Berguru di Negeri Jepang (Bagian 16)

oleh -13 views
Berguru di Negeri Jepang

Berguru di Negeri Jepang

Oleh Marjohan, M.Pd dan Sefrita Yenti

Aktivitas Kami di Perusahaan

Kesibukanku dengan kerja, ya bekerja dalam bidang pembibitan- aku menanam retasu. Musim pembibitan terjadi pada pertengahan bulan delapan (Agustus) dan sebulan setelah itu (bulan September) sudah bisa ditanam. Kemudian saat umurnya sudah 40 hari, sudah mulai dipanen. Penanaman retasu ini juga bergantung kepada suhu. Kami menggunakan pupuk anorganik- bukan pupuk kimia- aku diajar cara membuat pupuk anorganik di Jepang.
Aku ingin sedikit berbagi tentang cara pembuatan pupuk organik “Dochakukin9”. Metode pembuatan pupuk organik dochakukin ini di kembangkan di Jepang. Untuk mendukung program Go Organik yang di canangkan pemerintah, tidak ada salahnya mengembangkan pupuk ini.Pada dasarnya pembuatan pupuk ini sama saja dengan pupuk kompos, yaitu dengan fermentasi yang di lakukan oleh bakteri an-aerob. Langkah pembuatannya sebagai berikut:

1). Pembuatan master (biakan bakteri) dengan bahan- bahannya: tanah gembur yang agak kering (kurang lebih 2 plastik hitam kecil), tepung mineral/mineral organik 1/3 bks, arang yang telah di haluskan (kurang lebih 2 plastik hitam kecil), gula 1/4 kg dan air secukupnya.

2).Cara pembuatan: sediakan plastik bening ukuran 2×2 m untuk alas, campurkan tanah, tepung mineral, arang, dan gula di atas plastik tersebut hingga rata, setelah tercampur rata, tuangkan air sedikit sedikit sampai kadar airnya mencapai 60%, setelah selesai, tutup menggunakan plastik berwarna gelap (usahakan tidak ada udara yang keluar), fermentasi selama 10 hari, dan di balik pada hari ke 5.

3). Pembuatan kompos sistem layer bahan: kotoran hewan, sampah organic, dochakukin (biakan bakteri yang tadi di buat) dan air.

4). Cara membuatnya: sediakan lahan (ukuran disesuaikan), ratakan kotoran hewan, taburkan dochahkukin di atasnya, lalu di siram sedikit air, ratakan sampah organic, taburkan dochakukin di atasnya, lalu di siram sedikit air, lakukan berulang ulang, sampai bahan habis, yang ditumpukan paling atas usahakan berupa sampah organic, setelah selesai, tutup dengan beberapa helai daun pisang, kemudian di atasnya di naungi dengan terpal, fermentasi 90 hari, di balik setiap 30 hari. Sekarang pupuk siap untuk digunakan.

Di Jepang kami menanam bibit sayuran dalam polybag- ibarat petani kita menanam bibit cabe. Polybagnya sudah dilengkapi lobang- lobang tempat rembesan air. Di Jepang pertanian rakyatnya sudah moderen karena orang menggunakan mesin. Aku sebagai pekerja di poerusahaan pertanian juga harus mengenal mesin- mesin yang digunakan.

―Bertani di Jepang memang sudah serba mesin dan manusianya tinggal lagi merapikannya memakai alat tradisionil- cangkul, sabit dan sedok. Aku juga punya pengalaman dalam memanen retasu (semacam lobak atau selada). Sayur yang dipanen dimasukan ke dalam keranjang, selanjutnya dibawa ke dalam perusahaan untuk disortir. Yang bagus diletakkan di atas mesin dan diberi plastik. Pekerja selanjutnya memproses berdasarkan ukuram S (small), M (medium) dan L (large). Kemudian ditempatkan/ disusun ke dalamm box- ditimbang dan berat per-karton adalah 8.5 kg.kemudian dibawa ke perusahaan koperasi untuk didistribusi ke toko/ mall dan departemen store (swalayan)‖.

Selain menanam retasu, kami juga menanam bawang bombai, dan yang lain. Kami menanam retasu pada lahan yang cukup luas. Kami mulai menanam bulan 9 dan berakhir bulan 6. Gantian musim, musim panas kami menanam daun bawang, bawang prei- ditanam di awal musim panas. Bawang bombai kami menanam awal bulan Januari dan panennya bulan Juni atau Juli.

Selama musim panas maka suhu terasa panas. Keringat kita keluar terasa panas. Saat cuaca masih segar, kami bekerja di luar, kemudian bila sudah panah maka kami pindah beraktivitas ke dalam ruangan. Daun bawang dipanen dan dibawa ke dalam ruangan buat diproses/ dibersihkan. Kalau panas matahari berkurang maka kami beraktivitas di luar lagi.

Musim menanam, dari bulan Juni sampai Agustus- ditanam daun bawang. Tanaman ini bisa tahan lama. Menanam retasu dari bulan Agustus hingga bulan Juni- dalam waktu yang lebih lama. Perubahan musim berpengaruh pada kehidupan orang Jepang- termasuk dalam hal makan sayur.

Perubahan musim dari musim dingin ke musim semi, lalu musim panas, musim gugur, dan kembali ke musim dingin, memang aku rasa pengaruhnya. Yang paling terasa adalah pakaian yang kita kenakan. Di musim dingin kita harus mengenakan pakaian tebal dan berlapis-lapis. Di musim panas cukup selapis pakaian tipis saja. Selain soal itu pergantian musim juga terasa pada jenis makanan yang kita makan. Karena pengaruh musim, ada beberapa jenis (bahan) makanan yang hanya tersedia pada musim tertentu. Atau, ada beberapa jenis makanan yang lebih lezat bila dimakan pada musim tertentu. Menunggu suatu musim datang bisa pula berarti menunggu saat untuk bisa makan sesuatu.

Musim semi ditandai dengan munculnya tunas baru pada tumbuhan. Ada pula sayuran yang bisa dipanen banyak pada musim semi. Salah satunya adalah nira (kucai). Nira enak ditumis atau dibuat omelet. Sayuran lain di musim semi, yang sebenarnya masih dapat dikategorikan sebagai sansai adalah rebung (take no ko). Rebung bisa dimasak dengan berbagai cara, di antaranya ditanak bersama nasi (take no ko gohan).

Musim panas adalah saat di mana sayuran bisa dipanen dalam jumlah besar. Di masa lalu hampir seluruh jenis sayuran hanya bisa dihasilkan selama musim panas. Musim semi saat cuaca mulai hangat, orang mulai menanam sayur. Hasilnya baru bisa dipetik saat musim panas. Karena keterbatasan ini orang Jepang mengembangkan berbagai metoda untuk mengawetkan atau menam sayur, missal dalam rumah kaca.

Dengan rumah kaca masa tanam sayuran jadi lebih panjang. Sayuran di Jepang tak banyak berbeda dengan di Indonesia. Dalam soal keragaman sebenarnya kita lebih kaya. Yang umum dimakan orang Jepang adalah berbagai jenis sawi, kubis (termasuk sawi putih), brokoli, dan lain-lain. Juga yang khas Jepang seperti horenzo. Jadi petani bertani tidak semau gue saja, kebanyakan terkelola agar bisa memberi income yang menjanjikan.

Marjohan, M.Pd, Guru SMA Negeri 3 Batusangkar, Program Pelayanan Keunggulan Kabupaten Tanah Datar. Sumatera Barat. Ia juga tercatat sebagai ―Peringkat 1 guru berprestasi tingkat nasional 2012‖ dan penerima Satyalencana Pendidikan dari Presiden RI. Aktif menulis pada koran Singgalang, Serambi Pos, Haluan dan Sripo (Sriwijaya Post). Telah menulis buku dengan judul ―School Healing- Menyembuhkan Problem Sekolah (Pustakan Insan Madani,2009- Yogyakarta)‖, ―Generasi Masa Depan- Memaksimalkan Potensi Diri Melalui Pendidikan (Bahtera Buku,2010-Yogyakarta)‖, Tuntutlah Ilmu Hingga ke Negeri Prancis (Diva Press, 2012- Yogyakarta), Akhirnya Kutaklukan Kampus Jerman (Diva Press, 2012- Yogyakarta), dan buku Budaya Alam Minangkabau (Citra Pustaka, 2012- Solo). Pengalaman Meraih Guru Berprestasi Nasional (Diva Press, 2012- Yogyakarta), dan Melbourne Memang Dahsyat.

Sefrita Yenti, Lahir tahun 1984 di Lintau- Batusangkar, Sumatera Barat. Pendidikannya di SMAN 1 Lintau- Kab. Tanah Datar dan melanjutkan pendidikan ke INGG Bukittinggi. Ia mendalami budaya dan bahasa Jepang, kemudian pernah bekerja di Perusahaan Thomson dan Pt. Nissin Kogyo, Batam. Ia mengikuti pelatihan magang ke Jepang melalui PT Yuko Tesa Mirai di Padang. Usai pelatihan ia bekerja di perusahaan Kabushiki Kaisha Chuuoo- Shikoku, Prefecture Kagawa, Kanonji Shi, Nakahime- Japan. Setelah 3 tahun ia balik ke Batusangkar- Sumatera Barat, kemudian mendirikan sekolah Bahasa Jepang,inggris dan Mandarin,jarimatika. dengan nama Chuoo Mandiri di Tanjung Karang, Propinsi Lampung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.