Berguru di Negeri Jepang (Bagian 13)

oleh -13 views
Berguru di Negeri Jepang

Berguru di Negeri Jepang

Oleh Marjohan, M.Pd dan Sefrita Yenti

Leadership Orang Jepang

Aku mengenal tiga atasanku yaitu Fujioka, Fukuisan dan Oonishinorio San. Mereka punya sumbangsih terhadap perkembangan bahasa Jepangku dan juga mental kerjaku. Bila aku berbicara bahasa Jepang dan tidak mengerti apa yang ia maksud, maka ia menjelaskan kata dalam bentuk defenisi atau memberi sinonimnya. Kalau juga aku tidak mengerti maka ia menjelaskan sampai aku mengerti.

Fujioka mengurus dokumen- dokumen kami. Fukuisan adalah instruktur kami sebelum bekerja di lapangan, kami belajar dengannya selama satu bulan, dan Oonishinorio San adalah pemilik perusahaan. Mereka bertiga memiliki pribadi yang baik. Fujioka orangnya baik, suka menolong. Orang Jepang meskipun atasan kita mereka tidak otoriter dan juga tidak neko- neko. Orang Jepang itu sederhana dan suka membantu kita kalau kita punya kesulitan- ia langsung terjun memolong kita.

Fukuisan sudah terasa ibarat orangtuaku sendiri. Ia memiliki jiwa kebapakan dan memiliki banyak perhatian. Ia juga suka ngobrol dan bercanda dengan kita. Kalau kita ngomong maka dia juga mendengar kita, jadi komunikasinya dengan bawahan adalah dua arah. Aku juga meledeknya dalam bahasa Jepang. Aku merasakan dia sebagai teman dan juga sebagai bapak.

Oonishinorio San memiliki pribadi yang gigih. Orangnya juga baik dan suka menolong- dia juga pekerja keras dan memiliki semangat kerja yang tinggi. Ia tidak mau kalah dan ia punya motto hidup yaitu ingin selalu menjadi nomor satu. Walau ia dalam keadaan sakit maka ia tidak bilang ia sakit. Pokoknya ia bersemangat dan tidak ada istilah mengeluh dalam hidup.

Saat ada penilaian perusahaan berprestasi maka perusahaan tempat aku bekerja- perusahaan milik Onochiario San meenjadi perusahaan terbaik di Jepang. Dia pergi menerima penghargaan ke Kaisar Jepang. Ia memperoleh piagam sebagai perusahan pertanian terbaik di Jepang.

1) Emosi Orang Jepang
Setiap orang punya emosi, namun aku jarang melihat atasanku/ bossku yang emosi. Kebanyakan aku lihat orang Jepang kalau emosi mereka diam saja. Nanti kalau mereka habis minum sake- ini tidak boleh kita tiru- hingga mereka jadi mabuk maka mereka meluapkan emosinya. Jadi aku jarang atau tidak pernah melihat orang Jepang yang marah secara langsung.

Bagaimana deskripsi orang Jepang kalau emosi/ marah ? Aku fikir bahwa marah adalah manusiawi. Marah yang bisa berdampak buruk adalah marah yang tidak dikelola. Sebaliknya bila kita mampu mengelola amarah dengan tepat, maka ekspresi kemarahan kita justru akan menyehatkan. Hal ini sudah terbukti pada sebuah penelitian yang menyatakan marah akan lebih baik daripada memendam perasaan jengkel.

Marah juga merupakan satu bentuk komunikasi. Karena adakalanya orang lain baru mengerti maksud yang ingin disampaikan ketika kita marah. Bentuk penyampaian marah bisa berbeda-beda bergantung pada lingkungan dan kondisi sosial budaya yang membentuknya. Di Jepang, orang sering diam saat marah karena memang orang-orang Jepang tidak terbiasa mengekspresikan perasaannya. Berbeda dengan orang Amerika yang lebih berterus terang mengungkapkan perasaannya atau sama halnya dengan Suku Batak di tanah air kita.

2) Gaya Kepemimpinan Jepang
Siapa yang tidak kenal Jokowi, gebrakan orang nomor satu di DKI yang ingin mewujudkan “Jakarta Baru” sebagai kota modern yang memiliki prasyarat berkebudayaan kian hari kian populer dimata rakyat. Gaya kepimimpinan Jokowi sebagai sosok yang fenomenal merupakan sesuatu yang baru di jajaran pemerintahan bahkan dimata seluruh bangsa Indonesia, pasalnya negeri kita jarang menemukan pemimpin yang sederhana,bersahaja, merakyat dengan bahasa yang mudah dicerna, terkenal jujur dan anti korupsi.

Bagi mereka yang memahami gaya kepemimpin Jokowi yang berorientasi lapangan tidak akan bertanya lebih jauh apalagi meragukannya? Karena pola kepemimpinan semacam itu, mengingatkan kita dengan strategi manajemen yang berorientasi lapangan yang disebut ―Genchi Genbutsu7‖.

Istilah ini sangat dikenal akrab dijajaran manajemen coorporate maupun pemerintahan Jepang, bahkan konsep yang awalnya menjadi pilar keberhasilan Toyota tersebut telah mendunia, diterapkan oleh beberapa pemimpin tersukses sekalipun dalam tatanan organisasi korporat, sebut saja Jack Welch mantan CEO General Electric, Konosuke Matsushita (Pendiri Panasonic) bahkan Sakichi Toyoda (pendiri Toyota).

Para pemimpin di atas merupakan tipe pemimpin yang dikenal paling sering turun kelapangan untuk bertemu, menyapa, memotivasi serta memeriksa permasalahan yang dihadapi pekerja maupun karyawannya, yang membawa dampak positif dalam meningkatkan kinerja perusahaan.

Pendekatan tersebutlah yang bisa membuat para pekerja untuk sering ketemu dengan Direktur atau bahkan Presiden Direktur. Malah, saking seringnya bertemu, membuat reaksi para pekerjanya biasa-biasa saja saat berjumpa pemimpin tertingginya. Tak ada persiapan khusus dan pengistimewaan yang berlebihan.

Bandingkan jika ada seorang bupati, gubernur atau pejabat pusat berkunjung kepolosok desa di daerah. Bisa dipastikan, jauh hari sebelumnya para aparat desa, kecamatan bahkan PNS kita dimobilisasi secara masal untuk kerja bakti merapikan kantor dan lingkungan serta jalan yang akan dilaluinya, dengan beragam eksploitasi ―kreatifitas‖ lainnya supaya sambutannya terkesan lebih hidup dan mendapatkan pengakuan dan pujian.

Genchi Genbutsu merupakan ilmu yang umum digunakan oleh para eksekutif Jepang untuk memecahkan setiap persoalan yang sering diabadikan dengan pengambilan gambar visual sebagai fakta dilapangan. Awalnya Genchi Genbutsu merupakan salah satu konsep sekaligus pilar keberhasilan manajemen Toyota. Secara harfiah ―Genchi Genbutsu‖ berasal dari bahasa Jepang, yaitu pergi dan lihat permasalahan di lapangan atau

―Go and See the Problem‖. Genchi Genbutsu bukan sekedar teori, melainkan lebih menekankan pada praktek dengan melakukan observasi lansung untuk memahami masalah tersebut lebih dalam (real fact) di ditempat terjadinya masalah (real place) supaya paham terhadap persoalan yang ada sebagai dasar untuk melakukan perbaikan yang cepat dan tepat.

Marjohan, M.Pd, Guru SMA Negeri 3 Batusangkar, Program Pelayanan Keunggulan Kabupaten Tanah Datar. Sumatera Barat. Ia juga tercatat sebagai ―Peringkat 1 guru berprestasi tingkat nasional 2012‖ dan penerima Satyalencana Pendidikan dari Presiden RI. Aktif menulis pada koran Singgalang, Serambi Pos, Haluan dan Sripo (Sriwijaya Post). Telah menulis buku dengan judul ―School Healing- Menyembuhkan Problem Sekolah (Pustakan Insan Madani,2009- Yogyakarta)‖, ―Generasi Masa Depan- Memaksimalkan Potensi Diri Melalui Pendidikan (Bahtera Buku,2010-Yogyakarta)‖, Tuntutlah Ilmu Hingga ke Negeri Prancis (Diva Press, 2012- Yogyakarta), Akhirnya Kutaklukan Kampus Jerman (Diva Press, 2012- Yogyakarta), dan buku Budaya Alam Minangkabau (Citra Pustaka, 2012- Solo). Pengalaman Meraih Guru Berprestasi Nasional (Diva Press, 2012- Yogyakarta), dan Melbourne Memang Dahsyat.

Sefrita Yenti, Lahir tahun 1984 di Lintau- Batusangkar, Sumatera Barat. Pendidikannya di SMAN 1 Lintau- Kab. Tanah Datar dan melanjutkan pendidikan ke INGG Bukittinggi. Ia mendalami budaya dan bahasa Jepang, kemudian pernah bekerja di Perusahaan Thomson dan Pt. Nissin Kogyo, Batam. Ia mengikuti pelatihan magang ke Jepang melalui PT Yuko Tesa Mirai di Padang. Usai pelatihan ia bekerja di perusahaan Kabushiki Kaisha Chuuoo- Shikoku, Prefecture Kagawa, Kanonji Shi, Nakahime- Japan. Setelah 3 tahun ia balik ke Batusangkar- Sumatera Barat, kemudian mendirikan sekolah Bahasa Jepang,inggris dan Mandarin,jarimatika. dengan nama Chuoo Mandiri di Tanjung Karang, Propinsi Lampung.

 

Tentang Penulis: Feni Efendi

Gambar Gravatar
Feni Efendi lahir 20 Juli 1984 di Tiakar Kota Payakumbuh. Menamatkan pendidikannya di SD N 06 Balai Nan Tuo Tiakar Payakumbuh (1997), SLTP Negeri 5 Payakumbuh (2000), SMK Taman Siswa Payakumbuh jurusan Elektronika Komunikasi (2003). Ia menulis catatan perjalanan, sejarah, puisi dan juga sebagai blogger, copywriter dan youtuber. Buku puisinya berjudul SELENDANG IBU PERDANA MENTERI dan buku catatan perjalanan sejarahnya berjudul JEJAK YANG TERLUPAKAN: Menyusuri Jejak Mr. Syafruddin Prawiranegara dalam Menjalankan PEMERINTAH DARURAT REPUBLIK INDONESIA (PDRI) pada Masa Agresi Militer Kedua Belanda di Sumatera Tengah. Bukunya bisa dipesan melalui kontak WA 0812-6772-7161. Ia tinggal di Limapuluh Kota Sumatera Barat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.