Bertabur Pengalaman dari Padang Hingga Sydney (Bagian 18)

oleh -16 views
Bertabur Pengalaman dari Padang Hingga Sydney

Bertabur Pengalaman dari Padang Hingga Sydney

KAPAL PESIAR CAPTAIN COOK

Mendarat di Sydney

Rasa kantukku jadi hilang saat roda pesawat Jet-Star menyentuh landasan bandara Sydney yang sangat luas. Lagi-lagi kami harus masuk terminal dan melewati immigrasi. Pikiranku selalu pada tertuju pada WiFi. Umumnya WiFi bandara di sini memiliki sinyal yang kuat. Bagiku WiFi juga menjadi sarana buat mengirim kabar atau paling kurang sehelai foto ke tanah air.

Wah tabletku gagal untuk konek dengan WiFi sehingga aku tidak berhasil mengunggah foto dan berita terakhir.
Kami segera mengambil bagasi masing-masing dan semua terus melangkah keluar terminal. Kami berjalan menuju bis wisata dengan trolley tempat menyimpan bagasi. Kami disambut oleh Nadira, perwakirlan tour travel Reira cabang Sydney. Adapun Rachman tetap sebagai tour leader kami selama perjalanan. Ia akan mengajak kami berkeliling kota Sydney.

Good bye bandara Kingsford Smith…!!! Ya nama bandara Sydney adalah Kingsford Smith. Bandara ini berlokasi di pemukiman Mascot di Sydney, Australia. Bandara ini menjadi satu-satunya bandara yang melayani kota Sydney, dan hubungan utama bagi Qantas, bandara ini juga menjadi hubungan sekunder bagi Virgin Australia dan Jetstar Airways. Terletak di sebelah Botany Bay, bandara ini memiliki tiga landasan pacu, yang sering disebut sebagai landasan pacu “timur-barat”, “utara-selatan” dan “landasan pacu yang ketiga”. Bandar Udara Sydney adalah salah satu bandara tertua di dunia yang beroperasi secara terus menerus, dan merupakan bandara tersibuk di benua Australia.

Posisi waktu di daerah Sydney masih sama dengan posisi waktu kota Melbourne. Untuk destinasi pertama di Sydney, kami mau dibawa jalan-jalan menuju Captain Cook Cruise. Dengan demikian kami akan menemukan tujuan wisata paling spektakuler di Australia. Captain Cook Cruises adalah jalur favorit untuk pelayaran kapal pesiar yang beroperasi di Sydney Harbour.

Sydney adalah kota terbesar di Australia, dan ibu kota negara bagian New South Wales. Sydney memiliki populasi wilayah metropolitan 4.34 juta jiwa dan luas 12.000 kilometer persegi. Penduduknya disebut Sydneysiders, dan Sydney dijuluki sebagai “the Harbour City” (Kota Dermaga), “the City of Villages” (Kota Desa-Desa) dan “the Emerald City” (Kota Zamrud). Sydney merupakan salah satu kota paling multikultural di dunia, yang tercermin dari perannya sebagai kota tujuan utama bagi imigran ke Australia. Sydney dibangun di bukit rendah di sekitar Port Jackson. Kota ini merupakan tempat berdirinya Sydney Opera House dan Harbour Bridge. Aku sangat menyukai landmark opera house ini, maka aku senang sempat mengampil foto di sana.

Wilayah metropolitan Sydney dikelilingi oleh taman nasional, dan memiliki banyak teluk, sungai dan ceruk. Kota ini adalah tempat bagi berbagai taman, seperti Hyde Park, Royal Botanical Gardens dan taman nasional. Bersama dengan Sydney Harbour, hal ini merupakan faktor utama yang menjadikan kota ini sebagai salah satu kota terindah di dunia. Aku akan membuktikannya dengan mataku sendiri.

Sydney terasa lebih padat dari kota Melbourne. Ya ini benar, karena populasinya lebih dari 4 juta orang, sementara populasi Melbourne kurang dari 4 juta orang. Perjalanan dari airport menuju pusat kota lebih kurang satu jam. Semua airport di Australia memang berada jauh dari kota. Aku merasa gembira karena kami akan segera melihat latar belakang kota Sydney, ya seperti opera house dan jembatan Sydney. Keberadaan gedung opera telah
117
memberi inspirasi pada mendiang Ibu Tien Suharto untuk menginstruksikan pembangunan museum keong mas di Taman Mini Indonesia Indah (TMII)-Jakarta.

Kota Sydney lebih metropolis dibandingkan Melbourne. Metropolis merupakan istilah yang umumnya digunakan untuk mewakili kota besar atau kawasan kota yang luas. Karena kota ini terasa lebih modern. Cuaca kota Sydney juga terasa lebih tropis. Pada ujung jalan dari bandara, pada persimpangan aku melihat seorang pria berwajah asia berjalan menenteng satu ember menuju mobil yang berhenti menunggu lampu (traffict light) berwarna hijau menyala, isyarat semua kendaraan boleh melaju. Pria tersebut membersihkan kaca mobil dan kemudian berharap memperoleh uang tip atas jasa kecilnya itu. Wah ternyata profesi kagetan juga ada di Sydney.

Kami segera melewati daerah King Cross street. Aku diberitahu bahwa daerah ini adalah daerah tempat pria iseng dan juga wanita iseng. Sejak belasan tahun lalu, prostitusi dilegalkan di negara bagian ini. Walhasil, kini rumah bordil menjamur. Pemerintah kota bahkan tidak mampu menghentikan bisnis haram tersebut. Kami tidak menganjurkan para remaja Indonesia untuk mengunjungi daerah ini.

Dari kejauhan kami sudah melihat ada sebuah bangunan berbentuk antenna. Gedung itu adalah Sydney tower. Kami kelak juga bakal ke sana. Sydney tower merupakan gedung paling tinggi di kota Sydney. Di bawah Sydney tower terdapat plaza yang bisa kita kunjungi buat berbelanja atau sekedar cuci mata saja. Wah aku jadi nggak sabaran agar bisa segera berada di sana.

Tersesat Di Sydney Harbour

Begitu keluar dari bandara Kingsford Smith- bandara Sydney, kami seperti ingin dimanja untuk cuci mata. Rachman menghubungi penjualan tiket dan kami menunggu beberapa saat hingga ia datang lagi buat membagi-bagi tiket. Ya tiket buat boarding ke atas kapal Captain Cook Cruise. Tiket tersebut sudah meliputi buat makan siang.
Pada tiket tertulis kata lunch Asia. Jadi orang orang yang ingin memperoleh makan siang dengan suasana khusus bisa memperolehnya pada kapal ini. Aku tidak tahu berapa harga makan siang dan termasuk biaya pesiar dengan kapal selama satu atau dua jam buat melayari-mengelilingi teluk Sydney. Kata ibu Maria Widiani (Kepala Kapala Subdit PTK SMA, Dit.P2TK Dikmen) bahwa harga satu tiket per orang adalah sekitar $ 50. Semua biaya adalah tanggungan negara karena masih dalam rangka memberi reward buat prestasi kami- sebagai pendidik berprestasi Indonesia.

Sebelum naik kapal pesiar kami menyempatkan diri buat berfoto-foto. Maklum Sydney sangat jauh dari kampung, jadi kami sengaja mengambil foto dengan landmark Sydney.

Aku melihat captain kapal berpakaian ala captain kuno. Ia cukup ramah dan aku mendekatinya buat kesempatan foto bareng dengan nya. Akhirnya ia setuju dan aku berfoto beberapa pose berdiri. Aku fikir bahwa ada banyak orang yang mau foto bareng dengannya, tapi mereka merasa segan, kecuali setelah aku menjadi pioneer dalam memintanya menjadi background foto bagiku. Setelah itu orang- orang lain juga ingin foto bareng dengannya. Wah aku telah membuat captain kapal menjadi selebriti, hhh.

Kami kemudian bergerak menuju dermaga dan menunggu buat beberapa menit untuk proses entrance. Ibu Nana merasa pusing karena merasa tempat ia berdiri terasa bergerak dan kami jelaskan bahwa tempat kita bergerak memang bergerak. Kita semua berada di atas dermaga apung. Dermaga tersebut memang dibangun seperti demikian, bisa bergoyang oleh riak air laut.

Kami akhirnya naik ke atas kapal pesiar. Dalam kapal ada 3 deck-lantai, mulai dari bawah hingga ke atas. Masing masing deck punya nama yaitu: star deck, sky deck dan club deck. Kami duduk pada deck tengah. Meja kami bersusun dekan jendela hingga mata kami bisa melihat pemandangan- pantai teluk- dan di kejauhan terlihat gedung opera Sydney yang sangat menakjubkan.

Setelah menemui tempat duduk, kami kemudian mencari giliran buat mengambil makanan. Terlihat bahwa wisata captain cook cruise ship ini dikelola oleh warga Australia yang mayoritas berwajah oriental.

Sejak tadi aku asyik mencari-cari dimana lokasi opera house of Sydney yang popular tersebut dan juga dimana lokasi jembatan Sydney yang panjang itu (?). Aku membiarkan orang lain buat antrian untuk makan siang. Sementara aku sendiri memanfaatkan waktu buat berfoto foto, demikian pula beberapa teman lain.

Cuaca dingin membuatku selalu ingin tahu dimana letak toilet. Tidak hanya di sini, juga di hotel, di restoran dan di bandara, aku selalu bertanya: where is the toilet ? Tadi pagi aku menemukan informasi dari sebuah pamphlet yang terdapat dekat cermin bahwa lebih dari 120 ribu laki-laki Australia hidup dengan gangguan prostate.

Kanker prostat menyumbang sekitar 30% dari Kanker yang didiagnosis terhadap pria Australia. Ini adalah penyebab kedua kematian karena kanker paling umum, setelah kanker paru-paru. Dikatakan bahwa satu dari 8 laki-laki Australia beresiko menderita gangguan prostate. Mereka tentu saja akan menderita, bingung, depresi dan untuk itu mereka butuh dukungan keluarga secara emosional. .

Aku bukan dokter atau seorang ahli kesehatan. Namun aku melihat gaya hidup laki-laki dan orang Australia, mereka suka minuman anggur mengandung alcohol sepanjang hidup mereka.

Bukankah ada 6 minuman beralkhohol popular di Australia seperti : Illusion Shaker, Pale Ale Coopers, Bundy’n’Coke, Passion Pop, Penfolds Grange dan Cask Wine. Minuman ini selalu dicari-cari. Di bandara Kingsford Smith Sydney dan juga bandara Tullamarine Melbourne, setelah keluar dari pesawat atau setelah exit dari counter pemeriksaan maka outlet minuman beralkohol paling diserbu. Aku menyaksikan ada antrian panjang untuk membeli minuman beralkohol di sana. Salah satu efek jelek dari alkhohol adalah mendatangkan prostate bagi pria Australia.

Kemudian karena orang Australia sejak remaja sudah menganut gaya hidup sex bebas, telah membuat laki-laki mengkonsumsi tablet atau pil buat pria dewasa. Penggunaan dalam jangka panjang sedikit banyak tentu memberi efek pada kesehatan. Ini juga faktor pendorong menurunnya kesehatan alat produksi pria.

Aku melepaskan pandangan ke laut. Laut teluk Sydney tidak punya ombak hanya riak-riak kecil dan hembusan angin dingin yang cukup kencang. Aku tidak melihat beberapa teman di tempat yang jauh di belakang geladak kapal. Aku melihat ada Nurhadi, Isdarmoko dan Suparno. Mereka terlihat asyik mencari view dan mereka berfoto-foto. Aku jadi iri dan spontan meloncat dari tempat duduk buat bergabung dengan mereka.

Kapal cruise yang kami tumpang akan bergerak mengintari landmark Australia yang paling terkenal, yaitu Sydney Opera House. Setelah menjauh dari Opera House, kapal cruise pun akan melewati Royal Botanic Garden. Kebun rayanya Sydney ini memiliki ujung berbentuk tanjung yang dikenal dengan nama Mrs Macquairies Point. DI sana nanti, para wisatawan umunya dapat berfoto selfie dengan latar pemandangan Sydney Harbour Bridge dan Sydney Opera House.

Aku minta bantuan Nurhadi untuk mengambil foto dengan latar belakang gedung Sydney opera house dan juga Sydney harbor bridge, serta aku juga berfoto dengan latar belakang bendera Australia. Aku menjadi phobi, takut terjatuh ke dalam laut atau aku cemas kalau tas dan hapeku terlempar oleh tiupan angin kencang ke dalam laut.
Hasil foto kurang bagus karena bayang bayang matahari sore sangat mengganggu. Aku melihat Nurhadi berfoto-foto di atas geladak kapal paling atas. Aku ikut bergabung, di sana juga banyak warga asik lainnya sebagian besar berwajah oriental- India, china, Japan, dll. Aku separoh memaksa agar Nurhadi mengambil fotoku dengan latar belakang paling baik. Aku merasa amat puas memiliki foto dengan latar belakang Sydney opera house dan juga Sydney harbor bridge dengan sangat jelas.

Kapal pesiar kemudian merapat ke dermaga lain. Aku pikir bahwa beberapa pengunjung yang turun karena ingin pergi ke Tarongga Zoo. Melihat orang-orang yang pada turun, aku juga bergegas turun, namun aku mencari dimana jaketku tersangkut. Yakni pada sandaran kursi pada star deck atau deck tengah. Disana masih terlihat beberapa teman. Jadinya aku tidak bergerak kemana-mana lagi. Kami tentu harus mengikuti perintah atau nasehat tour leader. Kapal segera bergerak, berlayar menjauhi dermaga itu lagi.

Tiba-tiba ada deringan telephone masuk ke HP Imron. Dia jadi kaget karena ada nomor tak dikenal yang berani menelpon. Apakah tidak takut pulsanya habis kena biaya roaming yang cukup mahal, yaitu Rp. 25.000 per menit dan Rp.4000 per SMS (?). Tampaknya deringan telpon sangat urgen, deringannya berulang-ulang.

Masyaallah ternyata tiga orang teman kami yang bernama Isdarmoko, Sumarno dan Slamet Raharjo tertinggal di dermaga Tarongga. Mereka ikut turum bersama rombongan orang lain dari deck atas. Rachman terlihat sedikit marah dengan kesalahan mereka. Padahal tadi sudah dikatakan agar mereka jangan pergi-pergi dari kapal, kecuali kalau ada aba-aba. Namun sebagai tour leader ia tetap memberikan pelayanan prima. Rachman menelpon agar mereka tetap tidak bergerakdan tetap menunggu di dermaga nomor 6 sana.

Kebun Binatang Taronga (Taronga Zoo) adalah kebun binatang kota Sydney, Australia yang pertama kali dibuka pada tanggal 7 Oktober 1916. Kebun binatang ini terdapat di daerah pesisir pantai dari pelabuhan Sydney (Sydney Harbour) di Mosman. Luas kebun binatang ini adalah sekitar 287 hektare dan memiliki lebih dari 26.000 binatang. Kebun binatang ini dibagi menjadi delapan area dengan bermacam anjungan dalam gedung dan peragaan di luar gedung.

Kami semua khawatir karena mereka bertiga tidak menguasai bahasa Inggris dan tentu akan kesulitan dalam berkomunikasi dengan orang orang seputar sana. Mereka sekarang tersesat atau terpisah dari kapal di daerah King Wolf- Darling Harbour. Kapal bergerak terus dan berbalik ke dermaga pertama. Kami ikut menggerundel dan juga ikut merasa kasihan dangan kekhilafan mereka hingga tersesat.

Juru foto amatir yang tadi menjepret wajah kami datang. Dia meminta kesediaan kami buat menilai foto foto yang tadi mereka jepret. Foto-foto tersebut tentu saja tentang wajah kami. Bagi yang berminat maka selembar foto harganya $ 10.

Wah terlalu mahal..!! Kami saja dengan menggunakan HP, kamera dan tustel pribadi akan bisa membuat ratusan atau ribuan foto-foto terbaik. Namun ia mengemas foto-foto kami dengan apiknya. Wah cukup menarik.

Aku ingin untuk memilikinya dan segera menawarnya menjadi satu foto untuk harga $ 5. Wah itupun juga masih mahal kalau dikonversikan kedalam mata uang rupiah. Namun tidak apa-apa karena aku juga harus menghargai karyanya.

Kapal pesiar terus merapat ke dermaga semula dan semua penumpang segera turun. Kami kemudian menuju bis wisata. Sopir kemudian membawa kami untuk meninggalkan pelabuhan itu. Kami semua menuju pusat kota namun pada satu persimpangan bis berhenti dan Rachman segera turun untuk menjemput 3 orang yang tersesat tadi.
Kami tidak begitu lama menunggu karena ke tiga teman yang tersesat tadi ternyata juga tidak begitu idiot di negeri orang. Bermodal bahasa Inggris yang pas-pasan mereka ternyata juga sudah duluan bergerak menuju arah kota. Dalam beberapa menit saja Rachman telah menjumpai mereka dengan mudah. Rachman segera menggiring mereka menuju mobil wisata.

“Maaf ya kami bertiga sudah tersesat dan membuat anda semua menunggu kami begitu lama” Mereka bertiga minta maaf. Mereka tadinya juga salah turun. Mereka berpikir bahwa begitu melihat semua orang pada turun, mereka juga turun ke dermaga dekat Tarongga. Begitu semua orang berada di darat dan mereka semua pada pergi dan mereka masih berada di tempat maka saat itulah mereka merasa salah turun atau tersesat. Mau balik, ke atas kapal …kapalnya sudah berlayar menjauh. Mereka tidak melihat anggota grup yang lain.

Untuk mereka membawa HP dan masih menyimpan beberapa nomor teman mereka menelpon, berteriak cemas “Halo…halo…..bantu kami, kami tersesat di dermaga ini”. Kami semua merasa geli dan tertawa mendengar pengalaman tersesat mereka yang penuh lucu ini. Kami masih tertawa dalam bis wisata. Sopir terus membawa bis melaju dan kami semua kembali terbuai dalam mimpi.

Marjohan M.Pd, guru SMAN 3 Batusangkar , peraih Guru SMA Berprestasi 1 Tingkat Nasional, telah menerbitkan 2 buku terbaru dengan judul ” Menjadi Pemenang Dalam Kehidupan, dan Tebaran Pengalaman Dari Padang Hingga Sydney. Sebelumnya Marjohan M.Pd telah menerbitkan sekitar 10 judul buku skala nasional. Juga telah menulis lebih dari 120 judul artikel yang terbit pada koran koran nasional dan journal speleologie di Perancis. Untuk menumbuh kembangkan kualitas literasi perlu selalu action yang teragenda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.