Sajak-sajak Tantawi Panggabean

oleh -56 views

TANTAWI PANGGABEAN. Lahir di Medan, 6 Juni 1955. Menggeluti teater sejak tahun 1973 di Jakarta bersama Art Study Club. Tahun 1978 ia meraih Best Actor Festival Teater Remaja di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta. Ikut bergabung di Himpunan Seni Budaya Islam (HSBI) Jakarta kemudian bermain sinetron dan film layar lebar (1970-1980). Di tahun 1981 ia kembali ke Medan, lalu menjadi PNS (guru) di sebuah SMK di Padangsidempuan (1982). Beberapa sinetron dan film yang pernah ia lakoni, di antaranya: Perempuan dari Sidimpuan (sebagai pemeran utama bersama Tetty Liz Indiarti), Azab dan Sengsara (RCTI, 1994), dan lainnya. Ketika menjadi Guru Seni Teater dan Sastra (2012), ia meraih predikat Sutradara Terbaik se-Sumut dalam Festival Teater Rakyat. Sejak tahun 1985 hingga sekarang ia aktif di Dewan Kesenian Tapanuli Selatan dan Kota Padangsidimpuan. Di berbagai festival sastra, ia membacakan puisi-puisi karyanya. Saat ini bermukim di Padangsidempuan.

Ketika Puncak Bukit Ini Melenguh

Semilir angin dingin menyentuh kulit legam terempas di dinding bukit
Riung raung menggema menggeram hiruk pikuk sekejap
Nanar tatapan mata menatap kebisuan seketika
Lekuk gemulai pepohonan tua menantang bayu bercengkerama tak hiraukan gemerutuk batang tua nan rapuh menjilat daun kering
Batu cadas berlumut mulai jenuh menahan bobot beban
Puncak menua lelah
Lenguhan caldera bergerak perlahan menepis penahan bukit yang dulu indah
kini renta termakan waktu
terus merambat seiring putaran mayapada sealur era demi era
Puncak bukitku lelah, puncak bukitku tersengal entah ke mana
dera ini kukultuskan

2019

Nyanyian Bisu

Kugerakkan bibir kelu
kepedihan dalam simponi baku tak bermakna
Jemari sembulkan urat kebiruan di atas tuts piano
Nada-nada napas kehidupan
Berirama sendu tusukkan onak di dada
cekung tanpa daging berselubung fakir

Tulang rapuh
Laguku bergenre klasik jadul
Lantunan lidah sekelu bara api tak kunjung marak
Adakah senandung biru terkontaminasi di ruang kalbu biru
Semarak tak lagi berwarna
Suka tinggal nestapa
Hasrat berganti asa
Getar mulut mengunci menyeruput murka di wajahnya
tak bergeming sedikitpun, mana nyanyianku
mana dukamu, mana sukamu
Rauplah semua untuk nyanyian palsu

Sidempuan, awal 2019

Asapmu Tak Kunjung Padam

Padangsidempuan
Buram angkasa selimuti Bumi Bertuah
Gemerutuk ranting pepohonan kering menjilat merambat
kobaran api menyeruak hutan bakau berawa tumpuan tanah melayu daratan
Mata tak tembus pandang mega-mega berarak
Panas menyengat kulit, bercak debu pasir beterbangan
hinggap di retina mata perih, bedebah tertawa
Mengapa tangan dosa tega lumuri lumpur untuk kesenangan sesaat?
Bencana asapmu tak kunjung padam, air pun kini tak berarti lagi
Seperti penggalan lagu rolies era 70-an, “mengapa hutanku hilang dan tak pernah tumbuh lagi”
Dulu hutanku lebat rimbun tanpa asap, kabut embun dingin
menetes di dedaunan bak ratna mutu manikam,
kicau burung ciptakan simponi merdu buluh perindu
kini derik-derik ranting kering daun rapuh gersang rawa pun kering kerontang tak beralasan

O, asap jangan penuhi rongga napas kami!
Kami menghirup keegoisanmu, kemunafikanmu
duka kami adalah dukamu

2019

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.