Sajak-sajak Muhammad Badrun

oleh -19 views
badrun

badrun

Kalimat-kalimat Sandi

~ Tragedi Terowongan Mina

 

Air mataku terpaksa tumpah dan membasah di tubuh-tubuh yang lelah memamah harap. Tuhan mengizinkan matamu juga mataku menjadi kamera yang bisa merekam dan membawa takdir masing-masing di pundak.

 

Puluhan tahun lalu aku berdiskusi dengan matahari, ia mengajakku membakar diri dalam fana.

Belasan tahun yang lampau kuberdialog dengan angin, ia menyeretku ke ruang sunyi yang gigil malam purnama.

 

Kali ini, bukan aku dulu yang mengajak sesiapa.

Tuhan mengajakku bercengkrama; mencari dan menemukan sandi-sandi yang terpancang di lembah zaman, dan menakwilkan perihal kalimat-kalimat yang sulit diterjemahkan.

 

Darmakradenan, 2015

 

Semut dalam Lubang

 

kita belajar dari seekor semut

yang menarik nafas dalam pengap malam

sebagai bagian samadi yang terpuji.

yang tabah menapak jalan terjal dalam terik di siangsiang hari; tetap saja wajahnya tampak menyulam harap meski berkali-kali terkoyak kepayahan.

 

sesampai di rumah mungil dan gigil, setelah ia mencari sesuap rezeki, sepasang mata kekasih menyambutnya tawarkan senyum di depan daun pintu, dan membisikkan kata-kata: sayang, istirahlah di ranjang waktu, agar esok hari kita menatap masa depan tak pernah lelah dibayang pasrah.

 

kita kembali menatap wajah semut yang puisi, dia beri kami nasihat:

“mari, kita menatap pagi dari dalam lubang rumah kuberkumpul keluarga, pastilah ada rasa damba susuri semesta dari pijakan paling patung dan buta.”

 

Elnoer, September 2015

 

Gelak Tawa

 

Seberapa banyak

Yang telah kau

Tertawakan

Hingga hatimu tertutup

Juga keras

Dari nasihat-nasihat?

 

Karangsuci – Darmakradenan, 2015

 

Monolog Batu

 

“tuhan, aku diciptakan dari apa, sehingga aku keras dan hitam legam tak terlihat di gelap malam?”

“tuhan, apakah kau akan diam saja saat diriku remuk dihantam tetes tetes air dalam gua membatu?” keluh batu.

 

belum sempat ada jawaban apapun,

ia menangis dan putus asa.

jadilah ia batu yang membatu.

 

Darmakradenan, 2015

 

Sajak Sedikit dari Tuhan

 

Aku bikin sajak ini

sedikit sekali:

biarkanlah pengobral sumpah

memakan hikmah

dari hemat suara

dan kata-kata!

 

Darmakradenan, 2015

 

Air di Bak Mandi

 

tes.. tes.. tes..

tetes air dari kran ke bak mandi

mengheningkan semesta

semua gigil jadi padu

dan mata semesta termenung, tercenung.

dan bergumam:

“Kemanakah akhir tetesan itu bermuara, kalau tidak ke hati para perasa?”

 

Karangsuci, 2015

 

Tubuh

 

tubuh ini tak punya ruh

selain dzat yang kau tiup lalu kau semai

lewat setubuhan air dengan air

karenanya, aku adalah air

sewaktu-waktu bisa jadi uap

yang hilang terhempas panas.

 

Darmakradenan, 2015

 

Aku, Hujan, dan Angin

 

pada permulaannya aku mendoa di balik satir hijau saat gelapgelap malam, mengharap kau; hujan segera bertandang. segala aksara tertuliskan dalam batok kepala, dan menyuarakan dengan seikat doa paling khusyuk, paling syahdu. malam makin larut saja, hujan bertengger di bibir langit dan menerawang bulan bagaimana rupa tubuhnya. hujan terbelalak, “ternyata ia masih melengkung; menyapaku dengan sejuta senyum.” lantas hujan berbisik pada angin: “aku hendak turun. sekarang, aku ingin kau berembus ke tanah gersang, sebagai awal pertanda aku hadir.” angin menjawab gusar, “tak semudah itu aku kau perintah, sebab aku hanya diperintahkan untukmu, bila manusia sudah lelah meremah doa dan payah memamah rasa.”

: aku pun diam, memanjatkan sepilihan doa.

 

Darmakradenan, 2015

 

Lupa

 

Aku tak ingat lagi

Berapa banyak yang telah kau beri

Tapi bantulah aku

Menghitung jumlah lupa

Agar aku berterima kasih.

 

Karangsuci, 2015

 

Badai Pasir

 

Badai pasir di Timur Tengah

Menenggelamkan rumah

Dan segepok saku rupiah

 

Firman tuhan terjamah

Akal menolak bedebah

Maka tubuhmu karam ke dalam sejarah

 

Karangsuci, 2015

 

 

Kalam

 

Supaya mulutmu tak kering

bacalah bukuku sepanjang masa

hingga membusa.

 

Lihatlah akhir nanti;

kau akan bijak bermain aksara!

 

Karangsuci, 2015

 

 

Tipologi Lelaki

: Adam

 

aku diciptakan untuk mengenal nama-nama benda termasuk dirimu dan menggenapkan wajahmu dari sulbi; jadi pendamping di malam-malam sunyi.

 

kau ada dari tulang rusuk, yang mengempis di dadaku.

karenanya, usah lagi rajin bertanya:

untuk apa aku kau jadikan bunga di rerimbun tanaman surga?

 

jawabku singkat saja:

karena kita hendak masuk dalam mimpi yang nyata dan fana.

 

Purwokerto, 2015

 

Muhammad Badrun, lahir di desa Darmakradenan, Ajibarang, Banyumas, 04 Juni 1994, bertempat tinggal di Pondok Pesantren Al Hidayah, Karangsuci, Purwokerto – Jawa Tengah, 53126. Mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, IAIN Purwokerto. Bergiat di komunitas sastra Gubug Kecil, puisinya dimuat di beberapa media massa seperti: Pikiran Rakyat, Minggu Pagi, Pos Bali, Buletin Jejak, Koran Sastra Mata Banua dan beberapa puisinya terhimpun dalam antologi bersama Cahaya Tarbiyah (STAIN-Press, 2013), Kampus Hijau (IAIN-Press, 2015), Ode Kampung Halaman (FAM Publishing, 2015), Nominator 50 Besar Lomba Cipta Puisi Mahasiswa tingkat nasional UKM KIAS, Universitas PGRI Semarang, tahun 2014. Lima puisinya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris serta dipublikasikan di Zine puisi: Indonesian Literary Collective (ILiC) Festival Frankfurt Book Fair tahun 2015 di Berlin – Jerman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.