Peto Syarif Tuanku Imam Bonjol

oleh -23 views
tuanku imam bonjol

 

Oleh Fera Susanti

Aku memandangi bangunan besar bergonjong ala Minangkabau itu. Megah. Taman luas, bersih,rapi, indah menawan menambah nuansa mewah. Ada patung besar seorang laki-laki berjubah putih  menunggang kuda besar terpajang di halaman. Rasa bangga dan keharuan  tiba-tiba memuncak di jiwa.

Ada sekelumit rindu menyayat kalbu. Melintas ruang dan waktu aku kembali di sini. Tanah kelahiranku. Tanah yang di lintasi garis khayal, Khatulistiwa, Bonjol.

Kulangkahkan kaki menapaki ruangan demi ruangan dalam gedung besar ini. Memandang banyak beraneka lukisan, potret rupa wajahku terpajang. Juga kutemukan reliefku  sedang di atas kuda. Bersorban. Gagah. Memegang pedang dengan wajah yang penuh amarah. Pada penjajah Belanda yang selalu mengadu domba.

Melangkah ke lantai dua. Ada banyak duplikat alat perangku dulu berjejer rapi. Pedang, keris, kurambik, tombak, busur dan panah beracun. Serta jubah dan sorban tergantung dalam lemari. Berbagai gerabah alat memasak para bundopun ada di sana. Juga beberapa lembar kitab dan Al Qur’an tua milikku.

Ah, serasa kembali aku kemasa itu. Saat kaum adat dan kaum ulama di adu domba oleh penjajah durjana. Memainkan politik Devide et impera. Politik pecah belah anak bangsa terjajah.

Ranah yang bergejolak pada tahun 1803-1838. Kaum adat ingin mempertahankan beberapa tradisi dibantu Belanda yang  akhirnya memerangi saudara sendiri.

Aku bersama Tuanku Tambusai, Tuanku Nan Renceh , Harimau Nan Salapan dan para ulama lain terus bahu membahu menegakkan amal makruf nahi mungkar. Menyadarkan kembali kaum adat dari kekhilafan mereka hingga tersadar akan politik pecah belah kaum penjajah. Kemudian bersama memerangi Belanda.

Malangnya aku dijebak dengan perundingan. Ditangkap hingga diasingkan jauh ke negri orang sana. Ribuan kilometer terpisah dari anak,istri, serta sanak saudara.

Kudengarkan orang-orang sedang bercakap-cakap. Terputus lamunku akan masa lampau.

“Tuanku Imam Bonjol lahirnya di mana,  Bunda?” Suara gadis kecil itu memesonaku.

“Tuanku Imam Bonjol lahir di sini, Dek. Di Bonjol ini. Dia pahlawan kebanggaan kita orang Minang, orang Bonjol, Pasaman, Sumatra Barat”. Sahut perempuan dewasa berbaju kurung basiba dan bertutup kepala.

Baju kurungnya mengingatkanku akan pakaian anak gadis, para kaum perempuan masaku dulu. Masih terjaga cara berpakaian para ‘bundo kanduang’.

“Lalu kuburan Tuanku Imam Bonjol di mana,  Bunda?” Terdengar tanya gadis kecil itu lagi.

Wanita itu menjawab  sambil tersenyum, “Tuanku Imam Bonjol dimakamkan jauh dari sini, Dek. Di daerah Lotta, kecamatan Pineleng, kabupaten Minahasa, provinsi Sulaewesi Utara.”

“Sulawesi? Jauh sekali itu ya, Bunda! Kasihan Tuanku Imam Bonjol ya, Bunda!”

“Iya … sayang, kita kirim doa dan Al Fatihah untuk Tuanku Imam Bonjol. Semoga Allah menempatkan  pahlawan kita di surgaNya.”

Aduhai, sungguh aku terharu mendengarnya. Terima kasih para cicitku. Para kemenakan. Keturunan keponakan yang kutinggalkan dulu. Terima kasih atas doa dan penghargaan kalian.

Membangun Museum Tuanku Imam Bonjol di tanah kelahiranku. Menjadikan makamku di  Minahasa sebagai cagar Budaya. Makam yang sunyi sepi berhias Rumah Gadang. Makam yang hanya dijaga oleh keturunan para pengawal setiaku, Apolos. Seorang sersan berdarah Maluku. Yang kujumpai dalam pengasingan Belanda di Ambon dulu.

#####

“Tuanku …!” Sapaan lembut Apolos membuyarkan lamunanku. “Saatnya berbuka Tuanku. Silahkan menikmati hidangan masakan sederhana hamba, Tuanku!

Aku tersenyum ramah, “Tak perlu repot Apolos, cukup seteguk air pembatal puasaku. Ayo kita  bersiap  untuk Magrib. Setelah sholat nanti marilah berbincang denganku.”

“Baiklah, Tuanku!” ujar Apolos penuh khidmat.

Tak lama kemudian di bawah sinar cahaya purnama yang lembut Aku dan Apolos saling berhadapan. Berkisah banyak hal.

“Jika aku telah tiada nanti, teruskan syiar agama kita ini, Apolos . Rawatlah tempat ini dengan sebaik-baiknya. Jagalah keluargamu. Sambunglah tali silaturahmi. Siapapun yang berkunjung kemari, mereka adalah saudaramu. Berpegang teguhlah selalu pada agama Allah. Suatu masa kita tak akan dijajah lagi oleh mereka, kaum kulit putih itu.” Nasehatku pada Apolos sambil terus memutar tasbih di tangan.

Berlalu pula sekian purnama. Aku tetap disini. Terkubur dalam pengasingan kompeni.

Berkunjunglah ke makamku berkeramik porselen putih. Melambangkan kesucian. Rasakan kesunyian yang mencekam. Sunyi. Terasing. Rasakan pedih hatiku terpisah dari tanah kelahiran. Bermunajat dalam kesendirian. Mengaji kalam ilahi. Hingga ajal menjemput.

Makam yang telah menjadi cagar budaya. Tapi tak terawat. Karena  tak jelas siapa yang akan merawat dan mendanai. Apakah pemerintah Minahasa atau pemerintah tanah kelahiranku. Kadang hanya mengharap sumbangan dermawan, uang kertas bergambar diriku.

Ah sudahlah …. kirimi aku Al Fatihah dalam hening ciptamu.

Kenanglah selalu aku, pahlawan bersorban, seorang ulama pejuang. Yang terkubur dalam sepi tanah Sulawesi. Aku, Peto Syarif bergelar Tuanku Imam Bonjol.

Pasaman Barat , Oktober 2019.

 

Catatan:

  • Kurambik = senjata khas Minangkabau berbentuk pisau kecil melengkung.
  • Baju kurung basiba = baju kurung khas Ranah Minang.
  • Museum Imam Bonjol dibangun pada tahun 1990 di kecamatan Bonjol, Kabupaten Pasaman, Provinsi  Sumatra Barat.
  • Cagar Budaya Makam Tuanku Imam Bonjol di Desa Lotta, Kecamatan Pineleng, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara.

Fera Susanti, Guru Bahasa Inggris yang  suka menulis. Sehari-hari mendidik anak bangsa di Madrasah Negeri di Pasaman Barat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.