Cerpen Frizka Anggraini: Kecuali Melupakan

oleh -37 views
Frizka Anggraini,

Kecuali Melupakan

 

            “Jadi gini,” ujarnya. Aku menatapnya dengan amat lekat. Sekujur tangannya yang dipenuhi buku-buku non fiksi serta postur tubuhnya yang tegap dan berwibawa itu menatap jauh ke arah taman yang berkerumunan dedaunan kering dan bunga kertas warna-warni yang mulai menjulang tinggi. Sorot mata yang tajam dan alis tebal itu mulai menerawang jauh, pikirannya mulai berjalan seolah mengikuti apa yang telah aku ceritakan. Angin tiba-tiba berhembus sangat kencang sehingga rambutnya tergerai, terombang-ambing pasrah mengikuti alurnya. Manis, tampan, tak menghilangkan jejak kagumku padanya sedikitpun. Setelahnya dia menatapku pelan dan mulai merapikan rambut hitam legamnya itu dengan penuh kelembutan, tetap saja semakin terpaku mataku dibuatnya. Aku tersenyum tipis mengangguk memersilahkan, dan dia membalasnya sambil berdeham pelan.

“Kebersamaan ya?” Tanyanya, matanya kini menatap gumpalan awan putih diatas yang menempel ke langit biru disana. Aku mengangguk mengiyakan, dia kembali tersenyum dan  mengambil nafas agak berat.

“Kebersamaan itu merupakan sebuah aksara yang singkat dan sederhana namun luar biasa makna yang terkandung di dalamnya. Terkadang sering salah kaprah memaknai tantang kebersamaan, saya pun pernah. Indahnya kebersamaan itu tidak semata-mata harus memerlukan banyak harta dan menurut saya ia tak butuh semua itu. Kita adalah makhluk sosial yan tidk bisa hidup sendirian, meskipun kita mempunyai sehudang harta, meskipun semesta ini kamu yang punya, kita pasti memerlukan kebersamaan dalam menjalani kehidupan ini,” ujarnya, aku menunduk dan mengangguk pelan, tanganku mulai meremas ujung rok mini putihku menguatkan. Dia berdiri dan berjalan pelan menuju kerumunan bunga kertas itu, dan secara sengaja dia memetik bunga kertas itu dan dia sengaja memilih warna biru. Dia tetap ingat biru adalah warna kesukaaanku. Aku meringis menahan nyeri yang ada di hatiku saat ini.

“Kamu tau? Kebersamaan adalah segalanya, jadi kita sebagai pemilik jiwa yang hanya berlaku sementara ini jangan sampai berpangku tangan atas takdir yang telah diberikan oleh-Nya untuk kita. Semuanya itu adalah garis jalan hidup kita untuk saling memberi dan menerima dari apa yang diberikan-Nya untuk kita. Dalam hidup, kebersamaan tak luput dari yang namanya konflik, namun jika kita professional, konflik tersebut akan sirna jika kita selalu ditemani oleh kasih sayang dari orang yang kita cintai,” ujarnya melanjutkan, sembari memberikan bunga itu padaku. Aku berdiri tegap memberanikan diri menghadap tegas padanya. Dadaku semakin sesak dibuatnya.

“Orang yang kita cintai ya?” tanyaku sambil mengigit keas-keras bibirku agar mengode bulir di air mata agar tak tumpah. Dia mengangkat wajahnya menatapku yang saat ini tak menatapnya. Aku menerawang jauh taman itu dan kepalaku berbalik memunggunginya, ragaku disini—namun pikiran dan hatiku disana, di muara rasa yang mengandung nanah di dalamnya. Tanganku berkepal erat dan mencoba memberanikan diri menatapnya kembali yang saat ini dia sudah bangkit berdiri tegap menatapku, dan kini saatnya cerita dimulai.

“Perihal bersama, pasti ada yang namanya perjuangan disaat kita ingin bersama. Berjuang bersama untuk kebahagiaan bersama, akan membuat kebersamaan yang kita jalani itu jauh lebih bermakna. Karena kita akan sama-sama mengerti arti bersama dari jatuh bangunnya menghadapi kerasnya kehidupan di bawah naungan semesta-Nya, tentunya dengan cara bersama-sama!” Ujarku hampir saja memberontak, mataku panas dan mulai memerah—sedikit-demi sedikit bulir mata liar berjatuhan menulusuri setiap garis kulit di pipiku hingga terjun bebas ke rerumputan yang kami injak. Aku meremas pelan liontin kecil yang kupakai, tak kuasa kumenatapnya, mataku terpejam merasakan sakitnya hatiku yang saat ini kambuh. Dia hanya menatapku dengan kebisuannya, untuk mendekapku pun dia tak akan bisa lagi, dan kini diantara kita sudah ada jarak di mata semesta.

Waktu itu tepat tanggal 24 Januari, hari yang sangat spesial di mataku. Dan yash! Hari ini adalah hari ulang tahunku, dimana aku masih berseragam SMA dan membawa buku kesana-kemari. Dengan langkah yang sengaja kulebar-lebrakan agar lekas sampai. Dengan mata yang berbinar-binar membuat semua mata tertuju gemas padaku—harapan pagiku menjulang tinggi, setinggi angkasa yang saat ini mungkin sedang mendoakan dan mengucap selamat untukku. Rambut hitam yang sengaja kugerai panjang akan terlihat lebih anggun kesannya, dipadu dengan jepit pita biru yang kecil di sudut atas telinga yang imut. Dengan senyuman yang sengaja kusembahkan untuk setiap orang-orang yang melintas, kini bahagia diriku karena dia hari ini akan menyatakan rasanya padaku. Entahlah itu rasa selamat atau rasa yang lain aku tak mau tau itu.

Di lorong seni, tempatku dan dia berjanji akan bertemu di sana kemarin. Sebelum kesana, aku berhenti sejenak di kursi taman yang dinaungi oleh pohon beringin besar sehingga membuat suasana semakin sejuk dibuatnya. Aku merapikan sedikit seragamku dan kukibas-kibas tanganku di rok abu-abu pendekku.sembari merapikan poni yang sedikit berantakan karena terbawa arus tergesa-gesa barusan, mataku dengan liar menatap seluruh penjuru sekolah. Namun ada satu titik dimana penglihatanku harus mendarat, seorang wanita kurus tinggi dengan rambut panjang tergerai sebahu terus memainkan smartphone-nya. Mataku menyipit memerjelas wajahnya yang sedang menunduk. Lalu belum juga puas dengan hasil penglihatanku mengenainya, wanita itu bangkit dan segera berjalan cepat ke arah lorong seni, tempat aku dan dia janjian untuk bersemuka.

Dengan liontin bulan kecil yang sedari tadi kupegang dengan rasa saying, tanpa sadar kakiku melangkah maju mengikutinya. Mataku tetap tertuju padanya, dia menarik menurutku. Dan sesaat kulihat sosok pria tujuanku, alasanku kesini dan jawabanku kini ada disini.

“Kak, kak Dareen harusnya nurut sama mama!” teriak wanita itu tiba-tiba, membuat langkahnya berhenti sejenak dan menghembuskan nafas dengan begitu beratnya, sorot matanya yang penuh beban itu akhirnya menatap wanita itu—dan menghampirinya, aku segera bersembunyi di balik pohon mangga dengan dada yang berdetak keras. Mata dan telinga kini fokus hanya pada mereka.

“Kenapa kamu harus ikut campur Nov? Yang punya hati itu aku! Yang punya hak untuk mencintai itu aku! Mama, papa, kamu tak ada hak untukku yang mencintai siapapun!” bentaknya, spontan hatiku menciut dan tetap meremas liontin cantic pemberiannya semalam.

“Bahkan dengan anak dari ibu pelacur itu!?” jawab wanita itu dengan nada tak kalah tinggi, matanya kini melotot ke arahnya. Dan seketika lututku lemas, hatiku patah, tangisku pecah dan semuanya merenggang. Kini, aku tau perihal apa yang diperdebatkan mereka.

“Jaga mulutmu Nov! meskipun ibu dia seperti itu, namun dia tak seperti apa yang kam…..”

“Iya benar kok, seharusnya kita tak bersama, seharusnya kita tak saling kenal, dan seharusnya kita tak bertukar rasa,” ucapku parau, kini aku memberanikan diri muncul dari tempat persembunyianku, dengan langkah yang tak ada lagi tenaga—kuterus berjalan ke arahnya. Dan setelah tepat pada hadapannya, lututku terlungkai jatuh, tangisku pecah, suaraku parau patah, jiwaku memberontak, keringat dingin mulai menjelajahi seluruh tubuhku. Kini aku gila, dalam dekapannya yang tiba-tiba itu semuanya terasa tak sehangat dulu lagi.

“Dareen sudah saya jodohkan dengan Gita!” ujar seseorang dengan suara beratnya diluar sana, dekapannya seketika terlepas segera dia berdiri menghadap lelaki tua itu, rambutnya sudah hampir memutih. Ekspresinya yang tegas dan menggandeng wanita cantic bertubuh ramping tinggi, rambutnya ikal yang sengaja di ikat dengan mata sinisnya dia tersenyum sinis menatapku.

Di lorong ini, di hari ulang tahunku yang ke-19 ini, aku tertindas rasa pilu, semesta menangis sembari mengucapkan selamat ulang tahun untukku, seragam SMA serasa mengejek dan menindas harga diriku. Dibanding mereka semua, hanya akulah yang paling muda disini. Suasana yang tak bisa kudefinisikan, hanya sakit di jiwa dan kacau di hati yang kurasakan. Tak sengaja kumelihat cincin cantik di jari manis wanita yang digandeng lelaki tua itu, dan spontan kumelihat jari manis sebelah kirinya—benar saja, dia juga memakainya. Dan kini aku paham untuk yang kedua kalinya, alasan dia mengajakku kemari karena ingin membuatku terluka. Aku menunduk lemas, inginku segera berbalik pulang meninggalkan mereka. Namun tangannya tiba-tiba mendekap erat tubuh kecilku, aku pasrah—aku sudah tau semuanya.

“Maafkan saya, usia kita terpaut jauh selisih 7 tahun. Tak mungkin saya menunggumu, usia saya sudah matang, sedangkan kamu masih butuh banyak menabung berbagai pengalaman. Benar katamu, seharusnya kita tak bersama dan seharusnya kita tak saling berbagi rasa. Kini kamu sudah tau semuanya. Dan selamat ulang tahun, kita tak bisa apa-apa, kecuali melupakan,” ujarnya lemas, aku hanya mengangguk pasrah dan melepas dekapannya. Kini dia sudah bahagia, cincin itu sudah menjadi saksi kuat untuk kuteliti, rasa yang terlanjur pecah ini seharusnya kukubur kembali dan kuharap tak akan tumbuh dengan orang yang salah lagi.

“Ini, kukembalikan liontinmu,” ucapku dengan nada puas, kini tangisku sudah mongering. Aku tersenyum mengikhlaskan—di atas rerumputan hijau yang kita injak, serta bunga kertas biru yang masih kau genggam untukku, aku harus rela dia bersamanya.

“Terima kasih telah mencintaiku secara professional,” ujarnya, aku hanya mengangguk mengiyakan.

“Dareen, kau tau kan saat ini kondisiku terkait rasa ini? Berbekal luka yang belum juga reda, aku menerimamu tanpa ekspetasi. Baik ya syukur, jahat ya berarti. Dan kau tau aku harus ngapain saat ini setelah kehilanganmu? Aku harus siap sakit hati lagi setelahmu,” ujarku lembut, dengan senyum yang kupaksakan. Mata indah itu menyorotku dengan cukup serius, rambutnya yang sedari berlari kecil kesana kemari mengikuti arus angin. Menggemaskan, dulu itu pernah kubelai beberapa kali setiap berjumpa. Kini tak akan ada lagi, dan tak akan pernah terjadi. Langkahku mendekatinya perlahan dan kuambil bunga kertas biru itu di genggamannya, dia tersenyum tipis.

“Dareen, entah dulu hal baik apa yang pernah aku lakukan,  sampai akhirnya semesta mengirimmu sebagai sosok pria yang sangat aku perlu. Untuk sebuah luka saat ini, yang pastinya sembuhnya tak akan mudah, apakah kamu punya penawarnya? Tidak kan?” ujarku, dia tetap menatapku yang mencoba ingin mencairkan suasana. Baju putihku berkibar-kibar dan rambut yang sengaja kugerai dengan genggaman bunga kertas biru yang kumainkan, aku tetap menyunggingkan senyum termanis untuknya, walaupun dia sebenarnya sudah tau bahwa senyum ini adalah paksaan.

“Untuk sebuah kecewa yang redanya tidak sebentar, apakah kamu mampu membuatku samar?” tanyaku sekali lagi, dan kini kucoba tuk memberanikan diriku menggenggam erat tangannya.

“Berawal dari menerimamu tanpa berharap apa-apa, aku kagum pada caramu menjadi baik sebagai manusia. Berawal dari menerimamu tanpa ada ekspetasi, aku jatuh sejatuh-jatuhnya pada caramu mencintai, namun kini, tak ada cara lain lagi cara untuk berpisah baik, kecuali melupakan,”

Angin lembut terus menyisir rambutku dan dia secara bersamaan, dekapan terakhirnya adalah kekuatanku untuk pribadiku di masa depan. Iya, tanpa ada dia lagi dihidupku, tanpa ada tawanya, dan kini baru kupahami. Bahwa akan ada kata selamat, dalam setiap kata selamat tinggal.

 

Frizka Anggraini, kelahiran Pasuruan, 24 Januari 2001 ini biasa dipanggil Rani. Tercatat sebagai penulis 2 novel solo yang berjudul “ROSALAVINZA LOVE” dan “I Love You, Sir”. Dan saat ini dia sedang berjalan menuju tulisan solonya yang berjudul “Tentangku dan Puisi Untukmu”. Dia juga tercatat sebagai penulis 10 buku antologi puisi dan cerpen dalam berbagai penerbit.

Penyuka warna biru ini kembali aktif di dunia literasi sejak ia mempunyai kelas dalam keluarga besar Pena Aksara Class. Selain berkesibukkan menulis, penulis bertubuh tinggi ini jago sekali menari tradisional, selain itu dia juga telah mendapatkan gekar sebagai actor terbaik dalam seni teater se-Kampus IKIP di Jawa Timur. Hobinya adalah bernyanyi dan biasa menjadi model hunting di berbagai tempat. Saat ini dia sedang menempuh pendidikan S1 di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Kasih Bangsa di Jakarta Barat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.