan tersemat di dua kota ini namun menarik bagi saya untuk kolok , kota ini menjadi kota pesta di tengah masyarakat Islam yang sangat konservatif dan ekskalasi konflik yang selalu muncul

Dari penuturan petugas hotel yang menawari saya , peminat pesta di sungai kolok kebanyakan datang dari Kelantan dikarenakan di Kelantan di perlakukan hukum yang sangat ketat sehingga mereka menjadikan sungai kolok sebagai pelampiasan.

Menjelajah Sungai Golok, Kota Pesta di Tengah Konflik

Tak lama setelah berbincang dengan petugas hotel di lobby , saya pun ke kamar untuk mandi dan mempersiapkan diri untuk menjelajah kota ini apalagi semakin malam justru semakin ramai warga Malaysia dari Kelantan berdatangan .

Saya pun berkeliling pasar di sekitar bangunan yang tadi kena bom , tak jauh dari lokasi pengeboman banyak sekali warung makanan tradisional Thailand dan Melayu harganya sangat murah antara 10 hingga 20 rm , yang khas dari Thailand untuk makanan adalah hidangan ekstrimnya dari berbagai jenis serangga seperti kalejengking , lipan , laba laba tarantula ,dan belatung.

Lalu tidak lupa saya mampir ke toko yang menjual baju bola klub klub lokal Thailand dan Malaysia , harga untuk baju bola hanya berkisar 10-15 rm lebih murah 20 rm dari harga di Kelantan yang biasanya mencapai 35 hingga 40 rm.

Ketika Jam menunjukkan semakin larut justru kota yang berada di area konflik ini makin ramai dan tidak terlihat mencekam , di pinggir – pinggir jalan berdiri wanita penghibur yang kata orang sekitar berasal dari Laos dan Vietnam sesekali mereka melempar rayuan ke para pria yang melintas didepan mereka .

Saya pun sempat di tawarin berkencan short time dengan salah saru wanita asal Laos ” 200 rm for short ” kata wanita itu. Makin malam suasana makin panas di kedai – kedai mereka Berbagai jenis minuman keras juga terpajang dari yang low class sampai high class .

Musik khas dunia malam pun terdengar bergemuruh dari masing masing kafe melarutkan orang – orang dalam kebahagiaan ditengah konflik yang kapan saja bisa meletus. Sementara di beberapa check point, militer Thailand tetap berjaga dan sesekali juga mereka berpatroli di tengah hiruk pikuk keramaian sambil membawa senjata serbu. Suasananya semakin malam semakin sama dengan jalan pesta di Bangkok yang bernama Khao sam road. Perjalanan malam saya saat menginap satu malam di sungai kolok itu pun berakhir di pukul 2 malam.

 

Abadi Mansur, penggerakan gerakan literasi WFL yang berbasis di Singapura.

Leave a reply "Menjelajah Sungai Golok Thailand, Kota Pesta di Tengah Konflik"