Sebuah Topi Ajaib dan Peristiwa Menggemparkan di Kota Ture

oleh -171 views
Sumber ilustrasi: pixabay.com

Oleh Apriliyona Patrisia

MODA berlari sekuat tenaga. Polisi mengejarnya. Moda masuk ke dalam hutan. Ia berlari tanpa alas kaki. Moda tak peduli apa yang dia injak. Ranting patah atau duri sekalipun. Sampai akhirnya dia berhenti di bibir jurang.

“Ugh! Ke mana lagi ini?” Moda bingung.

Sementara itu suara langkah kaki segerombolan polisi terdengar semakin dekat. Tanpa pikir panjang, Moda langsung menuruni jurang. Jurang itu landai. Tapi nahas, dia terpeleset dan jatuh berguling-guling. Tubuhnya terempas di batang pohon besar. Ranting kayu menggores tubuh Moda. Terluka dan berdarah. Moda pun kehilangan kesadarannya. Pingsan.

***

“Pasukan K, cari di sebelah Utara! Pasukan B, cari di sebelah Barat!” seru Kapten Joe.

Kedua pasukan polisi bergerak. Ke Utara dan Barat. Tapi, setelah pencarian itu, mereka kembali menghadap Kapten Joe.

“Lapor, Kapten. Tidak ada tanda-tanda tersangka, baik di Utara maupun Barat!” ujar kedua pasukan.

“Kapten, kurasa dia sudah mati!” seru salah seorang polisi.

“Bagaimana bisa kau berpikir begitu?”

“Semua wilayah telah digeledah. Cuaca pun tidak bagus!” jawab mereka.

“Jangan terlalu cepat memberi kesimpulan. Besok pencarian kita lanjutkan!” perintah Kapten Joe.

“Siap, Kapten!”

***

AWAN hitam mulai menyelimuti langit. Hutan antah berantah itu gelap. Hujan badai turun disertai suara halilintar yang menggelegar.

“Aduh, sakit…,” Moda meringis. Ia memegang lengannya yang terluka. Darah mengucur deras. “Aduh, aku pusing,” ringisnya lagi.

Pemuda itu terus berjalan. Terseok-seok. Menuruni lembah. Suasana hutan mencekam.

Dari jauh, ia mendengar suara riak air. Sungai. Ia sedikit lega.

Moda duduk di atas sebuah batu besar. Ia lemas, kehabisan darah. Ia berpikir cepat untuk melakukan pertolongan pertama. Ia pun merobek bagian bawah bajunya lalu mengikatkannya erat ke lengannya yang terluka itu.

“Di mana ini?” Moda mencoba menerka di mana ia berada. Tapi ingatannya tak cukup kuat. Ia tersesat.

“Polisi-polisi itu pasti masih mengejarku. Aku harap ibu baik-baik saja. Agh! Mereka menyebalkan!” gerutu Moda lagi. Suara insekta margasatwa menyeruak di tengah hutan. Suara riak air sungai juga.

Di tengah kebingungan dan ketakutannya, Moda melempar sebuah kerikil yang agak besar ke sembarang arah.

“Takkk!!!” suara kerikil itu mengenai sesuatu.

Moda terkejut. Moda berpikir, jika kerikil itu menyentuh tanah, suaranya tak mungkin sekeras itu.

Moda pun menoleh ke arah suara yang menarik perhatiannya. Ia penasaran.

Betapa terkejutnya Moda, ternyata batu kerikil yang ia lempar mengenai sebuah kotak kayu—tepatnya sebuah peti, tidak terlalu besar—yang tersembunyi di tengah rimba itu. Kenapa di situ ada sebuah peti? Peti ajaibkah milik seorang gergasi yang tinggal di hutan?

Moda merinding. Ia mulai takut.

Tapi, rasa keinginantahuannya mengalahkan ketakutannya. Moda semakin mendekat, lalu memberanikan diri membuka peti kayu itu.

“Siapa yang meninggalkan peti di hutan antah berantah ini ya?” gumamnya lagi. “Hah, topi?” seru Moda ketika ia buka peti itu dan di dalamnya ia temukan sebuah topi. Topi itu berwarna hitam dengan simbol bulan sabit di tepinya.

Moda sempat berpikir, jika di dalam peti itu ia menemukan setumpuk harta karun.

Tiba-tiba, hujan pun turun. Halilintar semakin menyambar-nyambar.

“Apa kupakai saja topi ini ya? Paling tidak ini bisa sedikit melindungi kepalaku. Aku harus berlari lagi agar tidak tertangkap oleh polisi-polisi itu,” gumam Moda.

Moda memakai topi itu lalu menjauhi tepian sungai. Moda tidak sadar topi yang dia temukan di dalam peti itu adalah topi ajaib. Tiba-tiba, terjadi perubahan drastis pada tubuh Moda. Tubuhnya menjadi sangat tua.

***

MODA terus berjalan menembus lebatnya hutan yang gelap. Napasnya tak beraturan. Ia merasa menjadi sangat lelah.

“Ugh, kenapa aku sangat lelah sekali? Padahal aku baru berjalan sebentar saja,” keluh Moda. Peluh mengucur deras di tubuhnya.

Tiba-tiba, nun, tak jauh dari Moda, ia melihat cahaya. Cahaya itu semakin mendekat. Moda takut jika itu adalah polisi.

“Siapa di situ?” seru suara itu. Seorang pemuda. Moda yakin itu bukan polisi. “Hai, Kakek. Ngapain kau di situ?” suara itu lagi yang sudah sangat dekat.

“Kakek? Siapa kakek?” Moda terkejut dipanggil kakek.

“Apakah kau ditelantarkan keluargamu di tengah hutan ini?” tanya pemuda itu lagi.

Moda semakin kebingungan. Ia tak menjawab. Takut juga.

“Siapa kau? Kenapa kau memanggilku dengan sebutan kakek?” protes Moda. Sebelum Moda berkata lagi, tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang aneh pada suaranya. “Oh. Suaraku… Kenapa suaraku menjadi seperti ini?” pekik Moda. Suaranya berubah menjadi suara orang tua. Bahkan suara yang sangat tua.

Moda cemas. Ia seperti tidak menguasai dirinya sendiri. “Wajahku… Oh, wajahku!” Moda meraba-raba wajahnya yang telah berkulit keriput itu.

“Aduh, kasihan sekali, apa kakek terbentur batu yang membuat kakek lupa ingatan bahwa kakek adalah seorang tua?” Pemuda itu bicara dengan nada kasihan.

“Hei, aku bukan orang tua. Sepertinya kita sebaya!” protes Moda lagi.

“Kakek bicara apa? Cobalah lihat tubuh kakek. Kakek jauh lebih tua dari tubuhku,” ujar Pemuda itu meyakinkan moda. Pemuda itu pun terlihat bingung atas jawaban Moda. Lalu, ia mencoba mencairkan suasana. “Kek, sebaiknya kita cari tempat berteduh. Hujannya semakin deras,” ajak Pemuda itu.

Moda mengangguk. Ia masih dihantui ketidakpercayaan dengan apa yang terjadi pada dirinya.

***

“KEK, ini bajuku, pakailah! Baju kakek lusuh dan basah,” tawar Pemuda itu, di sebuah gubuk. Rupanya, di hutan itu ada sebuah gubuk persinggahan untuk para pekerja hutan. Moda tinggal di situ.

“Ah, iya,” Moda mengganti bajunya dengan pikiran yang masih bingung.

“Lengan kakek sepertinya terluka, coba kulihat,” pinta Pemuda itu.

“Ouw! Hei, pelan-pelanlah, kulitku sensitif,” Moda merintih menahan sakit ketika pemuda itu memegang lengannya.

“Maafkan aku, Kek,” ujar Pemuda itu. Lalu, ia meminta izin untuk mengganti kain pembalut luka di lengan Moda yang telah kotor.

“Sudah selesai?” tanya Moda.

“Iya, sudah. Oh ya, perkenalkan namaku Duxe, siapa nama kakek?”

“Aku Moda. Jangan panggil aku kakek! Percayalah, kita sebaya.”

“Baik, Moda… Aduh, rasanya aku sangat tidak sopan kepada orang tua,” ucap Duxe.

“Ini di mana?”

“Oh, ini di Barat hutan Rict, kenapa Kek? Oh, maksudku Moda, bagaimana kau bisa sampai ke sini?”

“Ah, aku…”

“Kenapa?” tanya Duxe penasaran.

“Aku lupa.”

“Lupa? Kurasa kau benar-benar terbentur batu, lalu lupa ingatan.”

“Sedang apa kau di sini? Apa ini rumahmu?” tanya Moda mengalihkan pertanyaan Duxe.

“Aku pekerja. Ini bukan rumahku, hanya gubuk persinggahan saja. Banyak pekerja hutan yang singgah di sini. Ayo, ke rumahku!” ajak Pemuda itu.

“Rumahmu? Di mana, dan untuk apa?”

“Kau sepertinya tidak punya tujuan dan kelihatan sangat lelah sekali.”

“Tidak apa, aku di sini saja,” ujar Moda.

“Ayolah! Kau bisa jadi santapan binatang buas kalau di sini dalam keadaan terluka parah,” ucap Duxe. Menakuti Moda.

Moda terdiam. Dia tak punya pilihan. Ia memutuskan mengikuti tawaran Duxe.

Duxe dan Moda keluar meninggalkan gubuk itu. Mereka berjalan tak berapa jauh sebelum akhirnya menemukan jalan setapak yang biasa dilalui kendaraan.

“Itu mobilku. Jip tua,” tunjuk Duxe. Moda melihat mobil itu.

***

SETELAH berkendara selama satu jam menempuh medan yang agak berat, keluarlah Duxe dan Moda dari belantara itu. Mereka menemukan jalan raya, lalu mobil melaju dengan kecepatan lambat.

Di tengah perjalanan, Moda terkejut melihat polisi melakukan razia. Ia ingin melompat, tapi tangannya ditarik Duxe. “Tenanglah, tidak apa-apa. Surat-suratku lengkap,” kata Duxe.

Polisi menghentikan mobil Duxe. Meminta surat-surat kelengkapan kendaraan. Polisi itu juga membagikan selembar kertas yang memuat sebuah foto dan tulisan: “Wanted”.

“Siapa dia?” tanya seorang polisi.

“Ini kakekku, sedang sakit, dan akan aku bawa ke rumah sakit,” jawab Duxe, berbohong.

Polisi dengan mata awas menatap Moda. Moda tampak cemas dan takut. Tapi, sepertinya polisi tidak curiga, sebab Moda telah berubah menjadi seorang kakek. Kondisi itu menyelamatkan Moda.

“Silakan jalan, mobil Anda aman,” ujar Polisi itu yang kemudian menjadi ramah.

Moda lega. Duxe menjalankan mobilnya.

***

TAK lama setelah momen yang menegangkan itu, sampailah mereka di rumah Duxe.

“Ini rumahku, silakan masuk.”

“Rumahmu cantik, tapi sepertinya sepi.”

“Benar, aku tinggal sendirian, tak ada orang lain di sini,” jawab Duxe.

“Kenapa kau berani membawa orang yang tak kaukenal?”

“Tak kukenal? Kau kan Moda? Kita sudah berkenalan. Tak ada yang salah, bukan?”

“Apa kau tidak khawatir jika aku seorang penjahat?” pancing Moda.

“Penjahat? Hmm, kulihat kau seorang kakek yang baik. Di ujung usiamu, apakah kau tak ingin memperbanyak amal?”

Jawaban Duxe mengejutan Moda.

“Sudah kubilang jangan panggil aku kakek!” Moda tampak kesal. Duxe tertawa.

“Baiklah, Moda. Kau lelah, itu kamarmu, sila istirahat,” suruh Duxe.

Moda mengangguk. Lalu ia beranjak ke arah kamar yang ditunjuk Duxe. Kamar itu bersih dan terawat. Melihat bantal dan kasur, mata Moda diserang kantuk yang berat. Dia lelah sekali.

Sebelum tidur, Moda melepaskan topi yang ia pakai.

***

MODA terbangun. Lelahnya hilang setelah tidur yang lumayan lama.

“Oh, wajahku, wajahku… sudah tidak tua lagi. Suaraku juga…” Tiba-tiba, Moda merasakan ada yang berubah dari tubuhnya. Dia bukan seorang kakek lagi, tapi seorang pemuda. Dirinya kembali seperti semula.

“Bagaimana ini bisa terjadi?” tanya Moda dalam hatinya. Dia masih belum percaya. “Apa karena topi itu? Topi ajaib itu bisa mengubah fisik seseorang. Benarkah?”

Dalam kebingungannya itu, tiba-tiba pintu kamar Moda diketuk. Duxe datang, sebab ia mendengar suara berisik di kamar Moda.

Refleks Moda meraih topi ajaibnya. Ia mengenakan topi itu, dan seketika ia menjadi tua lagi.

“Kau baik-baik saja?” tanya Duxe.

“Ya, aku baik-baik saja.”

“Syukurlah. Oh ya, aku mau ke Ture, kau ikut?” ajak Duxe.

“Ture?” Moda terkejut ketika disebut nama itu.

“Iya.”

Moda teringat ibunya.

***

DUXE dan Moda pergi ke Ture. Di kota itu, di mana-mana tercium aroma masakan. Kota itu kota yang puitis.

“Moda, sejak tadi kau hanya diam, ada masalahkah?” tanya Duxe penasaran.

Moda terkejut. Ia melamun. Membayangkan wajah ibunya.

Tanpa terasa mereka telah sampai di Ture. Di kota itu, Duxe mencari sesuatu, untuk keperluan dapurnya.

“Duxe, kau pergilah dulu, nanti aku susul. Ada yang harus aku jenguk di sini,” ujar Moda kemudian.

“Oh, siapa itu? Kuatkah kau berjalan seorang diri?” tanya Duxe. Ia seperti tidak tega membiarkan Moda yang tua sendirian.

“Temanku ada di sini,” jawab Moda.

“Hmm, baiklah.” Duxe melepas Moda, tanpa curiga.

***

DI SEBUAH toko roti yang kondisi bangunannya tidak terawat, banyak coretan-coretan ejekan yang ditulis dengan cat, jendela yang kacanya sudah pecah, dan papan toko yang seharusnya digantung terlantar di tanah, Moda berhenti.

“Mana mungkin?” Seorang wanita paruh baya yang berdiri tak jauh dari Moda berbicara dengan temannya yang juga seorang wanita.

“Iya, benar, anaknya membunuh ayahnya. Ibu anak itu bersekongkol untuk membunuh suaminya. Keji sekali,” ujar wanita paruh baya yang satunya lagi. Mereka ngerumpi.

Moda terus menguping.

“Padahal suaminya polisi. Kok bisa terjadi?”

“Polisi!? Kasihan sekali polisi itu, dia menyelamatkan orang lain dari bahaya tapi malah dia yang dimakan bahaya, dan itu dilakukan keluarganya sendiri.”

Wajah dan telinga Moda memerah mendengar pergunjingan itu. Ia ingin melakukan sesuatu, tapi tak tahu harus bagaimana. Dia terus menyimak, hingga wanita-wanita itu membubarkan diri.

***

MODA berjalan seperti orang ling-lung. Siang di Ture terik. Ia baru berhenti setelah langkahnya berdiri di sisi sebuah pusara berbatu nisan bertuliskan sebuah nama: Cora.

“Ibu, aku rindu…,” guman Moda. Dia duduk terpekur. Lama. Dia tidak merasakan air matanya jatuh membasahi kedua pipinya.

Cora, nama di batu nisan itu, adalah ibu Moda. Cora cantik, baik, dan pemurah. Dia mengelola sebuah toko roti dan menikah dengan seorang pewira polisi. Tapi kehidupan Cora tidak bahagia. Suaminya yang tak lain ayah Moda, bukan laki-laki baik. Ia suka main tangan. Fisik Cora yang kurus itu sering menjadi pelampiasan kekejian suaminya.

Hampir setiap hari, Moda menyaksikan kekerasan di rumahnya.

Tak seorang pun tetangga yang tahu jika Cora menjadi korban siksaan suaminya, kecuali anaknya, Moda. Moda naik pitam. Entah setan apa yang merasuki tubuhnya, ia mengambil jalan pintas, membunuh ayahnya sendiri. Polisi datang, dan Moda dituduh bersekongkol bersama ibunya, Cori, melakukan pembunuhan berencana.

Moda berhasil kabur dari rumah yang lantainya bersimbah darah, sementara Cori memilih jalan bunuh diri. Wanita itu tidak kuat menanggung penderitaan yang bertubi-tubi. Moda melarikan diri ke hutan, hingga ia menemukan topi ajaib itu.

Di koran-koran Kota Ture, peristiwa pembunuhan itu menjadi pemberitaan hangat, begitu juga di sudut-sudut Ture, semua orang bergunjing.

Dan, hari itu, Moda pulang, bersimpuh di sisi nisan pusara ibunya. Ia meletakkan topi yang ia pakai di atas tanah pusara yang masih basah, sampai ia tidak menyadari jika sepasukan polisi telah berdiri di belakangnya.

Banuhampu, 24 Oktober 2019

Biodata:
Apriliyona Patrisia. Lahir di Bukittinggi, 12 April 2003. Suka membaca komik dan menonton Drama Korea. Siswi SMA Negeri 1 Banuhampu, Kabupaten Agam, Sumatra Barat, yang saat ini sedang mengikuti Program Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS) untuk Kelas Sastra. Berdomisili di Banuhampu.

One thought on “Sebuah Topi Ajaib dan Peristiwa Menggemparkan di Kota Ture

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.