Sajak-sajak Refdinal Muzan

oleh -175 views
Sajak-sajak Refdinal Muzan

Denayu

 

Adakah sekelumit badai gurun

Menyibak hijab saat di semenanjung Sinai kaki berdiri.

Kau mengirmkan malam di tepian Bahrul Ahmar yang memisah

mungkin desingan peluru, batu-batu yang terkepal

di genggaman seribu malaikat.

Kita takkan pernah kalah mesti sisa

yang ada dan tetesan darah yang tertumpah.

 

Dan Nil itu masih membelah.

Sehingga tanahpun subur sepanjang musim di gurun sahara.

semenjak kisah-kisah para Anbiya.

Lalu, kau mencatatkan detak waktu di lembaran papirus.

menyimpanya tersembunyi di laci hati.

 

Hiruplah sejenak udara di pelataran semak perdu

dibawah palem dan akasia

Di sabana ungulata merumput bagai angin bertiup lepas

Gerah dan bebanpun ternikmati

selagi mentari memijar diufuk-ufuk nurani.

 

( 2014 )

 

Selamat Hari Puisi, Jam Gadang

 

Hampir jam sepuluh tepat

Pelataranmu mulai diendus napas satu-satu.

Bersiburu

Apakah kau simak bunyi uir-uir  menjemput panas yang merangkak

Atau kau memekakkan telinga sambil simpul senyum terkesima

Atau  kau tak melihat hitungan tangan penengadah,

lapak si pengais sisa yang terusir

dan wajah-wajah melompong 

menantikan metamorfosa rama-rama dari kepompong.

 

Jarum jam itu semakin bergeser dibelai angin yang mulai santer

Hitunganku semakin tak menentu membaca riasan wajahmu yang baru

Tapi aku sempat menghitung detak dalam beberapa kurunmu yang retak

Pendakian pedati, ringkik kuda bendi dan Seok deru bemo yang punya tiga kaki

 

Ah, aku cukup sendiri mengenang semua ini

Seperti bangku taman yang tak diduduki

Tapi seribu puisi telah kau simpan

Di sini

Selamat hari puisi Jam Gadang

Jam sepuluh tepat sebelum lengang

Dan  hilang

 

(2017)

 

Silang

 

Dua merah apel

berbagai sudut pandang pun menempel

Ranum, kitapun mengelupasnya secara perlahan

Tapi tidak ketika bicara soal santapan

cuma rekah dan sebilah pisau di tangan

 

Sudahi saja bila itu kau mau

tak ada kata tunggu sebab semua tergesa untuk berpacu

merah yang menunggu

darah menyumbat buntu

 

Akhirnya dalam sebuah ujung diam kitapun tergeletak

mengabarkan rentak membidai onak

menyulutkan percik di silang yang sejenak

untuk kemudian hangat

sebab begitulah hikayat

 

(2018)

 

Refdinal Muzan, begitu nama pria berkelahiran di Padang 15 Mei. Penyair yang keseharian berprofesi sebagai guru bahasa Inggris di SMP N 1 Sungai Pua, Kabupaten Agam. Telah menyertakan beberapa karyanya dalam  beberapa Antologi.

Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah MOZAIK MATAHARI ( Penerbit FAM Publishing, 2012), SALJU DI SINGGALANG (Alif Gemilang Pressindo, 2013 ), DANDELION ( Pena House, 2016 ) dan TITIAN KABUT ( Mediaguru, 2018).

Pernah meraih beberapa penghargaan  baik dalam ajang Lomba Baca Puisi dan Lomba Menulis Puisi. Beberapa karyanya juga telah dimuat di koran Lokal dan nasional. Sosok penyair ini menetap di Perumahan Mutiara Sakinah Biaro, Kabupaten Agam, Sumbar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.