Rebranding, Upaya Transformasi BKKBN

oleh -204 views

Oleh Ahmad Fasni, S.Sos.I

BADAN Kependudukan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) tengah berupaya melakukan rebranding menyeluruh terhadap visi, misi, jargon, logo dan lagu. Upaya tersebut tidak hanya melibatkan pihak internal, masyarakat umum juga diharapkan memberikan kontribusi. Aktualisasinya dilakukan dalam bentuk lomba, di antaranya lomba pembuatan logo, tagline, dan jingle.

Setidaknya ada dua faktor utama dilakukannya rebranding tersebut. Pertama, akibat perubahan struktur kependudukan di Indonesia berdasarkan kelompok umur, dan Kedua, guna menyesuaikan dengan perkembangan teknologi informasi. Diharapkan BKKBN akan hadir berbeda dari yang dulu, karena setiap zaman memiliki keunikan dan tantangannya sendiri. Di masa lalu, BKKBN diingat publik karena lagu marsnya menarik dan selalu konsisten menampilkan karakter atau figur ayah-ibu dengan dua orang anak. Di tambah adanya tagline “Dua Anak Cukup”. Saat ini ruang lingkup Program BKKBN lebih luas, terutama semenjak lahirnya Undang-Undang Nomor 52 Tahun 2009, BKKBN direstrukturisasi dari Badan Koordinasi Keluarga Berencana menjadi Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional. Sehingga cakupan Program BKKBN tidak lagi sebatas jumlah anak dan kontrasepsi. Akan tetapi bertambah luas, yaitu Kependudukan, Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga.

Struktur Usia Penduduk

Saat BKKBN dicanangkan pada tahun 1971 angka Total Fertility Rate (TFR) mencapai 5,6. Seiring berjalannya waktu, melalui Program pemasangan kontrasepsi, saat ini angka tersebut telah dapat ditekan hingga 2,38. Dengan keberhasilan tersebut maka pada tahun 2020 hingga 2035 nanti Indonesia akan mendapatkan bonus demografi. Saat itu sekitar 70 persen penduduk Indonesia berusia 15 sampai 64 tahun, sedangkan 30 persen lainnya dibawah 15 tahun dan diatas 64 tahun.

Dengan tingginya usia penduduk produktif atau bonus demografi tersebut maka akan menjadi jendela peluang (window of opportunity), yaitu kondisi ketika angka ketergantungan berada pada tingkat terendah. Rasio ketergantungan mencapai sekitar 35 per 100 pekerja, artinya dari 100 orang bekerja akan menanggung hanya 35 sampai 40 orang yang tidak bekerja. Sebuah kondisi struktur umur penduduk yang nyaman dan ideal bagi negara untuk melaksanakan dan melakukan percepatan pembangunan. Seperti Thailand, Tiongkok, dan Korea Selatan adalah contoh negara yang berhasil mengoptimalkan peluang bonus demografi. Produk Domestik Bruto (PDB) negara-negara tersebut melesat cukup tinggi ketika memasuki era bonus demografi.

Jika Indonesia ingin mengikuti jejak Negara yang berhasil dalam memanfaatkan bonus demografi tersebut maka segala sesuatunya harus dipersiapkan. Rencana strategis dan kebijakan harus berpihak terhadap persoalan kependudukan dan pembangunan SDM. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga dan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, maka BKKBN adalah lembaga yang berkepentingan dalam mempersiapkan SDM Unggul untuk menghadapi era Bonus Demografi tersebut.

Dengan telah dilantiknya Presiden dan Wakil Presiden Jokowi-Ma’ruf Amin periode 2019-2024, serta kabinet Indonesia Maju telah mulai bekerja, sepertinya membawa angin segar untuk peningkatan kualitas SDM tersebut. Sebagaimana diketahui bahwa di periode pertama pembangunan lebih difokuskan pada infrastruktur, akan tetapi di periode kedua ini lebih diarahkan pada sektor SDM, terlihat dari visi-misi, di mana peningkatan kualitas manusia Indonesia ditempatkan pada urutan pertama.

Hal tersebut semakin diperkuat dengan pidato pertama presiden Jokowi setelah resmi dilantik. Presiden menyampaikan, Saat ini, kita sedang berada di puncak bonus demografi, di mana penduduk usia produktif kita jauh lebih tinggi dibanding usia tidak produktif. Ini adalah tantangan besar sekaligus juga kesempatan besar. Ini menjadi masalah besar jika kita tidak mampu menyediakan kesempatan kerja. Tetapi akan menjadi kesempatan besar jika kita mampu membangun SDM yang unggul.

Perkembangan Teknologi Informasi

Melihat struktur usia penduduk tersebut, maka yang menjadi sasaran utama dan khalayak terbanyak BKKBN hari ini dan ke depan adalah generasi milenial. Merupakan generasi yang hanya mau menerima sesuatu jika hal itu relevan dengan hidup mereka. BKKBN ingin menyampaikan gagasan perencanaan dengan cara yang fun bagi mereka, bukan dengan cara top-down, menggurui, taglineistik, jargonistik dan terkesan memerintah. BKKBN ingin dilihat sebagai teman dan sahabat bagi generasi muda dalam menjalani hidup mereka, diterima sebagai teman dalam merencanakan hidup mereka agar mereka bisa menikmati hidup secara maksimal sesuai cita-cita mereka.

Generasi milenial merupakan generasi yang sangat aktif, pilihan aktivitasnya beragam, dan yang paling utama adalah mereka mengandalkan internet dan gadget atau smartphone sebagai saluran interaksi dan aktualisasinya. Maka, dengan adanya rebranding ini BKKBN akan menyesuaikan dengan perkembangan teknologi informasi tersebut. Salah satunya adalah dalam hal penyampaian materi Komunikasi Informasi Edukasi (KIE) dengan sasaran generasi milenial. Umpamanya dikemas dalam bentuk konten aplikasi, game, video menarik serta dengan mudah dapat diakses melalui gadget atau smartphone mereka.

Dengan adanya upaya rebranding tersebut, diharapkan BKKBN yang pernah eksis dan diingat publik di era 70an-90an, akan kembali eksis dan relevan dengan konteks kekinian bagi generasi milenial. Pemanfaatan saluran media sosial dan perkembangan teknologi informasi merupakan sebuah langkah inovatif. Saatnya generasi muda Indonesia menjadi penduduk yang produktif di usia produktif demi menyonsong bonus demografi dan Indonesia emas tahun 2045, sehingga menjadikan Indonesia siap tinggal landas dari Negara berkembang menjadi Negara maju. Semoga.(*)

*) Penulis adalah Penyuluh KB Ahli Muda BKKBN Sumatra Barat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.