Ahmad Fasni, Penggiat Literasi Mensosialisasikan Program KB

oleh -13 views
Ahmad Fasni

TRAVESIA.CO.ID – Namanya adalah Ahmad Fasni, akrab dipanggil Fasni, dia lahir di Kota Padang, 02 Juni 1983. Lebih tepatnya di pinggir Kota Padang, yaitu Batu Busuk Kelurahan Lambung Bukit Kecamatan Pauh, berbatasan langsung dengan gugusan Bukit Barisan. Dia adalah anak ketiga dari lima bersaudara. Diantara kelima bersaudara tersebut hanya dia yang mengecap pendidikan hingga perguruan tinggi. Sementara saudaranya yang lain hanya sampai Sekolah Menengah saja.

Perjalanan hidup masa kecilnya cukup pahit, usia kanak-kanak yang seharusnya dilalui dengan ceria, gembira bersama kedua orangtua ternyata tak bisa dinikmatinya. Memasuki usia 3 tahun dia harus kehilangan figur Bapak, karena dipanggil oleh Yang Kuasa untuk selamanya. Setelah itu bersama keempat saudaranya dia hidup dengan ibunya yang bekerja sebagai buruh tani. Pada masa itu keluarga nya merasa benar-benar sedang berada pada titik terpahit.

Setelah dia bersama keempat saudara lainnya memasuki dunia pendidikan, beban ekonomi keluarga mereka semakin berat. Akhirnya kakak sulungnya memutuskan untuk tidak melanjutkan lagi pendidikan, saat berada di kelas dua SMP. Sebagai anak sulung, kakaknya merasa bertanggung jawab membantu ibunya mencari nafkah dan mencukupi keperluan sekolah adik-adiknya.

Akan tetapi keadaan tidak juga berubah, akhirnya saat menginjak kelas tiga Sekolah Dasar (SD) dia harus menentukan pilihan yang sangat berat dalam usianya saat itu. Pilihannya adalah dia harus berhenti sekolah karena faktor ekonomi atau harus berpisah dengan keluarganya lalu tinggal di Panti Asuhan agar tetap bisa sekolah.
Akhirnya dia memutuskan untuk berpisah dengan keluarga dan memilih tinggal di Panti Asuhan. Singkat cerita, waktu 15 tahun dilaluinya hidup di Panti Asuhan, mulai sebagai anak asuh hingga akhirnya dia yang menjadi Pembina di Panti Asuhan tersebut.

Di akhir Tahun 2008 atau dua bulan setelah wisuda, alumni Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam IAIN Imam Bonjol Padang (sekarang UIN) ini mencoba peruntungan ikut seleksi CPNS pada formasi Penyuluh KB di Kota Pariaman. Ternyata takdir Tuhan sama dengan harapannya, dari ratusan peserta ujian ternyata dia salah satu diantara dua orang yang dinyatakan lulus.

Dalam menjalankan tugas sebagai Penyuluh KB, bapak dua anak ini cukup berprestasi. Beberapa kali dia dinobatkan sebagai Penyuluh KB berprestasi tingkat Kota Pariaman dan di tahun 2014 lalu dia berhasil meraih prestasi sebagai Penyuluh KB terbaik Tingkat Provinsi Sumatera Barat. Belum cukup sampai disitu, pada tahun 2018 dia terpilih sebagai Pengelola Pusat Pelayanan Keluarga Sejahtera (PPKS) terbaik Tingkat Provinsi Sumatera Barat.

Sejak tahun 2018 dia mulai mengembangkan ide penyuluhan dan promosi Program Kependudukan Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga (KKBPK) melalui media massa. Dia mulai mencoba menulis artikel lalu dikirimkannya ke redaksi media massa. Ternyata saat itu gayung belum bersambut, beberapa kali tulisannya ditolak. Akan tetapi pengalaman dalam menjalani pahitnya kehidupan masa lalu telah membentuknya menjadi pribadi yang tidak mudah patah arang. Baginya kegagalan merupakan kesempatan untuk berbuat lebih baik lagi, hingga akhirnya pada tanggal 27 Juni 2018 untuk pertama kali artikelnya dengan judul Memilih Pemimpin yang Peduli Kependudukan dimuat harian Singgalang.

Di sela-sela waktu istirahat, hari libur atau saat ada momentum yang terkait dengan Program KKBPK dia selalu menyempatkan untuk menulis artikel. Hingga saat ini sudah belasan artikelnya dimuat di Koran daerah khususnya Harian Singgalang dan Padang Ekspres. Semua artikel tersebut tidak terlepas dari tema Program Kependudukan Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga (KKBPK).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.