Sajak-sajak Muhammad Badrun

oleh -15 views
Muhammad Badrun

Muhammad Badrun

Hujan Turun Sangat Deras

 

Setiap butir air yang tumpah, turun ke dasar rumput tanah.

Semakin deras panjat doamu, sesaat lahir janji alastu.

 

(Darmakradenan, 2019)

 

Jam Malam

 

Awan mengapung dalam gelap, dalam kelam.

Burung hantu bertengger di pohon angsana, di bawah malam.

 

Daun jatuh beberapa helai dari tangkai ringkih, seringkih permintaan pada tangan tuhan.

 

Beberapa burung lain memilih kembali ke sarang dan menutup malam dengan pintu hangat.

 

Beberapa manusia, menanyakan hari ini; adakah takdir yang belum lunas dibayar?

 

(Darmakradenan, 2019)

 

Laulaka

  • Ya Muhammad

 

adam bermahar engkau kepada hawa, sebelum abdullah meminang aminah anak perempuan sayyid wahab.

 

api tak hendak menyala

air tak jadi menetes, mengalir

tanah menggeming

udara lengang dalam bayang

 

dan asal mula suatu kejadian, diturunkan!

 

rindu didendangkan, disenandungkan.

 

jikalau engkau tak ada, apakah kita duduk berdamping selaksa jari telunjuk dan jari tengah meski kami bukan penyantun yatim juga piatu?

 

(Darmakradenan, 2019)

 

 

Jalan Kaki

 

Tempat menemukan tubuh manusia; saat ia

Berjalan dari utara ke selatan, dari timur ke

Barat. Jalan pemilik hakikat, ialah menerjang

Malam sampai pagi dengan keterjagaan hati

Dan mata.

 

Beriringan saat kaki melangkah, hendaklah Menilik

Kaki dan tangan kosong yang pasrah. Kita

Bertemu dan berpisah, tatkala gelap dan cahaya

Datang sebagai rentang.

 

Kita maklum:

Maklumat telah terdentum

Hidup semudah menyusur di bawah tarian

Awan, sebelum mendung mengurung diri di rumah.

 

(Darmakradenan, 2019)

 

Selimut

 

Jam berdenting nyaring; pertanda semua mata terpejam, terlelap.

Ritmis hujan, selalu dinantikan saat malam tengah di kesunyian.

Angin mendesau dari lubuk rimbun pepohonan, memberi isyarat; petir segera menggelegar.

 

Anakku menghisap ibu jarinya, sementara ibunya mendekap malam erat-erat.

 

Aku menjelma malam, dan anakku berselimut hangat. Istriku menjelma musik klasik, sementara anakku tidur amat lelap, saat dentingĀ  jam sangat nyaring.

 

Sungguh, malam adalah selimut semadi, menundukkan diri sebagai tanah yang hangat tanpa muslihat.

 

(Darmakradenan, 2019)

 

Surat Kembali

 

Kita sebuah surat melawati ribuan kali perjalanan; melawan terik, menepis dingin, menyembunyikan kekhawatiran, menutup rasa takut: dalam-dalam.

 

Kita dikirim berisi berbagai alamat, tinggal di mana kita jatuh ke tangan siapa, atau jatuh di sebelum ekspedisi sampai di depan pintu rumah.

 

Atau kita bahkan menumpuk di bagian terbawah, hingga telah enggan tangan meraba.

 

Kita ditakdirkan jadi selembar surat yang berisi cerita perjalanan: segala kisah dituangkan, diutarakan, namun tak jarang pula isi dari pesan tak tersuratkan.

 

(Darmakradenan, 2019)

 

Suatu Kaum

 

Para saudagar melancong ke bilik kami, menemui kaum-kaum yang menanak jagung, menanam ubi sampai tegalan pinggir kali. Para tuan dan puan, bermunculan dari parsi, dari arabia, dan dari gujarat. Berkunjung ke negeri di mana banyak pasar terapung.

 

Setiap pagi, sesaji kami persembahkan untuk ikan dan anak-anaknya, untuk laut dan isi rahimnya, dan bagi gunung beserta inti jantungnya.

 

Setiap petang menjelang malam, kami tutup pintu rapat-rapat karena akan ada banyak roh-roh dan arwah berhambur di luar rumah.

 

Kami terlalu takut pada malam hari.

 

Kini, kanjeng sunan telah sampai di lubuk jantung-hati kami, sendiko-dawuh pada pitutur halus dan lembut akal budi.

 

Kami patuh kepada Hyang untuk Sembahyang.

Kami tunduk ritual Sekaten dengan Syahadatain.

Saling tawar di mula perdagangan, kami bukan barang tawanan.

 

(Darmakradenan, 2019)

 

Pagi Hujan

 

Angin berkirim pesan ke langit, langit terberi tanpa sesaji.

 

Di sepanjang bulan ini, kita basuh lima kali sehari. Lebih dari itu, kita asuh dingin pagi di setiap kayuh roda terperi.

 

(Darmakradenan, 2019)

 

 

Pada Warna

 

Angin mengarak hawa dingin, ke sudut ketiakku

saat duduk di serambi rumah berkayu lapuk,

sudah sejak lama jemari dan tangan ini lemas

mengisi waktu. Menulis tanpa berkirim pesan, tanpa menyapa di sela udara.

 

Dirimu berjalan di tepi sawah, membawa rantan bagi tukang di sawah hampir gersang. Hingga pematang seperti ular bersisik menjulur panjang.

 

Kutangkap warna di tiap-tiap sudut ruang angkasa, kujadikan tanah sebagai tubuh yang tumbuh subur, menyalang di atas kepayang.

 

Kau bersolek di depan cermin, bergincu di batas bibir.

 

Kubercerita di kertas putih; tentang gelap rambutmu, tentang alis tebalmu, tentang jelita matamu, tentang kesunyian yang sering lindap di lubuk jantungmu. Dan aku menggulungmu hingga kita menjadi pelangi

 

(Darmakradenan, 2019)

 

Ruang Periksa

 

Tubuhku ada di belakang dan depan. Aku melihat hilir mudik manusia menyimpan asap gelap di dadanya. Kepala mereka berisikan air laut yang luas dan ikan berkecipak menyelam ke kedalaman. Dalam satu jam, banyak tangan memasukiku; entah hendak merapihkan atau memporandakan. Aku tak begitu mengerti.

 

Panggilan nomor 14, antrian amat begitu lekas dan dan mengular menjerat seluruh ruang. Semua gelap, berakar-belukar, daun-daun berwarna hitam dan biru tumbuh menjalar ke ranum mataku.

 

Seorang tampak mengirimkan pesan di pengeras suara: “Panggilan nomor empat belas sila masuk ke ruang anamnesa.” Ular dan harimau datang menghadangku dari depan dan belakang. Mati aku!

 

Tubuhku ada di belakang dan depan, pelbagai kisah dan peristiwa datang seperti daun beringin jatuh sekali hantam.

 

(Margono, 2019)

 

 

Muhammad Badrun, lahir dan bermukim di Darmakradenan, Banyumas – Jawa Tengah. Gemar membaca dan menulis puisi. Beberapa puisinya dipublikasikan di media massa, seperti: Media Indonesia, Utusan Malaysia, Pikiran Rakyat, Kedaulatan Rakyat, Suara Merdeka, Pos Bali, Medan Bisnis, Minggu Pagi, Wawasan, Satelit Post, dll. Beberapa puisinya juga masuk dalam Zine Puisi di Indonesian Literary Collective (ILiC) Festival Frankfurt Book Fair, Berlin tahun 2015. Meraih juara 1 Lomba Penulisan Puisi di Festival Sastra Islam Nasional (FSIN) di Makassar tahun 2015. Juara 2 lomba Cipta Puisi Nasional Sabana Pustaka tahun 2016. Beberapa puisinya masuk dalam antologi Rodin Memahat Le Penseur (2014), Cahaya Tarbiyah (2014), Kampus Hijau (2016), Creative Writing (2016), Negeri Awan (2016), dll.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.