Bertabur Pengalaman dari Padang Hingga Sydney (Bagian 6)

oleh -106 views
Bertabur Pengalaman dari Padang Hingga Sydney

Bertabur Pengalaman dari Padang Hingga Sydney

6. MENUJU PULAU BALI

Cek-out Dari Kalibata

Jam 10.00 pagi ini, saatnya kami harus chek-out dari hotel Kaisar yang berlokasi di daerah Kalibata. Semalaman aku tidur sangat nyenyak. Jadinya tubuhku terasa sangat bugar. Dari jendela hotel di lantai 6, aku melihat ke bawah, bis wisata sudah menunggu kami. Kami semua menyeret bagasi. Setelah semuanya berkumpul dalam bis, maka bis segera bergerak menuju terminal keberangkatan internasional di Bandara Sukarno Hatta.
“Oh, aku berjumpa dengan Niman lagi. Niman adalah officer tour travel yang bekerja untuk melayani orang yang bakal terbang ke luar negeri”.

Niman sudah menunggu kami dan juga memandu kami ke dalam terminal. Kami masih punya waktu selama 3 jam untuk free-duty, maksudnya untuk kegiatan bebas di bandara sebelum boarding ke dalam pesawat. Kami sengaja melakukan shopping minuman dan makanan ringan saja. Kemudian kami juga sholat, ya jamak zuhur dan ashar.
Pada mulanya kami mau membawa laptop ke Melbourne. Setelah dipikir bahwa itu akan membuat hand carry jadi bertambah. Kami yakin laptop juga bakal tidak terpakai. Wah lebih baik dititipp saja pada Niman. Dan Niman akan menyimpan semua laptop ini di kantornya.

Kami masih punya waktu satu atau dua jam lagi. Pemandu kami, Mas Rachman segera datang. Aku sengaja duduk beberapa meter dari grup untuk menikmati satu cangkir kopi panas. Ya masih terasa panas, bisa membuat bibir terbakar panas, sehingga susah buat aku minum. Wow sudah ada panggilan buat menuju ruang boarding-minumanku masih banyak. Ya aku tinggalkan saja, karena betul-betul panas. Biasanya aku tidak terbiasa membuat makanan dan minuman bersisa, mubazir makana tidak direstui oleh agama Islam. Aku segera menyusul grup ke ruangan boarding.

Ada beberapa tiket pesawat yang kami terima dari Niman. Yaitu tiket buat Jakarta–Bali, Bali-Melbourne, Melbourne-Sydney dan Sydney-Jakarta. Mas Rachman kembali mengingatkan agar kami nanti tidak salah beri tiket pada pegawai penerbangan nanti.

Aku sangat merasakan bahwa kalau kita tidak punya kegiatan saat menunggu maka waktu terasa lama berjalan dan membosankan. Aku sudah membiasakan diri untuk membaca dan menulis, jadi no problem, hingga jadwal boarding menuju Denpasar segera datang.

Semester lalu ketika aku pergi ke Melbourne, aku menulis selama perjalanan dan di akhir perjalananku aku sudah menyelesaikan naskah buku yang berjudul “Melbourne Memang Dahsyat”. Naskah buku tersebut sudah diterbitkan.
Aku tahu bahwa Bali adalah salah satu pulau paling populer di Indonesia, juga sebagai pulau internasional. Namun proses pergi ke sana sekarang ibarat pergi ke negara lain saja, ya sedikit rumit dibandingkan pergi ke kota lain.

Dalam pesawat yang aku naiki jumlah wajah penumpang yang berwajah Indonesia lebih sedikit dari yang berwajah asing atau berwajah Australia. Ini juga menjadi alasan bagiku bahwa pulau Bali adalah pulau internasional. Apalagi saat kami terbang, juga sedang berlangsung ajang seleksi “Miss World”, di pulau Bali ini. Jadinya seleksi atau prosedur boarding terasa lebih rumit dan ha…ha….kami merasa separoh dicurigai. Ya itu dengan alasan keselamatan dan keamanan pesawat dan pariwisata pulau Bali.

Jakarta dan Bali

Seumur-umur aku belum belum pernah mengunjungi Bali. Kadang- kadang kalau ada turis dan juga-juga teman luar negeriku bertanya “have you ever been in Bali, Marjohan ?”. Aku tidak bisa menjawab “sudah pernah atau belum”. Pasti aku merasa malu karena sebagai orang Indonesia aku belum sempat ke Bali, maka untuk merespon mereka aku cuma tersenyum, atau terpaksa berdusta-meski itu tidak bagus. Jadi transit di Bali kali ini adalah merupakan kunjunganku yang pertama ke kota Denpasar. Jadi kalau nanti ada yang bertanya seperti itu tentu aku akan jawab:
“Yes I have ever been in Bali….hhhhh”

Penerbangan Jakarta dan Bali jaraknya hanya 1,5 jam. Grup kami terbang dengan pesawat Garuda dan aku merasakan adanya pelayanan yang sangat bagus. Kali ini juga ada gerakan cinta literasi membaca secara tidak langsung dari pihak penerbangan. Tidak hanya dengan pesawat ini, malah juga dengan pesawat kelas ekonomi.
Kemaren saat aku terbang dengan kecil dari Padang ke Jakarta, kami-semua penumpang-disuguhi sebuah tabloid. Sehingga banyak orang dalam pesawat terlihat membaca. Sekarang penerbangan dari Jakarta ke Denpasar kami juga disuguhi beberapa pilihan surat kabar oleh flight attendant. Penumpang boleh membawa literasi tersebut secara gratis.

Biasanya membaca dalam pesawat seolah-olah hanya budaya orang Barat. Namun sekarang itu sudah budaya/kebiasaan orang kita. Jadi orang kita juga sudah membaca dalam pesawat. Ini adalah kebijakan manajemen penerbangan untuk membuat penumpang tidak bengong dalam pesawat. Mereka musti punya kegiatan, seperti membaca, dan sekaligus untuk memantapkan SDM penumpang melalui literasi membaca koran dan tabloid.

Bali Sebagai Pulau Internasional

Sebagaimana yang telah aku nyatakan bahwa Bali adalah sebuah pulau internasional. Saat pesawat mendarat di Bandara Ngurah Rai, aku mendengar para turis berbicara dalam berbagai bahasa, bahasa negara mereka masing-masing.

Parawisata pulau Bali sudah level internasional. Tentu saja manajemen wisatanya bagus sekali sehingga semua Propinsi di Tanah Air telah belajar banyak ke sini. Begitu memasuki terminal penerbangan, kita dapat menemui berbagai brosur tentang tawaran berwisata. Dari peta terlihat setiap jengkal geografi Bali adalah tempat objek wisata. Itu berarti bahwa setiap jengkal geografi Bali adalah bisnis yang bisa menyerap banyak tenaga kerja. Maka di saat mencari kerja itu sulit maka menata daerah dan mengaktifkan dunia atau industri wisata akan bisa mengurangi indeks pengangguran.

Tampaknya bahwa parawisata di pulau ini tidak semata-mata dikelola oleh pemerintah, namun hampir semuanya telah dikelola oleh pihak swasta. Ada ratusan malah mungkin ribuan grup pemilik industri wisata di sini. Fungsi pemerintah hanya sebagai koordinator. Semuanya tumbuh dan menghiasi grup mereka dan pada akhirnya membentuk kecantikan pada pulau Bali.

Orang-orang asing sangat banyak yang bermukim di pulau ini. Dan tentu saja banyak teman dan keluarga mereka yang juga ingin datang-buat berlibur-dari negara mereka. Aku perhatikan saat keluar dari terminal bandara, warga Indonesia dan warga asing membaur satu sama lain dalam menyambut famili dan kenalan mereka.
Kami terus melangkah menuju ke terminal transit. Bule-bule, warga Australia juga dari bangsa lain, terlihat sudah sangat familiar dengan Bali. Tentu saja mereka lebih familiar dibandingkan dengan grup kami. Bagi kita pergi berlibur ke pulau ini masih termasuk sangat sulit dan juga mahal. Kami masih punya waktu sekitar dua atau tiga jam, sebelum terbang-menunggu buat boarding lagi menuju Melbourne. Bosan juga berada dalam ruang tunggu ini, kecuali kalau ada hal-hal unik lainnya buat dilihat.

“Wah kesempatan ini kami manfaatkan buat rileks, buat duty free dan juga cuci mata. Namun terlebih dahulu kami mencari praying room buat sholat. Akhirnya kami menemukan praying room pada ujung sebuah gang. Di sini kami melakukan sholat jamak buat sholat magrib dan isya. Ada rasa tenang dalam praying room kecil ini, ukurannya mungil, mungkin sekitar 3 kali 3 meter”.

Usai sholat kami belum mau keluar-pergi ke tempat lain. Kami menghabiskan sisa waktu dan bercanda sehangat canda anak-anak kecil. Teman-temanku yang pada umumnya berlogat Jawa berbagi cerita, kadang mereka bercanda dalam bahasa kampungnya. Aku mengerti namun aku tidak bisa ngobrol bahasa mereka. Sekali sekali mereka tertawa terbahak-bahak memecah kesunyian di senja itu. Bule-bule yang datang buat mampir ke toilet juga menoleh memperhatikan kami. Kami semuanya adalah 10 orang, dengan pribadi unik yang berbeda dan juga berasal dari 10 propinsi yang juga berbeda.

Akhirnya kami memutuskan untuk meninggalkan praying room. Aku melemparkan pandangan ke toko-toko buku dan juga toko kerajinan. Namun seleraku buat membeli buku muncul lagi. Ingin rasanya aku membeli lusinan buku, tetapi tidak mungkin untuk menambah berat bagasi. Niat buat beli aku batalkan, mungkin nanti bila sudah balik lagi ke Indonesia maka aku akan beli banyak buku.

Aku cuci mata dengan memperhatikan tingkah laku satu grup bule. Aku merasa tertarik memperhatikan prilaku dan interaksi mereka satu sama lain. Ternyata mereka juga suka punya anak sebagaimana halnya orang-orang kita. Karena temanku Anne Bedos, warga Perancis, mengatakan bahwa kalau di Eropa orang cenderung punya “satu anak atau nol anak”.

Beberapa keluarga bule Australia baru saja pulang berlibur dari Bali atau mungkin dari bagian Indonesia lainnya. Bukan hanya dimana-dimana saja anak kecil selalu mudah jadi rewel. Dan aku lihat bahwa beberapa keluarga usia muda asal Australia sangat sabar dalam menenangkan balita mereka yang lagi rewel-mungkin karena mengantuk atau karena kelelahan.

Mereka-ayah dan ibu-berbagi peran dan juga berbagi waktu dalam mengasuh anak dan dalam menenangkan anak. Berbagi waktu untuk menggendongnya. Agar balita mereka tidak terlalu bosan atau rewel dalam perjalanan, maka mereka telah menyiapkan kebutuhan balita seperti perangkat makan dan minuman ringan, alat alat elektronik buat hiburan dan juga alat tulis dan juga buku-buku cerita. Dalam waktu transit sekitar 3 jam aku tidak mendengar orang tua berusia muda tersebut menghardik dan mengeluh pada balita mereka. Aku berkesimpulan bahwa mereka betul betul siap buat menjadi orang tua. Pastilah mereka juga membaca buku tentang parenting. Tentu saja ini bukan kesimpulan secara umum.

 

Marjohan M.Pd, guru SMAN 3 Batusangkar , peraih Guru SMA Berprestasi 1 Tingkat Nasional, telah menerbitkan 2 buku terbaru dengan judul ” Menjadi Pemenang Dalam Kehidupan, dan Tebaran Pengalaman Dari Padang Hingga Sydney. Sebelumnya Marjohan M.Pd telah menerbitkan sekitar 10 judul buku skala nasional. Juga telah menulis lebih dari 120 judul artikel yang terbit pada koran koran nasional dan journal speleologie di Perancis. Untuk menumbuh kembangkan kualitas literasi perlu selalu action yang teragenda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.