Cinta dan Puisi yang Tak Pernah Selesai Kita Tulis

oleh -14 views
Cinta dan Puisi yang Tak Pernah Selesai Kita Tulis

 

Oleh Yanwi Mudrikah

 

“Tumbuhkan cinta dimana pun engkau berada dan menyala-lah manfaatnya” (Yanwi Mudrikah).

 

Seperti ungkapan Mahatma Gandhi yang tertuang dari berbagai sumber, bahwa “apabila kamu mempunyai kebenaran , hal itu harus ditambah dengan cinta. Sebab, jika tidak maka sebuah pesan dan pembawanya akan ditolak. Cinta tidak pernah meminta. Sebaliknya, ia senantiasa memberi. Cinta memang terkadang membawa penderitaan, tetapi tidak pernah mendendam ataupun membalas dendam. Dimana ada cinta maka di situ ada kehidupan. Namun, di mana ada kebencian, maka di situ ada kehancuran.”

Puisi, ditulis dengan cinta dan senantiasa dijaga oleh semesta. Barangkali kita tak pernah menyadari bahwa apa-apa yang datang merupakan anugerah dari Yang Maha Cinta. Pernah berfikir demikian? Maka, kita bisa saksikan cinta orangtua kepada anak-anaknya; cinta sepasang kekasih yang diikat oleh janji suci dalam pernikahan; dan cinta pemimpin kepada umatnya. Betapa tidak? ketika setiap hal dilandasi cinta dan ketulusan maka apapun bisa terwujud. Serta berefek besar, bagi orang-orang di sekitar.

Secara psikologis, orang-orang yang berhati tulus dan dilandasi rasa cinta yang luarbiasa mereka akan melakukan apa saja tanpa mengharap imbalan. Benarkah? Ketulusan akan terpancar dengan sendirinya di tiap sudut jiwa-raga. Auranya tampak. Dan orang-orang seperti itu jumlahnya terbatas.

 

Bagaimana dengan Kebenaran?

Dimana-mana menyuarakan kebenaran? Bahkan menjual agama dalam rangka kepentingan pribadinya. Duh, ngeri! Anda mungkin pernah melihat ada orang yang amat fasih berbicara tentang kebenaran, namun tidak memiliki rasa cinta di hatinya. Apa yang terjadi kemudian? Kebenaran yang mereka sampaikan tiba-tiba berubah dalam sekejap menjadi sesuatu yang menakutkan. Akibatnya apa? Banyak orang yang menghindar atau malah membencinya. Benar tidak?

Kita dapat membaca lingkungan sekitar. Beberapa orang atau sebuah kelompok tertentu mengaku sebagai penegak kebenaran. Namun, dalam setiap upaya menegakkan apa yang disebut kebenaran, mereka melupakan cinta serta mengabaikan cara-cara yang penuh kelembutan. Maka itu, bagaimana mungkin orang akan melihat kebenaran? Mereka justru dirasuki oleh ketakutan, kebencian, perasaan yang was-was dan seterusnya.

Cinta dan kebenaran seperti tukang pembawa amanat dan amanat (pesan) itu sendiri. Tatkala si pembawa pesan itu tidak berlaku sopan, mengabaikan kelembutan, serta bersikap jauh dari sopan santun kepada penerima pesan itu, maka pesan yang disampaikan pasti akan ditolak. Bahkan, lebih dari itu, ia sendiri pasti akan diusir.

 

 

Yanwi Mudrikah, lahir di Banyumas, 12 agustus. Karya-karyanya dipublikasikan di berbagai media cetak lokal dan nasional. Serta dipublikasikan di berbagai media online. Saat ini mengelola Komunitas Sastra Gubug Kecil Indonesia. Aktif menulis sastra sejak tahun 2010, saat masih duduk di bangku kuliah. Karya-karyanya terpublikasikan di Suara Pembaruan (Jakarta), Minggu Pagi (Yogyakarta), Koran Merapi (Yogyakarta), Satelitpost (Purwokerto), Radar Banyumas (Purwokerto), Pikiran Rakyat (Bandung), Flores Sastra (Flores), Suara Merdeka (Semarang), Solo Pos (Solo), Jurnal Sajak (Jakarta), Indopos (Jakarta), Majalah Mayara (Surabaya), Harian Tangsel (Jakarta), Banjarmasinpost (Banjarmasin), Harian Waktu (Bandung), Majalah Embun (Surakarta), Riaupos (Riau), NusantaraNews.co, www.litera.co.id, SastraPurnama.com, Harakatuna.com, Radar Bojonegoro (Jawa Timur), http://poetryprairie.com/2018/12/12/kembali-ke-rumah-cahaya/, Kompasiana.com, Detik.com, www.haripuisi.info, https://normantis.com/2018/09/17/seorang laki-laki-dan-masalalu-puisi-yanwimudrikah/, Majalah Ancas (Banyumas, Jawa Tengah) dan Media Indonesia (Jakarta).

Karya puisinya juga terdokumentasi dalam Antologi Puisi Hari Puisi Indonesia 2016 216 Penyair Indonesia (Yayasan Hari Puisi Indonesia, Yayasan Sagang 2016); Antologi Di Bawah Sadar Di Atas Sadar (Forum BKI, 2013); Antologi Cahaya Tarbiyah (Forum Mahasiswa Tarbiyah, 2013); Creative Writing (STAIN Press, 2013); Kampus Hijau (STAIN Press, 2015); Pilar Puisi 2 (STAIN Press, 2015); Pilar Puisi 3 (Sekolah Sastra Peradaban, 2016); Rumah Penyair 3 (Kepompong Press, 2016); Seberkas Cinta Antologi Puisi 89 Penyair Indonesia (Digna Pustaka, 2016); Antologi Puisi Membaca Kartini Memaknai Emansipasi dan Kesetaraan Gender (Komunitas Joebawi, 2016); dan Beberapa sajaknya lolos dalam Indonesian Literary Collective (ILIC, Jerman 2014); Senyuman Lembah Ijen Antologi Puisi Nusantara (TareSi Publisher, 2018);  Perempuan Memandang Dunia Kumpulan Puisi Perempuan Penyair Nusantara (Tema Litera, 2018); Antologi Puisi Bengkel Sastra Taman Maluku Menjemput Rindu Di Taman Maluku (Bengkel Sastra Taman Maluku Semarang, 2018); A Skyful of Rain Antologi Puisi Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival 2018 (Tahura Media, 2018).  Beberapa puisinya lolos di Jerman dalam Indonesian Literary Collective (ILIC, Jerman 2014). Dan buku puisi pertamanya Rahim Embun (2013); buku puisi keduanya Menjadi Tulang Rusukmu (2016);dan buku puisi ketiganya Menjadi Ibu (2019).

Saat ini berprofesi sebagai dosen terbang (pengajar tamu) di perguruan tinggi Jawa Tengah. Selain itu, dia mengasuh dan menggerakkan Komunitas Sastra Gubug Kecil Indonesia, di Ajibarang-Banyumas (Jawa Tengah). E-mail : [email protected].

Tentang Penulis: Feni Efendi

Gambar Gravatar
Feni Efendi lahir 20 Juli 1984 di Tiakar Kota Payakumbuh. Menamatkan pendidikannya di SD N 06 Balai Nan Tuo Tiakar Payakumbuh (1997), SLTP Negeri 5 Payakumbuh (2000), SMK Taman Siswa Payakumbuh jurusan Elektronika Komunikasi (2003). Ia menulis catatan perjalanan, sejarah, puisi dan juga sebagai blogger, copywriter dan youtuber. Buku puisinya berjudul SELENDANG IBU PERDANA MENTERI dan buku catatan perjalanan sejarahnya berjudul JEJAK YANG TERLUPAKAN: Menyusuri Jejak Mr. Syafruddin Prawiranegara dalam Menjalankan PEMERINTAH DARURAT REPUBLIK INDONESIA (PDRI) pada Masa Agresi Militer Kedua Belanda di Sumatera Tengah. Bukunya bisa dipesan melalui kontak WA 0812-6772-7161. Ia tinggal di Limapuluh Kota Sumatera Barat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.