Sajak-sajak Fikar W. Eda

oleh -94 views

FIKAR W. EDA. Lahir di Aceh 1966. Menyelesaikan pendidikan di Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala Banda Aceh dan Program Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Antologi puisinya Rencong (2003, 2005, 2008), dan Sepiring Mie Aceh, Secangkir Kopi Gayo Bertalam Giok Nagan (Batavia Publishing, 2015). Pernah menjabat Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Aceh (1995-2000), Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta (2013-2015), dan Ketua Umum Komunitas Musikalisasi Puisi Indonesia (Kompi). Berkelana bersama Rangkaian Bunga Kopi (RBK), kelompok seni kampanye kopi Gayo, bersama Yoppi Andri, Jassin Burhan, Yoyok Harness, dan Djarot Effendi. Menghadiri berbagai forum sastra, antara lain: Forum Puisi Indonesia ’87 Dewan Kesenian Jakarta, Pengucapan Puisi Dunia ke-9 Kuala Lumpur (2002), Pertemuan Penyair Nusantara, Forum Puisi Dunia (2012), dll.

Assalamu’alaikum

Assalamu’alaikum
kepada angin berdesir
Menyingkap tabir
tiap butir dosa dan pahala,
menggerakkan ranting, dahan dan kelopak mala

Assalamu’alaikum
kepada senja
menghantarkan malam
dan segala rahasia

Assalamu’alaikum
kepada udara yang terbuka,
memenuhi paru-paru kita,
lafas bagi doa-doa.

Assalamu’alaikum
Kepada cahaya,
penerang langkah kita,
Kepada pohon tegak perkasa,
kepada rimbun daun yang tertutup atau terbuka.

Assalamu’alaikum
Kepada langit,
luasnya tak terkira,
kepada awan memayungi kita,
kepada hujan yang menumbuhkan biji dan tunas muda

Assalamu’alaikum
Kepada gajah dengan gerak belalainya
Kepada elang dengan kepak sayapnya
Kepada lintah dengan geliat tubuhnya
Kepada burung dengan kibas ekornya

Assalamu’alaikum
kepada semesta
tempat kita bersujud
Merendahkan kepala
Tunduk dan taat
kepada Allah Azza wa Jalla.

2019

Ini Pertemuan Bermutu, Rendra

“Ini pertemuan bermutu,”
Matamu menitikkan senja,
Kami baca
Dari tepi ranjang putih langit,
Bersama Muhammad Nazar, Yoppi Andrie,
Edi Haryono baru saja melipat sajadah ashar,

“Baca lagi Qanun Aceh,” pesanmu,
setelah aku selesaikan
“Kepak Sayap si Burung Merak”
Dengan suara berat tapi lembut.
Kami mengangguk,
Ruangan mengalirkan hawa hangat
Dari tatapan matamu yang teduh.

Kita meniti awan di ketinggian 1.880 meter di atas permukaan laut,
Pantan Terong penuh kabut.
Di sela tiupan angin gunung Gayo
Kaugumamkan perih petani kopi
Lalu kepakmu merangkum seluruh kota,
Danau tua kaki gunung menuliskan semua seperti siul nelayan membawa sekeranjang ikan depik juga seduhan kopi tubruk ujung lepo.

“Aih, aku suka kancingnya,
Suka kantong kecilnya,” katamu
Setelah mengenakan setelan baju dan celana jahitan Aceh Moda
Malamnya, di bawah pandang ribuan mata, engkau bacakan “Universitas Syiah Kuala, Guru Kami”
Nasihat semangat.
Aku bacakan “Salam Damai”
Tardji dengan “Tanah Air Mata”
Aceh sedang bergembira,
setelah jeda perang panjang,
saat Agustus kita datang ke Kuala Tripa,
Tapi Desember berubah duka
Gelombang raya merenggut nenek si De’na,
Kau tertunduk di depan pusara massal.

Kita datang lagi ke tanah ini,
tiga tahun setelahnya,
Panggung Stadion Lhong Raya
Di tengah kota,
Kau semangati mereka dalam iringan Djabo, Iwan Fals juga
Debu ashar dan angin kemarau
tak ada risau, orang-orang bangkit dari nestapa.

“Baca lagi Hamzah Fansuri,
memilih menulis dalam Melayu,
bukan Aceh atau Parsi,
Baca lagi…,” katamu, lalu melesat dengan kereta kencana.
Baiturrahman menegakkan Shalat Ghaib untukmu.

Jakarta, Agustus-September 2019

Bener Pepanyi
Nyanyian Petani Kopi
         pro: Faul Lida 2019

Nyanyianmu
Adalah nyanyian
Bener Meriah
Nyanyian tanah Gayo
menyusuri gunung dan lembah
Menggema di lereng-lereng kebun kopi
Harum kopi
bunga kopi
Menggenapi cakrawala

Nyanyianmu
Nyanyian Bener Pepanyi
Nyanyian hati para petani kopi
Di siang dan sore hari

Dalam merdu suaramu jantung kami bercahaya
Dalam indah suaramu hati kami menyala.

Bener Meriah, 2019

Seduhan Kopi 7.300 Matahari

Hai, perempuan bertahi lalat di bawah mata,
Berbilang 7.300 matahari di atas kepala,
Menumbuhkan hujan dan bunga,
Langit sejernih doa.

Kita juga sebagai elang,
Mengepakkan sayap,
Mengitari angkasa,
menukik ke lembah,
Minum air bening celah pohon purba.

Kita sepasang angin gunung,
Menuliskan nama di kelopak daun,
Seperti dulu, kita tulis di dinding bis kota.

Duhai perempuan bertahi lalat di bawah mata,
Pada buih kopi yang kau seduh pagi buta,
Setelah kita tegakkan subuh di masjid tanpa menara,
Kita perlahan mengeja,
Siti Afra Ghassani semester tiga,
Siti Zetta Renggali sebentar lagi SMA,
si bungsu Tuahtakengon santri Ar-Ridha.
Aih, ramai nian, gaduh suara mereka.

Benih jadi kecambah,
Putik jadi bunga
Seduhan kopi di meja
Menggenapkan senja

9-11-2017

Jalan Bunga

di Jalan Bunga
angin jadi tombak
ujungnya runcing
melelehkan karat kemiskinan

di Jalan Bunga
orang-orang bergegas
bagai putaran gasing
memintal nasib di penggorengan

di tikungan Bunga
senyum matahari
mengiringi bocah menuju stasiun
menjajakan tisu 10 ribuan

Di Jalan Bunga
Kita membaca gerak bibir
Bunyi ketuk kotak semir
Jemari setengah keriput di emperan

Sepeda putih di halaman
Bunga merah di boncengan
Bangku menggigil sendirian
roda kereta bertengkar jadi hujan
senyap istana peradaban

Jakarta, 2018

Penyair dan Batu

Penyair dan batu
Berbisik bersebuku
berlagu ujung jembatan

Penyair dan batu
Berat ringan berbantu
Kerikil debu timbangan

Penyair dan batu
Puisimu merdu
Langkah satu jurusan

Penyair menulis puisi
Batu mengikis daki
Teka teki tiap pendakian

Puisi itu langit
Batu itu penggamit
Saling kait dalam ikatan

Puisi itu udara
Batu itu bara
Menyala tungku perapian

Puisi itu hati
Batu itu sunyi
Mematri dalam ingatan

Penyair itu tangkai
Batu itu rangkai
Berurai dalam tangisan

Puisi itu pekat
Batu itu padat
Merekat berjauhan

Penyair itu awan
Batu itu hujan
Tertawan kenangan

Penyair itu tambur
Batu itu alat ukur
Pemberat timbangan

Penyair itu gemuruh
Batu itu riuh
Luruh tertahan

Jakarta, 2019

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.