Sajak-sajak Maulidan Rahman Siregar

oleh -63 views
Maulidan Rahman Siregar

Maulidan Rahman Siregar

PULANG

; untuk ibuku

 

Ibu, sebenarnya

aku telah lama

ingin pulang.

sebenarnya aku

tidak ingin lama

di sini, tetapi.

Tetapi, ibu,

tetapi ibu. Kau

telah jadi aku.

Sejak doa selalu

kuulang dan

kuulang selalu.

Kau entah kenapa

iseng, muncul di

tiap lembar

buku, yang,

mati-matian

kubaca.

 

Maafkan aku,

Ibu

 

2019

 

PADA MALAM GELAP HEBAT

 

pada malam gelap hebat

kutulis sebiji puisi

kuperam-erat diksi

kujahit, tubuhku

bintang masih di atas sana

terang dan bahaya

kau kenapa masih di bumi, katamu

kubilang, aku memang harus jadi isi bumi

jadi bulir matamu

jadi tipis senyummu

lebur dalam apa saja!

kau nyanyikan sebuah lagu

dan aku, tidur adem di situ

rambutmu yang menyentuh pipi

dan segala yang ke sini

ke dalam diri

ke balik sepi

menamparku, menyuruh bangun

aku tentu, terbangun

dan lanjut menceritakan sebuah kisah

pada dinding lemari meja asbak rokok

‘tuk temani tidurmu

tapi kau bilang ceritanya jelek

kenapa tuan putri mati?

apa betul kehidupan dimulai dengan berciuman?

kau menghujaniku dengan banyak tanda tanya

keras-kuat, kucari kepala

di dalam akal, kutemui bapak-ibu dosen

kulayangkan banyak tunggu

kupertanyakan ilmu

“bapak ibu budiman, benarkah cinta dimulai

dan dirangkai dengan banyak kematian?”

diam, tiada jawab

bapak ibu rupanya sudah tidur

dengan lagu India

 

dan ilmu pengetahuan, kekasihku. tak beri

ajar bagaimana menulis namamu

ke puisi payah ini

 

2018 

 

LAGU PAGI

 

aku banyak memutar lagu pagi sore hari

dan seorang perempuan malam

menyuruhku untuk jangan ribut

 

lagu-lagu kubuat kecil

sekecil-kecilnya

hingga yang mendengarnya tak lagi telinga

cuma hati, cuma bunyi

 

aku kemudian mendengar bunyi tuk-tak-tuk-tak

seperti bunyi kuda

yang bekerja bersama ayah

di setiap doa ibu

 

Padang, 20 Februari 2019

 

SEPASANG DOA

 

kita adalah kata

yang tak pernah selesai oleh

kata apa pun

kita adalah tuju para penemu

 

langit tinggi dan bumi

yang dipijaki, jadi saksi

jadi puisi

 

kita akan selalu ada

dalam doa siapa saja

yang ingin cepat kaya

 

2018

 

UDANG DI BALIK BAKWAN

 

udang di balik bakwan tak pernah

tahu, koruptor atau wakil rakyat

mana, yang akan melumatnya.

udang di balik bakwan tak bisa

gegas sembunyi, sebab, gigi-

gigi akan senantiasa memburunya,

segegas laju kota.

 

udang di balik bakwan pun juga tak

bisa kembali ke laut, sebab, doa

baik abang gorengan mematahkan

kakinya,

 

anak si Abang mau sekolah tinggi,

dan mau jadi koruptor, melanjutkan

budaya kita?

 

2018

 

MENIDURKAN KORUPSI

 

Seorang batak berbahasa minang

muncul dalam tidurmu, dia

menyuruhmu bermimpi. Berpuisi.

Dia memintamu menyelipkan politik,

ke dalam seluruh agama yang

diakui. Dan kau, cuma ketawa.

 

Seorang minang berbahasa batak

pun juga muncul di dalam tidurmu.

Dia menyuruhmu berenang, seperti

kata ‘seperti’ di sajak-sajak cinta.

Dan kau, (lagi) cuma ketawa.

 

Seorang batak dan seorang

minang, pakai bahasa Inggris,

membangunkan tidurmu. Dia

menyuruhmu hadir di barisan

pertama, ketika korupsi muncul di

televisi. Kau mau ikut menentang.

Tapi kau ingat langsung gurumu

pernah bilang,

“mimpi harapan dimulai dari

kualitas tidur”

 

2018

 

SETIAP NATAL

 

Setiap natal, ibu bertanya

“lagi di mana, ngapain aja?”

kujawab dong,

“ di sini, mengikat beberapa

doa, untuk kubawa liburan”

 

Kata ibu, ibu sedang memasak

Nasi goreng pete cabe hijau.

Cumi isi telur, dan kentang irisan.

 

Ibu, mohon bukakan pintu.

Assalamualaikum, ibu.

 

Padang, 26 Desember 2018

 

JAKARTA YANG MENYEBALKAN

 

jakarta-ku? yang wow

mohon tunjuk-ajari

aku, bagaimana puisi

menulis kemacetan

 

jujur saja, jakarta

aku tak mau didemo

dan dituduh menyebalkan

;seperti kamu!

 

Desember, 2018

 

SELAMAT TAHUN  BARU

buat: Hanahoshi

 

selamat tahun baru,

kegelisahan demi kegelisahan.

mari rapatkan lagi doa-doa.

ke langit tinggi, harapan

terbangkan.

ke tanah dalam, hati

tundukkan!

kuning suci bunga matahari,

tunduk berisi layaknya padi.

bunga-bunga setiap hari.

oh pengetahuan, haruskah

kau kucari?

simpul jalin berbilang

sayang, selalulah pulang

jangan hilang

jangan terbuang

bahagia selalu, isi bumi!

 

Padang Pariaman, 31 Desember 2018

 

Maulidan Rahman Siregar, lahir di Padang 03 Februari 1991.  Menulis puisi, cerpen, ulasan musik di beberapa media massa. Buku puisinya yang telah terbit, Tuhan Tidak Tidur Atas Doa Hamba-Nya yang Begadang (Erka Publishing; 2018). Sedang mempersiapkan buku keduanya, Menyembah Lampu Jalan (Purata Publishing; 2019).

Contact WA Maulidan: 0812-6754-6514

Tuhan Tidak Tidur Atas Doa Hamba-Nya yang Begadang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.