Cerpen Denni Meilizon

oleh -23 views
Cerpen Denni Meilizon
source image: @kompas.com

Bip, Biip!

“SELAMAT MALAM, Sayangku. Maaf ya. Tak apalah. Masih sempat juga engkau ke toko buku ya? Hebat. Bagus. Jangan di rumah terus, Sayang. Ya. Aku pulang besok sore, Sayang. Jemput aku ya. Seperti biasa. Iya, iya. Nggak kok. Capek tapi senang. Makin rindu sama kamu, Sayang. Baiklah, selamat tidur. Kecup… Cup.”
Biip. Bip!

*
Dan malam belumlah sunyi benar. Pendingin ruangan sudah pada titik sejuk paling maksimal, 17oC. Tetapi tubuh tetap gelisah berkeringat. Ini gelisah yang meradang itu, mungkin. Gelisah yang menyamai ini adalah saat suatu malam pada dua puluh tahun yang lalu, ketika kudapati keesokan paginya, aku telah tidur dengan seorang perempuan, isteriku saat ini yang kunikahi sehari sebelumnya.

Aku menjalani pekerjaan yang diimpikan oleh banyak orang. Pekerjaanku adalah mimpi yang merayap ke dalam keinginan bawah sadar anak-anak muda lulusan perguruan tinggi. Mereka yang sekolah dengan tujuan untuk menjadi pegawai orang. Aku kenapa aku kemudian selalu terdampar di sebuah penginapan yang jauh dari rumah. Kadang lautanlah yang kuseberangi, lain waktu kota-kota yang kulintasi. Sejak sebelum isteriku menjadi bini, aku telah begini.

Sebagai konsultan senior di perusahaan tempatku makan gaji, sebab selembar sertifikat kelayakan yang kumiliki, maka ujung disposisi berupa perintah tugas selalu merujuk kepadaku. Orang-orang boleh naik jabatan, tentunya tanpa perlu ambil pusing meninggalkan keluarga tetapi aku agaknya sudah tergariskan untuk merasa-rasakan bahagia sebagai konsultan berembel-embel kata penuh sukacita yang banyak digandrungi orang-orang itu; SENIOR. Kelebihanku yang senior ini sebetulnya hanyalah pada jam terbang, terbang dalam arti harfiah sebagaimana sudah kujelaskan di atas. Bahkan diperbandingkan dengan pimpinan perusahaan sampai tingkat tertinggi sekalipun, langkah kakiku akan lebih jauh.

Kuakui finansialku lumayan berkecukupan, memang. Kau boleh menghitung, kira-kira berapa bayaranku setiap sekali dapat surat perintah tugas. Disamping itu, tentu saja ada bonus jika tugas itu berhasil kuselesaikan, apalagi jika timbal baliknya dapat meningkatkan kinerja perusahaan, target tercapai. Indeks kepercayaan kelayan meningkat. Bonus kuperoleh ditambah elu-elu dan pujian melambung langit dari atasanku. Sedap betul bukan main.
Namun, dengan demikian aku amat jaranglah menikmati mejaku sendiri di perusahaan itu. Bahkan dengan demikian aku juga semakin jarang menikmati pelayanan isteriku sendiri. Pernyataan ini bisa kau artikan dalam cakupan secara lahir maupun batin.

Dulu ketika penjajakan sebagai pacar, isteriku sudah tahu lagi mahfum jika pekerjaanku ya begini ini. Ia tahu karena kuberitahu, memang. Saat aku dipertemukan dengan mertuaku kini yang dahulu masih calon mertua itu, apa dan bagaimana kehidupanku juga dapat kuceritakan dengan baik dan jujur kepada mereka. Aku merasa sudah memulai dengan bijak. Satu langkah yang baik adalah langkah dari langkah gemilang di masa depan, ujar seorang motivator yang tidak mempunyai pekerjaan lain selain memotivasi orang lain di televisi. Terakhir kudengar kabar kalau si motivator itu sudah menulis buku tentang kiat sukses menjadi motivator handal, rasanya aku pernah membaca iklannya pada sebuah brosur toko buku.

Dengan demikianlah mertuaku kini yang dahulu calon mertuaku berlapang dada untuk menikahkanku dengan anak perempuannya, yang telah kupacari dengan seromantis mungkin itu. Aku mencintai anak perempuannya seperti cinta laut kepada pantai. Anak perempuannya itu pun mencintaiku seperti cinta hujan kepada langit. Kami pun dinikahkan dengan pesta meriah. Tak henti-henti tamu undangan yang datang. Sebuah pesta yang hanya bisa disamai oleh pesta pernikahan anak dari bupati yang terpilih tiga tahun kemudian setelah pernikahanku itu. Bayangkan betapa meriahnya.

Duapuluh tahun kemudian setelah pesta nan meriah itu dan republik ini sudah dua kali pula berganti presiden – kau tentu sudah paham maksudku tentang dua kali berganti presiden ini, walau tiap presiden dijatah untuk menjabat dalam lima tahun tetapi karena kecintaan rakyat, presiden yang sedang menjabat dapat terus menjadi presiden satu periode lagi, jika tidak dibatasi oleh undang-undang mungkin saja akan terus menjadi presiden sampai ia sendiri bosan menjadi presiden – aku semakin sering terbang ke sana ke mari. Ke seberang lautan dan tetap melintasi kota – kota. Dan duapuluh tahun itu telah menjadi waktu yang mengubah segalanya kecuali pekerjaanku tentunya. Oh, pengecualian itu meliputi cintaku kepada isteriku juga. Tepatnya isteriku dalam frame duapuluh tahun yang lalu.

*
Pagi ini aku kehilangan selembar foto. Foto itu potret diri istriku ketika masih berstatus pacar. Foto itu selalu ada dalam dompetku sejak duapuluh tahun lalu. Atasnama kehidupanku, foto tersebut tidak akan bisa digantikan lagi walaupun dompetnya bisa saja berganti-ganti. Kukatakan padamu bahwa foto itu teramat istimewa sebab bagiku foto itu sudah bagai selembar nyawa.

Dan sekarang foto itu hilang entah ke mana. Detik ini aku merasa jika selembar nyawaku juga hilang. Apakah kau pernah merasakan kehilangan nyawa? Kau bisa memulainya dengan meminta kepada isterimu potret dirinya yang paling cantik dan membikin bulu remang dan bulu hidung acap tegak berdiri ketika kau tatap foto itu selama kehendakmu. Lalu simpanlah foto itu dalam dompetmu. Jadikan foto itu salah satu alat ritual saban pagi dan malam mengiringi doa-doamu. Maka selembar foto itu akan menjadi selembar nyawa. Coba saja sebab aku telah berulang kali mencoba dan menikmatinya.

Sejak petang aku tak ke mana-mana. Aku bosan dan memilih bermalasan di kamar hotel saja. Sekitar pukul sepuluh malam seperti biasa, isteriku menelepon. Begitulah jikalau aku sedang tidak di rumah. Telepon genggam menjadi demikian penting. Rasanya, ketika berjauhan maka komunikasi antara suami dengan isteri akan berlangsung dengan lancar, ada-ada saja yang akan dibicarakan. Pembicaraan menyangkut hal remeh temeh semisal kucing di rumah yang melahirkan anak kembar lima, buku bacaan hari ini, rambut yang mulai ditumbuhi uban atau hal-hal besar seperti tetangga sebelah yang beli mobil baru, tetangga sebelah satunya selingkuh dengan tetangga sebelahnya, dan lain-lain yang tidak pernah kami bicarakan saat kami dekat dan aku sedang di rumah. Anehnya lagi, aku dan isteriku tidak pernah membincangkan soal anak karena belum seorang anak pun lahir dari rahimnya.

Walaupun begitu, kau harus tahu bahwa aku sangat mencintai isteriku itu. Setelah duapuluh tahun berselang bahkan fotonya saja, selalu membuatku mabuk kepayang. Foto yang kumaksud itu adalah selembar potret diri berumur duapuluh tahun dan tersimpan rapi di dalam dompetku.

Pagi ini sehari sebelum pulang, aku kehilangan foto itu.
“Udah dong, sayang. Tutuplah telepon itu. Bilang saja kau sudah ngantuk. Besok mesti bangun pagi. Ah, segeralah. Malam sudah semakin larut. Ayolah!”

Suara berbisik itu merambati telingaku. Aku merinding sampai ke sum-sum tulang belakang. Tanganku yang sedang menggenggam telepon, ikut gemetar. Aku hanya bisa memberi isyarat kepada sesuatu yang berbisik itu agar sabar menunggu sebentar. Bukankah aku belum mengucapkan selamat tidur kepada isteriku di seberang telepon sana?
“Ya, Minggu sore, sayang. Jemput aku ya. Iya, iya. Nggak kok. Capek tapi senang. Makin rindu sama kamu, sayang. Baiklah, selamat tidur. Kecup… Cup.”
Biip. Bip!

*
Satu hal kini, aku menyadari jika keadaanku, ah maksudku pekerjaanku ini sudah menjadi candu saja. Aku sudah menikmati ritme dan menyenangi saat-saat seperti ini. Ketika aku berada jauh dari rumah. Jauh dari campur tangan isteriku yang sudah tidak muda lagi. Aku heran, bagaimana bisa seorang perempuan bisa berevolusi menjadi makhluk yang sangat berbeda dibanding sejak kukenal bertahun-tahun dahulu? Perbedaan yang sepenuhnya tidak kusukai. Perubahan yang membuatku mesti banyak berdusta. Berdusta kepada diri sendiri, kepada Tuhan dan tentu saja berdusta kepadanya.

Namun, aku selalu punya cinta. Ia kusimpan di dalam dompet selama duapuluh tahun. Cinta yang menjadi alasan bagiku untuk menjauh dari rumah. Menjauh dari isteriku. Cintaku pada selembar foto itu sangat istimewa. Ia dekat tak banyak tingkah. Tidak pernah merongrongku. Tidak pernah mengintimidasiku. Cinta yang bebas tanpa alasan apapun.

Maka, dengan cara seperti itulah aku memupuk cinta kepada perempuan yang lebih muda duapuluh tahun dariku itu. Perempuan dalam selembar foto yang kubawa selalu ke mana pergi. Saat jauh dari istriku, kupuas-puaskan diri mencumbunya hingga menjelang kepulanganku ke sesuatu yang disebut oleh isteriku sebagai rumah. Kautahu, malam tadi kami memiliki segala hal yang menyenangkan di dunia ini. Langit terbuka, bulan merendah, bintang-bintang membuncah dan malam larut menjadi mimpi. Jendela kamar yang dibiarkan terbuka. Embusan angin kota pelabuhan menarikan tirai dan gerimis sedang bermain dengan malam di luar sana. Aku telah lupa waktu. Aku lupa diri hingga datang pagi dan kudapati perempuan muda itu aih… maksudku selembar foto itu raib. Mungkinkah ia telah dibawa angin yang masuk dari jendela itu ke tengah lautan sana?

*
Cerpen Denni MeilizonDi terminal kedatangan sebuah bandar udara yang ramai, seorang perempuan dengan diiringi seekor anjing pudel yang terikat pada seutas tali sedang tersenyum bahagia menyambut seorang lelaki yang ke luar dari pintu otomatis. Lelaki itu nampak dengan segera memasang senyum paling manis yang ia miliki. Dalam keramaianlah rahasia tetap menjadi rahasia, agar hidup bisa terus berlanjut sebagaimana adanya.
“Apa kabar, sayang? Aih, makin cantik saja kau ini.”[]

Jakarta, 2017 – Simpang Ampek, Juli 2019

Denni Meilizon, lahir di Silaping, Pasaman Barat 6 Mei 1983. Menulis puisi, esai dan cerpen. Bergiat di Forum Pegiat Literasi Pasaman Barat. Tinggal di Silaping, Pasaman Barat, Sumatera Barat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.