Berguru di Negeri Jepang (Bagian 3)

oleh -68 views
True Story – Menimba Motivasi di Negeri Jepang

True Story – Menimba Motivasi di Negeri Jepang

Oleh Marjohan, M.Pd dan Sefrita Yenti

Mana Yang Besar Pulau Bali Dengan Indonesia?

Pesawat yang terbang dari Osaka- Bali berukuran jumbo (jumbo jet). Rata- rata penumpangnya berwajah Jepang- ya mereka adalah orang Jepang yang ingin menikmati hangatnya suhu tropis di pulau Bali. Makanya rata- rata orang Jepang lebih mengenal Bali. Mereka tidak kenal dengan Jakarta, apalagi Sumatra Barat atau objek wisata seperti Danau Singkarak, Danau Maninjau, Batusangkar dengan Istano Pagaruyungnya atau Danau Toba dengan pulau Samosir.

―Mana besar pulau Bali dengan Indonesia ?― Itu pernah ditanyakan oleh salah seorang temanku orang Jepang. Rata- rata orang awam Jepang kurang kenal dengan Indonesia. Mereka hanya tahu bahwa Bali itu di Indonesia dan Indonesia itu dimana ? Ya di pulau Bali. Kalau begitu Indonesia itu cukup kecil ya..?‖ Demikian wawasan orang Jepang tentang Indonesia.

Aku kaget- saat pesawat mendarat di bandara Denpasar- aku menjumpai suasana lingkungan amat jorok- sampah berserakan persis ditempat droping zone penumpang pesawat sebelum dibawa oleh mobil ke terminal. Kesan kontra yang aku peroleh dengan membandingkan antara kebersihan bandara Osaka dan bandara Bali. Di Osaka mataku tidak melihat sekeping sampahpun. Selama 3 tahun aku tidak melihat sampah.

―Di bandara Bali mulai terlihat tidak keteraturan. Sementara itu Bali sudah merupakan Bandara super-internasional untuk ukuran Indonesia, maka bagaimana kira- kira kondisi bandara- bandara lain di negeri ini. Aku merindukan keteraturan dan kebersihan pada negeri ini.

Bukan aku benci pada Bali atau pada bangsa sendiri, namun aku pengen orang- orang kita peduli pada kebersihan- buang dan basmilah sampah itu dengan sungguh- sungguh !!‖.

―Jarak terbang Osaka dan Bali adalah 8 jam. Aku terbang jam 11.00 pagi dan sampai jam 07.00 malam. Penerbangan yang lama itu cukup membosankan. Untuk mengatasi kebosanan ya kita bisa nonton atau tidur- namun aku tidak suka tidur. Atau kita bisa baca- baca buku atau majalah, atau lagi mendengar musik dan diselingi dengan menikmati menu yang disajikan oleh pramugari. Ya itulah akvitas kita dalam pesawat‖.

Dari bandara Ngurah Rai aku transit menuju Jakarta, ya masih dengan pesawat Garuda Indonesia Airways. Pesawatku dari Jepang hingga ke Padang tetap Garuda. Aku terbang jam 007.00 malam dan sampai jam 08.00 atau jam jam 09.00 malam Waktu Indonesia Barat. Wah aku harus menyesuaikan jam/ waktu Jepang dengan Waktu Indonesia Barat lagi.

Di Jakarta aku ditunggu oleh ayahku dan temanku ikut dengan rombonganku. Hari itu kami nginap di tempat ayah. Aku sudah 5 tahun tidak berjumpa dengan ayahku. Karena ayah dan ibuku sudah berpisah/ bercerai sejak aku duduk di kelas 6 SD. Jadi aku putuskan bahwa sebelum pulang ke Padang aku harus berjumpa dengan ayah kandungku. Saat itu ayahku dapat sakit yaitu stroke- akibat hipertensi. Ayah tinggal di Jakarta bersama sepupunya- yaitu bibiku sendiri- (Tek Im dan Bapak Kubat). Waktu ayah menjemputku, aku lihat kondisi ayah dengan tangan lemah sebelah dan susah payah dalam melangkah..

―Tangan kanannya kena stroke dan aku amat sedih menyaksikan fisik ayah yang sakit itu. Ayahku asli orang Lintau- Batusangkar, namun setelah bercerai dari ibu ia jualan di Jakarta. Ia sempat punya istri setelah bercerai dari ibu kandungku. Namun sekarang ayah sudah jadi duda dan hidup menompang pada bibiku‖.

―Ayah berpisah dari ibu kandung bukan gara gara ayah tidak punya uang. Ibuku bukan tipe perempuan materialis. Mereka berpisah mungkin jodohnya sudah berakhir dan aku tidak tahu penyebab persisnya. Setelah bercerai ayahku kawin lagi. Namun ibuku tidak kawin lagi, ia wanita yang hebat dan bekerja keras untuk menghidupi kami (anak- anaknya) dengan semangat juang yang hebat‖.

Sebelum melanjutkan perjalanan ke Padang, aku sempat makan bareng dengan keluarga dan ayahku dengan hidangan gulai jengkol. Ya terasa enak, apalagi aku sudah lama tidak makan jengkol- di Jepang tidak ada jengkol. Cabenya terasa agak pedas namun terasa sangat enak. Aku ingin membawa ayah ke kampung, aku ingin ayah dan ibu berkumpul dan aku ingin membahagiakan mereka di hari tuanya. Namun apa mau dikata, ayah sudah bercerai dari ibu dan ia tidak mau‖.

―Aku ingin membalas budi baik kedua orang tuaku, moga moga mereka bisa berkumpul bareng dan aku sudi untuk merawat dan membahagiakan mereka berdua. Ya keinginan ini masih menjadi ilusi‖.

Aku terbang ke Padang. Aku sudah ditunggu oleh ibu dan keponakankku (Aisya, Latifah, Rabli) di Bandara Internasional Minangkabau (BIM) Padang. Aku dan ibu sama- sama kangen apalagi kami sudah 3 tahun tidak berjumpa. Juga ibu tahu bahwa wilayahku di Jepang selamat dari hantaman tsunami saat menerjang daerah Ibaraki. Beberapa menit kemudian kami telah berada dalam kendaraan, kami segera menuju Lintau- Batusangkar. Kami ngobrol tentang apa saja dari bandara hingga sampai ke rumah. Malah setelah sampai di rumah kami masih ngobrol hingga larut malam.

―Aku menjadi kurang tidur. Sementara itu saat berada di Jepang aku juga kurang tidur. Jadi karena kurang tidur aku merasa letih dan amat mengantuk. Malam itu jam 02.00 malam-dini hari, aku belum bisa tidur, family- family masih bergembira dengan kedatanganku- kami bernyanyi lewat karaoke. Aku menyanyikan lagu Jepang: Ai Tai (ingin bertemu), Sayonara (sampai jumpa lagi), dan beberapa lagu Jepang yang lain- aku lupa judul lagunya‖.

Aku merasa senang banget bisa tiba di Lintau- batusangkar lagi. Aku bahagia banget…tapi aku jadi termenung karena merasa berbeda. Karena teman- teman seusiaku di Lintau semuanya sudah pada menikah. Yang paling bahagia dengan kedatanganku adalah ibu. Ya persis sampai di rumah, kami ditungu dan disuguhi makan malam yang enak, yang sudah lama tidak aku rasakan selama di rantau orang.

―Aku disuguhi hidangan daging dan juga ada jengkol. Namun aku memilih jengkol karena selama 3 tahun di negeri sakura aku tidak pernah mencicipi jengkol. Saaat makan malam fikiranku tentang Jepang terlintas lagi- Ai Shiteru Japan…..!!!!‖

 

Marjohan, M.Pd, Guru SMA Negeri 3 Batusangkar, Program Pelayanan Keunggulan Kabupaten Tanah Datar. Sumatera Barat. Ia juga tercatat sebagai ―Peringkat 1 guru berprestasi tingkat nasional 2012‖ dan penerima Satyalencana Pendidikan dari Presiden RI. Aktif menulis pada koran Singgalang, Serambi Pos, Haluan dan Sripo (Sriwijaya Post). Telah menulis buku dengan judul ―School Healing- Menyembuhkan Problem Sekolah (Pustakan Insan Madani,2009- Yogyakarta)‖, ―Generasi Masa Depan- Memaksimalkan Potensi Diri Melalui Pendidikan (Bahtera Buku,2010-Yogyakarta)‖, Tuntutlah Ilmu Hingga ke Negeri Prancis (Diva Press, 2012- Yogyakarta), Akhirnya Kutaklukan Kampus Jerman (Diva Press, 2012- Yogyakarta), dan buku Budaya Alam Minangkabau (Citra Pustaka, 2012- Solo). Pengalaman Meraih Guru Berprestasi Nasional (Diva Press, 2012- Yogyakarta), dan Melbourne Memang Dahsyat.

Sefrita Yenti, Lahir tahun 1984 di Lintau- Batusangkar, Sumatera Barat. Pendidikannya di SMAN 1 Lintau- Kab. Tanah Datar dan melanjutkan pendidikan ke INGG Bukittinggi. Ia mendalami budaya dan bahasa Jepang, kemudian pernah bekerja di Perusahaan Thomson dan Pt. Nissin Kogyo, Batam. Ia mengikuti pelatihan magang ke Jepang melalui PT Yuko Tesa Mirai di Padang. Usai pelatihan ia bekerja di perusahaan Kabushiki Kaisha Chuuoo- Shikoku, Prefecture Kagawa, Kanonji Shi, Nakahime- Japan. Setelah 3 tahun ia balik ke Batusangkar- Sumatera Barat, kemudian mendirikan sekolah Bahasa Jepang,inggris dan Mandarin,jarimatika. dengan nama Chuoo Mandiri di Tanjung Karang, Propinsi Lampung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.