Cerbung: Misteri Kuburan Panjang (bagian 7)

oleh -49 views
Misteri Kuburan Panjang

Misteri Kuburan Panjang

Udara dingin kaki gunung membuat gigil, Agif mengapitkan kedua tangan di ketiak. Matanya tak lepas dari wajah Datuk Sidi, lelaki tua bungkuk yang menepuk pundaknya.

“Kalian harus segera menikah, itu satu-satunya cara terlepas dari gangguan jin yang bersekutu dengan Argi itu!” ujarnya, setelah mendengarkan penjelasan Agif di jenjang Masjid Rao-rao.

Agif dan Dahlia saling pandang, ketika kalimat itu meluncur dari bibir Datuk Sidi.

“Kalian harus ke Surau Tuo Batu Hampar Paya Kumbuh. Mudah-mudahan kalian bisa bertemu keturuna Syaikh Abdurrahman.”

Kembali sepasang manusia itu berpandangan, Dahlia mengangkat kedua bahu, mengisyaratkan terserah kepada Agif.

Sejenak Agif menarik napas panjang, lalu bertanya dengan suara pelan.

“Siapa Syaikh Abdurrahman itu, Datuk?”

Lelaki tua itu tersenyum, entah mengapa dia merasa kalau Agif adalah orang yang tepat mendengar ceritanya. Menarik napas sesaat, lalu laki-laki itu membuka suara, “Shaykh Abdurrahman (1783-1899), seorang ulama terkemuka di pedalaman Minangkabau. Ia, dalam pengembaraan intelektualnya, menghabiskan waktu hampir setengah abad berpetualang menimba ilmu. Semenjak keberangkatannya di usia 15 tahun, baru pada usia 63 tahun ia kembali ke kampung halamannya. Salah satu kisah dramatis mengenai panjangnya waktu buatnya untuk menuntut ilmu terekam dari kepulangannya tersebut. Ia dikabarkan tidak tahu lagi jalan menuju kampung halamannya, sehingga ia bertanya kepada perempuan tua yang sedang bekerja di pesawahan. Lama berpandangan, ternyata perempuan tua itu ialah ibunya sendiri. Ibu anak ini kemudian berangkulan dengan meneteskan air mata; ibunya selama ini menyangka bahwa si-anak telah wafat karena tidak ada berita, sedangkan si-anak juga menyangka ibunya telah lama wafat, namun keduanya dipertemukan dalam usia yang terbilang senja.”

Agif tercenung, apa mungkin dia dan Dahlia bisa menemukan orang yang di sampaikan Datuk Pelindi. Dengan tatapan takjub, Agif meminta lelaki itu melanjutkan kisah Syaikh Abdurrahman.

“Beliau pendiri tarekat Tarekat Naqshabandiyah, sebagai ordo sufi yang banyak dianut di dataran tinggi Minangkabau, menekankan pentingnya mempererat hubungan guru-murid. Hal ini tercermin dari salah satu amalan yang selalu dilanggengkan pengikut suluk, yaitu rabit

Salah satu poin penting dalam yang menjadi amalan sufi ialah tawassul. Secara bahasa tawassul berarti al-taqarrub (mendekatkan diri). Sedangkan menurut istilah syara’ terdapat perbedaan defenisi di kalangan ulama. Al-Maliki dalam Mafahim-nya menyebutkan aspek penting terkait pengertian tawassul, yaitu salah satu cara berdo’a, satu bagian dari tawajjuh kepada Allah, maka tujuan hakiki permintaan do’a tersebut ialah Allah. Maka al-Mutawassal hanya sebagai wasatah dan wasilah untuk mendekatkan diri kepada Allah. Pemakaian wasatah sebagai wasilah karena kedudukannya sebagai sesuatu yang mulia disisi Allah. Ketika seorang sufi datang ke makam ulama-ulama saleh, kemudian berdo’a kepada Allah, maka do’anya tersebut didorong oleh karena makam tersebut merupakan makam ulama yang mulia disisi Allah, sehingga barokah dari makam itu menjadi nilai tambah dalam munajatnya.
Oleh karenanya, ziarah bagi seorang muslim, terutama sufi, merupakan fenomena penting. Lebih dari itu, kegiatan safar (perjalanan) ilmiah menjadi salah satu tradisi yang melekat kuat dikalangan tasawuf. Perjalanan ini telah dibarengi dengan perintah Haji, sehingga kegiatan tersebut lebih menjadi bermakna karena digolongkan kepada aspek ibadah. Jadi, saya kira kalian lebih tepat pergi ke sana!” ujarnya meyakinkan.

Ada baiknya mengikuti saran lelaki ini, pikir Agif.

Setelah berpamitan, Agif menuju motornya dan menghubungi Emak Dahlia melalui sambungan telepon.

“Assalamualaikum, Mak. Ini Agif.”

“Waalaikumsalam, ada apa Nak Agif?”

Agif menceritakan semua kejadian dan pertemuannya dengan Datuk Palindih, lalu meminta izin menikahi Dahlia secara agama dahulu, untuk cara negara akan menyusul kemudian. Semua ini demi kebaikan Dahlia.

Agif tahu, kalau Dahlia tidak memiliki ayah lagi dan saudara laki-laki, jadi, yang menikahkan Dahlia tetap wali nikah. Sekarang, saru-satunya orang yang bertanggung jawab terhadap Dahlia hanya Emak.

Di seberang sana, suara emak terdengar bergetar. Kebingungan menyelimuti pikiran, jika memang satu-satunya cara agar Dahlia terhindar dari gangguan Argi, Mak setuju, ucapnya perlahan.

“Terima kasih, Mak. Mohon doa restu. Apa, Mak mau bicara sama Dahlia?” tanya Agif.

“Tidak usah. Tolong jaga Dahlia, sayangi Dia, karena pernikahan itu tanggung jawabnya dunia dan akhirat!”

“Insya Allah, Mak.” Agif memutuskan sambungan telepon, setelah terlebih dahulu mengucap salam.

Sepasang manusia itu bergegas menuju motor yang terparkir di seberang jalan, lalu tiba-tiba sebuah mobil melaju kencang dari arah bawah menuju Bukittinggi.

Dahlia terkejut, hampir saja gadis itu jatuh kalau tidak segera di tangkap Agif.

Mata mereka saling bertatapan, ada harapan dan kepasrahan yang disampaikan melalui indra penglihatan mereka.

“Kamu tidak apa-apa?”

“Aku baik … ba-ik!” Dahlia lunglai, matanya terpejam.

 

Bersambung …….

Desi Kirana Aza, lahir di Kumanis, Sijunjung, Sumatera Barat, tahun 1983. Kontak WA 0821-7276-4763

Berikut ini bukunya yang sudah terbit:

Desi Kirana Aza

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.