Sajak-sajak Dilla Hardina

oleh -3 views
Hardina

 

Tentang Hujan

 

Entah mengapa hujan selalu punya makna

Pada masing-masing hati manusia

Hujan memberi arti

Pada tiap-tiap insan yang membuka naluri

Ia membasahi daun-daun pepohonan yang nyaris sunyi

Namun tak jarang ia juga membasahi pipi

Mungkin hujan pernah menghangatkan denyut nadi

Debar-debar halus menyeruak pun mengikuti

Kepada angkasa aku tahu diri

Hujan tak selamanya abadi

Kudekap erat bayang yang menghantui

Sebab kusadar sosoknya kapanpun bisa pergi

Waktu adalah waktu

Tak bisa kumemaksamu untuk terus bersamaku

 

Kediri, 15 Desember 2017

 

Jeda Sebelum Cahaya Terang

 

Hampa menggigil hatiku

Mengundang simfoni rindu yang kian menggerutu

Sungguh aku tak ingin diperbudak sepi

atau rindu yang tak punya nyali untuk berbagi

Bergumamlah

Mungkin saja bait dan doa kita dapat terjalin

Memukau semesta yang dulu pernah kita pijak bersama

Sehingga kehampaan yang buatku terpenjara

dan terhimpit

Dapat enyah sebab kalimat magis yang kita lukis

Beberapa pertanyaan kini menggantung di udara

Mungkinkah kau rasa yang sama?

Dapatkah kau dengar suara berdentang menyedihkan?

Itu berasal dari hatiku

–Jeda sebelum cahaya terang

 

Kediri, 8 Juni 2018

 

Lupa Jalan Kembali

(dalam Antologi Puisi “Loppah” by Penerbit Pustaka Tunggal)

 

Mendung jelmaan rasaku

Sebab aku terlalu sendu mengingat masalalu

Terlebih tentangmu, aku terlalu merindu

Biarkan doa-doa yang melangit jadi saksi bisu

Perihal kau yang telah memilih lupa

Lalu hilang dan pergi begitu saja

Tidakkah kau ingat saat kita berjalan bersama dan merakit asa?

Tentang kejutan-kejutan kecil yang membahagiakan

Tentang setiap tempat yang menyimpan aroma kenangan

Aku masih disini, bersama kumpulan memori yang setia menemani

Tidak sepertimu, yang memilih pergi dan lupa jalan kembali

 

Kediri, 19 Juni 2018

 

Sungai Dalam Hatimu

(dalam Antologi Puisi “jalinan janji” by Penerbit Mandala Pratama)

 

Anak sungai yang mengalir dalam hatimu

masih belum mampu melenyapkan dahaga rindu yang menggebu

Meski cinta tumbuh subur pada permukaan hati

Kau masih perlu sungai yang luas

tuk hilangkan sepi yang buat dehidrasi hati

Jika kau mau membuka pintu hati

Ada aku yang telah berjaga lama

Berharap kau mempersilahkanku masuk

lalu tinggal untuk selamanya

Dan aku akan berjanji pada Tuhan serta seisi alam

tuk bahagiakanmu bagaimanapun caranya

 

Kediri, 19 Juni 2018

 

Sensasi Rindu dalam Sanubariku

(Dalam Antologi Puisi “Sebuah Rasa” By Azizah Publishing)

 

Di keheningan malam

pada dentang waktu yang berjalan perlahan

kunikmati sisa terjagaku untuk mengingatmu

Di tengah situasi lelahku

Alam bawah sadarku memaksa untuk terlelap

Namun di pikiranku, kau terus berlarian

Berkejaran melawan sang waktu

Kau punya kuasa atas segala ruang pikirku

Kau mampu mencipta warna dalam pandangku

Kau hadirkan pelangi yang hiasi sepi di hati

Kau singkirkan durja yang menggerogoti naluri

Kau pelukku dengan senyummu,

hinggapkanku pada rasa penuh sensasi rindu

Berkatmu, rasaku kembali utuh

Darimu, cinta akan terus tumbuh

 

Kediri, 19 Mei 2019

 

Dilla Hardina Agustiani. Lahir di Kediri pada tanggal 22 Agustus. Seorang perempuan melankolis yang suka kopi dan puisi. Belakangan ini sering merindukan hujan yang tidak pernah datang. Kamu bisa menghubungi Dilla melalui ig @hardina08 dan Fb Dilla Hardina.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.