Bertabur Pengalaman dari Padang Hingga Sydney (Bagian 12)

oleh -67 views
Bertabur Pengalaman dari Padang Hingga Sydney

Bertabur Pengalaman dari Padang Hingga Sydney

MENUJU DANDENONG HIGH SCHOOL

Satu setengah Jam

Hari ini adalah jadwal kami menuju sekolah Dandenong High School. Jaraknya kira-kira satu setengah jam dari Rydges hotel. Dandenong High School adalah salah satu sekolah pemerintah terbesar di Melbourne, Victoria, Australia. Sekolah ini terdiri atas tingkat SMP dan SMA atau dari kelas 7 hingga 12. Sekolah ini terletak di suburb dan banyak sekolah berlokasi di suburb. Diperkirakan bahwa jalan menuju sekolah tesebut bisa lancar.

Aku memilih duduk di bangku belakang, karena terasa lebih nyaman dan lebih rileks dan aku melemparkan pandangan ke luar. Aku melihat lebih banyak arus mobil/ kendaraan masuk menuju kota Melbourne daripada melaju menuju keluar kota. Berarti bahwa para pekerja di kota Melbourne banyak yang tinggal di suburb.

Aku merasa lapar, dan untung aku tadi pagi saat sarapan menyiapkan roti yang telah aku polesi dengan madu dan aku simpan dalam kotak. Ini cukup membantu untuk menghilangkan rasa laparku. Diam diam aku menikmati roti tersebut, roti sisa sarapanku. Aku yakin bahwa teman teman di depan juga punya cara tersendiri buat mengusir rasa lapar mereka. Aku membuang pembungkus makanan ke dalam tong sampah yang sengaja disediakan dalam bis ini.
Aku berharap agar semua mobil di tanah airku juga dilengkapi dengan tong-tong sampah. Kita tahu bahwa semua sampah yang bertebaran di sepanjang pinggir jalan raya di negara kita itu semua berasal dari sampah yang sengaja dibuang orang, para penumpang mobil, dari kaca atau jendela mobil.

Sebelum makan atau minum dalam mobil musti minta izin pada sopir. Kami semua sudah memperoleh izin dari Michael dan ia sudah memberi tahu pada kami untuk bisa jaga kebersihan. Oke kami tentu sudah tahu itu semua dan itu juga bagian dari gaya hidup guru-guru terbaik ini, hhh.

Sekali sekali bis kami melewati pom bensin. Atau pom bahan bakar (BBM). Ada beberapa nama perusahaan BBM yaitu seperti Bp, Seven-Eleven, dan Liberty. Kalau di kampung kita, seperti di Sumatra Barat BBM masih dikelola dan dikuasai oleh Pertamina. Sama dengan di kampung kita bahwa pom bensin juga merupakan rest area- tempat istirahat, paling kurang buat pergi ke toilet. Di sana tersedia toilet, kafe, dan fasilitas ATM untuk warga Australia.

Beramah-Tamah di Sekolah Dandenong

Setelah berada dalam bis selama kurang dari 2 jam, akhirnya kami sampai dekat Dandenong High School. Lokasinya di suburb atau di kabupaten. Kami menunggu dalam bis dan sementara itu Rachman turun untuk menghubungi pihak humas sekolah Dandenong. Bis akhirnya merapat ke sisi jalan dekat gerbang. Aku melibat ada palang yang menandakan bahwa semua kendaraan dilarang masuk ke halaman sekolah, alasannya adalah bisa merusak lantai pekarangan, aku melihat guru guru sekolah ini datang dengan taxi atau dengan tram yang lokasinya tidak jauh dari sekolah ini. Kami hanya diturunkan dan bis berangkat, karena bis dilarang parkir di sana.

Kami mengikuti langkah Mas Rachman. Aku khawatir kehilangan moment dan memanfaatkan mengambil foto. Kami agakterlambat memasuki ruangan konferensi. Di sana kami disambut oleh Miss Susan Ogden, Kepala Sekolah Dandenong High School. Kami duduk melingkari meja bundar dengan lantai karpet. Dindingnya dikelilingi oleh pajangan foto-foto event sekolah. Miss Ogden mengatakan bahwa dia sudah menjadi kepala sekolah di sana selama 1 tahun, dan secara keseluruhan ia sudah punya pengalaman sebagai kepala sekolah selama 24 tahun. Di sekolah ini ia dibantu oleh 4 orang wakil.

Dandenong High School berdiri pada tahun 1919, dan merupakan salah satu sekolah tertua di negara bagian Victoria. Jumlah siswa di sekolah ini sekitar 2000 orang dan sekolah ini adalah sekolah multikultur, siswanya berasal dari berbagai immigrant dan menggunakan berbagai bahasa. Sekolah ini tentu saja sekolah heterogen ada suasana kompetisi yang sehat dengan demikian merupakan siswa dengan motivasi yang tinggi.

Manajemen sekolah ini sangat baik, sehingga ada 3 sekolah telah bergabung atau merger dengan sekolah ini. Keputusan untuk merger bukan instruksi dari pemerintah tetapi permintaan dari masyarakat, orang tua siswa agar anak-anak mereka juga memperoleh pelayanan pendidikan yang berkualitas. 3 sekolah yang merger juga bisa menerapkan seperti apa bentuk komunitas dan cara belajar yang diharapkan.

Manajemen Sekolah

Sekolah yang sudah merger ini membentuk visi sekolah, kemudian merancang langkah strategis atau spesial misi buat menuju sukses. Dalam membangun visi mereka melibatkan banyak pihak seperti masyarakat, guru, orang tua dan alumni. Jadi membangun visi tidak menjadi hak mutlak seorang kepala sekolah.

Kepala sekolah dan masyarakat meminta hadir semua guru dan mereka mengusulkan jenis atau pola mengajar yang sesuai untuk perkembangan kemajuan. Tentu saja banyak orang tua yang memiliki wawasan luas dan mereka memberi sumbang saran tentang bagaimana proses pengajaran yang bisa mengembangkan potensi murid.

Kemudian juga meminta kepada guru seperti apa pola pengajaran yang bisa membuat guru-guru merasa nyaman.
Ternyata ruangan tempat kami rapat, melakukan pertemuan dan para gurumenyambut kami, adalah ruangan kelas, bukan ruangan konferensi. Pantasan aku melihat ada papan tulis, board marker dan juga foto- foto aktifitas siswa. Aku juga ingin mengusulkan agar kelas-kelas di sekolah Sumatera juga lebih serius untuk mendesain kelas mereka.
Pembelajaran di sekolah ini dilakukan dengan usaha yang innovative. Pembelajaran ada yang dilakukan oleh satu guru dan kalau jumlah guru berlebih maka dilakukan dalam team teaching, ada 2 atau 3 orang. Tugas team juga mendesain rencana pengajaran, melakukan dan menilainya. Penilaian, misal dalam bentuk assessment dan kemudian menulis laporannya. Team bertanggung jawab sekitar 20 hingga 30 orang siswa per kelas.

Tanggung jawab team teaching adalah one-heart, tidak ada guru yang merasa superior dan yang lain merasa inferior. Pola team teaching yang damai perlu diaplikasi di sekolah kita. Setiap sore, guru mata pelajaran sejenis duduk bareng untuk membahas hasil kinerja mereka.

Suasana Kelas Yang Nyaman

Usai bertukar pikiran dengan Miss Susan Ogden, kami dipersilahkan untuk berkunjung ke dalam kelas. Aku mengikuti langkah seorang guru pemandu menuju sebuah kelas. Saat itu ada kegiatan PBM. Aku melihat suasana kelas yang berbeda. Satu kelas bisa terhubung dengan kelas yang lain, kemudian aktivitas PBM di kelas sebelah bisa terlihat oleh guru lain.

“Kenapa satu kelas dengan kelas yang lain hanya dipisah dengan kaca dan apakah tidak mengganggu ?” Aku bertanya pada salah seorang guru.

“Ini model pelayanan pendidikan kami. Kelas yang di sini dengan kelas yang di sebelah bisa saling melihat. Agar semangat bisa saling menular. Kalau kelas di sebelah belajar penuh semangat, di sini tidak, maka sebagai guru akan berusaha untuk membuat kelasnya juga bersemangat”. Demikian penjelasan guru tersebut.

Tadi sebelum memasuki gedung kelas ini kami berjumpa dengan dua orang siswa, memakai jaket seperti jaket polisi, di punggungnya ada tulisan: on duty, atau sedang bertugas. Setelah kami tanya ternyata mereka sedang dapat tugas piket untuk kebersihan. Jadi mereka harus mencari-cari sampah dalam perkarangan sekolah dan memungutnya dengan jepitan.

Ide ini juga bagus untuk diadopsi, bahwa siswa yang piket kelas wilayahnya tidak hanya dalam kelas. Tentu saja ada dua orang perkelas memakai jaket piket dan mencari sampah di seputar perkarangan sekolah.
Aku ingin mengambil foto. Mengambil foto siswa tentu saja diizinkan asal secara umum. Kemudian kami dipandu ke luar kelas, ke halaman. Kami melihat blok-blok gedung kelas. Ada gedung berwarna biru, berwarna hitam dan gedung dengan dinding batu-bata. Itu semua hanya sekedar membedakan kelompok kelas saja.

Kami memasuki kelas yang lain dan PBM dipandu oleh team guru, dimana siswa duduk dalam grup. Team guru terlihat cerdas dan sangat kompak, tidak ada yang terlihat cukup dominan. Aku melihat bahwa meja guru hanya kecil saja, dan aku melihat tidak ada guru yang duduk, semua berjalan, beraktivitas dalam memandu siswa.
Saat itu aku perhatikanm ada dua siswa yang bertugas hanya menyiapkan pertanyaan, ada kelompok yang memahami satu topik, ada kelompok lain yang memahami topik lain, dan juga ada siswayang sedang browsing internet untuk mencari info tambahan.

Setelah itu akan ada proses prestasi dan kegiatan tanya jawab. Dan guru telah memiliki lembaran assessment di tangan.

Aku memfoto setumpuk tugas siswa di atas meja guru. Saat itu adalah pelajaran bahasa Inggris. Aku melihat coretan-coretan dan catatan revisi dan editing guru atas naskah artikel siswa, jadi guru betul-betul membaca tulisan siswa, tidak sekedar memberi tanda tangan dan memberi kata-kata “very good” saja. Tentu saja siswa merasa senang ya sebagai efek bahwa karya mereka ada dibaca oleh guru

Hari itu katanya adalah hari persiapan ekhibisi atau pameran budaya, karena para siswa berasal dari berbagai kultur di dunia. Mereka sedang mempersiapkan pernak-pernik dari negara asal mereka. Ada yang lagi membuat bendera, menulis kalimat dalam bahasa mereka, seperti bahasa Vietnam, Thailand, Indonesia, Croasia, dll. Ada juga yang ingin mempromosikan wisata, kuliner dan tari dari negara mereka. Mereka memajang dan setelah itu kelak akan saling mengunjungi stand masing-masing.

Kalau sekolah di Jakarta, siswanya bisa jadi berasal dari berbagai propinsi. Tentu saja mereka bisa mengadopsi kegiatan ini. Misalnya pada hari sabtu membuat kegiatan pameran.

 

Marjohan M.Pd, guru SMAN 3 Batusangkar , peraih Guru SMA Berprestasi 1 Tingkat Nasional, telah menerbitkan 2 buku terbaru dengan judul ” Menjadi Pemenang Dalam Kehidupan, dan Tebaran Pengalaman Dari Padang Hingga Sydney. Sebelumnya Marjohan M.Pd telah menerbitkan sekitar 10 judul buku skala nasional. Juga telah menulis lebih dari 120 judul artikel yang terbit pada koran koran nasional dan journal speleologie di Perancis. Untuk menumbuh kembangkan kualitas literasi perlu selalu action yang teragenda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.