Dirwan: “Sadar Sejarah Harus Terus Dikampanyekan”

oleh -62 views
Seminar dan Lokakarya Kearsipan bertajuk “Bukittinggi dalam Sejarah Perjalanan Bangsa” digelar Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Bukittinggi, Selasa (12/11), di Istana Negara Triarga Bukittinggi. (Foto: Muhammad Subhan)

TRAVESIA.CO.ID – Kesadaran pada sejarah, budaya, bahasa, harus terus dikampanyekan. Dibanding negara lain, orang Indonesia, khususnya Minangkabau, dinilai kurang peduli terkait tiga kesadaran itu.

“Sering kita dengar kampanye sadar wisata, tapi jarang sekali ada kampanye sadar sejarah, sadar budaya, sadar bahasa,” ujar Dirwan Ahmad Darwis, Pencinta Kebudayaan Minangkabau yang berdomisili di Kuala Lumpur dan tampil sebagai salah seorang pembicara Seminar dan Lokakarya Kearsipan bertajuk “Bukittinggi dalam Sejarah Perjalanan Bangsa” yang digelar Pemerintah Kota Bukittinggi melalui Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Bukittinggi, Selasa (12/11), di Istana Negara Triarga Bukittinggi.

Seminar dan Lokakarya itu dibuka Walikota Bukittinggi, H. Ramlan Nurmatias, dihadiri Wakil Wali Kota, Irwandi, S.H., Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Provinsi Sumatra Barat, Wardarusmen, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan se-Sumatra Barat, Pengamat dan Peminat Sejarah, Mahasiswa dan Dosen Perguruan Tinggi, Guru, serta Pegiat Literasi lintaskomunitas.

Dirwan Ahmad Darwis satu di antara narasumber lainnya yang diundang selama tiga hari kegiatan itu (12-14/11). Pembicara lain adalah Prof. Dr. Phil. Gusti Asnan (Sejarahwan Unand), Prof. Dato’ Dr. Ahmad Murad Merican (Pensyarah Institut Antarbangsa Pemikiran dan Peradaban Islam University Islam Antarbangsa Malaysia), dan Drs. Beny Suharsono, M.Si (Paniradya Pati Daerah Istimewa Yogyakarta).

Paling istimewa, Seminar dan Lokakarya itu menampilkan Pembicara Utama (Keynote Speaker) Gubernur D.I. Yogyakarta yang juga Raja Keraton Jogja, Sultan Hamengku Buwono X.

Menurut Dirwan, orang Indonesia tidak suka sejarah. Salah satu indikatornya, kondisi museum-museum di Indonesia mati segan hidup tak mau, kurang dikelola dengan baik.

“Museum adalah gambaran kepedulian suatu bangsa kepada sejarah dan budayanya,” ujar Dirwan.

Dia mencontohkan, di Melaka, ada 29 museum yang menjadi mesin pencetak uang bagi kota itu. Sepanjang 2018, tercatat 155.144 wisatawan berkunjung ke berbagai museum di sana.

“Kalau rata-rata harga karcis RM8 saja per orang, dikali 155.144 wisatawan, artinya penghasilan Museum Melaka lebih Rp4 miliar,” ujarnya.

Ditambahkannya, di negara maju seperti Eropa, museum benar-benar dihargai keberadaannya, salah satu contoh di Belanda. Karcis masuk Museum Volkenkunde tiga tahun lalu seharga EUR32,00, atau sekitar Rp500 ribu per orang.

“Ini baru namanya menghargai sejarah. Tapi yang bikin jengkel, isi museum itu kebanyakan barang-barang kuno yang diangkut dari Indonesia semasa zaman penjajahan,” ungkapnya. (han/travesia)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.